Arsip Tag: Pemkot Semarang

Tiga Kandidat Sekda Semarang 2026 Mengerucut, Sosok Eksternal Jadi Sorotan

Lingkar.co – Seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang tahun 2026 kini memasuki fase akhir. Setelah melalui serangkaian tahapan panjang, panitia seleksi menetapkan tiga kandidat terbaik dengan nilai tertinggi.

Ketiga nama tersebut terdiri dari dua pejabat internal Pemerintah Kota Semarang, yakni Budi Prakosa dan Bambang Pramusinto, serta satu kandidat eksternal, Handi Priyanto dari Pemerintah Kota Malang.

Kepala BKPP Kota Semarang, Joko Hartono, memastikan bahwa seluruh tahapan seleksi telah berjalan sesuai aturan dan dilakukan secara terbuka.

“Seluruh tahapan telah dilaksanakan secara kompetitif, mulai dari seleksi administrasi, assessment kompetensi, uji gagasan, hingga penelusuran rekam jejak. Dari proses tersebut ditetapkan tiga peserta dengan nilai tertinggi,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).

Kandidat Eksternal Jadi Sorotan

Dari ketiga nama tersebut, Handi Priyanto menjadi satu-satunya kandidat yang berasal dari luar Pemerintah Kota Semarang. Saat ini ia menjabat sebagai Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Malang dan dikenal memiliki rekam jejak kuat di bidang pengelolaan keuangan daerah.

Selama menjabat, Handi mendorong berbagai inovasi dalam sistem perpajakan daerah, termasuk digitalisasi layanan pajak, penguatan pengawasan transaksi, serta peningkatan transparansi guna menekan potensi kebocoran pendapatan.

Di bawah kepemimpinannya, instansi yang ia pimpin berhasil meraih predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) dari Kementerian PAN-RB. Capaian tersebut menjadi indikator keberhasilan reformasi birokrasi yang berorientasi pada pelayanan publik.

Selain itu, sejumlah inovasi dalam optimalisasi pajak daerah turut berkontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), termasuk melalui pengembangan layanan berbasis teknologi dan program edukasi sadar pajak kepada masyarakat.

Kehadirannya sebagai figur eksternal dinilai membawa perspektif baru dalam tata kelola pemerintahan. Namun, tantangan adaptasi terhadap lingkungan birokrasi baru tetap menjadi catatan tersendiri.

Dua Kandidat Internal

Sementara itu, dua kandidat dari internal memiliki keunggulan masing-masing. Budi Prakosa dikenal berpengalaman dalam bidang perencanaan pembangunan daerah serta menjaga kesinambungan program strategis pemerintah kota.

Adapun Bambang Pramusinto memiliki rekam jejak dalam menjaga stabilitas sosial serta memperkuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat, khususnya dalam bidang politik dan kebangsaan.

Menunggu Keputusan Akhir

Dengan mengerucutnya tiga nama tersebut, keputusan akhir kini berada di tangan Wali Kota Semarang. Publik pun menantikan arah kebijakan yang akan diambil, apakah mempertahankan kesinambungan dari internal atau membuka peluang pembaruan melalui figur eksternal.

Penetapan Sekda definitif ini diharapkan mampu memperkuat kinerja birokrasi, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta mendorong pembangunan Kota Semarang yang lebih optimal ke depan. ***

Masuksi Tahap Akhir, Tiga Nama Lolos Seleksi Sekda Semarang

Lingkar.co – Proses seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang kini memasuki tahap akhir. Tiga kandidat dengan nilai tertinggi resmi diumumkan kepada publik, termasuk satu peserta yang berasal dari luar daerah.

Pengumuman tersebut dipublikasikan melalui akun Instagram resmi BKPP Kota Semarang serta dituangkan dalam surat Panitia Seleksi (Pansel) bernomor 21/Pansel-JPTSekda/IV/2026.

Seleksi dilakukan secara terbuka dan kompetitif dengan sejumlah tahapan ketat, mulai dari seleksi administrasi, uji kompetensi berbasis assessment, uji gagasan tertulis dan lisan, hingga penelusuran rekam jejak peserta.
Ketua Pansel yang juga Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menegaskan hasil akhir seleksi tersebut.

“Menetapkan tiga peserta dengan nilai tertinggi yang disusun berdasarkan urutan abjad. Mereka adalah Bambang Pramusinto, Budi Prakosa dan Handi Priyanto,” bunyi pengumuman resmi tersebut.

