Arsip Tag: Kota Semarang

Hari Raya Nyepi di Semarang, Pawai Ogoh-Ogoh Akan Kembali Digelar

Lingkar.co – Kota Semarang akan kembali merayakan keberagaman melalui Pawai Ogoh-Ogoh yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (26/4/2026). Acara yang menjadi rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 ini akan menampilkan iring-iringan seni dan budaya lintas etnis dari Balai Kota menuju Simpang Lima.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyatakan bahwa pawai tahun ini tampil lebih megah karena adanya partisipasi aktif dari berbagai wilayah di luar Semarang.

“Tahun ini ada dukungan nyata dari PHDI Jepara, PHDI Kendal, hingga Kelompok Beleganjur dari Jogjakarta yang pada penyelenggaraan sebelumnya tidak ada. Selain keterlibatan kelompok musik tersebut, perbedaan besar tahun ini juga terlihat pada pementasan Sendratari Legenda Rawa Pening sebagai penutup acara di Simpang Lima,” ujarnya.

Pawai tahun ini melibatkan ribuan peserta dengan mengusung semangat sesanti Memayu Hayuning Bhawono untuk menciptakan Semarang yang aman, Memayu Hayuning Sesami untuk Semarang yang toleran, serta Memayu Hayuning Diri sebagai bentuk komitmen toleransi. Hal ini berjalan seiring dengan capaian kota Semarang sebagai peringkat ke tiga Kota Paling Toleran di Indonesia versi SETARA Institute tahun 2026 baru-baru ini.

“Capaian dari SETARA Institute adalah bukti nyata bahwa masyarakat kita sangat terbuka. Warga bisa melihat langsung bagaimana Beleganjur dari berbagai daerah bersanding dengan rebana, angklung, kuda lumping, leak, Barongsai, sampai Warak Ngendog khas Semarang dalam satu rute yang sama sebagai simbol keindahan dalam perbedaan,” jelasnya.

Pawai akan dimulai pukul 14.00 WIB dengan menempuh rute dari Jalan Pemuda (depan Balai Kota), melintasi landmark Tugu Muda, Jalan Pandanaran, hingga berakhir di Lapangan Pancasila Simpang Lima. Penetapan rute di jalan-jalan protokol ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat untuk menikmati sajian budaya tersebut secara leluasa.

Agustina mengajak seluruh warga, baik dari kota Semarang maupun luar daerah, untuk datang dan menyaksikan langsung perayaan keberagaman ini.

“Mari kita saksikan dan rayakan bersama momentum ini sebagai pengingat untuk terus merawat harmoni yang sudah menjadi identitas Ibu Kota Jawa Tengah. Pawai ini adalah milik kita semua, tempat di mana seni budaya dari berbagai latar belakang bisa tumbuh dan diapresiasi oleh siapa saja,” pungkasnya. ***

Pemkot Semarang Gercep Tangani Anak Korban Pembakaran

Lingkar.co – Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang langsung bergerak cepat menangani kasus tragis yang menimpa seorang siswi kelas 2 SMP berinisial T, yang menjadi korban pembakaran oleh pamannya sendiri di Tambakmulyo, Semarang Utara.

Wali kota Semarang, Agustina Wilujeng melalui Camat Semarang Utara, Siwi Wahyuningsih bersama jajaran kelurahan langsung melakukan koordinasi dengan dinas terkait, seperti DP3A, Dinas Sosial dan RSWN untuk memastikan korban mendapatkan perlindungan dan perawatan medis yang layak setelah sebelumnya sempat terkendala biaya pengobatan.

Langkah ini diambil sebagai bentuk respons sekaligus wujud perhatian pemerintah kota atas musibah yang dialami warganya.

“Kami juga sampaikan bahwa atas instruksi dari Ibu Wali Kota, kita lakukan atensi, intervensi terhadap korban. Yang pertama kita lakukan adalah berkoordinasi dengan DP3A terkait dengan pelindungan perempuan dan anak, karena ini korbannya adalah di bawah umur, SMP kelas 2,” ujar Camat Semarang Utara, Siwi Wahyuningsih, pada Rabu (22/4/2026).

Proses penanganan dimulai dengan melakukan pendampingan dan asesmen mendalam bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang.

Diketahui sebelumnya, korban sempat dibawa ke rumah sakit swasta namun terpaksa dipulangkan oleh orang tuanya karena kendala biaya. Melihat kondisi tersebut, pihak kecamatan bersama DP3A memindahkan korban ke Rumah Sakit Umum Daerah K.R.M.T Wongsonegoro (RSWN) untuk mendapatkan pengobatan intensif.

