Arsip Tag: Ketahanan Pangan

Luas Lahan Bisa Ditingkatkan Jadi 100.000 Hektare, Kabupaten Blora Incar Posisi Raja Jagung Jateng

Lingkar.co – Bupati Blora, Arief Rohman menargetkan kabupaten yang ia pimpin bisa menjadi penghasil jagung terbesar di Jawa Tengah.

Ia bilang, saat ini Blora merupakan produsen jagung terbesar kedua di Jawa Tengah dengan luas lahan mencapai hampir 83.000 hektare.

Sebagai ikhtiar mencapai target tersebut, pemerintah daerah mengajak seluruh elemen, termasuk Perkumpulan Semut Ireng dan Kelompok Tani Hutan (KTH) untuk bersinergi meningkatkan produktivitas jagung demi kesejahteraan bersama.

“Kita tentunya mendukung apa yang menjadi program dari Bapak Presiden terkait dengan ketahanan pangan, bahwa Blora ini penghasil jagung terbesar kedua, kita luasan lahanya hampir 83.000 hektare,” terangnya Rabu (8/4/2026).

Arief Rohman menyampaikan hal itu saat menghadiri acara Halalbihalal yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendamping Perhutanan Sosial Perkumpulan Rejo Semut Ireng Kabupaten Blora di Pendopo Kabupaten.

Bahkan, Bupati Arief berharap dengan tekad bersama dan dengan dukungan Pemkab Blora, nantinya luas lahan pertanian jagung juga bisa ditingkatkan.

“Tidak hanya 83.000, tapi bisa meningkat sampai 100.000 hektare kalau bisa dan kita ingin nanti ada pendampingan juga dari hulu sampai hilir, bagaimana soal bibitnya, soal pupuknya, dan sampai nanti setelah pasca panen ini hilirisasinya seperti apa,” ujarnya.

Terlebih dengan adanya wacana dari Kementerian Pertanian terkait kemungkinan produksi bioethanol yang ada di Kabupaten Blora. Pihaknya ingin agar dinas-dinas terkait bekerja sama dengan Kementerian terkait untuk melakukan pemetaan kaitannya dengan Perhutani, dengan perhutanan sosial dan KTH.

“Muaranya adalah untuk para petani, terutama yang ada di KTH. Nanti dipetakan, dibuat semacam pokja untuk memetakan ini. Jadi biar antara satu dengan yang lain, antara Perhutani ini dengan perhutanan sosial ini, tidak ada dikotomi. Satu dan yang lain Saling bisa berjalan. Tentunya patokannya adalah aturan yang ada,kita harmonisasi,” jelasnya.

Tentunya nanti dari kepolisian dan TNI juga sudah punya program untuk ketahanan pangan, nanti kita bisa seiring sejalan. Lahan-lahan yang kira-kira tidak termanfaatkan, lahan-lahan yang marjinal ini, kalau bisa kita manfaatkan.

“Jadi saya ingin pemetaannya, termasuk kendala-kendala apa yang dihadapi untuk teman-teman yang perhutanan sosial, kita ingin bersinergi, kita ingin bekerjasama dengan baik. Ini kami harap nanti keberadaan teman-teman ini nanti bisa rukun, bisa akur, bisa bersinergi semuanya,” sambungnya.

Usai Halalbihalal, kegiatan dilanjutkan dengan sarasehan dengan menghadirkan narasumber dari Direktur Pengendalian Perhutanan Sosial Dr. Marcus Oktavianus Susatyo, S.Hut, M.P, dari Balai PSKL Yogyakarta Wahyudi Ardhyanto, S.Si.St.MT, Kodim 0721 Blora.

Dari sarasehan itu diharapkan memunculkan rekomendasi kepada para pemangku kepentingan termasuk kepada Pemerintah Kabupaten Blora.

“Kira-kira rumusannya dan seperti apa rekomendasi kepada pemerintah yang harus kami dukung. Termasuk nanti akan kami tindaklanjuti hingga tingkat kecamatan atau desa-desa yang di situ ada lokasi perhutanan sosialnya,” kata dia.