Dari ketiga nama tersebut, dua di antaranya merupakan aparatur sipil negara (ASN) yang telah lama berkarier di lingkungan Pemerintah Kota Semarang. Bambang Pramusinto saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), sementara Budi Prakosa menjabat Kepala Bappeda sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Sekda Kota Semarang.

Adapun kandidat lainnya, Handi Priyanto, berasal dari luar daerah dan saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) di Pemerintah Kota Malang.

Kepala BKPP Kota Semarang, Joko Hartono, menyampaikan bahwa proses seleksi terbuka ini memberikan kesempatan luas bagi ASN dari berbagai daerah untuk berkompetisi secara sehat.

“Semua mekanisme pendaftaran, termasuk unggah berkas dan pengumuman, dilakukan di situs BKN yang dinamakan ASN Career. Tidak ada tatap muka dengan panitia seleksi,” jelasnya.

Ia menambahkan, seluruh tahapan seleksi dilakukan secara daring melalui platform milik Badan Kepegawaian Negara, guna menjamin transparansi dan akuntabilitas proses rekrutmen.

Seleksi Sekda Kota Semarang sendiri telah dibuka sejak 20 Februari hingga Maret 2026 sebagai bagian dari upaya menjaring kandidat terbaik secara terbuka. Sebelumnya, posisi Sekda diisi oleh pelaksana tugas setelah pejabat definitif, Iswar Aminuddin, memilih pensiun dini dan kemudian menjabat sebagai Wakil Wali Kota Semarang.

Tahapan selanjutnya, tiga nama kandidat tersebut akan dikoordinasikan dengan Gubernur Jawa Tengah serta Badan Kepegawaian Negara sebelum satu nama ditetapkan sebagai Sekda definitif.

Dengan proses seleksi yang terbuka dan berbasis merit ini, diharapkan pejabat Sekda terpilih mampu memperkuat tata kelola pemerintahan serta meningkatkan kualitas pelayanan publik di Kota Semarang. ***

Hari Raya Nyepi di Semarang, Pawai Ogoh-Ogoh Akan Kembali Digelar

Lingkar.co – Kota Semarang akan kembali merayakan keberagaman melalui Pawai Ogoh-Ogoh yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (26/4/2026). Acara yang menjadi rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 ini akan menampilkan iring-iringan seni dan budaya lintas etnis dari Balai Kota menuju Simpang Lima.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyatakan bahwa pawai tahun ini tampil lebih megah karena adanya partisipasi aktif dari berbagai wilayah di luar Semarang.

“Tahun ini ada dukungan nyata dari PHDI Jepara, PHDI Kendal, hingga Kelompok Beleganjur dari Jogjakarta yang pada penyelenggaraan sebelumnya tidak ada. Selain keterlibatan kelompok musik tersebut, perbedaan besar tahun ini juga terlihat pada pementasan Sendratari Legenda Rawa Pening sebagai penutup acara di Simpang Lima,” ujarnya.

Pawai tahun ini melibatkan ribuan peserta dengan mengusung semangat sesanti Memayu Hayuning Bhawono untuk menciptakan Semarang yang aman, Memayu Hayuning Sesami untuk Semarang yang toleran, serta Memayu Hayuning Diri sebagai bentuk komitmen toleransi. Hal ini berjalan seiring dengan capaian kota Semarang sebagai peringkat ke tiga Kota Paling Toleran di Indonesia versi SETARA Institute tahun 2026 baru-baru ini.

“Capaian dari SETARA Institute adalah bukti nyata bahwa masyarakat kita sangat terbuka. Warga bisa melihat langsung bagaimana Beleganjur dari berbagai daerah bersanding dengan rebana, angklung, kuda lumping, leak, Barongsai, sampai Warak Ngendog khas Semarang dalam satu rute yang sama sebagai simbol keindahan dalam perbedaan,” jelasnya.

Pawai akan dimulai pukul 14.00 WIB dengan menempuh rute dari Jalan Pemuda (depan Balai Kota), melintasi landmark Tugu Muda, Jalan Pandanaran, hingga berakhir di Lapangan Pancasila Simpang Lima. Penetapan rute di jalan-jalan protokol ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat untuk menikmati sajian budaya tersebut secara leluasa.

