Solar Mahal dan Langka, Nelayan Semarang Terpaksa Mengurangi Aktivitas Melaut

Kenaikan harga dan kelangkaan BBM turut dirasakan nelayan Semarang. (dok Alan Henry)
Kenaikan harga dan kelangkaan BBM turut dirasakan nelayan Semarang. (dok Alan Henry)

Lingkar.co – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Dexlite mulai dirasakan dampaknya oleh nelayan di pesisir Kota Semarang. Kondisi ini membuat sebagian nelayan memilih mengurangi aktivitas melaut karena biaya operasional yang semakin tinggi.

Salah satunya dirasakan Endi Prau, nelayan di Kampung Ujungsari, Kelurahan Bandaharjo, yang kini lebih sering memarkir perahunya di tepi laut.

“Kenaikan harga solar Dexlite itu sangat memberatkan. Harganya mahal, dan kita juga enggak bisa beli langsung ke SPBU. Masa perahu dibawa ke pom?” ujarnya.

Ia mengaku selama ini mengandalkan pasokan solar dari kampung nelayan. Namun, sejak harga BBM naik, ketersediaan bahan bakar menjadi terbatas.

“Sekarang langka. Kalau pun ada, dibatasi. Yang punya barcode cuma bisa beli 60 liter per hari. Padahal sekali jalan bisa habis 100 sampai 150 liter,” katanya.

Kebutuhan bahan bakar nelayan sangat bergantung pada jarak dan lokasi penangkapan ikan. Untuk area dekat, konsumsi relatif kecil, tetapi saat melaut lebih jauh, kebutuhan solar meningkat signifikan.

“Kalau sudah ke tengah, minyak bisa habis sampai 60 liter sehari,” jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, Endi memilih tidak memaksakan diri melaut jika ketersediaan bahan bakar tidak mencukupi.

“Kalau enggak ada solar ya enggak melaut. Daripada memaksakan, nanti malah tekor,” tegasnya.

Pendapatan nelayan yang tidak menentu semakin memperberat kondisi. Dalam sekali melaut, penghasilan berkisar antara Rp400 ribu hingga Rp750 ribu, tergantung hasil tangkapan.
Selain menangkap ikan, Endi juga menyewakan perahunya untuk wisata memancing. Namun, kenaikan harga BBM turut berdampak pada sektor tersebut.

“Kalau sewa biasanya sudah termasuk bahan bakar. Tapi kalau harus pakai Dexlite, ya tergantung pemancingnya mau atau enggak. Kalau enggak cocok, bisa batal,” katanya.

Kondisi ini menunjukkan tekanan berlapis yang dihadapi nelayan, mulai dari biaya operasional hingga ketidakpastian pendapatan akibat fluktuasi hasil tangkapan dan harga BBM. ***