Arsip Tag: Makanan Sehat

LPP PWNU Jateng Tampilkan Aneka Produk Pertanian Organik di Puncak Hari Santri Nasional 2025

Lingkar.co – Lembaga Pengembangan Pertanian (LPP) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah turut ambil bagian dalam kemeriahan puncak peringatan Hari Santri Nasional 2025 yang dipusatkan di Stadion Pandanaran, Bergas, Kabupaten Semarang, Kamis–Sabtu (23–25/10/2025).

Dalam acara yang digelar selama tiga hari tersebut, LPPNU Jateng membuka stand pameran yang menampilkan beragam produk hasil inovasi dan binaan petani Nahdliyin di berbagai daerah.

Produk yang ditampilkan mencakup berbagai kebutuhan pertanian, mulai dari beras merah, beras hitam, benih padi unggulan, hingga pupuk organik padat dan cair. Produk-produk pertanian organik LPP NU Jateng ini dikembangkan bersama Kelompok Tani Sarwo Tulus (KTST) yang menjadi motor penggerak di bawah lembaga tersebut yang selama ini fokus mengembangkan pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Sekretaris LPP PWNU Jateng, Slamet Suharto, menjelaskan bahwa LPPNU berkomitmen untuk terus mendorong transformasi pertanian berbasis organik di kalangan petani Nahdliyin. Menurutnya, pupuk organik memiliki banyak keunggulan dibanding pupuk kimia yang selama ini umum digunakan.

“Kalau menggunakan pupuk cair organik atau pupuk padat organik, hasilnya bisa setara bahkan lebih baik daripada pupuk kimia, terutama dalam jangka panjang,” jelasnya kepada wartawan. Kamis (23/10/2025).

“Tanah yang lama diberi pupuk kimia biasanya mengalami penurunan produktivitas. Tapi dengan penggunaan pupuk organik secara berkelanjutan, struktur tanah akan membaik dan kembali subur. Ini investasi jangka panjang bagi keberlanjutan pertanian kita,” imbuhnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pupuk kimiawi meninggalkan residu yang berpotensi berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Karena itu, LPPNU mendorong kembalinya budaya bertani organik sebagai bentuk ikhtiar merawat bumi sekaligus membangun peradaban yang lebih sehat.

“Kita harus mulai mengembalikan kesadaran bertani secara alami. Ini bukan sekadar soal hasil panen, tapi juga soal keberlanjutan hidup dan amanah menjaga alam,” tegasnya.

Sementara itu, penjaga stand LPPNU, Taqwim Mujiono, menambahkan bahwa produk yang dipamerkan merupakan hasil nyata pendampingan LPPNU terhadap petani binaan. Ia menuturkan, semua produk diolah dengan cara ramah lingkungan tanpa bahan kimia sintetis.

“Kami membawa beras merah dan beras hitam organik hasil olahan petani binaan dari beberapa kabupaten di Jawa Tengah. Selain itu, kami juga menyediakan benih padi hitam, padi merah, dan mentik wangi,” ujarnya.

Selain beras dan benih, LPPNU Jateng juga memperkenalkan dua jenis pupuk organik, yakni pupuk kandang dan pupuk cair organik. Keduanya dikemas dengan berbagai ukuran agar mudah dijangkau oleh petani kecil maupun pelaku usaha tani skala besar.

“Pupuk cair kami bisa diaplikasikan hanya dengan dua tutup botol kecil yang dicampur dalam 14 liter air, cukup untuk satu tangki semprot petani. Harganya jauh lebih murah dari pupuk kimia, tapi hasilnya tidak kalah bagus,” terang Taqwim.

Ia menuturkan, penggunaan pupuk organik terbukti mampu menjaga struktur tanah tetap gembur dan bernutrisi. Sementara penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus dapat menyebabkan tanah menjadi keras dan kehilangan unsur hara dalam waktu 5–10 tahun.

“Kalau pakai pupuk kimia terus, tanah lama-lama mati. Tapi kalau organik, tanahnya tetap hidup, mikroorganismenya berkembang, dan hasil panen pun lebih sehat,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin, saat membuka Bazaar UMKM Hari Santri 2025, memberikan apresiasi atas partisipasi LPPNU Jateng dalam memperkuat kemandirian ekonomi berbasis pertanian. Menurutnya, sektor pertanian harus kembali menjadi perhatian utama warga NU.

“Sekarang ini, yang menguasai pangan adalah yang menguasai peradaban. Maka NU harus meneguhkan kembali peran strategisnya di bidang pertanian,” ujarnya.

