Arsip Tag: Hari Santri Nasional

Komitmen Dukung Pesantren Sebagai Pilar SDM Unggul, Pemkab Kendal Satu-satunya di Jateng Dapat Penghargaan Nasional

Lingkar.co – Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari mengungkapkan, Pemerintah Kabupaten Kendal menjadi satu-satunya Pemerintah Daerah di Jawa Tengah yang mendapatkan penghargaan dari Kementerian Agama (Kemenag) RI karena komitmen memberikan dukungan terhadap pendidikan pesantren.

Penghargaan itu diterima langsung oleh Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari dalam Pesantren Award yang digelar Kemenag RI sebagai salah satu dari rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional 2025 di Jakarta.

Bupati menyampaikan hal itu saat menghadiri Panggung Gembira yang digelar Pondok Pesantren Darul Amanah di Lapangan Ngadiwarno, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, Rabu (29/10/2025) malam

“Alhamdulillah, Kabupaten Kendal menjadi satu-satunya dari Jateng yang mendapat penghargaan dan salah satu dari tiga daerah di Indonesia yang mendapat penghargaan nasional atas dukungannya terhadap pesantren, bersama Kabupaten Sumedang dan Bantaeng,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan, Pemkab Kendal terus berkomitmen mendukung kemajuan pesantren. Hal itu dibuktikan dengan keberadaan Peraturan Daerah tentang Pondok Pesantren serta berbagai program pemberdayaan santri di bidang UMKM, kesehatan, dan kewirausahaan muda.

Sebab, menurut orang nomor satu di Kendal ini, dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.

“Santri hari ini adalah pemimpin masa depan. Dengan pembinaan yang baik, mereka akan menjadi generasi cerdas, berakhlak mulia, dan siap membawa Indonesia menjadi negara besar dunia,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Bupati Kendal, mengaku menikmati penampilan tari tradisional yang ditunjukkan para santri tanpa nampak rasa canggung di atas panggung yang megah. Maka dari itu ia menilai pesantren memiliki peran penting dalam mencetak generasi berdaya saing dan berakhlak mulia.

“Malam ini sangat istimewa. Para santri menampilkan kreativitas luar biasa melalui seni dan budaya. Ini bukti bahwa pesantren bukan hanya mencetak ahli agama, tetapi juga generasi inovatif dan berprestasi,” ujar Mbak Tika, demikian sapaannya.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Amanah, KH Mas’ud Abdul Qodir, menyampaikan bahwa gelaran ini merupakan bukti nyata bahwa santri tidak hanya piawai dalam bidang keagamaan, tetapi juga mampu menorehkan prestasi dalam berbagai bidang lain.

“Pagelaran seni ini membuktikan bahwa santri bisa segalanya, bisa mengaji, bisa berkarya, dan bisa menebar manfaat melalui seni dan budaya,” tegasnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

RMI PWNU Jateng Soroti Kesehatan Mental Santri

Lingkar.co– Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan psikologis santri di tengah tantangan zaman modern, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah bekerja sama dengan RMI PCNU Banyumas menggelar Halaqah Interaktif Pengasuh Pesantren bertema “Mental Health Awareness: Meningkatkan Kesejahteraan Psikologis Santri” di Pondok Pesantren Al Falah, Mangunsari, Banyumas, Rabu (29/10/2025).

Kegiatan ini diikuti oleh para pengasuh dan perwakilan pondok pesantren serta pengurus RMI se-Karesidenan Banyumas. Para peserta diajak memahami pentingnya kesehatan mental di lingkungan pesantren, serta membangun kesadaran bahwa kesejahteraan psikologis merupakan bagian tak terpisahkan dari pendidikan keagamaan.

Ketua Lembaga Kesehatan (LK) PWNU Jawa Tengah, Alek Jusran, dalam pemaparannya menegaskan bahwa isu kesehatan mental di pesantren harus mendapat perhatian serius. Ia menjelaskan, PBNU telah memberikan arahan kepada wilayah-wilayah di Jawa, Bali, dan Sumatera untuk memperkuat layanan kesehatan melalui pendirian klinik di setiap Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU).

