Berikut Alasan Covid-19 Varian Delta Tak Butuh Karantina Lama

ILUSTRASI: Masa inkubasi penyitas Covid-19 Varian Delta tidak membutuhkan waktu lama seperti varian yang lainnya. (ISTIMEWA/LINGKAR.CO)
ILUSTRASI: Masa inkubasi penyitas Covid-19 Varian Delta tidak membutuhkan waktu lama seperti varian yang lainnya. (ISTIMEWA/LINGKAR.CO)

BEIJING, CHINA, Lingkar.co – Pakar epidemiologi terkemuka di China Prof Zhong Nanshan menyatakan bahwa masa inkubasi Covid-19 varian Delta tidak sepanjang varian-varian lainnya.

Sehingga dalam proses penyembuhannya tidak memerlukan masa karantina dalam jangka waktu yang lama.

Namun, seseorang dengan gejala varian baru Delta tersebut di masa karantina harus lebih sering melakukan tes untuk mengetahui masih atau tidaknya virus yang bersarang di dalam tubuh.

2023-12-tgl-13-larangan-kampanye

Baca juga:
Vaksinasi Anak, KPAI Apresiasi Gerak Cepat Pemerintah

Hal ini pihaknya ungkapkan dalam opininya yang telah termuat pada sejumlah media di China, Senin (28/6/21) lalu.

Zhong juga mengatakan bahwa ada perbedaan definisi “kontak dekat” antara Covid-19 varian sebelumnya dengan varian Delta.

2023-12-tgl-13-pihak-yang-dilarang-ikut-kampanye

Jika varian sebelumnya, “kontak dekat” merujuk pada orang yang tinggal bersama dalam kantor yang sama, keluarga, ruang pertemuan atau makan bersama dalam jarak 1 meter.

Png-20230831-120408-0000

Baca juga:
BPOM & Balitbangkes Gandeng Delapan Rumah Sakit, Lakukan Uji Klinis Invermectin

Zhong mengungkapkan dalam definisi baru (varian Delta) “kontak erat” adalah merujuk pada orang yang tinggal di satu ruang/perusahaan/gedung.

“Selain itu juga bersama orang yang terinfeksi empat hari sebelum mengalami gejala penyakit,” ujar profesor yang dulu pertama kali berpendapat masa inkubasi Covid-19 selama 14 hari tersebut.

Pihaknya juga menjelaskan mengenai masa karantina bagi para pengguna penerbangan internasional yang memasuki wilayah daratan China tidak akan menjalani karantina dalam waktu yang lama.

Baca juga:
Wisata Candi Cetho Di Karanganyar Ini Mirip Di Pulau Bali

Sementara itu, Direktur Pusat Penelitian Klinik Medis Penyakit Pernapasan Menular Nasional China tersebut menyarankan kepada para penyitas Covid-19 dengan varian Delta untuk meningkatkan frekuensi tes yang mereka jalani.

Zhong mengemukakan opininya tersebut usai melakukan penelitian yang di lakukan di Provinsi Guangdong, wilayah selatan China.

Atas penemuan beberapa kasus varian Delta yang berasal dari kedatangan 90 persen pengguna penerbangan Internasional menuju China.

Sumber: ANTARA

Editor: Galuh Sekar Kinanthi

Dapatkan update berita pilihan dan terkini setiap hari dari lingkar.co dengan mengaktifkan Notifikasi. Lingkar.co tersedia di Google News, s.id/googlenewslingkar , Kanal Telegram t.me/lingkardotco , dan Play Store https://s.id/lingkarapps

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *