Semua tulisan dari Alan Henry

Tiga Kandidat Sekda Semarang 2026 Mengerucut, Sosok Eksternal Jadi Sorotan

Lingkar.co – Seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang tahun 2026 kini memasuki fase akhir. Setelah melalui serangkaian tahapan panjang, panitia seleksi menetapkan tiga kandidat terbaik dengan nilai tertinggi.

Ketiga nama tersebut terdiri dari dua pejabat internal Pemerintah Kota Semarang, yakni Budi Prakosa dan Bambang Pramusinto, serta satu kandidat eksternal, Handi Priyanto dari Pemerintah Kota Malang.

Kepala BKPP Kota Semarang, Joko Hartono, memastikan bahwa seluruh tahapan seleksi telah berjalan sesuai aturan dan dilakukan secara terbuka.

“Seluruh tahapan telah dilaksanakan secara kompetitif, mulai dari seleksi administrasi, assessment kompetensi, uji gagasan, hingga penelusuran rekam jejak. Dari proses tersebut ditetapkan tiga peserta dengan nilai tertinggi,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).

Kandidat Eksternal Jadi Sorotan

Dari ketiga nama tersebut, Handi Priyanto menjadi satu-satunya kandidat yang berasal dari luar Pemerintah Kota Semarang. Saat ini ia menjabat sebagai Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Malang dan dikenal memiliki rekam jejak kuat di bidang pengelolaan keuangan daerah.

Selama menjabat, Handi mendorong berbagai inovasi dalam sistem perpajakan daerah, termasuk digitalisasi layanan pajak, penguatan pengawasan transaksi, serta peningkatan transparansi guna menekan potensi kebocoran pendapatan.

Di bawah kepemimpinannya, instansi yang ia pimpin berhasil meraih predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) dari Kementerian PAN-RB. Capaian tersebut menjadi indikator keberhasilan reformasi birokrasi yang berorientasi pada pelayanan publik.

Selain itu, sejumlah inovasi dalam optimalisasi pajak daerah turut berkontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), termasuk melalui pengembangan layanan berbasis teknologi dan program edukasi sadar pajak kepada masyarakat.

Kehadirannya sebagai figur eksternal dinilai membawa perspektif baru dalam tata kelola pemerintahan. Namun, tantangan adaptasi terhadap lingkungan birokrasi baru tetap menjadi catatan tersendiri.

Dua Kandidat Internal

Sementara itu, dua kandidat dari internal memiliki keunggulan masing-masing. Budi Prakosa dikenal berpengalaman dalam bidang perencanaan pembangunan daerah serta menjaga kesinambungan program strategis pemerintah kota.

Adapun Bambang Pramusinto memiliki rekam jejak dalam menjaga stabilitas sosial serta memperkuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat, khususnya dalam bidang politik dan kebangsaan.

Menunggu Keputusan Akhir

Dengan mengerucutnya tiga nama tersebut, keputusan akhir kini berada di tangan Wali Kota Semarang. Publik pun menantikan arah kebijakan yang akan diambil, apakah mempertahankan kesinambungan dari internal atau membuka peluang pembaruan melalui figur eksternal.

Penetapan Sekda definitif ini diharapkan mampu memperkuat kinerja birokrasi, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta mendorong pembangunan Kota Semarang yang lebih optimal ke depan. ***

Masuksi Tahap Akhir, Tiga Nama Lolos Seleksi Sekda Semarang

Lingkar.co – Proses seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang kini memasuki tahap akhir. Tiga kandidat dengan nilai tertinggi resmi diumumkan kepada publik, termasuk satu peserta yang berasal dari luar daerah.

Pengumuman tersebut dipublikasikan melalui akun Instagram resmi BKPP Kota Semarang serta dituangkan dalam surat Panitia Seleksi (Pansel) bernomor 21/Pansel-JPTSekda/IV/2026.