Agustina mengajak seluruh warga, baik dari kota Semarang maupun luar daerah, untuk datang dan menyaksikan langsung perayaan keberagaman ini.

“Mari kita saksikan dan rayakan bersama momentum ini sebagai pengingat untuk terus merawat harmoni yang sudah menjadi identitas Ibu Kota Jawa Tengah. Pawai ini adalah milik kita semua, tempat di mana seni budaya dari berbagai latar belakang bisa tumbuh dan diapresiasi oleh siapa saja,” pungkasnya. ***

Gugatan Mantan Direksi Masuk PTUN, PDAM Tirta Moedal Serahkan ke Pemkot Semarang

Lingkar.co – Perumda Air Minum PDAM Tirta Moedal Kota Semarang menyerahkan penanganan konflik hukum terkait gugatan mantan direksi yang diajukan ke Pengadilan Tata Usaha Negara kepada Pemerintah Kota Semarang.

Direktur Utama PDAM Tirta Moedal, Ady Setiawan, menjelaskan bahwa persoalan tersebut berada dalam kewenangan pemerintah daerah, khususnya Wali Kota Semarang sebagai kuasa pemilik modal.

Menurutnya, konflik yang terjadi tidak berada dalam ranah operasional manajemen PDAM, melainkan masuk kategori konflik agensi antara pihak eksternal, yakni mantan direksi dengan pemilik perusahaan, yaitu Pemkot Semarang.

“Konflik ini sebetulnya di luar daripada manajemen karena merupakan ranah antara Pemkot Semarang dengan pihak ketiga,” ujar Ady Setiawan, Kamis (23/4/2026).

Meski demikian, pihaknya menyatakan kesiapan untuk berkoordinasi apabila dibutuhkan dalam proses hukum tersebut. Terutama dalam penyediaan dokumen atau bukti yang berkaitan dengan legalitas manajemen dan direksi yang saat ini menjabat.

“Kalau memang diperlukan kita siap memberikan bukti jika manajemen kita sah secara hukum,” jelasnya.

Ia menegaskan, adanya gugatan hukum tersebut tidak akan mempengaruhi operasional perusahaan, khususnya pelayanan air bersih kepada masyarakat yang tetap berjalan normal. PDAM, kata dia, tetap fokus menjaga kontinuitas distribusi air minum bagi warga Kota Semarang.

“Perusahaan ini dibuat untuk melayani masyarakat, terkait konflik yang ada, harapannya tidak muncul spekulasi yang bisa menghambat pelayanan,” tegasnya.

Dari sisi internal, jajaran manajemen PDAM Tirta Moedal disebut tetap solid dan berkomitmen menjalankan tugas pokok dan fungsi secara profesional. Kondisi internal perusahaan juga dipastikan tetap kondusif meskipun tengah menghadapi gugatan hukum.

Terkait langkah hukum selanjutnya, Ady Setiawan menegaskan bahwa seluruh keputusan berada di tangan Pemerintah Kota Semarang, dalam hal ini Wali Kota sebagai pemegang kewenangan.

“Wewenang ada di Pemkot dan Wali Kota sebagai pemilik. Kami berkomitmen melaksanakan tugas sebaik mungkin dan menjaga situasi tetap kondusif demi kenyamanan pelanggan,” pungkasnya.

Dengan sikap tersebut, PDAM Tirta Moedal berharap pelayanan publik tetap berjalan optimal serta kepercayaan masyarakat terhadap layanan air bersih tidak terganggu oleh dinamika hukum yang tengah berlangsung. ***

Tukar Botol Dapat Lumpia, Kado Inovatif Pemkot Semarang Buat Warga di HUT ke-479 Kota Semarang

Lingkar.co — Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang kembali menghadirkan inovasi kreatif yang menggabungkan kepedulian lingkungan dengan pelestarian kuliner khas daerah melalui program “Tukar Botol Dapat Lumpia”.

Program ini mengajak masyarakat menukarkan botol bekas menjadi voucher lumpia gratis, sekaligus menargetkan pembagian 5.000 porsi lumpia untuk memecahkan Rekor MURI.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kota Semarang dalam mendorong budaya ramah lingkungan sekaligus menguatkan identitas kota sebagai rumah kuliner legendaris.