“Karena tidak bisa di-cover oleh BPJS, karena kemarin kan dibawa ke rumah sakit swasta. Nah, setelah itu dengan adanya kita memberikan bantuan bersama DP3A, pendampingan DP3A, ini kita kirim ke RSWN untuk dilakukan pemeriksaan pengobatan secara intensif,” jelasnya.

Kondisi luka bakar yang diderita korban dilaporkan mencapai 30 persen, yang meliputi area lengan kanan hingga bagian punggung. Selain bantuan medis, Dinas Sosial juga telah menyalurkan bantuan logistik berupa sembako untuk meringankan beban keluarga korban selama masa pemulihan.

“Luka sekitar 30 persen. Makanya kita evakuasi karena takutnya (luka) rentan sama bakteri, sama virus,” tutup Siwi. ***

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Dorong Perempuan Jadi Agen Perubahan, Perkuat Pembangunan Kota

Lingkar.co – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan pentingnya peran perempuan sebagai agen perubahan dalam pembangunan kota. Hal tersebut disampaikan saat membuka talkshow peringatan Hari Kartini di lingkungan Balaikota Semarang, Selasa (21/4), usai memimpin upacara.

Mengusung tema “Semangat Kartini, Inspirasi Lintas Generasi. Perempuan Berdaya, Semarang Semakin Hebat”, kegiatan ini dihadiri organisasi perempuan seperti GOW, PKK, serta jajaran kepala perangkat daerah. Momentum tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kapasitas perempuan dalam mendukung pembangunan Kota Semarang.

Dalam sambutannya, Agustina Wilujeng menekankan bahwa keberanian perempuan dalam menyampaikan gagasan dan mengambil keputusan merupakan kunci utama terciptanya perubahan.

“Pertanyaannya sekarang, wahai perempuan Kota Semarang, bisa tidak kita menjadi agen perubahan? Kalau bisa, maka kita harus selesai dengan diri kita sendiri dulu,” tegasnya.

Agustina juga berbagi pengalaman pribadinya saat memutuskan maju sebagai Wali Kota Semarang. Ia mengakui sempat muncul keraguan menghadapi tantangan besar, namun keputusan yang diambil dengan keyakinan penuh justru menjadi titik balik yang memperkuat dukungan.

“Ketika saya memutuskan menerima, karena itu tugas dan saya harus menang, maka seluruh daya upaya dan lingkungan akan mendukung. Tapi kalau kita ragu, dukungan itu akan terbelah,” ujarnya.

Menurutnya, perempuan memiliki karakter kuat seperti teliti, tangguh, dan mampu menyelesaikan pekerjaan secara optimal. Potensi tersebut, lanjutnya, harus diiringi keberanian untuk bertindak secara totalitas.

Selain itu, Wali Kota Semarang juga menegaskan komitmen Pemerintah Kota Semarang dalam menciptakan ruang yang aman dan setara bagi perempuan. Hal ini termasuk dalam interaksi sosial sehari-hari, seiring meningkatnya sensitivitas terhadap isu komunikasi dan pelecehan di era keterbukaan informasi.

Sebagai bentuk komitmen nyata, Pemerintah Kota Semarang terus menghadirkan berbagai program pemberdayaan perempuan, salah satunya melalui program “Waras Ekonomi”. Program ini difokuskan untuk mendorong pelaku UMKM, yang mayoritas dijalankan perempuan, agar dapat naik kelas dan memiliki keberlanjutan usaha.

“Selama ini banyak bantuan sifatnya insidental. Ke depan, kita dorong agar produk UMKM bisa masuk ke sistem bisnis yang berkelanjutan, sehingga benar-benar mandiri,” jelasnya.

Tak hanya di sektor ekonomi, kontribusi perempuan juga terlihat dalam sektor kesehatan melalui peran kader posyandu yang menjadi penggerak di tingkat komunitas.

Agustina menambahkan, peringatan Hari Kartini tahun ini dikemas lebih sederhana sebagai bagian dari efisiensi anggaran. Namun demikian, komitmen terhadap penguatan peran perempuan tetap menjadi prioritas utama Pemerintah Kota Semarang.

“Kesederhanaan ini tidak mengurangi peran perempuan sebagai penggerak pembangunan. Justru kita fokus pada dampak nyata yang bisa dirasakan masyarakat,” imbuhnya.