Seleksi dilakukan secara terbuka dan kompetitif dengan sejumlah tahapan ketat, mulai dari seleksi administrasi, uji kompetensi berbasis assessment, uji gagasan tertulis dan lisan, hingga penelusuran rekam jejak peserta.
Ketua Pansel yang juga Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menegaskan hasil akhir seleksi tersebut.

“Menetapkan tiga peserta dengan nilai tertinggi yang disusun berdasarkan urutan abjad. Mereka adalah Bambang Pramusinto, Budi Prakosa dan Handi Priyanto,” bunyi pengumuman resmi tersebut.

Dari ketiga nama tersebut, dua di antaranya merupakan aparatur sipil negara (ASN) yang telah lama berkarier di lingkungan Pemerintah Kota Semarang. Bambang Pramusinto saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), sementara Budi Prakosa menjabat Kepala Bappeda sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Sekda Kota Semarang.

Adapun kandidat lainnya, Handi Priyanto, berasal dari luar daerah dan saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) di Pemerintah Kota Malang.

Kepala BKPP Kota Semarang, Joko Hartono, menyampaikan bahwa proses seleksi terbuka ini memberikan kesempatan luas bagi ASN dari berbagai daerah untuk berkompetisi secara sehat.

“Semua mekanisme pendaftaran, termasuk unggah berkas dan pengumuman, dilakukan di situs BKN yang dinamakan ASN Career. Tidak ada tatap muka dengan panitia seleksi,” jelasnya.

Ia menambahkan, seluruh tahapan seleksi dilakukan secara daring melalui platform milik Badan Kepegawaian Negara, guna menjamin transparansi dan akuntabilitas proses rekrutmen.

Seleksi Sekda Kota Semarang sendiri telah dibuka sejak 20 Februari hingga Maret 2026 sebagai bagian dari upaya menjaring kandidat terbaik secara terbuka. Sebelumnya, posisi Sekda diisi oleh pelaksana tugas setelah pejabat definitif, Iswar Aminuddin, memilih pensiun dini dan kemudian menjabat sebagai Wakil Wali Kota Semarang.

Tahapan selanjutnya, tiga nama kandidat tersebut akan dikoordinasikan dengan Gubernur Jawa Tengah serta Badan Kepegawaian Negara sebelum satu nama ditetapkan sebagai Sekda definitif.

Dengan proses seleksi yang terbuka dan berbasis merit ini, diharapkan pejabat Sekda terpilih mampu memperkuat tata kelola pemerintahan serta meningkatkan kualitas pelayanan publik di Kota Semarang. ***

Hari Raya Nyepi di Semarang, Pawai Ogoh-Ogoh Akan Kembali Digelar

Lingkar.co – Kota Semarang akan kembali merayakan keberagaman melalui Pawai Ogoh-Ogoh yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (26/4/2026). Acara yang menjadi rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 ini akan menampilkan iring-iringan seni dan budaya lintas etnis dari Balai Kota menuju Simpang Lima.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyatakan bahwa pawai tahun ini tampil lebih megah karena adanya partisipasi aktif dari berbagai wilayah di luar Semarang.

“Tahun ini ada dukungan nyata dari PHDI Jepara, PHDI Kendal, hingga Kelompok Beleganjur dari Jogjakarta yang pada penyelenggaraan sebelumnya tidak ada. Selain keterlibatan kelompok musik tersebut, perbedaan besar tahun ini juga terlihat pada pementasan Sendratari Legenda Rawa Pening sebagai penutup acara di Simpang Lima,” ujarnya.

Pawai tahun ini melibatkan ribuan peserta dengan mengusung semangat sesanti Memayu Hayuning Bhawono untuk menciptakan Semarang yang aman, Memayu Hayuning Sesami untuk Semarang yang toleran, serta Memayu Hayuning Diri sebagai bentuk komitmen toleransi. Hal ini berjalan seiring dengan capaian kota Semarang sebagai peringkat ke tiga Kota Paling Toleran di Indonesia versi SETARA Institute tahun 2026 baru-baru ini.

“Capaian dari SETARA Institute adalah bukti nyata bahwa masyarakat kita sangat terbuka. Warga bisa melihat langsung bagaimana Beleganjur dari berbagai daerah bersanding dengan rebana, angklung, kuda lumping, leak, Barongsai, sampai Warak Ngendog khas Semarang dalam satu rute yang sama sebagai simbol keindahan dalam perbedaan,” jelasnya.

Pawai akan dimulai pukul 14.00 WIB dengan menempuh rute dari Jalan Pemuda (depan Balai Kota), melintasi landmark Tugu Muda, Jalan Pandanaran, hingga berakhir di Lapangan Pancasila Simpang Lima. Penetapan rute di jalan-jalan protokol ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat untuk menikmati sajian budaya tersebut secara leluasa.

Agustina mengajak seluruh warga, baik dari kota Semarang maupun luar daerah, untuk datang dan menyaksikan langsung perayaan keberagaman ini.

“Mari kita saksikan dan rayakan bersama momentum ini sebagai pengingat untuk terus merawat harmoni yang sudah menjadi identitas Ibu Kota Jawa Tengah. Pawai ini adalah milik kita semua, tempat di mana seni budaya dari berbagai latar belakang bisa tumbuh dan diapresiasi oleh siapa saja,” pungkasnya. ***

Peluang Besar Seni Budaya, Spartavbud Siap Jadi Jembatan Pemasaran Seniman

Lingkar.co – Yayasan Dewi Sartika (YDS) Semarang kembali menggelar Focus Group Discussion (FGD) keempat dalam rangkaian program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan RI Tahun 2025. Kegiatan ini melibatkan pelaku seni, budayawan, akademisi, hingga praktisi media guna memperkuat pengembangan platform digital Spartavbud.

Ketua pelaksana kegiatan, Yanuar Aris Budiarto, menyampaikan bahwa sejak FGD pertama digelar, kehadiran platform Spartavbud mendapat respons positif dari kalangan seniman dan budayawan di Kota Semarang.

Menurutnya, platform ini dirancang sebagai jembatan pemasaran karya seni dan budaya, sehingga para pelaku kreatif dapat lebih mudah mempromosikan sekaligus menjual produk mereka.

“Platform SPARTAVBUD ini dinilai memiliki ‘nyawa’ dan semangat pemberdayaan yang berpotensi memperkuat ekosistem seni dan budaya,” ujarnya dalam kegiatan yang digelar di Gedung Business Learning Center (BLC) Unwahas Semarang, Kamis (23/4/2026).

Pada FGD kali ini, pembahasan difokuskan pada strategi penguatan promosi dan distribusi konten secara masif sebelum aplikasi benar-benar dikembangkan.

“Nah, pada FGD kali ini kami fokus pada topik ‘Strategi Pasukan Iklan & Distribusi Konten Massal SPARTAVBUD’, kami berharap sebelum aplikasi ini didevelop, sudah ada masukan dari para budayawan dan masyarakat yang akan jadi penggunanya,” jelas Yanuar Aris Budiarto.

Dosen Seni Rupa UPGRIS sekaligus Ketua AECI Satya Nirmana Foundation Semarang, Singgih Adhi Prasetyo, menilai sektor seni rupa memiliki potensi ekonomi besar yang belum tergarap maksimal.

“Peluangnya besar, termasuk untuk pola kerja freelance. Saya yakin platform SPARTAVbud ini mampu memberdayakan pelaku seni budaya dan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa Spartavbud berpotensi menarik minat mahasiswa karena konsepnya membuka peluang penghasilan tambahan.

“Kepentingan pelaku seni budaya adalah dibantu promosi, dan kepentingan masyarakat, dalam hal ini mahasiswa, adalah butuh penghasilan tambahan. Maka konsep ini langkah jitu,” katanya.

Sementara itu, Direktur Gambang Semarang Art Company, Tri Subekso, menilai Spartavbud memiliki keunggulan dibanding platform lain karena membawa idealisme pemberdayaan komunitas.

