Lingkar.co – Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Presiden Partai Buruh Said Iqbal mengungkap alasan di balik penutupan permanen PT Xacti Indonesia yang berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 350 karyawan di Depok, Jawa Barat.
Menurut Said Iqbal, ketidakpastian ekonomi global maupun domestik menjadi faktor utama perusahaan tidak lagi mampu melanjutkan operasionalnya.
“Kami sampaikan, benar telah terjadi PHK sekitar 350 karyawan di PT Xacti Indonesia, yang berlokasi di Depok Jawa Barat, 350 orang telah di PHK dan perusahaan total tutup operasional,” kata Said Iqbal dalam konferensi pers, Senin (25/5/2026).
Ia menilai konflik geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel turut memicu tekanan terhadap industri, terutama melalui lonjakan harga energi dan bahan baku produksi.
“Alasan penutupan Xacti Indonesia yakni karena dampak dari perang daripada Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, yang membuat tidak ada kepastian kapan berakhirnya perang tersebut, sehingga melambungkan harga-harga, termasuk harga bahan baku, BBM dan ongkos produksi,” terangnya.
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya BBM industri non-subsidi, disebut berdampak langsung pada membengkaknya biaya operasional perusahaan.
“BBM industri itu non-subsidi, nah karena harga BBM mulai terasa naik pada bulan ini, karena menyebabkan ongkos produksi naik, maka terjadilah efisiensi,” lanjut Said Iqbal.
Namun, dalam kasus PT Xacti Indonesia, kondisi yang terjadi disebut bukan sekadar efisiensi melainkan penghentian total aktivitas usaha karena perusahaan dinilai sudah tidak mampu bersaing di tengah lesunya pasar global.
“Tapi kalau dalam kasus Xacti Indonesia, bukan lagi efisiensi, benar ditutup perusahaannya, karena sudah tidak mampu bersaing. Apalagi Xacti Indonesia kan juga ada produknya di ekspor ya, produk kameranya. Saat ini pasar global lagi lesu, ya karena perang kan, nah itulah faktor penyebab utama,” terangnya.
Selain faktor biaya produksi, pelemahan nilai tukar rupiah juga disebut memperberat kondisi perusahaan lantaran sebagian bahan baku masih bergantung pada impor.
“Perusahaan juga terdampak dari pelemahan rupiah, karena bahan baku impor kan, membelinya pakai dolar, jadi meningkat ongkos produksinya, karena transaksi mereka di Indonesia kan dalam bentuk rupiah,” jelasnya.
Said Iqbal mengatakan informasi mengenai PHK tersebut diperoleh dari laporan anggota serikat pekerja yang sebelumnya telah menerima pemberitahuan awal dari pihak perusahaan.
“Ini bukan ngarang-ngarang, tidak ada, kami kan langsung dari anggota di bawah, yang biasanya diberitahu dulu, diberi early warning lah oleh perusahaan, pemberitahuan lebih awal oleh perusahaan,” tegas Said Iqbal.
Ia menambahkan, PT Xacti Indonesia sebelumnya tercatat sebagai anggota KSPI melalui Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI). Namun dalam dua bulan terakhir perusahaan disebut sudah tidak aktif dalam keanggotaan serikat pekerja karena tengah bersiap menghentikan operasionalnya secara permanen.
“Xacti Indonesia adalah anggota KSPI, dulunya anggota KSPI, melalui FSPMI, tapi dalam beberapa bulan ini (2 bulan), sudah tidak aktif lagi, untuk berserikat menjadi anggota KSPI, maka pembelaan kepada Xacti Indonesia ini sudah selesai karena penutupan perusahaan dengan PHK 350 orang tersebut,” ujarnya.
Penulis: Putri Septina