“Kalau selama ini mungkin ada masih ada miskomunikasi antara teman-teman KTH dengan Kepala Desa dan sebagainya, kami tolong diberikan gambarannya dan petanya,” pungkasnya. (*)

Perkuat Ketahanan Pangan, Pemkot Binjai Mulai Distribusi Bantuan Beras dan Minyak Goreng

Lingkar.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Binjai mulai melaksanakan penyaluran bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng untuk alokasi Februari hingga Maret 2026.

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah Kota Binjai, Chairin F. Simanjuntak di Kantor Kecamatan Binjai Kota, Kota Binjai, Sumatra Utara.

Sekda Binjai menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut sebagai bagian dari komitmen pemerintah, baik pusat maupun daerah, dalam memperkuat perlindungan sosial dan menjaga ketahanan pangan masyarakat.

“Kegiatan ini merupakan wujud nyata kehadiran pemerintah dalam memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi, sekaligus sebagai upaya menjaga stabilitas pangan di tengah berbagai tantangan,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026).

Berdasarkan data yang telah ditetapkan, jumlah penerima bantuan pada alokasi Februari hingga Maret 2026 di Kota Binjai mencapai 33.885 orang.

Total bantuan yang disalurkan meliputi 667.700 kilogram beras dan 135.540 liter minyak goreng. Setiap penerima manfaat akan memperoleh 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng.

Lebih lanjut, Sekda berharap bantuan tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, tidak hanya sebagai penopang kebutuhan sehari-hari, tetapi juga sebagai bentuk perlindungan sosial dari pemerintah.

Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari tersalurkannya bantuan, melainkan juga dari ketepatan sasaran, ketepatan waktu, serta akuntabilitas dalam proses distribusi.

“Oleh karena itu, saya menginstruksikan seluruh pihak yang terlibat, mulai dari tingkat kota hingga kelurahan, agar melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab, profesionalisme, dan integritas. Koordinasi serta pengawasan harus terus diperkuat agar distribusi berjalan lancar, tertib, dan transparan,” tegasnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Pimpinan Cabang Bulog Kantor Cabang Medan Hanna Yulia, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Gelora Jaya Ananda, Camat Binjai Kota Juanda Sukma, Lurah Kartini Saferina Rezky, Danramil 01 Binjai Kota Kapten Inf. Eben Ezer Pakpahan, Kapolsek Binjai Kota AKP Diah Retnosari, serta masyarakat penerima bantuan dan para tamu undangan lainnya. (*)

Gus Wafa Serap Aspirasi Warga Rembang, Bahas Peran Pemuda dan Ketahanan Pangan

Lingkar.co — Anggota Komisi DPRD Provinsi Jawa Tengah, Muhamad Ali Wafa atau yang akrab disapa Gus Wafa, menggelar forum komunikasi publik dalam rangka peningkatan kualitas kebijakan pelaksanaan Peraturan Daerah (Perda). Kegiatan yang berlangsung di Kabupaten Rembang ini membahas implementasi Perda Jawa Tengah Nomor 4 Tahun 2021 tentang Pembangunan dan Pengembangan Kepemudaan, khususnya dalam mendukung program ketahanan pangan.

Dalam forum tersebut, Gus Wafa menegaskan bahwa kegiatan komunikasi publik menjadi salah satu sarana penting bagi legislatif untuk menyerap aspirasi masyarakat secara langsung. Berbagai masukan dari warga, menurutnya, akan menjadi bahan evaluasi strategis di DPRD Jawa Tengah yang berkantor di Gedung Berlian, Semarang.

Menurutnya, harapan masyarakat saat ini juga mengalami perubahan. Warga tidak lagi hanya menuntut pembangunan fisik atau alokasi anggaran semata, tetapi juga membutuhkan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada rakyat.

“Rakyat tidak semata-mata menginginkan anggaran atau pembangunan fisik. Mereka menginginkan kebijakan yang pro-rakyat. Kebijakan pemerintah seharusnya menjadi acuan utuh untuk menyejahterakan warga,” ujar Gus Wafa, Sabtu sore (14/3/2026).

Ia juga mengajak masyarakat untuk terus mendukung dan mengawal berbagai program pemerintah agar pembangunan yang telah direncanakan dapat berjalan berkelanjutan dan tepat sasaran.