Melalui momentum Hari Kartini, Wali Kota Semarang berharap perempuan Kota Semarang semakin percaya diri, berani menyampaikan gagasan, serta mengambil peran strategis dalam berbagai lini kehidupan.

“Semua perempuan bisa menjadi Kartini masa kini. Dimulai dari berani berbicara, menyampaikan apa yang dirasakan, dan mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing,” pungkasnya. ***

Nyalakan Nasionalisme, Merah Putih Sepanjang 100 Meter Terbentang di Karnaval Paskah Kota Semarang

Lingkar.co – Karnaval Paskah Kota Semarang 2026 menjadi lebih dari sekadar perayaan keagamaan. Di tengah keberagaman masyarakat, kegiatan ini tampil sebagai ruang publik yang menyalakan kembali semangat nasionalisme melalui pendekatan budaya yang inklusif dan membumi.

Sejak awal pelaksanaan, perhatian masyarakat tertuju pada bentangan bendera merah putih sepanjang kurang lebih 100 meter yang diarak oleh ratusan anak muda lintas komunitas.

Visual tersebut tidak hanya menghadirkan kemegahan, tetapi juga menjadi simbol kuat persatuan di tengah perbedaan. Karnaval yang menempuh rute dari Kota Lama hingga berakhir di halaman Balai Kota Semarang ini menghadirkan ribuan peserta dan masyarakat yang turut menyaksikan, menjadikannya sebagai momentum kebersamaan yang hidup di ruang kota.

Yunike dari komunitas History Maker menjelaskan bahwa kehadiran simbol kebangsaan berupa bendera merah putih dalam perayaan Paskah merupakan pesan yang sengaja dihadirkan, terutama bagi generasi muda.

“Walaupun ini perayaan Paskah, kita tetap tidak bisa lepas dari semangat kebangsaan Indonesia. Bendera ini melambangkan bahwa kita berbeda-beda budaya, agama, tetapi tetap satu,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keterlibatan anak muda dalam kegiatan ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai kebangsaan di tengah perubahan zaman yang cepat.

“Harapannya, kegiatan seperti ini bisa dirawat agar generasi muda tidak melupakan budaya dan nilai-nilai yang bangsa Indosia miliki,” imbuhnya.

Melalui pendekatan yang menggabungkan ekspresi budaya, partisipasi generasi muda, dan simbol kebangsaan, Karnaval Paskah di Kota Semarang menunjukkan bahwa nasionalisme tidak selalu hadir dalam bentuk formal, tetapi dapat tumbuh secara alami melalui ruang-ruang interaksi sosial masyarakat.

Di tengah arus perubahan yang kian cepat, karnaval ini menjadi pengingat bahwa semangat kebangsaan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan merawat perbedaan.

Dari langkah kaki para peserta yang berjalan bersama, tersirat pesan sederhana namun kuat bahwa Indonesia tidak hanya dipersatukan oleh simbol, tetapi oleh kesadaran kolektif untuk terus menjaga kebhinekaan sebagai kekuatan. Dan dari Kota Semarang, semangat itu kembali dinyalakan, hidup, dan berjalan di tengah masyarakat. ***

Tegaskan Kota Semarang Inklusif, Karnaval Paskah Berikan Panggung Bagi Difabel

Lingkar.co – Semangat inklusivitas yang dibangun dalam Karnaval Paskah Kota Semarang 2026 tidak hanya berhenti pada simbol, tetapi diwujudkan secara nyata melalui keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk kelompok difabel yang turut mengambil peran dalam rangkaian kegiatan.

Di titik akhir perjalanan karnaval Paskah di depan kantor Balai Kota Semarang, kelompok difabel tampil memukau membawakan pertunjukan tari.

Penampilan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi menyiratkan pesan kuat tentang kesetaraan dan akses yang terbuka bagi semua.

Kehadiran difabel di panggung karnaval mempertegas bahwa ruang publik di Kota Semarang semakin inklusif di mana tidak sekadar memberi ruang, tetapi juga memberikan panggung yang setara untuk berekspresi dan dihargai.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari dinamika kota yang terus bergerak dan menghadirkan ruang kebersamaan bagi seluruh masyarakat.

“Kegiatan ini menjadi bagian dari kehidupan kota yang terus bergerak, menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk saling bertemu dan berbagi kebahagiaan di ruang publik,” ujarnya.