“Spartavbud ini punya idealisme, punya ‘nyawa’ untuk memfasilitasi teman-teman komunitas,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya proses kurasi yang ketat agar kualitas karya tetap terjaga, mengingat beragamnya karakter pelaku seni dan kebutuhan pasar.

FGD ini juga menghadirkan praktisi seni visual seperti Rofikin serta perwakilan komunitas Wayang On The Street, Krisna Phiyastika.

Dari kalangan media, turut hadir Hery Priyono dan Prasetyo Widodo yang memberikan perspektif terkait promosi dan pemasaran karya seni.

Prasetyo menilai, tantangan terbesar bukan lagi pada kesadaran seniman terhadap branding, melainkan pada kemampuan menjual karya.

“Brand awareness seniman sudah cukup, tapi bagaimana menjual karya itu yang masih lemah. Narasi produk harus dibangun agar memikat konsumen,” paparnya.

Hal senada disampaikan Hery Priyono yang menilai Kota Semarang tidak kekurangan seniman maupun event budaya berkualitas, namun masih lemah dalam aspek pemasaran.

“Aplikasi seperti Spartavbud ini bisa jadi batu loncatan para pelaku seni dan budaya untuk memperkenalkan dan menjual karyanya,” ungkapnya.

Ia bahkan menyebut militansi seniman Semarang tetap tinggi meski tantangan besar terus dihadapi.

“Seniman Semarang itu ‘gila’. Sudah tahu Semarang itu kuburan seni, tapi tetap nekat berkesenian,” ujarnya.

Melalui forum ini, Spartavbud diharapkan tidak hanya menjadi platform digital, tetapi juga solusi nyata untuk memperkuat ekosistem seni dan budaya secara lebih terstruktur, berkelanjutan, serta mampu membuka akses pasar yang lebih luas bagi para pelaku kreatif. ***

Gugatan Mantan Direksi Masuk PTUN, PDAM Tirta Moedal Serahkan ke Pemkot Semarang

Lingkar.co – Perumda Air Minum PDAM Tirta Moedal Kota Semarang menyerahkan penanganan konflik hukum terkait gugatan mantan direksi yang diajukan ke Pengadilan Tata Usaha Negara kepada Pemerintah Kota Semarang.

Direktur Utama PDAM Tirta Moedal, Ady Setiawan, menjelaskan bahwa persoalan tersebut berada dalam kewenangan pemerintah daerah, khususnya Wali Kota Semarang sebagai kuasa pemilik modal.

Menurutnya, konflik yang terjadi tidak berada dalam ranah operasional manajemen PDAM, melainkan masuk kategori konflik agensi antara pihak eksternal, yakni mantan direksi dengan pemilik perusahaan, yaitu Pemkot Semarang.

“Konflik ini sebetulnya di luar daripada manajemen karena merupakan ranah antara Pemkot Semarang dengan pihak ketiga,” ujar Ady Setiawan, Kamis (23/4/2026).

Meski demikian, pihaknya menyatakan kesiapan untuk berkoordinasi apabila dibutuhkan dalam proses hukum tersebut. Terutama dalam penyediaan dokumen atau bukti yang berkaitan dengan legalitas manajemen dan direksi yang saat ini menjabat.

“Kalau memang diperlukan kita siap memberikan bukti jika manajemen kita sah secara hukum,” jelasnya.

Ia menegaskan, adanya gugatan hukum tersebut tidak akan mempengaruhi operasional perusahaan, khususnya pelayanan air bersih kepada masyarakat yang tetap berjalan normal. PDAM, kata dia, tetap fokus menjaga kontinuitas distribusi air minum bagi warga Kota Semarang.

“Perusahaan ini dibuat untuk melayani masyarakat, terkait konflik yang ada, harapannya tidak muncul spekulasi yang bisa menghambat pelayanan,” tegasnya.

Dari sisi internal, jajaran manajemen PDAM Tirta Moedal disebut tetap solid dan berkomitmen menjalankan tugas pokok dan fungsi secara profesional. Kondisi internal perusahaan juga dipastikan tetap kondusif meskipun tengah menghadapi gugatan hukum.