“Melalui program ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk mulai memilah sampah dari rumah. Botol bekas yang sering dianggap tidak bernilai, kini bisa ditukar menjadi sesuatu yang bermanfaat. Ini juga menjadi momentum kebersamaan warga di dalam merayakan HUT ke-479 Kota Semarang sekaligus memperkuat identitas Kota Semarang sebagai kota kreatif dan peduli lingkungan,” ujar Agustina.

Program “Tukar Botol Dapat Lumpia” dilaksanakan dalam dua tahap, pertama, tahap penukaran botol bekas
di mana masyarakat dapat menukarkan botol bekas pada tanggal 26–30 April 2026 di bank-bank sampah terdekat. Botol yang dikumpulkan akan ditukar dengan voucher lumpia gratis.

Selanjutnya adalah tahap penukaran voucher. Di sini
voucher yang telah diperoleh kemudian dapat ditukarkan dengan lumpia pada tanggal 3 Mei 2026 pukul 06.00 – 08.00 WIB di Lapangan Pancasila Simpang Lima.

Sebanyak 5.000 porsi lumpia akan dibagikan kepada masyarakat dalam kegiatan ini, yang sekaligus menjadi upaya Pemerintah Kota Semarang untuk memecahkan Rekor MURI sebagai pembagian lumpia terbanyak berbasis gerakan peduli lingkungan.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari kampanye Pemkot Semarang dalam mendorong partisipasi aktif masyarakat terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan, sekaligus memperkuat citra Kota Semarang sebagai kota yang inovatif, ramah lingkungan, dan kaya akan budaya kuliner.

Wali Kota Semarang mengajak seluruh masyarakat untuk turut berpartisipasi, mengumpulkan botol bekas, dan menjadi bagian dari sejarah baru Kota Semarang. ***

Pemkot Semarang Gercep Tangani Anak Korban Pembakaran

Lingkar.co – Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang langsung bergerak cepat menangani kasus tragis yang menimpa seorang siswi kelas 2 SMP berinisial T, yang menjadi korban pembakaran oleh pamannya sendiri di Tambakmulyo, Semarang Utara.

Wali kota Semarang, Agustina Wilujeng melalui Camat Semarang Utara, Siwi Wahyuningsih bersama jajaran kelurahan langsung melakukan koordinasi dengan dinas terkait, seperti DP3A, Dinas Sosial dan RSWN untuk memastikan korban mendapatkan perlindungan dan perawatan medis yang layak setelah sebelumnya sempat terkendala biaya pengobatan.

Langkah ini diambil sebagai bentuk respons sekaligus wujud perhatian pemerintah kota atas musibah yang dialami warganya.

“Kami juga sampaikan bahwa atas instruksi dari Ibu Wali Kota, kita lakukan atensi, intervensi terhadap korban. Yang pertama kita lakukan adalah berkoordinasi dengan DP3A terkait dengan pelindungan perempuan dan anak, karena ini korbannya adalah di bawah umur, SMP kelas 2,” ujar Camat Semarang Utara, Siwi Wahyuningsih, pada Rabu (22/4/2026).

Proses penanganan dimulai dengan melakukan pendampingan dan asesmen mendalam bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang.

Diketahui sebelumnya, korban sempat dibawa ke rumah sakit swasta namun terpaksa dipulangkan oleh orang tuanya karena kendala biaya. Melihat kondisi tersebut, pihak kecamatan bersama DP3A memindahkan korban ke Rumah Sakit Umum Daerah K.R.M.T Wongsonegoro (RSWN) untuk mendapatkan pengobatan intensif.

“Karena tidak bisa di-cover oleh BPJS, karena kemarin kan dibawa ke rumah sakit swasta. Nah, setelah itu dengan adanya kita memberikan bantuan bersama DP3A, pendampingan DP3A, ini kita kirim ke RSWN untuk dilakukan pemeriksaan pengobatan secara intensif,” jelasnya.

Kondisi luka bakar yang diderita korban dilaporkan mencapai 30 persen, yang meliputi area lengan kanan hingga bagian punggung. Selain bantuan medis, Dinas Sosial juga telah menyalurkan bantuan logistik berupa sembako untuk meringankan beban keluarga korban selama masa pemulihan.

“Luka sekitar 30 persen. Makanya kita evakuasi karena takutnya (luka) rentan sama bakteri, sama virus,” tutup Siwi. ***

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Dorong Perempuan Jadi Agen Perubahan, Perkuat Pembangunan Kota

Lingkar.co – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan pentingnya peran perempuan sebagai agen perubahan dalam pembangunan kota. Hal tersebut disampaikan saat membuka talkshow peringatan Hari Kartini di lingkungan Balaikota Semarang, Selasa (21/4), usai memimpin upacara.

