Tangkal Radikalisme, Pahamkan Empat Pilar Kebangsaan ke Santri

  • Bagikan
Cucu Almagfurlah KH. Maimoen Zubaer, Rojih Ubab Maimoen Zubaer (tengah) berfoto usai memberikan siraman wawasan kebangsaan di Yayasan Al Hidayah Kabupaten Kudus, Selasa 17 November 2020.(DOK ISTIMEWA)
Cucu Almagfurlah KH. Maimoen Zubaer, Rojih Ubab Maimoen Zubaer (tengah) berfoto usai memberikan siraman wawasan kebangsaan di Yayasan Al Hidayah Kabupaten Kudus, Selasa 17 November 2020.(DOK ISTIMEWA)

KUDUS, Lingkar.co– Cucu Almagfurlah KH. Maimoen Zubaer, Rojih Ubab Maimoen Zubaer memberikan siraman wawasan kebangsaan di Yayasan Al Hidayah Kabupaten Kudus, Selasa, 17 November 2020. Pria yang kini menjabat sebagai Anggota MPR RI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menjabarkan berbagai hal yang berkaitan dengan negara Indonesia.

Kegiatan itu merupakan kunjungan anggota dewan dalam rangka mensosialisasikan empat pilar kebangsaan, yang merupakan tugas dari Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR-RI). Di mana, Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan atau yang sering disebut oleh kalangan pesantren sebagai PBNU.

Ads Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022

Adapun rincian dari PBNU yang dimaksud yakni Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UDD 1945. Sementara, dari 4 pilar yang dipaparkan itu tentunya bertujuan mengedukasi santri agar tidak hanya paham persoalan agama saja yang ada di lingkup pesantren.

Akan tetapi, santri juga harus memahami nilai-nilai kebangsaan. Sehingga nantinya jiwa nasionalisme dapat tercipta dan terjaga dalam sanubari. Pada kesempatan itu, di depan para kiai, tokoh masyarakat, santri dan pengurus pesantren itu, pria yang akrab disapa Gus Rojih, memaparkan sejumlah wawasan kebangsaan.

Menurutnya, semangat kebangsaan tersebut harus dinafasi oleh nilai dan tradisi pesantren dapat menjadi modal dan model untuk menguatkan karakter kebangsaan, khususnya bagi generasi penerus, termasuk kalangan santri. Ia menilai, sejak zaman dahulu kala pesantren selalu menampilkan wajah Islam yang tawassuth atau moderat, tasamuh (toleran), dan tawazun (menjaga keseimbangan).

Hal tersebut membentuk sikap dan karakter santri yang inklusif, akomodatif, toleran dan menerima UUD 1945, Pancasila, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai ideologi yang final. Melalui pesantren, Islam dapat dihadirkan sebagai agama yang cinta damai, menghargai perbedaan, dan meletakkan perbedaan sebagai rahmat.

“Untuk itu perlu nilai-nilai kebangsaan kita tanamkan sejak santri di pondok pesantren. Agar nantinya ketika kembali ke masyarakat mereka juga mampu untuk menanamkan nilai nilai kebangsaan tersebut kepada orang-orang disekitar mereka,” imbuhnya.

Dengan menanamkan nilai kebangsaan, para santri dapat mengetahui betapa besarnya Indonesia dengan semangat Bhineka Tunggal Ika. Dengan begitu mereka dapat memahami jika ada paham-paham yang berseberangan dengan nilai-nilai kebangsaan.

“Paham-paham di luar implementasi nilai-nilai kebangsaan seperti radikalisme, agar nantinya para santri sebagai generasi penerus kita harus mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Serta membuat para santri mengerti bahwa paham radikalisme bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan,” tandasnya.(lut)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.