“PBNU mendorong agar setiap wilayah memiliki klinik yang terintegrasi dengan pesantren. Kami di LK PWNU Jateng sudah menyiapkan panduan pendirian klinik dan rumah sakit, agar kesehatan santri dapat terjamin secara menyeluruh,” ungkap Alek.

Ia menjelaskan, pesantren memiliki karakter unik karena menjadi lingkungan boarding dengan santri yang tinggal 24 jam di bawah pengasuhan kiai dan pengurus. Kondisi ini menuntut pengelolaan kesehatan fisik dan mental yang lebih sistematis, sebab masa remaja santri merupakan fase penting perkembangan emosi, sosial, dan spiritual.

“Kesehatan santri bukan hanya soal tubuh yang kuat, tapi juga jiwa yang tenang. Banyak persoalan muncul karena aspek mental tidak terkelola dengan baik. Maka dari itu, pembahasan kesehatan jiwa ini sangat penting bagi pesantren,” tegas Direktur Amino Hospital ini.

Alek juga menyoroti perbedaan karakter generasi santri saat ini dibanding masa lalu. Menurutnya, santri generasi Z dan Alfa hidup di era digital yang serba cepat, individualistis, dan sangat tergantung pada teknologi.

“Zaman dulu, santri terbentuk oleh keterbatasan dan kesederhanaan. Tapi sekarang, santri kita lahir di era digital — mereka belajar cepat, kreatif, tapi mentalnya lebih rentan terhadap tekanan sosial. Maka cara mengasuh dan mendidik juga harus menyesuaikan,” jelasnya.

Ia menambahkan, pondok pesantren harus menjadi tempat yang aman dan ramah bagi pertumbuhan psikologis santri. Sistem senioritas, tata nilai, dan kultur internal pesantren perlu dikelola agar tidak menimbulkan tekanan atau bahkan kekerasan psikis bagi santri baru.

“Di pesantren besar biasanya ada semangat korsa atau solidaritas namun seringkali itu berlebih. Kalau tidak dikelola dengan baik, bisa berubah menjadi tekanan sosial. Karena itu, perlu pendampingan yang adil bagi semua santri,” tambahnya.

Menangani Korban dan Pelaku Kekerasan

Dalam kesempatan tersebut, Alek juga menekankan pentingnya pesantren untuk memiliki mekanisme penanganan kasus kekerasan atau perundungan (bullying). Ia menegaskan bahwa pendekatan harus mencakup dua pihak: korban dan pelaku.

“Selama ini kita fokus ke korban, padahal pelaku juga perlu ditangani. Kalau pelaku tidak dibimbing, ia bisa menjadi ‘predator baru’ di tempat lain. Maka pesantren harus punya sistem terapi dan pembinaan agar keduanya pulih secara psikologis,” ujarnya.

Alek berharap pondok pesantren di Jawa Tengah mulai membangun kerja sama dengan lembaga-lembaga pelatihan kerja (BLK) dan lembaga pendidikan tinggi agar santri memiliki keterampilan, kemandirian, serta ketangguhan mental.

“Sebagai Direktur Amino Hospital yang menangani kejiwaan ataupun di LKNU kami siap membantu jika pesantren membutuhkan pendampingan atau kerja sama dalam penanganan kesehatan mental santri,” pungkas Alek.

Turut hadir sebagai narasumber halaqah, Nailul Fauziah, dosen psikologi Universitas Diponegoro Semarang. Ia menjelaskan bahwa santri masa kini yang berusia antara 12 hingga 18 tahun tergolong dalam generasi Z dan Alfa — generasi yang lahir dan tumbuh bersama kemajuan teknologi digital.