Selain membahas peran pemuda dalam mendukung ketahanan pangan, forum tersebut juga menyoroti persoalan pendidikan yang berdampak pada keberlangsungan Madrasah Diniyah (Madin). Gus Wafa mengungkapkan adanya masukan dari masyarakat terkait penerapan sekolah enam hari yang dinilai berpengaruh terhadap tingkat kehadiran siswa di Madin.

“Secara fisik, bangunan Madin di wilayah Rembang sudah sangat representatif. Namun tantangan terbesar justru pada masalah absensi siswa. Ini akan kami dorong ke Pemerintah Provinsi agar ada solusi kebijakan yang tidak menggerus peran guru Madin,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Anggota DPRD Kabupaten Rembang dari Fraksi PPP, M. Lutfi Afifi, juga menyampaikan komitmennya dalam memperkuat sektor pertanian di daerah.

Ia menyebut usulan pembangunan lumbung padi di wilayah Kasreman telah diajukan sebagai langkah konkret untuk memperkuat infrastruktur pertanian, khususnya dalam mendukung pengairan bagi para petani.

Melalui tema “Peran Pemuda dalam Mengawal Program Ketahanan Pangan”, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong generasi muda di Rembang agar lebih aktif berpartisipasi dalam pengawasan dan pelaksanaan kebijakan daerah.

Sinergi antara kebijakan yang tepat serta partisipasi aktif masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam menghadapi berbagai dinamika sosial dan ekonomi di Jawa Tengah. (*)

Jaga Ketahanan Pangan Nasional, Menko Zulhas Kunjungi Demak dan Jepara

Lingkar.co – Menteri Koordinator (Menko) Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas) mengunjungi kabupaten Demak dan Jepara, Jawa Tengah, Selasa (10/03/2026).

Kunjungan tersebut menunjukkan Pemerintah terus memperkuat pelaksanaan berbagai program strategis di sektor pangan guna menjaga ketahanan pangan nasional serta memastikan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di daerah.

Zulhas berkata, kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan berbagai program prioritas nasional di bidang pangan dapat berjalan optimal di daerah, termasuk penguatan distribusi pupuk, peningkatan produksi pangan, serta program peningkatan kualitas gizi masyarakat seperti Program Makan Bergizi Gratis.

Dalam rangkaian kunjungan kerja tersebut, Menko Pangan juga menyampaikan sejumlah pesan terkait penguatan sektor pangan dan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

“Pemerintah terus mendorong berbagai program di sektor pangan agar dapat berjalan dengan baik di daerah. Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci dalam menjaga ketahanan pangan nasional”, ujar Zulhas..

Ia juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat untuk menghargai pangan dan tidak menyia-nyiakan makanan.

“Proses untuk menghasilkan makanan itu panjang, mulai dari petani, distribusi, hingga sampai ke masyarakat. Karena itu kita harus menghargai makanan dan tidak menyia-nyiakannya”, tegasnya.

Usai meninjau pelaksanaan program di Demak, Menko Pangan melanjutkan agenda kunjungan kerja ke Kabupaten Jepara untuk melakukan pertemuan dengan Bupati Jepara di Pendopo Kabupaten Jepara.

Dalam pertemuan tersebut dibahas berbagai langkah penguatan sektor pangan di daerah, termasuk distribusi pupuk, peningkatan produksi pangan, serta pelaksanaan program-program pemerintah di bidang pangan.

Dalam kesempatan tersebut, Menko Pangan juga menyempatkan diri mengunjungi Museum Kartini yang berada di kompleks Pendopo Kabupaten Jepara sebagai bentuk penghormatan terhadap semangat perjuangan R.A. Kartini dalam memperjuangkan pendidikan bagi generasi bangsa.

Melalui rangkaian kunjungan kerja ini, pemerintah berharap sinergi antara pemerintah pusat dan daerah semakin kuat dalam mendukung ketahanan pangan nasional serta memastikan berbagai program pangan dapat dirasakan manfaatnya secara luas oleh masyarakat. (*)

Tanam Alpukat, GP Ansor Jateng dan BUMN Sinergi Gemakan Gerakan Indonesia Asri dari Boyolali

Lingkar.co – Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Tengah bersama PLN Jateng–DIY menggandeng Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN melakukan penanaman pohon di Desa Sumur Kecamatan Tamansari Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, udara Sabtu (7/2/2026) pagi. Desa tersebut merupakan bagian dari kawasan lereng Gunung Merapi.

