Lingkar.co – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Busyro Muqoddas menyebut terdapat penyakit yang lebih berat daripada wabah seperti Covid, yaitu korupsi. Penyakit ini jika sudah menjangkiti, susah untuk disembuhkan dan menimbulkan lebih besar.
“Covid itu berat banget kita tahu semuanya. Tapi ada yang lebih berat daripada itu yaitu korupsi,” kata Busyro dalam Mocopat Syafaat yang digelar di Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jum’at (22/5/2026).
Menurut dia, korupsi merupakan penyakit kronis yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Meski banyak upaya dilakukan untuk menyembuhkannya, namun berbagai cara itu kerap gagal disebabkan oleh banyak faktor.
Busyro melanjutkan, tugas penyembuhan terasa semakin berat. Terlebih ketika sebuah lembaga negara yang dibentuk untuk melawan korupsi, yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah dipotong kekuatannya dengan UU KPK Nomor 19 tahun 2019.
Oleh karena itu, dirinya mengajak bangsa ini untuk bermuhasabah, atau melakukan evaluasi diri secara lebih jernih, objektif, dan tidak boleh pesanan. Sebab, meski sering bermuhasabah namun persoalan ini kerap berulang.
Dia memulai dengan mengajak untuk bermuhasabah pada pesta politik lima tahunan. Di mana pada momen ini bibit korupsi akan muncul, jika bangsa ini salah pilih sosok untuk menjadi pemimpin.
“Kalau suap politik itu mau dievaluasi dalam rekam muhasabah tadi, banyak sekali contohnya,” bebernya.
Pesta demokrasi lima tahunan yang digelar di Indonesia, sambungnya, kerap menjadi momen hura-hura dalam artinya praktik suap menyuap terlihat secara vulgar. Fenomena ini terjadi tidak hanya di pusat saja, bahkan sampai desa.
“Yang disebut suap itu, sesudah itu mempengaruhi nanti kalau jadi DPR pusat, DPR daerah dan lain sebagainya membuat peraturan-peraturan daerah dipesan oleh yang dulu menyuap itu,” tuturnya.
Busyro lantas berkelakar, fenomena korupsi yang terjadi di Indonesia begitu masif, menjadikan negara ini sebagai laboratorium bagi peneliti yang memiliki peminatan untuk mengkaji korupsi.
Sebab, korupsi di Indonesia tidak hanya terjadi di lingkungan kekuasaan, tapi sudah mendarah daging di banyak sektor, mulai dari ekonomi, lingkungan, pendidikan, bahkan korupsi juga terjadi di sebuah institusi moral seperti lingkungan keagamaan.
Meski korupsi di Indonesia menjadi penyakit yang sulit disembuhkan, Busyro mengajak anak bangsa yang waras untuk tetap optimis. Bahwa penyakit ini akan sembuh dan kesembuhan itu dimulai dari diri pribadi. (*)