“Generasi ini cerdas, cepat belajar, dan adaptif. Tapi mereka juga rentan terhadap gangguan kesehatan mental karena hidup dalam tekanan sosial media dan budaya instan,” jelas Fauziah.

Ia menguraikan, meski generasi santri kini lebih terbuka dan kreatif, mereka menghadapi tantangan besar berupa rendahnya ketahanan emosional. Pesantren, menurutnya, berperan penting dalam membangun resiliensi — ketangguhan menghadapi tekanan hidup.

“Pesantren membentuk karakter, tanggung jawab, dan integritas moral. Nilai-nilai ini justru menjadi penyeimbang di tengah derasnya arus digital dan gaya hidup bebas,” lanjutnya. (*)

Peringati Hari Santri Nasional 2025, Ratusan Santri di Salatiga Gelar Jalan Sehat Kebhinekaan

Lingkar.co – Pondok Pesantren Al-Insaniyyah Salatiga menggelar acara jalan sehat bersama masyarakat lintas agama yang dimulai dari halaman Pondok Pesantren Al-Insaniyyah, Dusun Druju Sidorejo Kidul Tingkir Salatiga pada Minggu (26/10/25).

Jalan sehat yang diadakan untuk memperingati Hari Santri Nasional ini mengusung tema Siji Wadah Ojo Pecah itu diikuti kurang lebih 700 peserta yang terdiri dari santri dan masyarakat sekitar pesantren Al-Insaniyyah serta sebagian santri dari Pondok Pesantren Sunan Giri Krasak Ledok Argomulyo Salatiga.

Pengasuh Pondok Al-Insaniyyah, Khoirul Anwar, dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan hari santri menjadi momentum para santri untuk silaturrahmi bersama masyarakat dengan segenap perbedaannya, khususnya yang berada di lingkungan pesantren.

“Melalui jalan sehat ini, santri dan masyarakat dari berbagai latar belakang agama semuanya dapat silaturahmi. Kita boleh berbeda, tapi kita semua bersaudara, satu tanah air, sehingga tidak boleh terpecah belah hanya karena perbedaan. Kita harus terus bekerjasama dalam rangka menyelesaikan problem-problem kemanusiaan,” jelasnya.

Lebih jauh Anwar menyampaikan, masyarakat di Kota Salatiga sangat rukun, karena itu selain perlu dijaga kerukunannya, juga perlu bersama-sama melakukan kerja-kerja kemanusiaan.

“Di dalam masyarakat yang tercerai berai akan disibukkan dengan mempersatukan, sedangkan di dalam masyarakat yang sudah rukun perlu ditingkatkan menjadi masyarakat yang saling bekerja sama dalam menyelesaikan persoalan kemanusiaan seperti mengatasi kemiskinan dan keterbelakangan. Dan Salatiga bagian dari masyarakat yang kedua ini, sangat-sangat rukun. Karena itu PR kita semua, perlu bekerja sama dalam memberikan solusi atas sejumlah persoalan kemanusiaan hari ini dan yang akan datang,” terangnya.

Toleransi Hingga Akar Rumput

Lurah Sidorejo Kidul Tingkir Salatiga Widhi Cahyo Prasetyo menegaskan, bahwa predikat Kota Salatiga sebagai kota toleran bukan sekadar sebutan, tapi semua orang bisa merasakan. Masyarakat yang tinggal di kota maupun di dusun yang ada di Salatiga sangat mencerminkan hubungan yang sangat toleran.

“Melalui acara yang diselenggarakan Al-Insaniyyah ini, kita semua bisa merasakan bahwa Kota Salatiga ini memang kota yang sangat menenteramkan dan sangat toleran. Karena itu tidak berlebihan jika kota ini dinobatkan sebagai kota toleransi nomer satu di Indonesia,” katanya.