Lebih jauh, dirinya menggarisbawahi bahwa kekuatan kota justru lahir dari keberagaman yang dikelola dengan baik.

“Seringkali kita berpikir kebersamaan lahir karena kesamaan. Padahal justru karena perbedaan itulah kebersamaan menjadi kuat dan berarti,” tegasnya.

Karnaval Paskah tahun ini sekaligus menjadi refleksi bahwa pembangunan kota tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang bagaimana ruang sosial dibangun agar mampu merangkul semua lapisan masyarakat secara adil dan setara.

Di tengah riuh perayaan, pesan inklusivitas itu justru berbicara paling lantang bahwa kota yang maju bukan hanya yang tumbuh secara fisik, tetapi yang mampu memastikan setiap warganya hadir, terlihat, dan dihargai.

Dari langkah para difabel yang tampil percaya diri di ruang publik, kota Semarang menegaskan satu hal bahwa kesetaraan bukan sekadar wacana, melainkan praktik yang terus dihidupkan bersama. ***

Usia ke-479, Kota Semarang Tegaskan Transformasi Berkelanjutan

Lingkar.co – Dua windu lagi menuju setengah milenium. Pada 2 Mei 2026, Kota Semarang genap berusia 479 tahun. Bukan sekadar angka, melainkan akumulasi sejarah panjang yang mencatat lika-liku dari kota pelabuhan kolonial hingga menjelma menjadi ibu kota Jawa Tengah yang dinamis.

Namun, perjalanan usia yang nyaris lima abad ini tidak hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan. Lebih dari itu, momentum ini menjadi titik tolak deklarasi kolektif: Semarang hendak bertransformasi menjadi kota yang bersih, sehat, cerdas, makmur, dan tangguh.

Pemerintah Kota Semarang di bawah kepemimpinan Wali Kota Agustina Wilujeng dan Wakil wali kota, Iswar Aminuddin mengemas peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-479 dengan pendekatan yang tidak biasa.

Alih-alih menggelar pesta seremonial berbiaya besar, Pemkot Semarang memilih menghadirkan 17 “kado hebat” yang menyasar langsung kebutuhan mendasar warga. Keputusan ini mencerminkan pergeseran paradigma pembangunan perkotaan: dari kota yang dibangun untuk dilihat, menjadi kota yang dirasakan oleh warganya.

“Tema ‘Semarang Bergerak, Semarang Semakin Hebat’ bukan sekadar slogan. Ini adalah gerak kolektif yang mengintegrasikan akar tradisi dengan transformasi modern. Energi ini kita arahkan untuk mewujudkan visi besar: Semarang sebagai kota yang bersih, sehat, cerdas, makmur, dan tangguh di usianya yang ke-479,” ujar Agustina, Minggu (12/4).

Lima Pilar, Satu Gerakan

Visi lima kata itu bersih, sehat, cerdas, makmur, tangguh bukan sekadar rangkaian adjektiva. Menurut perencana pembangunan Kota Semarang, kelimanya merupakan kerangka kerja yang saling mengunci. Bersih berarti tata kelola lingkungan dan ruang publik yang bebas dari akumulasi sampah serta polusi.

Sehat mencakup akses layanan kesehatan preventif dan kuratif yang merata. Cerdas tak hanya soal literasi digital, tetapi juga ekosistem pendidikan yang inklusif dan berbasis data. Makmur diukur dari pemerataan ekonomi hingga ke tingkat rumah tangga. Adapun tangguh adalah kapasitas kota menghadapi guncangan baik bencana alam, krisis iklim, maupun tekanan sosial.

Belasan kado yang disiapkan Pemkot Semarang, jika dibedah, adalah manifestasi dari kelima pilar tersebut. Tidak ada yang diberikan secara serampangan. Setiap program memiliki sasaran strategis yang terukur.

Kado untuk Mobilitas dan Ruang Publik

Di sektor fasilitas publik, masyarakat dapat mengakses secara gratis sejumlah sarana olah raga seperti Gedung Tri Lomba Juang, Lapangan Tambora, GOR Manunggal Jati, hingga Padepokan Pencak Silat Gunung Talang pada momen tertentu. Diskon 50 persen juga diberikan untuk penggunaan Lapangan Sepak Bola Sidodadi tepat pada 2 Mei 2026. Kebijakan ini menjawab salah satu keluhan warga selama ini: mahalnya biaya sewa fasilitas olahraga yang kerap membuat ruang publik tidak terjangkau.

