Berita  

Cegah Penumpukan Kendaraan, DKI Sinkronkan Jadwal Mudik Bersama dengan Kemenhub

Ilustrasi - Mudik. Foto: Istimewa.

Lingkar.co – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk mengatur jadwal mudik bersama Idul Fitri 2026 agar tidak dilaksanakan secara bersamaan dan memicu kemacetan lalu lintas.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menyatakan antusiasme penyelenggaraan mudik bersama tahun ini meningkat, baik dari pihak swasta maupun kementerian/lembaga.

“Ternyata kali ini antusiasme mudik bersama oleh swasta maupun kementerian/lembaga itu cukup tinggi,” kata Pramono di Balai Kota, Kamis, (19/2/2026).

Karena itu, jadwal keberangkatan akan diatur agar tidak berlangsung pada hari yang sama. “Sehingga terjadi kemacetan yang luar biasa seperti pada waktu itu tanggalnya diatur,” katanya.

Pramono menyebut, pelaksanaan mudik bersama direncanakan dimulai pertengahan Maret, menyesuaikan kebijakan Work From Everywhere (WFE).

“Mulai dengan tanggal belasan apakah tanggal 11, 12, 13, 14, 15, dan seterusnya. Karena mulai Work From Everywhere-nya kan tanggal 13. Inilah yang kita gunakan untuk mengatur mudik bersama di Jakarta,” katanya.

Sebelumnya, pada Rabu (18/2/2026), Pramono bertemu dengan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi guna membahas kesiapan angkutan Lebaran 2026.

Menurut Dudy, DKI Jakarta termasuk daerah dengan mobilitas masyarakat tertinggi secara nasional. Arus mudik nasional sebagian besar berasal dari Jawa Barat dan DKI Jakarta, dengan tujuan favorit seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Yogyakarta.

Melihat besarnya potensi pergerakan warga Jakarta, Dudy meminta dukungan penuh dari Pemprov DKI demi kelancaran angkutan Lebaran tahun ini.

“Salah satunya kami berharap adanya posko pelayanan dan monitoring Angkutan Lebaran 2026, guna memastikan kesiapan armada (ramp check) dan simpul transportasi (khususnya terminal Tipe A), pemeriksaan kesehatan awak kendaraan (pengemudi), serta konsolidasi dan penyiapan mudik gratis,” katanya.

Selain itu, Kemenhub juga mendorong peningkatan layanan angkutan pengumpan (feeder) bagi pemudik, serta pengawasan dan rekayasa lalu lintas secara kondisional. Langkah tersebut mencakup penempatan petugas di titik rawan kemacetan, pemantauan melalui CCTV, kesiapan jalur alternatif, hingga pengaturan arus kendaraan.

Tak kalah penting, penambahan fasilitas umum di simpul transportasi padat juga menjadi perhatian. Penyediaan gerai makanan, bengkel kendaraan, dan toilet portabel dinilai perlu untuk menunjang kenyamanan perjalanan masyarakat.

Berdasarkan Survei Potensi Pergerakan Angkutan Lebaran 2026, proyeksi lalu lintas keluar Jakarta melalui GT Cikampek Utama, GT Kalihurip Utama, dan GT Cikupa selama H-10 hingga H+11 diperkirakan mencapai 3,67 juta kendaraan. Puncak arus mudik diprediksi terjadi pada Rabu, 18 Maret 2026 (H-3), dengan sekitar 259.000 kendaraan.

Sementara itu, arus masuk Jakarta melalui GT Cikampek Utama, GT Kalihurip, GT Ciawi, dan GT Cikupa selama periode yang sama diperkirakan mencapai 3,54 juta kendaraan. Puncak arus balik diproyeksikan terjadi pada Senin, 24 Maret 2026 (H+3), sebanyak 285.000 kendaraan.

Penulis: Putri Septina