Terkait langkah hukum selanjutnya, Ady Setiawan menegaskan bahwa seluruh keputusan berada di tangan Pemerintah Kota Semarang, dalam hal ini Wali Kota sebagai pemegang kewenangan.

“Wewenang ada di Pemkot dan Wali Kota sebagai pemilik. Kami berkomitmen melaksanakan tugas sebaik mungkin dan menjaga situasi tetap kondusif demi kenyamanan pelanggan,” pungkasnya.

Dengan sikap tersebut, PDAM Tirta Moedal berharap pelayanan publik tetap berjalan optimal serta kepercayaan masyarakat terhadap layanan air bersih tidak terganggu oleh dinamika hukum yang tengah berlangsung. ***

Tukar Botol Dapat Lumpia, Kado Inovatif Pemkot Semarang Buat Warga di HUT ke-479 Kota Semarang

Lingkar.co — Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang kembali menghadirkan inovasi kreatif yang menggabungkan kepedulian lingkungan dengan pelestarian kuliner khas daerah melalui program “Tukar Botol Dapat Lumpia”.

Program ini mengajak masyarakat menukarkan botol bekas menjadi voucher lumpia gratis, sekaligus menargetkan pembagian 5.000 porsi lumpia untuk memecahkan Rekor MURI.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kota Semarang dalam mendorong budaya ramah lingkungan sekaligus menguatkan identitas kota sebagai rumah kuliner legendaris.

“Melalui program ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk mulai memilah sampah dari rumah. Botol bekas yang sering dianggap tidak bernilai, kini bisa ditukar menjadi sesuatu yang bermanfaat. Ini juga menjadi momentum kebersamaan warga di dalam merayakan HUT ke-479 Kota Semarang sekaligus memperkuat identitas Kota Semarang sebagai kota kreatif dan peduli lingkungan,” ujar Agustina.

Program “Tukar Botol Dapat Lumpia” dilaksanakan dalam dua tahap, pertama, tahap penukaran botol bekas
di mana masyarakat dapat menukarkan botol bekas pada tanggal 26–30 April 2026 di bank-bank sampah terdekat. Botol yang dikumpulkan akan ditukar dengan voucher lumpia gratis.

Selanjutnya adalah tahap penukaran voucher. Di sini
voucher yang telah diperoleh kemudian dapat ditukarkan dengan lumpia pada tanggal 3 Mei 2026 pukul 06.00 – 08.00 WIB di Lapangan Pancasila Simpang Lima.

Sebanyak 5.000 porsi lumpia akan dibagikan kepada masyarakat dalam kegiatan ini, yang sekaligus menjadi upaya Pemerintah Kota Semarang untuk memecahkan Rekor MURI sebagai pembagian lumpia terbanyak berbasis gerakan peduli lingkungan.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari kampanye Pemkot Semarang dalam mendorong partisipasi aktif masyarakat terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan, sekaligus memperkuat citra Kota Semarang sebagai kota yang inovatif, ramah lingkungan, dan kaya akan budaya kuliner.

Wali Kota Semarang mengajak seluruh masyarakat untuk turut berpartisipasi, mengumpulkan botol bekas, dan menjadi bagian dari sejarah baru Kota Semarang. ***

Pemkot Semarang Gercep Tangani Anak Korban Pembakaran

Lingkar.co – Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang langsung bergerak cepat menangani kasus tragis yang menimpa seorang siswi kelas 2 SMP berinisial T, yang menjadi korban pembakaran oleh pamannya sendiri di Tambakmulyo, Semarang Utara.

Wali kota Semarang, Agustina Wilujeng melalui Camat Semarang Utara, Siwi Wahyuningsih bersama jajaran kelurahan langsung melakukan koordinasi dengan dinas terkait, seperti DP3A, Dinas Sosial dan RSWN untuk memastikan korban mendapatkan perlindungan dan perawatan medis yang layak setelah sebelumnya sempat terkendala biaya pengobatan.

