Kemenkeu: Produksi Rokok Diperkirakan Anjlok akibat Tarif Cukai Naik

  • Bagikan
Buruh rokok di pabrik Nojorono saat sedang membuat Sigaret Kretek Tangan (SKT) dengan protokol kesehatan ketat. Selasa (12/1). (NISA HAFIZHOTUS SYARIFA/LINGKAR.CO)
Buruh rokok di pabrik Nojorono saat sedang membuat Sigaret Kretek Tangan (SKT) dengan protokol kesehatan ketat. Selasa (12/1). (NISA HAFIZHOTUS SYARIFA/LINGKAR.CO)

JAKARTA, Lingkar.co – Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan produksi rokok akan anjlok hingga 3,3 persen tahun ini. Hal itu terjadi, setelah pemerintah menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) rata-rata tertimbang sebesar 12,5 persen pada 1 Februari 2021.

Kepala Sub Bidang Cukai BKF Kemenkeu, Sarno menjelaskan, total produksi untuk keseluruhan golongan yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Putih Mesin (SPM) dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) pada 2020, mencapai 298,4 miliar batang.

Ads Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022

“Kami sudah melakukan simulasi produksi rokok 2021 ini turun 2,2 hingga 3,3 persen,” kata dalam webinar Tobacco Control Support Center Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat di Jakarta, Selasa (2/2/2021).

Dengan estimasi penurunan produksi itu, Kementerian Keuangan memperkirakan penurunan volume produksi rokok tahun ini mencapai sekitar 288 miliar batang.

“Dengan kenaikan cukai hasil tembakau sebesar 23 persen, jumlah produksi rokok menurun hingga 11 persen,” ungkapnya.

Salah satu tempat produksi rokok di Kabupaten Kudus. (ANTARA/LINGKAR.CO)
Salah satu tempat produksi rokok di Kabupaten Kudus. (KORAN LINGKAR JATENG/LINGKAR.CO)

Kenaikan tarif cukai hanya terjadi untuk SKM dan SPM, sedangkan SKT tidak diberlakukan karena mencermati sektor padat karya dan situasi pandemi COVID-19.

“Itu menunjukkan bahwa dengan kenaikan tarif cukai 2021, mengindikasikan harga rokok akan semakin tidak terjangkau di masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, angka prevalensi merokok dewasa akan turun menjadi 32,3 hingga 32,4 persen dan anak-anak hingga remaja turun menjadi 8,8 hingga 8,9 persen.

“Penurunan itu, konsisten dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPKMN) 2020-2024 sebesar 8,7 persen tahun 2024,” tutupnya. (ara/aji)

Sumber: Koran Lingkar Jateng

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.