Mengusung tema “Semangat Kartini, Inspirasi Lintas Generasi. Perempuan Berdaya, Semarang Semakin Hebat”, kegiatan ini dihadiri organisasi perempuan seperti GOW, PKK, serta jajaran kepala perangkat daerah. Momentum tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kapasitas perempuan dalam mendukung pembangunan Kota Semarang.

Dalam sambutannya, Agustina Wilujeng menekankan bahwa keberanian perempuan dalam menyampaikan gagasan dan mengambil keputusan merupakan kunci utama terciptanya perubahan.

“Pertanyaannya sekarang, wahai perempuan Kota Semarang, bisa tidak kita menjadi agen perubahan? Kalau bisa, maka kita harus selesai dengan diri kita sendiri dulu,” tegasnya.

Agustina juga berbagi pengalaman pribadinya saat memutuskan maju sebagai Wali Kota Semarang. Ia mengakui sempat muncul keraguan menghadapi tantangan besar, namun keputusan yang diambil dengan keyakinan penuh justru menjadi titik balik yang memperkuat dukungan.

“Ketika saya memutuskan menerima, karena itu tugas dan saya harus menang, maka seluruh daya upaya dan lingkungan akan mendukung. Tapi kalau kita ragu, dukungan itu akan terbelah,” ujarnya.

Menurutnya, perempuan memiliki karakter kuat seperti teliti, tangguh, dan mampu menyelesaikan pekerjaan secara optimal. Potensi tersebut, lanjutnya, harus diiringi keberanian untuk bertindak secara totalitas.

Selain itu, Wali Kota Semarang juga menegaskan komitmen Pemerintah Kota Semarang dalam menciptakan ruang yang aman dan setara bagi perempuan. Hal ini termasuk dalam interaksi sosial sehari-hari, seiring meningkatnya sensitivitas terhadap isu komunikasi dan pelecehan di era keterbukaan informasi.

Sebagai bentuk komitmen nyata, Pemerintah Kota Semarang terus menghadirkan berbagai program pemberdayaan perempuan, salah satunya melalui program “Waras Ekonomi”. Program ini difokuskan untuk mendorong pelaku UMKM, yang mayoritas dijalankan perempuan, agar dapat naik kelas dan memiliki keberlanjutan usaha.

“Selama ini banyak bantuan sifatnya insidental. Ke depan, kita dorong agar produk UMKM bisa masuk ke sistem bisnis yang berkelanjutan, sehingga benar-benar mandiri,” jelasnya.

Tak hanya di sektor ekonomi, kontribusi perempuan juga terlihat dalam sektor kesehatan melalui peran kader posyandu yang menjadi penggerak di tingkat komunitas.

Agustina menambahkan, peringatan Hari Kartini tahun ini dikemas lebih sederhana sebagai bagian dari efisiensi anggaran. Namun demikian, komitmen terhadap penguatan peran perempuan tetap menjadi prioritas utama Pemerintah Kota Semarang.

“Kesederhanaan ini tidak mengurangi peran perempuan sebagai penggerak pembangunan. Justru kita fokus pada dampak nyata yang bisa dirasakan masyarakat,” imbuhnya.

Melalui momentum Hari Kartini, Wali Kota Semarang berharap perempuan Kota Semarang semakin percaya diri, berani menyampaikan gagasan, serta mengambil peran strategis dalam berbagai lini kehidupan.

“Semua perempuan bisa menjadi Kartini masa kini. Dimulai dari berani berbicara, menyampaikan apa yang dirasakan, dan mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing,” pungkasnya. ***

PTUN Semarang Kabulkan Gugatan Tiga Mantan Direksi PDAM Tirta Modal, SK Pemberhentian Batal

Lingkar.co – Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang mengabulkan gugatan tiga mantan direksi PDAM Tirta Moedal yang diberhentikan oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. Putusan tersebut sekaligus membatalkan Surat Keputusan (SK) pemberhentian yang terbit pada 9 Oktober 2025.

Perkara dengan nomor 100/G/2025/PTUN.SMG itu diajukan oleh E Yudi Indarto, Muhammad Indra Gunawan, dan Anom Guritno yang menjabat sebagai direksi PDAM untuk periode 2024–2029 berdasarkan SK Wali Kota Semarang Nomor 500/804/2024.