Yang lebih monumental adalah kebijakan gratis BRT Trans Semarang di seluruh koridor pada 1–5 Mei 2026. Langkah ini bukan hanya soal penghematan ongkos, melainkan uji coba untuk melihat seberapa besar potensi peralihan moda jika transportasi publik benar-benar dihadirkan tanpa beban biaya.

“Ini menjadi data penting bagi kami untuk merancang subsidi lintas angkutan di masa depan,” ungkap Agustina.

Selain itu, tarif parkir didiskon menjadi hanya Rp479 bagi pengguna QRIS. Nilai simbolis ini mengingatkan warga pada usia kota sekaligus mendorong transisi menuju pembayaran nontunai yang lebih efisien.

Layanan Dasar yang Mendekat

Pada sektor layanan dasar, Pemkot memberikan diskon sambungan air bersih Rp550 ribu per kepala keluarga dengan syarat minimal 10 KK dalam satu kelompok. Program ini menyasar permukiman padat yang selama ini terkendala biaya pemasangan baru. Lebih jauh, layanan air tangki gratis disediakan sepanjang 2026 untuk daerah rawan bencana, kekeringan, dan kebutuhan kegiatan keagamaan. Diskon 10 persen untuk layanan sedot tinja juga berlaku dengan kuota terbatas sebuah upaya mengatasi persoalan sanitasi yang kerap luput dari perhatian.

Wali Kota Agustina menekankan bahwa kado-kado ini lahir dari data. “Kami tidak asal bagi. Setiap program didasarkan pada keluhan yang masuk lewat saluran partisipasi warga, media sosial, hingga musrenbang. Inilah bentuk kehadiran negara yang responsif.”

Pariwisata dan Perizinan: Dua Sisi Mata Uang

Di sektor pariwisata, seluruh objek wisata di Kota Semarang digratiskan pada 2 Mei 2026. Kebijakan ini diharapkan mendongkrak kunjungan sekaligus menghidupkan kembali ekonomi kreatif yang masih dalam masa pemulihan pascapandemi.

Namun, yang lebih strategis adalah program LAMP1ON (Layanan Mudah dan Cepat Perizinan Online) yang dihadirkan pada 5 Mei 2026. Program ini memberikan kemudahan dan diskon untuk layanan laboratorium serta Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

“Perizinan yang rumit selama ini menjadi salah satu hambatan utama UMKM. Kami potong simpulnya,” tegas Agustina.

Kesehatan: Fokus pada Kelompok Rentan

Dalam ranah kesehatan, Pemkot Semarang tidak sekadar menggelar bakti sosial massal. Bantuan difokuskan pada ibu hamil risiko tinggi dan bayi berat lahir rendah (BBLR) di tiga kecamatan prioritas pada 5–7 Mei 2026. Data Dinas Kesehatan menunjukkan bahwa angka kematian ibu dan bayi di wilayah tersebut masih di atas rata-rata kota. Dengan intervensi langsung, Pemkot berharap dapat menekan angka kematian sekaligus membangun sistem rujukan yang lebih tanggap.

Selain itu, skrining kesehatan gratis disediakan di 40 puskesmas. Tidak hanya untuk lansia, tetapi juga kelompok usia produktif yang kerap mengabaikan pemeriksaan rutin.

Ekonomi Kerakyatan dan Lingkungan

Program Jempol Pak Kuat (Jemput Bola Perizinan dan Penguatan Ekonomi Kreatif) menjadi salah satu kado yang paling dinanti pelaku UMKM. Layanan ini berupa jemput bola perizinan PSAT (Pemberdayaan Sosial dan Terpadu), fasilitas kemasan gratis, serta uji bahan berbahaya di sejumlah lokasi hingga akhir Mei 2026. Dalam praktiknya, petugas akan datang langsung ke sentra-sentra industri kecil untuk memproses perizinan dan memberikan sertifikasi produk.

Di sisi lingkungan, warga diajak menukar botol bekas dengan bibit tanaman atau produk ramah lingkungan. Program ini mengajak partisipasi aktif warga dalam mengurangi sampah plastik sekaligus menghijaukan kota. Job Fair pada 6–7 Mei 2026 juga disiapkan untuk menjembatani pencari kerja dengan perusahaan-perusahaan yang membuka lowongan.