Wakil Kepala BP BUMN, Aminuddin Ma’ruf menyebut tanam pohon bibit alpukat memiliki banyak manfaat. Selain rimbun dan berakar kuat, juga bermanfaat untuk mendorong ketahanan pangan serta perekonomi warga desa.

Ia bilang, penanaman alpukat ini sebagai bagian dari semangat Gerakan Indonesia Asri, program nasional yang diluncurkan Presiden Prabowo dengan tagline Aman, Sehat, Resik, dan indah (ASRI)

“Menjaga alam bukan hanya urusan lingkungan, tetapi juga ibadah sosial dan investasi untuk anak cucu kita,” ujarnya.

Ia menautkan aksi tanam pohon dengan nilai dasar kader Ansor yaitu hablum minallah, hablum minannas, dan hablum minal alam sebagai tanggung jawab menjaga alam sebagai amanah.

Di tengah meningkatnya bencana banjir di berbagai wilayah Indonesia, ia menekankan bahwa kerusakan ekosistem harus dijawab dengan gerakan kolektif.

“Jangan sampai daerah kita dikenal karena sampah dan kumuhnya,” katanya, seraya mengajak Ansor menjadi garda depan perubahan.

Sementara, GM PLN Unit Induk Distribusi Jateng–DIY, Bramantyo Anggun Pambudi, menjelaskan alpukat dipilih karena bisa disebut sebagai ‘pohon harapan’ karena memiliki nilai ekonomi tinggi.

“Ini bukan hanya sumber oksigen, tetapi juga sumber penghasilan bagi masyarakat,” jelasnya.

Ia menyebut, di Boyolali dan Kudus, PLN telah menyalurkan masing-masing 400 bibit alpukat, dan jumlah itu akan terus ditingkatkan.

Lebih dari sekadar menanam, PLN juga membawa pendekatan keberlanjutan: modernisasi pertanian, pompa sawah berbasis listrik, hingga target meningkatkan frekuensi panen dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali setahun.

Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah, Dr. Shidqon Prabowo, menambahkan, kolaborasi ini sebagai pintu besar menuju pemberdayaan masyarakat. Ia berharap kegiatan tersebut bisa dilakukan secara merata di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

“Ini sejalan dengan ketahanan pangan nasional. Bukan hanya CSR bibit alpukat, tapi juga peluang CSR lain yang berkelanjutan,” katanya.

Ia pun menyatakan, Ansor hadir sebagai khadimul ummah (pelayan masyarakat) siap bersinergi dengan BUMN dan BUMD.

Bupati Boyolali, Agus Irawan, menyambut baik kolaborasi ini. Ia menyebut Tamansari sebagai tanah anugerah, di mana kopi, alpukat, dan sayuran tumbuh subur. Meski demikian, ia mengakui tantangan kekurangan air bersih dan hama kera ekor panjang yang merusak lahan.

“Kami berharap CSR dari BUMN juga menyentuh kebutuhan dasar seperti air bersih,” ujarnya.

Ia mengatakan, Pemerintah daerah berupaya mengembalikan kejayaan kopi Boyolali yang dahulu melegenda di lereng Merapi. (*)

Mengenal Buruan Sae, Program Ketahanan Pangan di Kota Bandung

Lingkar.co – Buruan Sae sebagai sebuah program ketahanan pangan di kota Bandung menarik Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. Ia bahkan datang melihat langsung program yang sukses di RW 09 Kelurahan Babakan Ciparay, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, Jawa Barat.

Saat menerima kunjungan Farhan, Ketua RW 09 Babakan Ciparay, Agus Tantan mengungkapkan, Buruan Sae di wilayahnya menerapkan konsep memadukan pertanian tradisional dan teknologi modern.

“Di bawah kita pakai tanah tradisional di atasnya ada hidroponik. Produksinya sudah rutin, sudah ada member yang ambil jadi sudah berputar dan menghasilkan,” ujar Agus, Selasa (20/1/2026).

Hasil panen Buruan Sae RW 09 tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga berdampak sosial. Sebagian hasilnya juga disalurkan untuk membantu warga yang membutuhkan.