Kuasa Hukum Direksi PDAM Kota Semarang Muchtar Hadi Wibowo menyambut positif dan mengapresiasi putusan PTUN yang memenangkan KK kliennya.

Muchtar menegaskan, putusan tersebut membuktikan prosedur pemberhentian Direksi PDAM Kota Semarang tidak sesuai prosedur hukum.

“Direksi kerja bagus bikin perusahan PDAM lebih baik kok malah di PHK’ ujarnya, Rabu (22/4/2026).

“Alhamdulillah, terima kasih kepada Majelis Hakim PTUN Semarang yang telah mengabulkan gugatan Direksi PDAM Semarang priode 2024-2029,” sambungnya.

Ia menduga, SK Pemberhentian diinfokan secara tidak patut, tidak beradab secara hukum administrasi dan cacat moral.

“Ini tidak lumrah karena pemberitahuan pemberhentian dilakukan secara mendadak yakni diberikan 1 jam sebelum penyerahan SK Pemberhentian (melalui whatsapp) pada pukul 12.00 sedangkan Undangan tertera pukul 13.00, Ini berpotensi perbuatan zalim banget dan tindakan sewenang-wenang,” bebernya.

Pemberhentian Sepihak Tak Sesuai Prosedur

Tak hanya itu, dirinya bahkan mempertanyakan sejak awal tahapan alasan pemberhentian klien secara sepihak, mengingat ketiganya masih memiliki masa bakti hingga 2029 mendatang.

“Bahwa fakta hukumnya, kami tidak pernah menerima surat teguran dari Dewan Pengawas, tidak pernah mendapat teguran atau peringatan dari Ibu Wali Kota dan para pimpinan di Pemerintah Kota Semarang,” ungkapnya.

Namun, lanjutnya, secara mengejutkan dan menyakitkan terbit Surat Kepuitusan Pemberhentian sebagaimana tersebut pada obyek gugatan di pengadilan.

Maka dari itu, Mochtar mempertanyakan tahapan mekanisme Bu Wali Kota Semarang dalam mengambil keputusan sebelum mengeluarkan SK pemberhentian kliennya.

Menurutnya, mekanisme pemberhentian direksi BUMD sebagaimana dalam PP No. 94 Tahun 2021 tentang Disiplin PNS, yang substansinya memanusiakan, menghargai harkat dan martabat manusia.

“Sangat disayangkan Ibu Wali Kota yang baru menjabat beberapa bulan, harus ternodai oleh hal-hal yang sejatinya bisa dihindari. Kami berkeyakinan Ibu Wali Kota mendapatkan informasi yang tidak valid dan sahih,” tukasnya.

Padahal, lanjutnya, yang menanggung konsekwensinya adalah Agustina selaku wali kota. Bukan para pembisik informasi tersebut.

Sejalan dengan amar putusan tersebut, Muchtar berharap Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti tidak berlaku lalim kepada kliennya.

“Untuk selanjutnya segera merehabilitasi kedudukan, harkat dan martabat para direksi sesuai perintah pengadilan. Hal ini agar terhidar dari tuntutan-tuntutan hukum lebih lanjut berupa menyalahgunakan wewenang (abuse of power), perbuatan melawan hukum karena tidak segera melaksanakan putusan pengadilan,” ujarnya.

Bahkan, ia meminta Wali Kota untuk mengabaikan suara-suara dari pihak yang tidak bertanggungjawab.

“Stop! tidak boleh melakukan pembangkangan hukum, Ibu wali kota tidak usah mendengarkan pembisik pembisik yang coba untuk melakukan perlawan pada pengadilan yang dapat berakibat fatal,” tegasnya. (*)

Nyalakan Nasionalisme, Merah Putih Sepanjang 100 Meter Terbentang di Karnaval Paskah Kota Semarang

Lingkar.co – Karnaval Paskah Kota Semarang 2026 menjadi lebih dari sekadar perayaan keagamaan. Di tengah keberagaman masyarakat, kegiatan ini tampil sebagai ruang publik yang menyalakan kembali semangat nasionalisme melalui pendekatan budaya yang inklusif dan membumi.

Sejak awal pelaksanaan, perhatian masyarakat tertuju pada bentangan bendera merah putih sepanjang kurang lebih 100 meter yang diarak oleh ratusan anak muda lintas komunitas.

