Lingkar.co – Hampir 500 anggota baru Korps Sukarela (KSR) dilantik sebagai anggota baru di depan kantor markas Palang Merah Indonesia PMI Kota Semarang, Jl. Mgr Sugiyopranoto 35, Pendrikan Kidul, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Pagi ini, Sabtu (9/5/2026) dalam suasana cerah, nampak para relawan dari berbagai perguruan tinggi di kota Semarang mengenakan seragam serba merah dengan atribut PMI berbaris rapi. Mereka mengikuti upacara peringatan Hari Palang Merah se-dunia sekaligus mengikuti pelantikan.
Dengan kompak, mereka mengucap sumpah setia terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, berbakti kepada orang tua, dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan
Ketua PMI Kota Semarang, Awal Prasetyo mengatakan peringatan Hari Palang Merah se-dunia mengangkat tema Pelantikan korps sukarela unit kota Semarang secara bersama di hari peringatan palang merah se-dunia ingin menunjukkan peran relawan, khususnya korps sukarela menjadi tulang punggung kemanusiaan. Maka mereka harus menjadi yang terdepan dalam menjaga nilai kemanusiaan.
Ia menegaskan, setiap relawan harus mengikuti serangkaian pelatihan untuk mendapatkan kompetensi dasar dan meningkatkan kapasitas untuk dapat menolong
“Mereka harus paham dulu prinsip dasar gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, kemudian tentu saja harus sehat secara fisik, mental dan sosial,” jelasnya.
Ketua Bidang Penanggulangan Bencana dan Relawan PMI Kota Semarang, Wiwit Rijanto menjelaskan, kegiatan pelantikan serentak akan terus berlanjut setiap tahun. Sebab, pelantikan serentak karena lebih efektif dari sisi waktu, tenaga, pendanaan dan sebagainya.
Setelah pelantikan, lanjutnya, PMI akan memperkuat database keanggotaan di perguruan tinggi. Dengan harapan gerakan kepedulian terhadap lingkungan dan kebencanaan bisa dilakukan oleh kampus.
“Harapan kami, PMI Kota Semarang, semua perguruan tinggi itu bisa tampil di situ (kebencanaan). Memang saya lihat ada beberapa perguruan tinggi yang aktif, begitu ada bencana langsung muncul,” ungkapnya.
Ia menilai, kepedulian tersebut merupakan modal dasar dalam gerakan kemanusiaan. Selanjutnya, mempersiapkan mahasiswa agar memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Pelibatan relawan dari perguruan tinggi memang jarang dilakuka, kata dia, maka potensi tersebut harus dimaksimalkan dengan peningkatan kompetensi sebagaimana standar kurikulum PMI.
Ia menyebut mahasiswa dari fakultas terkait kesehatan bisa dididik menjadi tenaga terlatih dalam pertolongan pertama dan evakuasi. Selain itu, anggota KSR juga bisa mengikuti pelatihan spesialisasi lain seperti asesmen, dapur umum, perawatan keluarga dan sebagainya.
Kemudian, mereka juga bisa dimobilisasi sebagai tenaga pelatih di sekolah setelah mengikuti pelatihan fasilitator.Ia mengakui banyak sekolah yang memiliki unit Palang Merah Remaja (PMR), namun tenaga pelatih sering diisi oleh para alumni sekolah yang belum tentu memiliki kompetensi sesuai aturan dan panduan Manajemen Relawan.
“Kalau hanya mengandalkan KSR di markas PMI Kota Semarang tidak cukup. Posko 24 jam itu saja sudah menyerap tenaga, belum yang lainnya,” urainya.
Terkait keanggotaan, ia menjelaskan tahapan dimulai dari pendaftaran, orientasi kepalangmerahan, pelatihan dan pendidikan dasar hingga pilihan spesialisasi dan menjadi fasilitator atau pelatih.
“Ini semua sama, kita Diklat bareng sampai pelantikan nanti juga bersama,” pungkasnya. (*)