Administrasi Kependudukan yang Inklusif

Tak ketinggalan, layanan administrasi kependudukan seperti perekaman e-KTP bagi pelajar, Kartu Identitas Anak (KIA), dan e-KTP khusus bagi penyandang disabilitas menjadi perhatian. Selama ini, kelompok disabilitas kerap menghadapi hambatan akses karena loket pelayanan yang tidak ramah. Pemkot berkomitmen untuk menjemput bola dengan mendatangi sekolah-sekolah dan komunitas.

Refleksi di Usia 479 Tahun

Sejarawan Universitas Diponegoro, Prof. Singgih Tri Sulistiyono, dalam catatan terpisah menilai bahwa usia 479 tahun bukanlah pencapaian biasa bagi sebuah kota di Indonesia.

“Semarang telah melalui masa kolonial, revolusi, orde lama, orde baru, hingga reformasi. Setiap lapisan sejarah meninggalkan jejak fisik dan sosial. Tantangannya sekarang adalah bagaimana merawat warisan itu sambil melompat ke masa depan,” ujarnya.

Visi bersih, sehat, cerdas, makmur, tangguh yang digaungkan Agustina Wilujeng, menurut Singgih, adalah jawaban atas tuntutan kota abad ke-21. “Kota tangguh tidak hanya soal infrastruktur tahan banjir, tetapi juga ketahanan sosial warganya. Itu yang lebih sulit diukur,” terang Singgih.

Agustina mengakui bahwa perjalanan menuju lima pilar itu masih panjang. “Tapi momentum HUT ke-479 ini adalah awal. Kado-kado yang kami berikan adalah bibit. Kami ingin warga tidak hanya menerima, tetapi juga ikut menanam dan merawat,” katanya.

Dengan belasan kado yang menyentuh hampir semua sektor kehidupan, kota Semarang menunjukkan bahwa perayaan usia kota bisa menjadi instrumen kebijakan publik yang cerdas. Bukan sekadar pesta, melainkan penguatan fondasi untuk melangkah menuju kota yang benar-benar hebat dalam makna yang dirasakan langsung oleh warganya. ***

Launching Rangkaian Peringatan HUT ke-479, Pemkot Semarang Fokus pada Program Nyata untuk Warga

Lingkar.co – Kota Semarang akan memulai rangkaian peringatan Hari Jadi ke-479 melalui launching yang rencananya digelar pada Selasa (14/4) mendatang, dengan pendekatan yang lebih berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat.

Tidak hanya seremoni, pembukaan ini langsung diisi dengan berbagai program layanan publik, kampanye kesehatan, hingga penguatan ketahanan gizi warga.

Launching yang akan dipusatkan di Kampung Tambaklorok dan Halaman Balai Kota Semarang sejak pagi hari ini menjadi titik awal rangkaian panjang peringatan bertema “Semarang Bergerak, Semarang Semakin Hebat.” Tema tersebut mencerminkan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam mendorong pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, dijadwalkan memulai kegiatan dengan kampanye gemar makan ikan bersama warga pesisir di Kampung Tambaklorok. Selain edukasi, kegiatan ini juga diikuti makan ikan bersama sebagai upaya konkret mendorong perbaikan gizi keluarga.

“Peringatan hari jadi bukan hanya seremoni, tetapi momentum untuk memastikan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Agustina, Minggu (12/4). Ia menegaskan, pendekatan tahun ini mengedepankan program berbasis kebutuhan warga, salah satunya isu kesehatan dan pencegahan stunting.

Setelah kegiatan di Tambaklorok, rangkaian berlanjut di Balai Kota dengan pembukaan resmi peringatan Hari Jadi ke-479 Kota Semarang yang ditandai secara simbolis bersama jajaran Forkopimda. Agenda ini juga dirangkaikan dengan lomba memasak ikan tingkat kota, sarasehan gemar makan ikan bersama PKK, serta expo perikanan yang melibatkan pelaku usaha lokal.

Tidak hanya itu, berbagai layanan publik langsung dihadirkan pada hari pertama, seperti donor darah, cek kesehatan gratis, pelayanan KB keliling, hingga penyaluran bantuan pangan bergizi untuk kelompok rentan, termasuk bayi di bawah dua tahun dan calon pengantin. Kegiatan ini menjadi bagian dari program “Kado Hebat”, yakni paket layanan yang dirancang untuk memperkuat aspek sosial dan ekonomi masyarakat.

Secara keseluruhan, rangkaian Hari Jadi ke-479 akan berlangsung hingga Mei 2026, mencakup kegiatan sosial, budaya, hingga festival ekonomi kreatif. Pemerintah Kota Semarang juga memastikan seluruh informasi kegiatan terintegrasi dalam kanal publikasi terpadu agar mudah diakses masyarakat.

