Daya Tarik Makam Terapung Syekh Mudzakir Demak

  • Bagikan
Makam Terapung Syekh Mudzakir
Caption: Para peziarah sedang berjalan menuju makam terapung Syekh Mudzakir di Dusun Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. (ADITIA ARDIAN/ LINGKAR JATENG)

Demak, Lingkar.co – Setiap hari makam Syekh Mudzakir di Dusun Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak ramai peziarah kunjungi. Tidak hanya dari dalam kota, peziarah juga banyak berdatangan dari luar kota bahkan luar provinsi.

Letaknya yang berada di tengah-tengah laut, menjadikan makam tersebut terkenal dengan julukan makam terapung. Pengelola sekaligus dzuriyah dari Syekh Mudzakir Badru Zaman mengatakan, tidak tenggelamnya makam itu masyarakat percayai sebagai karomah Syekh Mudzakir Demak.

Ads Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022

Badru menceritakan, Syekh Mudzakir lahir di Sayung pada tahun 1869. Kemudian, mondok di Nganjuk serta di pondok milik Mbah Soleh Darat. Selepas pulang dari pondok, Syekh Mudzakir kembali ke Sayung dan menetap di Tambaksari, Bedono.

“Sepulang dari pondok, beliau membuat tiga masjid di Kalisari, Dukuan, dan Tambaksari. Selain itu, Mbah Mudzakir juga memiliki jiwa sosial yang tinggi, terutama pada janda-janda. Dia sering memberikan uang kepada janda-janda itu,” kata Badru.

Syekh Mudzakir hidup dengan sederhana dengan menjadi petani tambak. Menurut Badru, dahulu makam itu memang berada di tengah-tengah permukiman warga. Namun, setelah banjir rob menghantam, bangunan rumah di sekelilingnya sudah hilang.

“Memang dari dulu Mbah Mudzakir sudah nyuruh pindah penduduk di Tambaksari itu. Dan akhirnya pada pindah karena banjir rob, tapi sampai saat ini ada sekitar 5 KK (kartu keluarga, red) yang masih bertahan,” ujarnya.

Makam terapung yang menjadi wisata religi andalan Demak itu, dirombak pembangunannya untuk ditaambah pondasi pada 2013. Menurut Badru, berziarah di makam ini memang sangat berbeda dengan tempat lain, karena berada di tengah laut dan cukup menantang.

“Ini tempat wisata religi atau ziarah tidak biasa, penuh tantangan karena di tengah laut. Terkadang ada peziarah yang tidak berani naik perahu lantaran ombaknya lumayan besar, dan akhirnya memilih untuk pulang lagi,” ungkapnya.

Untuk akses menuju makam, dahulu masih bisa menggunakan sepeda motor. Namun, karena jalanan mulai rusak akibat rob, peziarah bisa menggunakan perahu atau berjalan kaki sejauh 700 meter. Meski demikian, peziarah lebih baik menggunakan perahu, karena jika berjalan kaki akan melewati beberapa titik jalan yang terkena rob air laut. (dit/dim)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.