Arsip Tag: PDAM Semarang

Operasi Ketupat PDAM Semarang Sasar 14 Ribu Pelanggan Menunggak, Potensi Tagihan Capai Rp3 Miliar

Lingkar.co — Perumda Air Minum PDAM Tirta Moedal Kota Semarang menggelar operasi penertiban pelanggan bertajuk Operasi Ketupat untuk meningkatkan kedisiplinan pembayaran rekening air menjelang Idul Fitri 2026.

Direktur Utama PDAM Tirta Moedal Kota Semarang, Ady Setiawan mengatakan operasi tersebut menyasar sekitar 14.000 pelanggan atau sekitar 7 persen dari total pelanggan yang tercatat memiliki tunggakan pembayaran.

“Operasi penertiban ini kita mulai hari ini sampai 13 Maret. Sasaran kami sekitar 7 persen pelanggan atau kurang lebih 14.000 sambungan rumah,” ujar Ady dalam konferensi pers Operasi Ketupat di kantor PDAM Tirta Moedal Kota Semarang, Senin (9/3/2026).

Ady mengungkapkan, total potensi tunggakan pelanggan yang menjadi target penagihan dalam operasi tersebut mencapai sekitar Rp3 miliar.

Menurutnya, sebagian besar pelanggan yang menunggak berasal dari sektor rumah tangga kelas menengah hingga atas.

“Potensi tunggakannya sekitar Rp3 miliar. Rata-rata pelanggan rumah tangga,” jelasnya.

Berdasarkan data PDAM, wilayah dengan jumlah tunggakan terbanyak berada di Cabang Semarang Utara dan Cabang Semarang Timur.

Sebagian pelanggan tercatat menunggak pembayaran selama 3 bulan hingga lebih dari 7 bulan bahkan mendekati 1 tahun.

Dalam Operasi Ketupat ini, PDAM akan menerapkan sanksi tegas bagi pelanggan yang tidak segera melunasi tunggakan.

Petugas akan melakukan kunjungan langsung kepada pelanggan. Jika hingga sore hari pelanggan belum melakukan pembayaran, maka sambungan air akan langsung diputus sementara.

“Kalau sudah dikunjungi dan sampai sore belum membayar, maka akan dilakukan pemutusan sambungan air minum,” tegas Ady.

Bahkan jika pelanggan tetap tidak melunasi kewajiban dalam waktu satu bulan setelah pemutusan, water meter dapat dicabut. Selain itu, Ady juga mengingatkan pelanggan agar tidak melakukan penyambungan sendiri secara ilegal.

“Kalau membuka sambungan sendiri setelah diputus, itu bisa masuk ranah pidana,” ujarnya.

Melalui Operasi Ketupat ini, PDAM menargetkan penagihan tunggakan bisa mencapai sekitar Rp2,5 miliar. Menurut Ady, operasi ini juga bertujuan menegakkan rasa keadilan bagi pelanggan yang sudah disiplin membayar.

“Ada pelanggan yang sudah tertib dan disiplin, tentu itu kita apresiasi. Maka pelanggan yang belum tertib harus didorong menjadi lebih tertib,” katanya.

Selain operasi penertiban, PDAM juga menyiapkan petugas piket selama Lebaran untuk memastikan distribusi air tetap lancar. Petugas akan berjaga dalam tiga shift selama 24 jam guna mengantisipasi gangguan layanan.

Ady juga mengimbau masyarakat yang mudik meninggalkan rumah agar memastikan keran air dalam kondisi tertutup untuk menghindari penggunaan air yang tidak direncanakan.

“Kami siapkan layanan 24 jam agar suplai air tetap aman selama Lebaran,” pungkasnya. ***

Hanya 10 dari 79 Hidran Berfungsi, Damkar Semarang Minta Perhatian Serius

Lingkar.co – Kondisi sarana penunjang pemadaman kebakaran di Kota Semarang menjadi sorotan. Dari total 79 titik hidran yang tercatat, Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang menyebut hanya 10 hidran yang masih berfungsi.

Sekretaris Damkar Kota Semarang, Ade Bhakti Ariawan, mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi tersebut. Menurutnya, keberadaan hidran sangat vital dalam mendukung kecepatan dan efektivitas pemadaman kebakaran.

“Dari 79 titik hidran yang terdata, sekitar 61 masih terlihat fisiknya, tetapi yang benar-benar berfungsi hanya 10 titik. Sementara sisanya, ada yang rusak dan ada pula yang sudah tidak terlihat keberadaannya,” kata Ade, Jumat (2/1/2025).

Ade menjelaskan, tim Damkar telah melakukan penelusuran terhadap hidran yang tidak terlihat hingga radius sekitar 20 meter. Namun, sejumlah titik tidak berhasil ditemukan karena diduga tertutup bangunan atau infrastruktur jalan.

“Beberapa warga menyebut hanya terlihat bagian atas hidran, bahkan ada yang sudah tertutup cor atau bangunan,” jelasnya.

Dengan luas wilayah Kota Semarang mencapai 373,70 kilometer persegi, jumlah hidran yang tersedia dinilai jauh dari ideal. Kondisi ini membuat petugas Damkar harus bekerja lebih keras saat menangani kebakaran, terutama di wilayah dengan keterbatasan sumber air.

Ade menyebut, di sejumlah kecamatan seperti Gunungpati dan Mijen, bahkan tidak terdapat satu pun titik hidran. Ia mendorong agar aset pemerintah, seperti kantor kelurahan dan fasilitas publik, dilengkapi dengan tandon air sebagai alternatif sumber pemadaman.

“Kalau hidran tidak tersedia, setidaknya ada tandon air di aset-aset pemerintah yang bisa dimanfaatkan saat darurat,” ujarnya.

Sebagai perbandingan, Ade mencontohkan Kota Surabaya yang telah beralih dari sistem hidran ke tandon air. Saat ini, Surabaya memiliki lebih dari 400 titik tandon air aktif dan dapat digunakan Damkar tanpa biaya.

“Di Surabaya, penggunaan air untuk pemadaman gratis. Itu hasil studi banding kami dan sudah kami sampaikan ke Wali Kota Semarang,” ungkapnya.

Damkar juga menyoroti temuan hidran yang tertutup cor di Jalan Majapahit, Kecamatan Pedurungan, pada akhir 2025 lalu. Menurut Ade, kondisi tersebut menunjukkan masih rendahnya perhatian terhadap fungsi hidran sebagai fasilitas vital keselamatan publik.

Sepanjang tahun 2025, Damkar Kota Semarang mencatat sebanyak 275 peristiwa kebakaran, jumlah ini menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 341 kejadian. Meski demikian, keterbatasan sumber air dinilai tetap menjadi kendala serius di lapangan.

Ke depan, Damkar berencana mengundang pihak PDAM untuk melakukan sinkronisasi terkait keberadaan dan fungsi hidran di Kota Semarang.

“Kami akan duduk bersama PDAM. Mau tidak mau, Damkar tidak bisa bekerja optimal tanpa ketersediaan sumber air,” tandas Ade. ***