“Sebagian hasil Buruan Sae kita subsidi untuk warga. Harapannya ke depan persoalan stunting bisa kita atasi sendiri di RW 09,” ucapnya.

Upaya itu diperkuat dengan pengembangan sektor pendukung, seperti perikanan, peternakan dan pengolahan sampah melalui magotisasi atau budidaya maggot.

Agus mengaku keterbatasan lahan menjadi tantangan utama. Namun, hal itu justru mendorong inovasi dengan memanfaatkan ruang-ruang alternatif.

“Maggotisasi sudah mulai, masih tahap percobaan sekitar lima baki. Karena lahan terbatas, kita manfaatkan rooftop yang ada di wilayah RW 09,” jelasnya.

Ke depan, RW 09 merencanakan pengembangan magotisasi dan penghijauan, termasuk budidaya cabai rawit yang terintegrasi dengan perikanan ikan hias dan ikan konsumsi di beberapa titik wilayah.

“Semua nanti akan sinkron dalam satu ekosistem Buruan Sae Barokatumaninah RW 09,” ungkapnya.

Buruan Sae RW 09 berlokasi di rumah seksi lingkungan hidup, memanfaatkan lahan kosong yang sebelumnya tidak produktif.

“Awalnya seperti hutan, banyak pohon besar. Kita alihfungsikan menjadi tanaman yang lebih produktif, terutama sayuran dan tanaman toga,” ulasnya.

Saat itu, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan memberikan arahan dalam upaya peningkatan kualitas lingkungan dan kesejahteraan warga Kelurahan Babakan Ciparay.

Selain mendukung pengembangan Buruan Sae sebagai pusat ketahanan pangan berbasis RW, ia menyoroti rumah tidak layak huni (Rutilahu) yang menurutnya harus diatasi secepatnya.

Lurah Babakan Ciparay, Tonny Sukmana menyampaikan, wali kota meminta agar perbaikan Rutilahu segera dituntaskan tanpa penundaan.

“Arahan Pak Wali jelas, Rutilahu harus segera diperbaiki. Selain itu, Buruan Sae yang sudah berjalan diminta menjadi contoh dan dikembangkan di seluruh RW di Babakan Ciparay,” kata Tonny.

Saat ini, Kelurahan Babakan Ciparay telah memiliki tiga Buruan Sae yang aktif. Dengan total sembilan RW, masih terdapat enam RW yang ditargetkan segera menyusul.

“Sekarang baru ada tiga. Artinya tinggal enam RW lagi yang harus kita dorong agar setiap RW punya Buruan Sae,” jelasnya. (*)

Panen Raya Jagung Serentak, Pemkot Banjar Dukung Sektor Pertanian dengan Bantuan Alsintan

Lingkar.co – Wali Kota Banjar, Sudarsono, menyerahkan bantuan Alat Mesin Pertanian (ALSINTAN) berupa traktor roda empat kepada Kelompok Tani Wijaya dalam rangkaian kegiatan Panen Raya Jagung Serentak Kuartal IV Tahun 2025, yang digelar di Kebun Jagung Blok Bantaran, Desa Raharja, Kecamatan Purwaharja. Kota Banjar, Jawa Barat, Kamis (8/1/2026).

Sudarsono menyatakan, bantuan tersebut merupakan salah satu bentuk dukungan Pemerintah Kota Banjar untuk sektor pertanian di Kota Banjar yang terus dilakukan secara berkesinambungan.

Bantuan traktor roda empat diharapkan lebih efektif dalam mengolah lahan dan mendukung peningkatan produktivitas lahan pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Kota Banjar sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia.

Penyerahan bantuan tersebut disaksikan secara langsung oleh Wakil Wali Kota bersama Kapolres Banjar, menandai sinergi antara Pemerintah Daerah dan aparat Kepolisian dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus peningkatan kesejahteraan petani.

Wali Kota Banjar menegaskan bahwa penguatan pertanian tidak hanya berbicara soal hasil panen, tetapi juga tentang bagaimana petani mendapatkan akses terhadap teknologi yang mempermudah kerja mereka.

