Bio Farma Beberkan Empat Kandungan Vaksin dari Sinovac, Salah Satunya Berasal dari Virus Mati

  • Bagikan
Ilustrasi Vaksin Covid diangkut melalui pesawat. (ANTARA/LINGKAR.CO)
Ilustrasi Vaksin Covid diangkut melalui pesawat. (ANTARA/LINGKAR.CO)

JAKARTA, Lingkar.co – PT Bio Farma (Persero) membeberkan komposisi yang terkandung dalam vaksin covid-19 produksi Sinovac Biotech. Salah satunya merupakan, dari tujuh vaksin covid-19 yang akan digunakan di dalam negeri untuk mengatasi pandemi corona.

Untuk diketahui, pemerintah telah menyetujui tujuh vaksin covid-19 dari tujuh perusahaan berbeda, yakni Bio Farma, Astra Zeneca, Sinopharm, Moderna, Novavax Inc, Pfizer Inc and BioNtech, serta Sinovac Biotech.

Corporate Secretary Bio Farma Bambang Herianto mengatakan, vaksin covid-19 racikan Sinovac hanya mengandung beberapa unsur.

“Pertama, virus yang sudah dimatikan (inactivated), “paparnya.

Lanjutnya, komposisi kedua, aluminium hidroksida (aluminium hydroxide) yang berfungsi meningkatkan kemampuan vaksin tersebut.

“Kandungan berikutnya (ketiga) adalah larutan fosfat sebagai stabilizer,” katanya.

Keempat, kandungan larutan garam atau natrium chlorida (NaCl) sebagai isotonis guna memberikan kenyamanan dalam penyuntikan.

Bambang memastikan, larutan garam yang digunakan merupakan garam dapur yang telah memenuhi standar pharmaceutical atau farmasi. Atas komposisi itulah, ia meminta masyarakat tak khawatir dengan vaksin corona dari sinovac.

Ia juga membantah, kabar vaksin buatan Sinovac menggunakan bahan pengawet. Dia memastikan, vaksin terkait tidak mengandung bahan-bahan lain seperti borax, formalin, atau pun merkuri.

Ia juga menjelaskan, vaksin yang akan digunakan nanti tidak akan tertera ‘for clinical trial only’ atau hanya untuk uji klinis seperti yang dikhawatirkan masyarakat. Disklaimer tersebut hanya tertera di kemasan vaksin yang belum teruji efikasinya.

“Vaksin covid-19 yang sudah ada di Bio Farma dan akan digunakan untuk program vaksinasi nanti akan menggunakan vaksin yang sudah mendapat izin BPOM. Sehingga kemasan pun akan berbeda dengan vaksin untuk keperluan uji klinis,” jelasnya.

Hingga saat ini, vaksin buatan perusahaan China ini masih dalam proses kajian aspek kehalalannya oleh Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) guna mendapatkan fatwa Ulama Indonesia dan sertifikasi dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). (ara/aji)

Baca Juga:
Vaksinasi Lansia di Tiga Kecamatan Masih Rendah

  • Bagikan
error: Ijin Dulu baru Copas BOSS !!