Agustina menambahkan, pemerintah ingin menggeser paradigma peringatan hari jadi menjadi lebih substansial. Ia menyebut, pemerintah tidak hanya menghadirkan acara, tetapi memastikan setiap kegiatan memiliki nilai manfaat langsung bagi warga. ***

KONI Semarang Bidik Dwi Sukses di Porprov Jateng 2026

Lingkar.co – Kota Semarang menghadapi tantangan besar sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah XVII 2026. Tak hanya memburu prestasi, sukses penyelenggaraan juga menjadi target utama.

Kota Semarang menargetkan “dwi sukses” dalam gelaran Porprov Jawa Tengah 2026 di Semarang Raya. Target tersebut mencakup keberhasilan dalam prestasi sekaligus kualitas penyelenggaraan.

Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia Kota Semarang, Arnaz Agung Andrarasmara, mengatakan bahwa ajang ini tidak boleh hanya berorientasi pada perolehan medali.

Menurutnya, Porprov harus menjadi momentum peningkatan kualitas atlet agar mampu bersaing di level yang lebih tinggi.

“Porprov bukan sekadar mengejar medali emas, tetapi bagaimana atlet Semarang bisa naik kelas hingga ke tingkat nasional bahkan internasional,” ujarnya saat rapat kerja di Semarang, Kamis (9/4/2026).

Ia menjelaskan, seluruh atlet yang akan diturunkan merupakan hasil pembinaan internal melalui Program Semarang Emas (PSE). Saat ini, sebanyak 588 atlet tergabung dalam program tersebut setelah melewati proses seleksi yang ketat.

Keberhasilan pada Porprov sebelumnya, lanjut Arnaz, menjadi bukti bahwa PSE merupakan program strategis dalam mencetak atlet berprestasi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Semarang, Fravarta Sadman, meminta agar persiapan dilakukan secara maksimal. Ia menekankan pentingnya penyelenggaraan yang berkualitas.

“Porprov harus digelar secara berkelas dan mampu memberikan dampak luas, terutama bagi perekonomian masyarakat,” katanya.

Ia juga mengapresiasi prestasi Kota Semarang yang sukses meraih gelar juara umum selama empat edisi berturut-turut. Menurutnya, status tuan rumah harus dimanfaatkan untuk mempertahankan prestasi dengan tetap menjunjung tinggi sportivitas.

Pemerintah Kota bersama KONI saat ini juga tengah menyiapkan skema bonus bagi atlet sebagai bentuk penghargaan atas prestasi.

Di sisi lain, anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo, mengingatkan agar perencanaan anggaran tuan rumah dilakukan secara matang dan terukur.
Wakil Ketua Umum I KONI Jawa Tengah, Urip Sihabudin, menyebut seluruh daerah kini tengah fokus mempersiapkan diri menghadapi Porprov 2026.

Ia mengelompokkan kesiapan daerah menjadi tiga kategori, yakni daerah yang mulai berkembang, daerah yang mempertahankan prestasi, dan daerah yang terus meningkatkan kemampuan.

Menurutnya, Porprov juga menjadi bagian penting dari persiapan menuju PON XXII 2028, dengan babak kualifikasi yang akan dimulai pada 2027.

“Kami terus memperkuat pembinaan, termasuk menjangkau usia dini melalui sekolah dan penerapan sport science secara lebih optimal,” ujarnya. ***

Tiga SPPG di Kota Semarang Siap Jadi Percontohan Praktik Baik MBG Nasional

Lingkar.co – Kota Semarang bersiap menjadi pusat diskusi nasional melalui acara “Dialog Nasional Praktik Baik Makan Bergizi Gratis (MBG)” pada 28-30 April 2026 mendatang. Acara yang bertempat di Hotel Gumaya ini menjadi langkah strategis dalam mendukung program strategis nasional penyediaan pangan bergizi bagi masyarakat.

Kota Semarang merasa terhormat menjadi tuan rumah bagi delegasi dari berbagai kota di Indonesia untuk mendiskusikan penguatan gizi nasional. Kami telah menyiapkan forum ini sebagai wadah pertukaran pengalaman atau best practise dalam mengelola program pangan secara efektif,” ujar Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Rabu (8/4/2026).