Langkah ini diambil sebagai bentuk respons sekaligus wujud perhatian pemerintah kota atas musibah yang dialami warganya.

“Kami juga sampaikan bahwa atas instruksi dari Ibu Wali Kota, kita lakukan atensi, intervensi terhadap korban. Yang pertama kita lakukan adalah berkoordinasi dengan DP3A terkait dengan pelindungan perempuan dan anak, karena ini korbannya adalah di bawah umur, SMP kelas 2,” ujar Camat Semarang Utara, Siwi Wahyuningsih, pada Rabu (22/4/2026).

Proses penanganan dimulai dengan melakukan pendampingan dan asesmen mendalam bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang.

Diketahui sebelumnya, korban sempat dibawa ke rumah sakit swasta namun terpaksa dipulangkan oleh orang tuanya karena kendala biaya. Melihat kondisi tersebut, pihak kecamatan bersama DP3A memindahkan korban ke Rumah Sakit Umum Daerah K.R.M.T Wongsonegoro (RSWN) untuk mendapatkan pengobatan intensif.

“Karena tidak bisa di-cover oleh BPJS, karena kemarin kan dibawa ke rumah sakit swasta. Nah, setelah itu dengan adanya kita memberikan bantuan bersama DP3A, pendampingan DP3A, ini kita kirim ke RSWN untuk dilakukan pemeriksaan pengobatan secara intensif,” jelasnya.

Kondisi luka bakar yang diderita korban dilaporkan mencapai 30 persen, yang meliputi area lengan kanan hingga bagian punggung. Selain bantuan medis, Dinas Sosial juga telah menyalurkan bantuan logistik berupa sembako untuk meringankan beban keluarga korban selama masa pemulihan.

“Luka sekitar 30 persen. Makanya kita evakuasi karena takutnya (luka) rentan sama bakteri, sama virus,” tutup Siwi. ***

KAI Daop 4 Aktifkan 3 Stasiun di Pantura Mulai 27 April 2026, Akses Masyarakat Makin Mudah

Lingkar.co – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 4 Semarang terus mendorong peningkatan layanan transportasi publik di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah.

Upaya ini diwujudkan dengan pengaktifan kembali layanan naik turun penumpang di Stasiun Plabuan dan Stasiun Comal, serta penambahan pemberhentian kereta api di Stasiun Batang yang mulai berlaku pada 27 April 2026.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperluas akses transportasi berbasis rel, khususnya bagi masyarakat di Kabupaten Batang, Pemalang, dan sekitarnya. Dengan hadirnya layanan ini, masyarakat diharapkan semakin mudah menjangkau berbagai kota tujuan secara efisien.

Sebelum kembali dioperasikan, ketiga stasiun telah melalui proses ramp check oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Pemeriksaan ini bertujuan memastikan seluruh fasilitas memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM), baik dari sisi keselamatan maupun kenyamanan penumpang.

Berbagai aspek yang diperiksa meliputi kelengkapan alat keselamatan seperti alat pemadam kebakaran, jalur evakuasi, hingga titik kumpul darurat. Selain itu, fasilitas penunjang seperti ruang tunggu, toilet, musala, serta sistem informasi perjalanan juga dipastikan dalam kondisi optimal.

Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Luqman Arif, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam mendekatkan layanan kepada masyarakat.

“Pengaktifan kembali layanan di Stasiun Plabuan dan Comal serta penambahan pemberhentian di Stasiun Batang menjadi langkah nyata KAI dalam menghadirkan akses transportasi yang lebih dekat dan efisien bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, dengan kebijakan ini pelanggan kini memiliki lebih banyak pilihan perjalanan ke berbagai kota di Jawa, seperti Semarang, Tegal, Cirebon, Purwokerto, Yogyakarta, hingga Solo.

Pada tahap awal, sejumlah kereta api telah dijadwalkan berhenti di masing-masing stasiun. Untuk Stasiun Plabuan dan Comal, layanan yang tersedia antara lain KA Kaligung, KA Kamandaka, serta KA Joglosemarkerto dengan berbagai relasi perjalanan.

Sementara itu, Stasiun Batang akan melayani lebih banyak perjalanan, termasuk KA Argo Muria, KA Tawang Jaya Premium, KA Menoreh, KA Kamandaka, KA Joglosemarkerto, dan KA Kaligung. Penambahan ini diharapkan mampu meningkatkan fleksibilitas dan pilihan transportasi bagi masyarakat.

KAI juga akan melakukan evaluasi secara berkala terhadap tingkat okupansi dan minat masyarakat. Evaluasi ini menjadi dasar dalam menentukan pengembangan layanan ke depan.

“Langkah ini merupakan tahap awal untuk melihat potensi pengguna jasa di wilayah Pantura. Apabila animo masyarakat tinggi, KAI akan mempertimbangkan penambahan layanan maupun rute perjalanan lainnya,” tambah Luqman Arif.

Untuk mempermudah akses, tiket kereta api dari ketiga stasiun tersebut kini sudah dapat dipesan melalui aplikasi Access by KAI, situs resmi kai.id, serta kanal penjualan resmi lainnya. Masyarakat diimbau untuk merencanakan perjalanan lebih awal guna memastikan ketersediaan tempat duduk.

Melalui penguatan layanan ini, KAI berharap konektivitas antarwilayah di jalur Pantura semakin meningkat. Selain itu, kehadiran layanan yang lebih luas juga diharapkan mampu mendukung mobilitas masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan. ***

13 Bilah Demung Hilang di Unnes, Alarm Keamanan dan Ancaman bagi Pembelajaran Budaya

Lingkar.co — Kehilangan 13 bilah demung di lingkungan kampus bukan sekadar kasus pencurian biasa. Di Universitas Negeri Semarang, peristiwa ini justru membuka persoalan yang lebih luas, keamanan aset budaya sekaligus keberlangsungan pembelajaran seni tradisional.

Instrumen gamelan yang hilang merupakan bagian dari perangkat praktik mahasiswa di Fakultas Bahasa dan Seni. Kehilangan ini baru disadari saat aktivitas perkuliahan kembali berjalan normal.

Wakil Dekan II Fakultas Bahasa dan Seni Unnes, M. Burhanuddin, menjelaskan dugaan waktu kejadian mengacu pada rekaman kamera pengawas.

Ia menyebut pelaku diduga masuk pada Jumat (17/4/2026) sekitar pukul 12.20 WIB dan keluar sekitar 20 menit kemudian.

“Pelaku masuk seperti mahasiswa biasa, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan,” ujarnya.

Menurutnya, tidak ditemukan tanda pembobolan, yang mengindikasikan akses dilakukan secara wajar di tengah aktivitas kampus.

Bilah demung yang diambil merupakan bagian dari alat musik gamelan yang digunakan dalam mata kuliah karawitan Jawa. Sebanyak 13 bilah hilang dari satu set yang aktif digunakan mahasiswa dalam praktik sehari-hari.

“Yang diambil adalah bagian yang dipakai untuk kegiatan kuliah,” jelas Burhanuddin.

Ia menegaskan, dampak utama bukan pada nilai materi, tetapi pada terganggunya proses belajar mahasiswa.

Secara nominal, kerugian diperkirakan berkisar Rp5 juta hingga Rp10 juta. Namun bagi kampus, kehilangan ini berdampak langsung pada mahasiswa yang sedang mempelajari dan melestarikan budaya Jawa. Tanpa instrumen yang lengkap, proses praktik menjadi terhambat.

“Mahasiswa jadi terkendala karena alatnya tidak utuh,” katanya.

Menariknya, kasus ini disebut memiliki kemiripan dengan sejumlah kehilangan gamelan di tempat lain.

Beberapa di antaranya terjadi di kelompok kesenian Ngesti Pandawa, serta kampus seni seperti ISI Surakarta dan ISI Yogyakarta. Meski begitu, keterkaitan antar kejadian tersebut masih dalam tahap penelusuran dan belum dapat dipastikan.

