Lingkar.co – Kecamatan Semarang Barat mengembangkan inovasi Taman Edukasi Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) sebagai upaya mendukung ketahanan pangan sekaligus menekan angka stunting di wilayahnya.
Camat Semarang Barat, Elly Asmara, mengatakan inovasi tersebut berangkat dari program prioritas pemerintah tahun 2026 yang menitikberatkan pada ketahanan pangan dan lingkungan berkelanjutan.
“Ide ini kami kembangkan di kantor kecamatan dengan memanfaatkan lahan yang ada. Ayam KUB kami pilih karena perawatannya mudah, murah, dan relatif tahan penyakit,” ujar Elly, Rabu (17/12/2025).
Menurutnya, ayam KUB merupakan jenis unggulan yang dibina langsung oleh Dinas Pertanian Kota Semarang dan cocok dikembangkan oleh masyarakat secara mandiri, baik di rumah maupun di lingkungan sekitar.
Saat ini, kandang ayam KUB di kantor Kecamatan Semarang Barat menampung sekitar 34 ekor ayam, terdiri dari indukan serta generasi pertama hingga ketiga. Ayam-ayam tersebut sudah mulai berproduksi telur dengan rata-rata 15–20 butir per ekor per bulan.
“Hasil telur ini sudah kami manfaatkan untuk konsumsi internal, kegiatan sosial, hingga disalurkan kepada anak-anak stunting saat kegiatan bakti sosial,” jelasnya.
Ke depan, hasil produksi telur dan daging ayam KUB akan didistribusikan lebih teratur sebagai stimulus tambahan gizi (PMT) bagi anak-anak stunting yang telah terdata di kelurahan.
Elly menegaskan, penerima manfaat tidak perlu mengajukan permohonan karena data anak stunting telah dipantau secara rutin oleh kader kesehatan di masing-masing kelurahan.
“Stunting ini prioritas. Anak-anak sudah terdata, sehingga hasil dari sini bisa langsung disalurkan sebagai tambahan asupan protein,” katanya.
Selain sebagai sumber pangan, taman edukasi ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat. Dengan konsep kandang umbaran tipe tunnel, ayam dapat bergerak lebih bebas sehingga pertumbuhan lebih optimal.
“Eloknya ini low cost. Kalau kandang seperti ini, kisaran Rp2–3 juta. Bahkan bisa lebih murah kalau dibuat sendiri. Harapannya bisa menginspirasi warga untuk beternak mandiri,” ungkapnya.
Inovasi ini juga terintegrasi dengan konsep ramah lingkungan. Kotoran ayam direncanakan diolah menjadi pupuk, sementara pengembangan budidaya maggot tengah dijajaki untuk mengelola sampah organik sekaligus pakan ternak.
Tak hanya ayam KUB, Kecamatan Semarang Barat juga mengembangkan berbagai unit ketahanan pangan lain, seperti lele, nila, kelinci, dan aviari burung.
Ke depan, Elly menyebut pihaknya akan memperluas program ke kelurahan-kelurahan yang masih memiliki lahan cukup luas, seperti Kelurahan Tambak Harjo, yang akan dijadikan laboratorium inovasi pangan dan lingkungan.
“Kami ingin ini jadi praktik nyata, bukan sekadar teori. Dari sini, ketahanan pangan jalan, lingkungan terjaga, dan stunting bisa ditekan,” pungkasnya. ***