Lingkar.co – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Genuk, Kota Semarang mewujudkan kemandirian organisasi dengan bergotong royong membangun gedung baru.
Gedung dua lantai ini diharapkan menjadi pusat aktivitas keagamaan yang lebih representatif. Meski demikian, pembangunan lantai atas masih dalam tahap penyempurnaan.
“Gedung ini kami hadirkan sebagai ruang bersama. Harapannya bisa memaksimalkan kegiatan keagamaan, pendidikan, dan sosial yang langsung bersentuhan dengan masyarakat,” kata Ketua Tanfidziyah MWCNU Genuk KH. Muhammad Shohib Ridlwan saat peresmian, Sabtu (18/4/2026) malam
Rangkaian acara peresmian diawali dengan pembukaan, dilanjutkan tahlil, sambutan serta prosesi simbolis peresmian gedung. Kegiatan kemudian ditutup dengan shalawat bersama yang melibatkan masyarakat luas, sebagai bentuk penguatan spiritual dan kebersamaan.
Selama ini, lanjut Kiai Shohib, MWCNU Genuk secara rutin menggelar kegiatan seperti sholawatan, tahlil, serta forum keagamaan yang dilaksanakan bergilir di 13 ranting NU. Dengan adanya gedung baru, koordinasi dan pelaksanaan program diharapkan semakin terpusat dan efektif.
Acara ini turut dihadiri unsur Forkopimcam Genuk, mulai dari Camat, Danramil, Kapolsek, hingga para lurah. Selain itu, hadir pula pengurus NU dari berbagai tingkatan, badan otonom, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan lainnya,
“Hadir pula pengurus Muhammadiyah, LDII dan Aisyiah yang memang kita undang secara khusus,” terangnya.
Dalam perspektif edukasi dan advokasi, peresmian gedung ini menjadi contoh nyata pentingnya kemandirian organisasi masyarakat dalam membangun fasilitas publik berbasis kebutuhan umat.
Gedung MWCNU tidak hanya berfungsi sebagai kantor administratif, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, penguatan nilai-nilai keagamaan yang moderat, serta ruang dialog sosial lintas elemen.
Ke depan, MWCNU Genuk diharapkan mampu mengoptimalkan fungsi gedung ini sebagai pusat kegiatan yang inklusif, memperkuat ukhuwah, serta berkontribusi aktif dalam menjawab tantangan sosial di tengah masyarakat perkotaan. (*)