Kepala Humas Unnes, Surahmat, membenarkan kejadian tersebut dan menyebut pihak kampus tengah mengumpulkan bukti.

“Rekaman CCTV sedang dikumpulkan untuk dilaporkan kepada pihak berwajib,” ujarnya.

Koordinasi juga telah dilakukan dengan aparat kepolisian setempat untuk menindaklanjuti kasus ini. Kasus ini menjadi pengingat bahwa ruang-ruang pendidikan budaya tidak luput dari risiko keamanan.

Ketika alat musik tradisional hilang, yang terdampak bukan hanya institusi, tetapi juga proses pewarisan budaya itu sendiri. Dan jika pola ini terus berulang, persoalannya bukan lagi sekadar kehilangan, melainkan hilangnya ruang belajar bagi generasi berikutnya. ***

Truk Kembali Gagal Nanjak di Silayur, Dishub Soroti Muatan dan Kelas Jalan

Lingkar.co — Kecelakaan di tanjakan Silayur, Jalan Prof Dr Hamka, Ngaliyan, kembali terjadi. Namun kali ini, sorotan tidak hanya pada insiden, melainkan pada persoalan yang lebih mendasar muatan kendaraan dan kesesuaian kelas jalan.

Peristiwa yang terjadi pada Rabu (22/4/2026) dini hari itu langsung ditindaklanjuti oleh Dinas Perhubungan Kota Semarang dengan pengecekan lapangan.

Kepala Dishub Kota Semarang, Danang Kurniawan, menjelaskan kecelakaan terjadi sekitar pukul 01.50 WIB, saat kendaraan angkutan barang memang diperbolehkan melintas.

Dari hasil pemeriksaan awal, truk berpelat B 9262 BYY yang mengangkut kayu triplek diduga mengalami kelebihan muatan.

Ia menyebut beban kendaraan diperkirakan mencapai sekitar 27 ton setelah dikonversikan. Selain itu, material triplek yang dibawa diduga menyerap air selama perjalanan, sehingga menambah berat kendaraan.

“Pengemudi mengaku sudah menggunakan gigi satu sejak dari bawah, namun tetap gagal menanjak,” ujarnya.

Secara teknis, kendaraan disebut masih dalam kondisi laik jalan hingga September 2026 dan tidak ditemukan kerusakan signifikan.

Namun, Dishub menyoroti persoalan lain yang tak kalah penting jenis kendaraan tersebut seharusnya tidak melintas di jalan kelas II seperti di kawasan Silayur.

Artinya, persoalan bukan hanya pada kondisi kendaraan, tetapi juga pada ketidaksesuaian antara beban, jenis kendaraan, dan karakter jalan.

Danang menjelaskan, kendaraan angkutan barang memang diperbolehkan melintas mulai pukul 23.00 WIB hingga pagi hari, terutama untuk mendukung aktivitas kawasan industri. Sebelumnya, petugas Dishub juga telah melakukan pengawasan di titik penyekatan hingga pukul 23.00 WIB.

Namun, kejadian ini menunjukkan bahwa pengaturan waktu saja belum cukup tanpa pengawasan muatan dan jenis kendaraan.

Sebagai tindak lanjut, Dishub Kota Semarang berencana memperketat pengawasan kendaraan barang. Beberapa langkah yang akan dilakukan antara lain penggunaan timbangan portable di lapangan, optimalisasi sistem portal buka-tutup, pengawasan lebih ketat terhadap kendaraan berat dan langkah ini diharapkan mampu menekan potensi kecelakaan serupa.

“Harapannya bisa memberikan rasa aman bagi pengguna jalan,” kata Danang.

Kecelakaan berulang di tanjakan Silayur kembali membuka persoalan klasik, antara kebutuhan logistik dan keterbatasan infrastruktur jalan.

Selama pengawasan muatan dan kepatuhan terhadap kelas jalan belum berjalan optimal, jalur ini berpotensi terus menjadi titik rawan bukan hanya karena tanjakannya, tetapi karena sistem yang belum sepenuhnya terkendali. ***