Dorong Peningkatan Peran Wilayah, Rumah Dinas Camat di Yogyakarta Dimanfaatkan sebagai Tempat Isolasi Pasien Covid-19

  • Bagikan
Shelter penanganan COVID-19 Yogyakarta di Rumah Susun Sewa Tegalrejo, belum lama ini. (ANTARA/LINGKAR.CO)
Shelter penanganan COVID-19 Yogyakarta di Rumah Susun Sewa Tegalrejo, belum lama ini. (ANTARA/LINGKAR.CO)

YOGYAKARTA, Lingkar.co – Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Yogyakarta mendorong peningkatan peran wilayah, dalam membantu penanganan pasien terkonfirmasi positif COVID-19, yaitu dengan memanfaatkan Rumah Dinas (Rumdin) Camat, untuk isolasi pasien terkonfirmasi positif tanpa gejala.

Ketua Harian Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengatakan, Rumdin Camat bisa menjadi alternatif untuk shelter penanganan pasien COVID-19 tanpa gejala.

Ads Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022

“Harapannya bisa disiapkan secepatnya untuk yang lokasinya memungkinkan,” katanya, Senin (18/1)

Menurutnya, penguatan peran masyarakat di wilayah untuk mendukung penanganan COVID-19 perlu terus ditingkatkan.

 “Sudah ada juga rumah kosong di wilayah yang dimanfaatkan untuk shelter, atau misalnya di Masjid Kotagede yang memiliki shelter dengan kapasitas 10 orang juga sudah dimanfaatkan, atau di Balai RW dan RK,” paparnya.

Meski shelter dibuka di wilayah, namun Heroe memastikan, bahwa pasien yang melakukan isolasi tetap memperoleh penanganan kesehatan, seperti sulplai vitamin dan obat-obatan serta makanan.

“Kondisi kesehatan mereka pun terus dipantau oleh petugas kesehatan, dan juga mendapat pengawasan dari Satpol PP,” ujarnya.

Saat ini, Pemerintah Kota Yogyakarta memiliki satu shelter khusus untuk penanganan pasien terkonfirmasi positif COVID-19 tanpa gejala yaitu di Rumah Susun Sewa Tegalrejo.

Ia menambahkan, shelter tersebut memiliki 42 unit ruangan dengan masing-masing memiliki dua unit kamar tidur. Namun demikian, pengisian pasien di shelter tidak bisa dilakukan sembarangan.

“Kami tidak merekomendasikan untuk mencampur pasien dalam satu unit ruangan yang sama apabila tidak berasal dari satu keluarga yang sama,” imbuhnya.

Oleh karenanya, meski memiliki 84 tempat tidur, namun keterisian shelter tidak bisa dimaksimalkan jika kondisinya tidak memungkinkan.

“Pernah suatu ketika terisi 42 pasien yang berasal dari latar belakang berbeda-beda. Tetapi pernah juga terisi 50 orang karena ada beberapa yang berasal dari keluarga yang sama,” tandasnya. (ara/aji)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.