Visual tersebut tidak hanya menghadirkan kemegahan, tetapi juga menjadi simbol kuat persatuan di tengah perbedaan. Karnaval yang menempuh rute dari Kota Lama hingga berakhir di halaman Balai Kota Semarang ini menghadirkan ribuan peserta dan masyarakat yang turut menyaksikan, menjadikannya sebagai momentum kebersamaan yang hidup di ruang kota.

Yunike dari komunitas History Maker menjelaskan bahwa kehadiran simbol kebangsaan berupa bendera merah putih dalam perayaan Paskah merupakan pesan yang sengaja dihadirkan, terutama bagi generasi muda.

“Walaupun ini perayaan Paskah, kita tetap tidak bisa lepas dari semangat kebangsaan Indonesia. Bendera ini melambangkan bahwa kita berbeda-beda budaya, agama, tetapi tetap satu,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keterlibatan anak muda dalam kegiatan ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai kebangsaan di tengah perubahan zaman yang cepat.

“Harapannya, kegiatan seperti ini bisa dirawat agar generasi muda tidak melupakan budaya dan nilai-nilai yang bangsa Indosia miliki,” imbuhnya.

Melalui pendekatan yang menggabungkan ekspresi budaya, partisipasi generasi muda, dan simbol kebangsaan, Karnaval Paskah di Kota Semarang menunjukkan bahwa nasionalisme tidak selalu hadir dalam bentuk formal, tetapi dapat tumbuh secara alami melalui ruang-ruang interaksi sosial masyarakat.

Di tengah arus perubahan yang kian cepat, karnaval ini menjadi pengingat bahwa semangat kebangsaan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan merawat perbedaan.

Dari langkah kaki para peserta yang berjalan bersama, tersirat pesan sederhana namun kuat bahwa Indonesia tidak hanya dipersatukan oleh simbol, tetapi oleh kesadaran kolektif untuk terus menjaga kebhinekaan sebagai kekuatan. Dan dari Kota Semarang, semangat itu kembali dinyalakan, hidup, dan berjalan di tengah masyarakat. ***

Tegaskan Kota Semarang Inklusif, Karnaval Paskah Berikan Panggung Bagi Difabel

Lingkar.co – Semangat inklusivitas yang dibangun dalam Karnaval Paskah Kota Semarang 2026 tidak hanya berhenti pada simbol, tetapi diwujudkan secara nyata melalui keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk kelompok difabel yang turut mengambil peran dalam rangkaian kegiatan.

Di titik akhir perjalanan karnaval Paskah di depan kantor Balai Kota Semarang, kelompok difabel tampil memukau membawakan pertunjukan tari.

Penampilan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi menyiratkan pesan kuat tentang kesetaraan dan akses yang terbuka bagi semua.

Kehadiran difabel di panggung karnaval mempertegas bahwa ruang publik di Kota Semarang semakin inklusif di mana tidak sekadar memberi ruang, tetapi juga memberikan panggung yang setara untuk berekspresi dan dihargai.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari dinamika kota yang terus bergerak dan menghadirkan ruang kebersamaan bagi seluruh masyarakat.

“Kegiatan ini menjadi bagian dari kehidupan kota yang terus bergerak, menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk saling bertemu dan berbagi kebahagiaan di ruang publik,” ujarnya.

Lebih jauh, dirinya menggarisbawahi bahwa kekuatan kota justru lahir dari keberagaman yang dikelola dengan baik.

“Seringkali kita berpikir kebersamaan lahir karena kesamaan. Padahal justru karena perbedaan itulah kebersamaan menjadi kuat dan berarti,” tegasnya.

Karnaval Paskah tahun ini sekaligus menjadi refleksi bahwa pembangunan kota tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang bagaimana ruang sosial dibangun agar mampu merangkul semua lapisan masyarakat secara adil dan setara.

Di tengah riuh perayaan, pesan inklusivitas itu justru berbicara paling lantang bahwa kota yang maju bukan hanya yang tumbuh secara fisik, tetapi yang mampu memastikan setiap warganya hadir, terlihat, dan dihargai.

Dari langkah para difabel yang tampil percaya diri di ruang publik, kota Semarang menegaskan satu hal bahwa kesetaraan bukan sekadar wacana, melainkan praktik yang terus dihidupkan bersama. ***