Muncul Klaster Sekolah di Jateng, Jepara dan Purbalingga Terbanyak

  • Bagikan
Kadinkes Jawa Tengah Yulianto Prabowo Setelah melakukan rapat penanganan Covid-19, menyampaikan klaster sekolah. FOTO: Rezanda Akbar D/Lingkar.co
Kadinkes Jawa Tengah Yulianto Prabowo Setelah melakukan rapat penanganan Covid-19, menyampaikan klaster sekolah. FOTO: Rezanda Akbar D/Lingkar.co

SEMARANG, Lingkar.co – Pembelajaran Tatap Muka (PTM) tahap uji coba yang baru berjalan beberapa pekan di Jawa Tengah, telah memunculkan klaster sekolah di beberapa kota.
 
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengonfirmasi hal tersebut usai menghadiri rapat penanggulangan Covid-19 di kantornya, Selasa (21/9/2021).
 
Di Jepara, setidaknya ada 25 murid dan 3 guru terinfeksi. Kemudian di Purbalingga, ada sebanyak 90 orang terpapar sekaligus.
 
“Karena ternyata, klaster di sana itu karena persiapan PTM (Pembelajaran Tatap Muka) tapi di test dulu,” jelasnya.
 
Ketika klaster SMP terdeteksi, ia menambahkan bahwa klaster-klaster lainnya juga dapat terdeteksi.
 
“Ketika kita menemukan klaster itu ternyata ada MTS ada SD ada SMK ada SMP semua komplit, ini yang menarik semuanya orang tua dan artinya guru,” terangnya.
 
Untuk mengatasinya, Ganjar meminta kepada Dinaspendidikan untuk memastikan guru-guru yang akan melakukan PTM agar menjalani pengecekan terlebih dahulu. Sehingga tidak berpotensi memunculkan klaster sekolah.
 
“Sehingga guru-guru yang mau PTM, punya kesadaran tersendiri untuk sehat, untuk mau ngecek, sehingga kalau ini tidak dilakukan, ini bahaya,” tuturnya.

Jangan Sampai Gagal


Ganjar juga mengingatkan, jangan sampai kasus seperti ini menggagalkan program uji coba.
 
“Jangan sampai uji coba PTM yang sudah kita stampel malah gagal,” sambungnya.
 
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Yulianto Prabowo, mengatakan bahwa terdapat laporan dari daerah Jepara. Laporan tersebut terlacak ketika melakukan skrining pada sebuah sekolah dan ada satu siswa positif.
 
“Yang positif tadi kan diisolasi, lalu dilakukan testing dan tracing, dengan jumlah yang sesuai dengan ketentuan. Minimal 8 orang per satu kasus,” katanya.
 
Untuk saat ini, Ia juga masih melakukan penyelidikan secara epidemiologis.
 
“Karena memang dalam satu populasi kalau dilakukan testing selalu ada yang positif, karena memang dalam satu populasi, positif ratenya mencapai lima persen,” jelasnya.
 
 
Penulis : Rezanda Akbar D.
Editor : Nadin Himaya

Baca Juga:
Promosikan 20 Jenis Kopi Nusantara, Indonesia Jadi Sorotan di Coffex Istanbul 2021

  • Bagikan
error: Ijin Dulu baru Copas BOSS !!