73 Persen Koperasi Merah Putih di Jateng Sudah Beroperasi, Dinkop UKM Kejar Target 100 Persen

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jateng, Eddy Sulistyo B. (dok Alan Henry)
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jateng, Eddy Sulistyo B. (dok Alan Henry)

Lingkar.co – Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah terus mendorong percepatan operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Hingga awal Mei 2026, capaian operasional koperasi di wilayah ini telah melampaui target nasional.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jateng, Eddy Sulistyo B, mengungkapkan dari total 8.523 koperasi berbadan hukum, sebanyak 6.271 koperasi atau sekitar 73 persen telah berjalan operasional.

“Progresnya terus berjalan. Saat ini kita sudah mencapai 73 persen. Ini juga berkat dukungan teman-teman media yang ikut mendorong hal-hal positif dari koperasi,” ujarnya dalam kegiatan “Cerita Koperasi Desa Jadi Berita Bermakna” di Semarang, Rabu (6/5/2026).

Ia menambahkan, capaian tersebut sudah melampaui target nasional yang ditetapkan sebesar 60 persen. Meski demikian, pihaknya tetap menargetkan seluruh koperasi bisa beroperasi penuh hingga akhir tahun 2026.

“Kami ingin kalau bisa tahun ini mencapai 100 persen. Ini jadi tugas bersama, baik provinsi maupun kabupaten/kota,” tegasnya.

Eddy menekankan pentingnya koperasi bergerak di sektor produktif atau sektor riil agar perputaran ekonomi lebih cepat dirasakan oleh anggota. Menurutnya, model usaha produktif terbukti mampu meningkatkan kapasitas koperasi secara signifikan.

“Kami dorong koperasi masuk sektor riil, karena perputaran uangnya lebih cepat dan manfaatnya langsung dirasakan anggota,” jelasnya.

Ia mencontohkan salah satu koperasi yang berkembang pesat dari modal awal Rp500 ribu hingga mencapai ratusan juta rupiah berkat aktivitas usaha yang konsisten.

“Awalnya kecil, tapi karena setiap hari berproduksi dan berputar, sekarang bisa ratusan juta. Ini bukti koperasi bisa tumbuh kalau dikelola serius,” katanya.

Meski menunjukkan perkembangan positif, Eddy mengakui masih terdapat sejumlah kendala di lapangan, terutama terkait distribusi barang subsidi seperti LPG, pupuk, dan minyak goreng.Menurutnya, tingginya permintaan membuat distribusi sering tidak merata di tingkat koperasi.

“Barang subsidi seperti LPG dan pupuk itu cepat terserap. Ini yang masih perlu kita koordinasikan agar distribusinya lebih merata,” ujarnya.

Selain itu, sekitar 2.000 koperasi yang belum beroperasi dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari potensi usaha hingga kurang optimalnya kolaborasi antara pengurus dengan pemerintah desa atau kelurahan.

“Kolaborasi antara pengurus, kepala desa, dan pihak terkait harus lebih intens agar koperasi bisa segera berjalan,” imbuhnya.

Modal dan Semangat Pengurus Jadi KunciDari sisi permodalan, total dana yang telah dihimpun koperasi mencapai sekitar Rp34,6 miliar yang berasal dari simpanan pokok dan wajib anggota. Nilai tersebut bervariasi tergantung kebijakan masing-masing koperasi.

Namun demikian, Eddy menegaskan kekuatan utama koperasi justru terletak pada semangat pengurus yang bekerja secara sukarela untuk melayani anggota.

“Pengurus ini luar biasa. Mereka bekerja tanpa memikirkan honor, yang penting melayani anggota. Ini kekuatan dasar koperasi,” ungkapnya.

Ia optimistis dalam beberapa tahun ke depan Koperasi Merah Putih akan berkembang menjadi kekuatan ekonomi baru di tingkat desa dan kelurahan, terutama jika didukung kemitraan dengan pelaku usaha dan koperasi lain.

“Kami dorong mereka bermitra, bukan bersaing. Dengan kolaborasi, koperasi bisa tumbuh lebih cepat dan berkelanjutan,” pungkasnya. ***