Lingkar.co – Hari Pendidikan Nasional merupakan momen refleksi bagi semua. Menilik kisah guru yang mendidik agama di wilayah perbatasan Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) di Indonesia, profesi guru bukanlah sekedar untuk mendapatkan kemapanan hidup sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) atau guru di sekolah yang mentereng.
Ronny telah menapaki jalan pengabdian selama 26 tahun sebagai guru agama Kristen di Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara)
Roni tak menyerah setiap hari hari melalui akses yang sulit dan fasilitas yang terbatas. Baginya, mengajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hidup. Ia hadir untuk menanamkan nilai-nilai yang ia yakini akan membimbing anak-anak melampaui batas geografis mereka.
“Di Hari Pendidikan Nasional ini, saya berharap anak-anak di perbatasan semakin mendapat perhatian yang sama. Mereka punya mimpi besar, hanya perlu didukung agar bisa berkembang,” ujar Ronny, Minggu (3/5/2026).
Kisah serupa dialami Halifah yang selama 21 tahun mengabdi bagi negara Indonesia di Sembakung. Halifah menjalani perannya sebagai guru Pendidikan Agama Islam dengan keteguhan yang nyaris tak terlihat, namun terasa dampaknya.
Perjalanan menyusuri sungai, menghadapi banjir, hingga minimnya sarana menjadi bagian dari keseharian. Namun, semangatnya tetap utuh.
“Melihat anak-anak mulai mempraktikkan ibadah dengan benar dan menunjukkan akhlak yang baik adalah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan apa pun,” tutur Halifah.
Tak jauh beda, Puji Astuti yang telah lebih dari dua dekade mengabdi sebagai guru agama Buddha di SDN 001 Tanjung Selor. Di tengah fasilitas yang lebih memadai, ia menyaksikan harmoni lintas agama tumbuh alami di lingkungan sekolah. Namun, tantangan tetap ada, terutama ketika siswa beragama Buddha tersebar akibat sistem zonasi.
“Semoga ke depan pendidikan semakin inklusif dan semua peserta didik mendapatkan layanan yang adil, tanpa terkecuali,” harap Puji.
Sementara itu, dari Desa Sesua, Malinau Barat, Anselmus Helaq menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Selama 21 tahun sebagai guru agama Katolik, ia terus mencari cara agar nilai-nilai iman dapat dipahami dan dihayati oleh siswa-siswinya
“Saya berharap pendidikan kita terus maju dengan tetap menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual,” tutur Anselmus.
Kisah-kisah ini memperlihatkan wajah lain pendidikan di perbatasan. Di sana, mengajar bukan hanya tentang mentransfer ilmu, bukan pula profesi untuk mendapatkan kemapanan. Melainkan pengabdian yang tulus terhadap negara dan agama untuk membentuk manusia seutuhnya: berkarakter, beriman, dan berdaya.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara, Muh. Saleh, menegaskan bahwa para guru agama di wilayah perbatasan memegang peran strategis dalam menjaga nilai dan harmoni bangsa.
“Di Hari Pendidikan Nasional ini, kita diingatkan bahwa pendidikan bukan hanya soal ilmu, tetapi juga tentang karakter dan spiritualitas. Para guru di perbatasan telah menunjukkan dedikasi luar biasa. Mereka adalah penjaga nilai dan harapan bangsa,” ujar Saleh.
Ia juga menegaskan komitmen Kementerian Agama untuk terus memberikan perhatian dan dukungan bagi para guru, khususnya di wilayah 3T, agar pendidikan semakin merata dan berkualitas.
Dari perbatasan Kalimantan Utara, para guru itu mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: bahwa pendidikan yang lahir dari ketulusan akan selalu menemukan jalannya, menembus batas, dan menerangi masa depan Indonesia. (*)