Turut hadir dalam acara Jalan Sehat Kebhinekaan Santri dan Masyarakat Lintas Agama, anggota DPRD Kota Salatiga Pudjo Suseno, Alexander Joko Sulistiyo Budi Yuwono, Lurah Sidorejo Kidul Widhi Cahyo Prasetyo, Kepala Cabang BSI Salatiga Dewi Novitasari, serta pegawai kelurahan setempat. (*)

Kepala Kemenag Kota Semarang: Askhabul Kahfi Buka Program PDF, Lulus Setara Sekolah Formal

Lingkar.co – Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kota semarang Muhtasit, SAg, MPd mengatakan, Pesantren Askhabul Kahfi akan membuka program Pendidikan Diniyah Formal (PDF). Santri yang dinyatakan lulus PDF, katanya, setara dengan sekolah formal.

Alumnus pesantren Futuhiyyah Mranggen ini menjelaskan, ijazah pesantren yang menerapkan PDF bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan formal lanjutan sesuai dengan kesetaraan karena sudah diakui oleh Pemerintah setara dengan SMP dan SMA formal.

“Saat ini Pesantren askhabul kahfi Sedang menuju proses mendapatkan izin operasional (PDF) dan kami melakukan pendampingan untuk proses percepatan izin tersebut,” kata Muhtasit saat menyampaikan sambutan pembukaan Kirab Kebangsaan Hari Santri Nasional 2025 di Sirkuit BSB Mijen, Kota Semarang, Sabtu (25/10/2025).

“Maka bagi bapak, ibu yang saat ini anaknya masih SD, MI, MTS atau SMP besok bulan Syawal panjenengan daftarkan di Pesantren Askhabul Kahfi,” ajaknya.

Lebih lanjut ia mengingatkan bahwa peristiwa sejarah mempertahankan kemerdekaan yang dikenal dengan nama Resolusi Jihad merupakan salah satu bukti nyata komitmen kebangsaan ulama pesantren di Indonesia, khususnya Nahdlatul Ulama sebab resolusi jihad dicetuskan oleh salah satu pendiri NU, yakni KH. Hasyim Asy’ari Jombang.

Dirinya juga mengutip alenia keempat dalam pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yakni pada kalimat mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurut dia, konsep itu adalah konsep para santri yang diinisiasi oleh KH. Wahid Hasyim, salah satu putra KH Hasyim Asy’ari.

“Maka jadi santri harus tetap semangat, ‘Hidup Santri, Hidup Askhabul Kahfi, Hidup Santri’. Jadikan waktu di pesantren menjadi kesempatan untuk menambah nilai untuk kalian para santri,” pekiknya.

Pada kesempatan itu, ia juga mengaku bangga ada pesantren yang besar di Ibu Kota Jawa Tengah. Ia bilang, Askhabul Kahfi saat ini menjadi pesantren dengan santri terbanyak di kota Semarang. (*)

Penulis: Yasin Muntaha
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Halaqah RMI PWNU Jawa Tengah Segera Berlakukan Standarisasi Infrastruktur Pesantren

Lingkar.co – Pemberlakuan standarisasi infrastruktur dan tata ruang pondok pesantren mendesak untuk segera dilakukan agar musibah yang terjadi di Pesantren Al Khoziny tidak berulang.

Hal ini ditegaskan dalam Halaqah Pengasuh Pesantren yang digelar Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PWNU Jawa Tengah di Ponpes Nurul Qur’an, Simo, Boyolali, Selasa (21/10/2025). Acara tersebut bertema :Arsitektur, Desain, Tata Ruang, dan Infrastruktur Pesantren’.

Salah satu narasumber, Dr. KH. Abu Choir, M.A. perwakilan RMI PWNU Jateng mengatakan bahwa sarana merupakan bagian 2 arkanul ma’had yang dikristalkan dalam UU No. 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, yaitu Asrama dan Masjid.

“Kedua aspek ini memiliki nilai filosofis yang tidak hanya sekedar bangunan. Bahkan asrama santri, masjid, dan rumah kiai ibarat pertemuan simbolik interaksi manusia menuju kebaikan hakiki,” ujarnya.

