Prabowo Kaget: Ekonomi RI Tumbuh, Angka Kemiskinan Justru Meningkat

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna ke-19 DPR RI Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Foto: Istimewa.

Lingkar.co – Presiden RI Prabowo Subianto menyoroti kondisi pertumbuhan ekonomi nasional yang dinilai belum berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dalam pidatonya pada rapat paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026), Prabowo mengaku terkejut setelah mempelajari data ekonomi beberapa pekan usai dilantik sebagai presiden.

Menurut dia, selama tujuh tahun terakhir Indonesia mampu menjaga pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 5 persen per tahun. Secara akumulatif, pertumbuhan tersebut dinilai setara dengan peningkatan ekonomi nasional sekitar 35 persen.

Namun di sisi lain, angka kemiskinan disebut justru meningkat, sementara jumlah masyarakat kelas menengah mengalami penurunan.

“Harusnya kita tambah kaya 35%. Tapi apa yang terjadi? Sekali lagi, saya mengajak kita jujur kepada diri kita sendiri dan rakyat kita, ini mungkin menyakitkan bagi kita. Saya merasa setelah saya menerima data-data ini, beberapa minggu setelah saya jadi presiden, saya merasa seolah saya dipukul di ulu hati saya,” ujar Prabowo.

Ia menilai kondisi tersebut menjadi persoalan serius yang harus dijawab secara ilmiah dan berbasis data. Karena itu, Prabowo mengajak seluruh elemen bangsa, mulai dari parlemen, partai politik, organisasi masyarakat hingga akademisi untuk bersama-sama mencari akar masalahnya.

“7 tahun, kali 5%, 35% ekonomi kita tumbuh, tapi rakyat kita yang miskin tambah. Dari 46,1% naik jadi 49%. 3% naiknya, lebih. Yang kelas menengah turun saudara,” katanya.

Prabowo berpandangan terdapat persoalan mendasar dalam arah pembangunan ekonomi nasional selama ini. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi semestinya mampu memperluas kesejahteraan masyarakat, bukan justru memperbesar kelompok rentan.

“Jawaban harus ilmiah, matematis. Dan menurut saya jawabannya adalah kemungkinan besar, bukan kemungkinan, saya yakin sistem perekonomian yang kita jalankan berada pada trajektori yang tidak tepat,” tandas Prabowo.

Penulis: Putri Septina