Modernisasi alat pertanian dinilai menjadi langkah strategis untuk menjawab tantangan biaya produksi dan keterbatasan tenaga kerja di sektor pertanian. “Petani adalah garda terdepan ketahanan pangan. Pemerintah hadir untuk memastikan mereka didukung dengan sarana yang memadai,” ungkap Wali Kota.

Menurutnya, panen raya jagung serentak ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial semata, namun sebuah bentuk dukungannya terhadap program pemerintah daerah dalam penguatan ketahanan pangan.

Dengan adanya bantuan alsintan tersebut, Pemkot Banjar berharap sektor pertanian di wilayah Purwaharja semakin maju, berdaya saing, dan mampu memberikan kontribusi signifikan bagi ketahanan pangan serta perekonomian daerah.

Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Wakil Wali Kota Banjar, Kapolres Banjar beserta seluruh jajaran Polres Banjar, Ketua Bhayangkari, perwakilan Perum Bulog, serta para Kepala Perangkat Daerah. (*)

Kelurahan Sarijati Kota Bandung Olah Sampah Jadi Sumber Penghasilan dan Ketahanan Pangan

Lingkar.co – Kelurahan Sarijadi, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, Jawa Barat memiliki program Samber Ceu Pilah (Sampah Habis di Sumber, Cegah, Pilah, dan Olah). Program ini digerakkan langsung oleh warga, khususnya di RW 01 hingga RW 11 Kelurahan Sarijadi.

Menurut Lurah Sarijadi, Evi Sjopiah Tusti, Samber Ceu Pilah dimulai dari sosialisasi masif kepada warga untuk memilah sampah sesuai jenisnya dan mengolahnya secara mandiri di rumah atau bersama-sama di lingkungan RW.

“Bagi rumah warga yang sudah melaksanakan pemilahan sampah, kami tempelkan stiker Ceu Pilah sebagai tanda bahwa sampahnya sudah selesai di sumber,” jelasnya Evi dalam siaran pers Pemkot Bandung, Selasa (30/12/2025).

Melalui pola ini, katanya, Sarijadi berhasil menekan pembuangan sampah ke Tempat Pengolahan Sampah (TPS) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sekaligus mengubah sampah menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi dan ekologis.

Ia lanjut menerangkan, untuk sampah anorganik bernilai atau rongsok, warga menyedekahkannya kepada petugas sampah untuk kemudian didaur ulang. Jenis rongsok yang dikumpulkan meliputi duplex, arsip, dus, kaleng, emberan, besi, kabel, aro, beling, hingga daimatu.

Berdasarkan perhitungan, volume sampah an-organik jumlahnya mencapai sekitar 167 kilogram setiap dua hari. Sampah ini tidak lagi menjadi beban lingkungan, melainkan sumber penghasilan bagi petugas dan komunitas pengelola.

Sedangkan sampah anorganik residu diolah menjadi biomasa dan dijual ke pabrik tekstil untuk dijadikan bahan bakar co-firing limbah batubara.

“Manfaatnya bukan hanya untuk warga, tetapi juga industri. Pabrik menjadi lebih efisien karena limbah batubara bisa dikurangi,” ujar Evi.

Setiap dua hari, pengelolaan sampah an-organik residu ini mencapai sekitar 289 hingga 300 kilogram, yang sebelumnya berpotensi menumpuk di TPS.

Jadi Pupuk dan Ketahanan Pangan

Evi melanjutkan, potensi terbesar Samber Ceu Pilah justru datang dari sampah organik berupa sisa makanan, seperti; tulang, duri, biji, cangkang, sisa nasi, dan sisa sayuran. Seluruhnya diolah menjadi Mikro Organisme Lokal (MOL), Pupuk Organik Cair (POC), serta kompos atau Pupuk Organik Padat (POP).

Dijelaskannya, MOL dan POC bermanfaat untuk menghilangkan bau sampah, mempercepat proses pembusukan, dan menyuburkan tanaman, baik sayuran, buah, dan bunga.

Sedangkan kompos atau POP dimanfaatkan sebagai media tanam dan pupuk organik. Dalam dua hari, volume sampah organik yang diolah mencapai sekitar 240 hingga 300 kg. Hasilnya, warga mampu menanam kebutuhan pangan sendiri tanpa harus membeli sayuran, sekaligus mengembangkan Tanaman Obat Keluarga (TOGA).

