Berita  

Ketua DPRD Demak Apresiasi Wadah Kesenian Kota Wali

MENGUKUHKAN: Kegiatan pengukuhan Dewan Kesenian Daerah Demak yang digelar di Panggung Kesenian Demak, beberapa waktu lalu. (Tammalia Amini/Lingkar.co)
MENGUKUHKAN: Kegiatan pengukuhan Dewan Kesenian Daerah Demak yang digelar di Panggung Kesenian Demak, beberapa waktu lalu. (Tammalia Amini/Lingkar.co)

DEMAK, Lingkar.co – Pengukuhan Dewan Kesenian Daerah Demak beberapa waktu lalu, menjadi babak baru bagi kebangkitan seni di Kota Wali. Pasalnya, kesenian yang selama ini tak terkoordinir kini sudah mendapat tempat dan apresiasi tinggi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Demak, Sri Fahruddin Bisri Slamet. Pihaknya turut berterima kasih dan memberi apresiasi atas adanya wadah kesenian tersebut. Ia juga menuturkan, akan selalu mendukung kegiatan-kegiatan kesenian yang ada di Demak.

“Kami sangat berterima kasih dan kita akan sangat men-support kegiatan-kegiatan kesenian di Demak. Karena pastinya potensi-potensi lokal Kabupaten Demak berkaitan dengan budaya saat ini. Jadi, perlu digali lebih jauh, supaya ke depan potensi-potensi seperti itu bisa ditampilkan. Sehingga ending-nya bisa mendatangkan devisa juga,” ujar Sri Fahruddin Bisri Slamet.

Ketua DPRD Demak Soroti Penanganan Kasus Stunting

Selain itu, pihaknya juga menuturkan bahwa kesenian yang menjadi khas Demak seperti hadrah, zipin dan barongan, harus selalu ditampilkan di ajang budaya agar menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Demak.

“Kebudayaan asli Demak seperti hadrah, zipin dan barongan merupakan budaya khas dari Demak. Oleh karena itu, bisa ditampilkan dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Sehingga, mereka yang datang ke sini tidak hanya wisata religi tapi juga wisata budaya,” terangnya.

DPRD Demak Terima Audiensi dari Tenaga Honorer, PHK2 Sampaikan 6 Tuntutan

Selain untuk ajang seni, pelestarian budaya juga dapat membangun character building dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) terhadap pribadi milenial agar tak lupa dengan kejawaannya.

“Anak-anak milenial ini sangat penting, agar mereka bisa tahu kalau itu bisa membuat character building. Budaya kita budaya adiluhung, jadi supaya mereka lebih tertarik kepada budaya kita daripada budaya luar. Akan tetapi justru menjadi keprihatinan, kalau wong jowo ilang jawane. Itu pun termasuk pembangunan sumber daya manusia, yaitu bagaimana anak-anak kecil mengetahui unggahungguh, menghormati orang tua dengan bahasa krama, karena beda orang beda bahasanya,” tambahnya.

Tak hanya itu, Slamet juga berharap kesenian yang dikembangkan juga diadakan dalam dunia pendidikan, seperti pengembangan muatan lokal Bahasa Jawa agar generasi milenial tidak melupakan bahasanya sendiri.

“Materi Bahasa Jawa juga sangat perlu ditingkatkan, kalau tidak kita yang menggunakan, ya siapa lagi? Mestinya dari kecil PAUD sampai pendidikan tinggi harus ditingkatkan. Muatan lokal ini harus di kembangkan supaya para Gen-Z itu menguasai. Mereka harus diberi pemahaman. Selain itu, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia itu memang penting, tapi jangan singkirkan Bahasa Jawa krama. Karena ini sebagai bentuk kita menghormati dan menghargai budaya,” pungkasnya. (Lingkar Network | Tammalia Amini – Koran Lingkar) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.