Gus Rozin menegaskan, kemandirian pangan merupakan bagian penting dari kemandirian ekonomi umat. Ia juga mendorong agar produk-produk LPPNU tidak berhenti di ajang pameran, tetapi bisa terus dikembangkan dan dipasarkan secara luas.

“Saya minta LPPNU mengirimkan produk-produknya ke kantor PWNU. Nanti tidak hanya untuk pajangan, tapi akan kami bantu promosikan kepada para tamu, pejabat, dan pengurus daerah yang datang,” pesannya. (*)

PKK Kota Semarang Dukung Gerakan Indonesia Memasak Mustika Rasa

Lingkar.co – Ketua TP PKK Kota Semarang, Listyati Purnama Rusdiana menyatakan mendukung gerakan Indonesia memasak yang diinisiasi oleh Yayasan Lumbung Pangan Indonesia dengan menggandeng Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang dan menggerakkan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Semarang.

Dalam kegiatan yang digelar di halaman kantor dinas ketahanan pangan pada pagi ini, Sabtu (19/7/2025) bertujuan untuk mengajak masyarakat kembali memasak agar lebih sehat. Juga mengingatkan kembali tentang rempah dan kekayaan alam Indonesia sudah cukup dan lebih sehat dibandingkan dengan bumbu atau produk olahan pabrik yang tidak lepas dari bahan pengawet.

Selain itu, dirinya melihat pola konsumsi masyarakat modern yang berpikir tentang karir sehingga mencari alternatif yang praktis, terlebih saat ini pesan makanan siap saji bisa dilakukan kapan dan dimana saja secara online melalui berbagai aplikasi.

“Kami dari tim penggerak PKK Kota Semarang mendukung sekali gerakan Indonesia memasak karena masyarakat yang tadinya sudah mengurangi atau lebih banyak memesan makanan lewat aplikasi, ini kita kembalikan agar ibu-ibunya memasak kemudian anak-anaknya juga memakan makanan dari ibunya sendiri,” kata Lis, sapaan akrabnya saat diwawancarai disela kegiatan.

Sebab, lanjutnya, memasak sendiri di rumah bisa diatur dengan baik. Sehingga penggunaan bahan pewarna makanan, pengawet makanan maupun penyedap masakan bisa dikurangi dan dihindari. “Tentunya dengan hati kita memasak dengan hati-hati dan berdoa tentunya masyarakat akan nyaman makan makanan yang disediakan di rumah,” ujarnya.

Untuk mengajak generasi selanjutnya agar memasak, dirinya mengatakan hal itu harus dimulai dari para ibu kembali memasak, kemudian melibatkan dan mengajarkan putra maupun putri mereka untuk menentukan menu dan memasak sehingga terbiasa dan menjadi gemar memasak. “Harapan kami selanjutnya memasak itu bukan hanya bukan hanya untuk mereka yang sudah dewasa, tapi juga remaja SMP dan SMA sudah kita mulai mereka gemar memasak. Semua harus mulai memasak dari rumah. Ajari anak untuk gemar memasak karena pasti aman,” harapnya.

Di lain sisi, dirinya mendukung Gerakan Indonesia Memasak karena menilai gerakan tersebut, merupakan bentuk kolaborasi yang baik antara dinas ketahanan pangan, dan pihak swasta yakni Foodbank of Indonesia (FOI) atau Yayasan Lumbung Pangan Indonesia dan kecap ABC

Pendiri Yayasan Lumbung Pangan Indonesia atau Foodbank of Indonesia M Hendro Utomo mengungkapkan, kegiatan tersebut tidak sebatas mengajak untuk kembali memasak. Namun lebih dari itu, untuk menemukan kembali bahan pangan yang ada, baik sayuran maupun bumbu tradisional yang menyehatkan. Karena itulah muncul ide Gerakan Indonesia Memasak Mustika Rasa.

“Jadi sebenarnya di belakangnya ada mustika rasa. Itu yang jadi idenya Bung Karno (Sukarno, Presiden Pertama Indonesia),” ujarnya.

Namun demikian dirinya mengingatkan tentang gagasan Wakil Presiden Pertama Moh Hatta atau Bung Hatta tentang keadilan sosial. “Maka tidak boleh sendirian menikmatinya, Komunitas harus kebagian, jadi ada aspek gotong-royongnya,” ungkapnya.

Dirinya menjelaskan, pasokan bahan makanan dari para petani sekitar dibutuhkan karena di perkotaan lahan pertanian semakin sempit. Namun, bumbu yang berasal dari rempah bisa disediakan dengan konsep urban farming, seperti menanam serai, kunir, kunyit, jahe, atau sejenisnya dengan media tanam dalam polibag, pot atau kaleng bekas. (*)