“Ini bukan hanya soal sampah, tapi soal ketahanan pangan masyarakat,” tegasnya.

Ia mengakui, keberhasilan Samber Ceu Pilah tidak lepas dari peran aktif ibu-ibu PKK yang menjadi motor penggerak perubahan perilaku.

Edukasi dilakukan berjenjang dari kelurahan, RW, hingga RT, dan dipantau melalui laporan harian aktivitas pemilahan sampah.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengapresiasi pendekatan tersebut. Menurut dia, para ibu memiliki peran penting dalam membangun perubahan perilaku hidup bersih dan sehat.

“Kalau sampah selesai di rumah, kota ini akan jauh lebih ringan bebannya. Dan yang paling konsisten menggerakkan perubahan itu memang ibu-ibu,” ujar Farhan.

Dengan pengurangan signifikan timbulan sampah, peningkatan ekonomi warga, hingga kontribusi terhadap ketahanan pangan dan industri ramah lingkungan, Samber Ceu Pilah Sarijadi dinilai layak menjadi model pengelolaan sampah berbasis RW dan kelurahan di Kota Bandung.

Farhan pun mendorong agar praktik ini terus diperkuat dan direplikasi ke wilayah lain, sejalan dengan target Kota Bandung menuju kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. (*)

Sebrangi Lautan ke Cilacap, Pemkab Pringsewu Belajar Kembangkan Susu Etawalin

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung rela menyeberangi dari pulau Sumatra ke Jawa untuk belajar mengembangkan susu kambing etawa. Bupati Pringsewu, Riyanto Pamungkas bersama rombongan ingin mendalami inovasi pembangunan daerah di bidang swasembada pangan serta pengembangan potensi sektor pertanian dan peternakan.

Bupati Cilacap, Syamsul Auliya Rachman, menyambut baik kehadiran rombongan dari Pemkab Pringsewu di Ruang Prasanda Rumah Dinas Bupati, Selasa (23/12/2025).

“Saya mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada Bupati Pringsewu, Bapak H. Riyanto Pamungkas, beserta rombongan atas kehadirannya di Kabupaten Cilacap,” kata Syamsul mengawali pembicaraan.

“Kami itu Kabupaten yang paling ujung barat selatan Jawa Tengah. Kita yang terkenal adalah Pulau Nusakambangannya. Total luas wilayah kita sekitar 1.200an KM² sudah termasuk Nusakambangan. Kemudian jumlah penduduk kita 2.066.000, atau 5 kali lipatnya Kabupaten Pringsewu,” sambungnya.

Bupati berharap, kunjungan kerja tersebut bisa mempererat hubungan dan sinergi antarpemerintah daerah, serta saling bertukar gagasan, pengalaman, dan inovasi dalam menghadapi tantangan pembangunan daerah.

Syamsul lantas menyampaikan rencana Pemkab Cilacap untuk mengembangkan pabrik susu menjadi sentra peternakan dan produksi susu.

“Kebetulan kita sedang mencanangkan untuk menjadi sentra peternakan terkait pabrik susu Etawalin karena kita bisa direct langsung sampai dengan Australia untuk impor susu sapi. Saya juga mendorong beberapa investor yang tertarik membangun pengolahan susu di Cilacap karena kebutuhan susu untuk program Makan Bergizi Gratis jika terus berlanjut tentunya cukup besar,” ujarnya.

Sementara Bupati Pringsewu, Riyanto Pamungkas, menyebut bahwa kunjungan ke Cilacap merupakan agenda krusial dalam rangkaian roadshow timnya. Salah satu fokus utamanya adalah belajar lebih dalam tentang hilirisasi produk susu kambing yang telah berkembang di Cilacap, khususnya di Kecamatan Kroya.

“Kami ingin berkunjung ke salah satu pabrik susu yang ada di Cilacap, karena kami menjumpai banyak peternak di Kabupaten Pringsewu yang masih kesulitan bagaimana menjual susu kambing di sana,” ungkap Riyanto.

Selain sektor peternakan, Riyanto juga mengaku tertarik mendalami tata kelola pemerintahan di Cilacap, khususnya terkait pengelolaan ASN yang berjumlah besar.