Dialog nasional ini akan mempertemukan perwakilan dari 20 kota/kabupaten penandatangan Pakta Milan di Indonesia, termasuk Kota Surabaya sebagai calon anggota. Selain itu, sejumlah kepala daerah dari Jawa Tengah seperti Magelang, Salatiga, Tegal, dan Pekalongan juga direncanakan hadir dalam pertemuan ini.

“Kehadiran puluhan kota ini menunjukkan komitmen kuat antar-pemerintah daerah untuk bersinergi demi kesehatan generasi mendatang. Kami ingin memastikan setiap daerah bisa saling belajar dalam mengimplementasikan kebijakan pemenuhan gizi ini,” jelas Agustina.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, para peserta dijadwalkan melakukan kunjungan lapangan ke tiga titik Satuan Pelayanan Pemakanan Gratis (SPPG) di Kota Semarang. Lokasi yang akan dikunjungi meliputi SPPG Aspol Polda Jateng Rejosari, SPPG Kedung Mundu 2, dan SPPG Pedalangan.

“Tiga lokasi SPPG ini dipilih karena telah memenuhi persyaratan standar operasional yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Fasilitas di Rejosari, Kedung Mundu, dan Pedalangan sangat representatif untuk dijadikan contoh pembelajaran bagi peserta nasional,” terang wali kota.

Kunjungan lapangan ini bertujuan untuk memperlihatkan secara langsung tata kelola distribusi makanan yang telah berjalan sesuai prosedur kesehatan. Para peserta akan melihat teknis penyelenggaraan makanan yang telah mendapatkan sertifikasi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

“Ketiga SPPG tersebut memiliki keunggulan pada alur pelayanan yang tertata dan fasilitas yang memadai sesuai standar baku. Kami ingin menunjukkan bahwa standarisasi kualitas makanan dan kebersihan adalah kunci utama dalam operasional SPPG,” lanjut Agustina.

Pemerintah Kota Semarang berharap hasil dari dialog nasional ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan program Makan Bergizi Gratis di seluruh wilayah Indonesia. Replikasi praktik baik dari Semarang diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan di kabupaten dan kota lainnya.

“Kami berharap praktik baik yang ada di Kota Semarang dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk segera melakukan replikasi. Dengan standarisasi yang seragam, kualitas penyelenggaraan program gizi di seluruh Indonesia akan semakin meningkat,” pungkasnya. ***

Pemkot Semarang Segera Lakukan Perbaikan Rumah Terdampak Puting Beliung Melalui Program RTLH

Lingkar.co – Usai meninjau langsung kondisi rumah warga yang terdampak bencana angin puting beliung di RT 5 RW 3 Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik, Wali kota Semarang, Agustina Wilujeng
memastikan bantuan darurat serta proses renovasi rumah melalui program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dapat segera dilaksanakan oleh dinas terkait.

Bencana yang terjadi pada Senin (30/3) tersebut mengakibatkan puluhan rumah warga mengalami kerusakan mulai dari taraf ringan hingga berat.

“Saya berterima kasih kepada warga masyarakat karena gercep. Jadi sore itu saya dapat kabar, setelah sampai di sini ternyata warga masyarakat sudah langsung bergotong-royong, teman-teman BPBD dan Disperkim juga langsung memetakan bantuan darurat,” ujar Agustina di sela-sela tinjauannya, Rabu (8/4).

Berdasarkan data sementara, terdapat 65 rumah yang terdampak di wilayah tersebut, dengan 29 rumah di antaranya mengalami kerusakan yang cukup parah.

Guna meringankan beban keluarga yang terdampak, Pemerintah Kota Semarang telah mendistribusikan berbagai bantuan logistik mulai dari sembako, terpal, hingga tempat tidur sementara.

“Ada juga bantuan uang tunai. Nah, yang harus direnovasi akan masuk dalam daftarnya Disperkim untuk RTLH, mudah-mudahan tim surveinya itu tidak lama karena ini memang sebuah kebutuhan,” lanjutnya.

Agustina juga memberikan apresiasi khusus terhadap kearifan lokal warga Gedawang yang menunjukkan sikap guyub rukun dalam membantu sesama saat terjadi bencana. Kerja bakti massal terlihat masih berlangsung di lokasi untuk memperbaiki atap-atap rumah warga yang rusak akibat hempasan angin kencang.

“Sekali lagi saya terima kasih, nomor satu kepada warga masyarakat yang guyub rukun, yang kedua kepada tim Pemkot yang terjun, dan kepada keluarga yang tertimpa bencana kami sampaikan keprihatinan,” pungkasnya. ***