Menurut dia, Pringsewu yang memiliki karakteristik masyarakat agraris dengan mayoritas penduduk asal Jawa memerlukan referensi pembangunan yang aplikatif seperti yang diterapkan di Cilacap.

“Insya Allah ini sebagai awal kulonuwun kami untuk bisa ngangsu ilmu ke Kabupaten Cilacap, mungkin kedepan nanti dari OPD-OPD teknis terkait bisa menindaklanjuti apa yang kita obrolkan hari ini,” tuturnya.

Kunjungan ini diharapkan menghasilkan langkah strategis dan kerja sama konkret antar-kedua pemerintah daerah, terutama dalam pengembangan komoditas unggulan dan peningkatan kesejahteraan petani melalui inovasi yang berkelanjutan. (*)

Tekan Stunting, Kecamatan Semarang Barat Kembangkan Taman Edukasi Ayam KUB

Lingkar.co – Kecamatan Semarang Barat mengembangkan inovasi Taman Edukasi Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) sebagai upaya mendukung ketahanan pangan sekaligus menekan angka stunting di wilayahnya.

Camat Semarang Barat, Elly Asmara, mengatakan inovasi tersebut berangkat dari program prioritas pemerintah tahun 2026 yang menitikberatkan pada ketahanan pangan dan lingkungan berkelanjutan.

“Ide ini kami kembangkan di kantor kecamatan dengan memanfaatkan lahan yang ada. Ayam KUB kami pilih karena perawatannya mudah, murah, dan relatif tahan penyakit,” ujar Elly, Rabu (17/12/2025).

Menurutnya, ayam KUB merupakan jenis unggulan yang dibina langsung oleh Dinas Pertanian Kota Semarang dan cocok dikembangkan oleh masyarakat secara mandiri, baik di rumah maupun di lingkungan sekitar.

Saat ini, kandang ayam KUB di kantor Kecamatan Semarang Barat menampung sekitar 34 ekor ayam, terdiri dari indukan serta generasi pertama hingga ketiga. Ayam-ayam tersebut sudah mulai berproduksi telur dengan rata-rata 15–20 butir per ekor per bulan.

“Hasil telur ini sudah kami manfaatkan untuk konsumsi internal, kegiatan sosial, hingga disalurkan kepada anak-anak stunting saat kegiatan bakti sosial,” jelasnya.

Ke depan, hasil produksi telur dan daging ayam KUB akan didistribusikan lebih teratur sebagai stimulus tambahan gizi (PMT) bagi anak-anak stunting yang telah terdata di kelurahan.

Elly menegaskan, penerima manfaat tidak perlu mengajukan permohonan karena data anak stunting telah dipantau secara rutin oleh kader kesehatan di masing-masing kelurahan.

“Stunting ini prioritas. Anak-anak sudah terdata, sehingga hasil dari sini bisa langsung disalurkan sebagai tambahan asupan protein,” katanya.

Selain sebagai sumber pangan, taman edukasi ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat. Dengan konsep kandang umbaran tipe tunnel, ayam dapat bergerak lebih bebas sehingga pertumbuhan lebih optimal.

“Eloknya ini low cost. Kalau kandang seperti ini, kisaran Rp2–3 juta. Bahkan bisa lebih murah kalau dibuat sendiri. Harapannya bisa menginspirasi warga untuk beternak mandiri,” ungkapnya.

Inovasi ini juga terintegrasi dengan konsep ramah lingkungan. Kotoran ayam direncanakan diolah menjadi pupuk, sementara pengembangan budidaya maggot tengah dijajaki untuk mengelola sampah organik sekaligus pakan ternak.

Tak hanya ayam KUB, Kecamatan Semarang Barat juga mengembangkan berbagai unit ketahanan pangan lain, seperti lele, nila, kelinci, dan aviari burung.

Ke depan, Elly menyebut pihaknya akan memperluas program ke kelurahan-kelurahan yang masih memiliki lahan cukup luas, seperti Kelurahan Tambak Harjo, yang akan dijadikan laboratorium inovasi pangan dan lingkungan.

“Kami ingin ini jadi praktik nyata, bukan sekadar teori. Dari sini, ketahanan pangan jalan, lingkungan terjaga, dan stunting bisa ditekan,” pungkasnya. ***