Gus Dur, lanjut Abu Choir, pernah mengilustrasikan cerita pewayangan, dimana santri ialah para salik yang beriyadhah menuju baik dan Kiai ialah para mursyid yang membimbingnya, sedangkan masjid adalah medan Kurusetranya.

Oleh karena itu keberadaan asrama santri, rumah/dalem Kyai, Masjid dan infrastruktur pesantren lainnya tidak boleh sampai kehilangan makna sebagai tempat pendidikan.

“Namun demikian, tetap harus memperhatikan nilai-nilai dasar ilmu teknik pembangunan, sehingga menjamin santri aman, sehat, dan nyaman,” demikian tegasnya.

Lebih lanjut, Abu Choir menyampaikan bahwa penting bagi pesantren menjaga kemandirian agar nilai sarana dapat mendukung pendidikan holistik santri, namun tetap harus memperhatikan aspek keselamatan dan kenyamanan bagi santri.

“Pesantren adalah lembaga mandiri yang harus tetap menjaga nilai-nilai dan tradisinya. Namun kemandirian itu tidak berarti mengabaikan standar keselamatan dan kelayakan bangunan,” ujarnya.

Kemudian Ir. Ashar Saputra, Ph.D. dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menjelaskan bahwa pembangunan pesantren idealnya melalui empat tahap penting: perencanaan, konstruksi, operasional dan pemeliharaan, serta evaluasi bangunan.

Setiap tahap, menurutnya, memerlukan keterlibatan tenaga ahli agar bangunan yang dihasilkan sesuai dengan fungsi dan aman digunakan dalam jangka panjang.

“Banyak pesantren membangun secara swadaya tanpa perencanaan teknis. Padahal, keamanan dan kelayakan bangunan menjadi bagian dari tanggung jawab moral pengasuh,” jelasnya.

Selain membahas persoalan teknis, halaqah ini juga mengidentifikasi sejumlah kendala administratif, seperti kesulitan mengurus IMB di lahan wakaf atau tanah yang masuk zona hijau, serta minimnya akses terhadap arsitek dan kontraktor yang memahami karakter pesantren.

Sebagai tindak lanjut, forum ini merekomendasikan agar RMI PWNU Jawa Tengah menjalin kerja sama dengan asosiasi profesional seperti Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo), Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi), dll.

Bahkan bisa juga berkolaborasi dengan Perguruan Tinggi dalam riset dan PKM pada bidang sarana tersebut. Kolaborasi ini diharapkan membantu pesantren melakukan pembangunan secara swakelola dengan biaya yang lebih efisien.

RMI juga didorong untuk memetakan konsultan dan kontraktor dari kalangan santri, serta mengadvokasi pemerintah agar memberikan pembebasan biaya IMB/PBG bagi pesantren untuk bangunan baru dan bangunan lama yang belum memiliki izin.

Selain itu, perguruan tinggi mitra yang memiliki fakultas teknik sipil dan arsitektur diharapkan dapat berkontribusi melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di pesantren.

Halaqah ini menjadi bagian dari peringatan Hari Santri Tahun 2025 sekaligus sebagai bagian upaya RMI dalam memperkuat kapasitas kelembagaan pesantren, tidak hanya di bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat, tetapi juga dalam pengelolaan infrastruktur yang aman, sehat, dan nyaman secara berkelanjutan.

“Kami ingin pesantren menjadi tempat belajar yang nyaman, tertata, dan tetap berakar pada nilai-nilai tradisi pesantren dalam bingkai Ahlussunnah wal Jamaah,” tutur Abu Choir menutup sesi diskusi.

Forum ini diikuti para pengasuh pesantren dari berbagai daerah di Jawa Tengah yang selama ini menghadapi beragam persoalan dalam pengelolaan infrastruktur, mulai dari izin mendirikan bangunan (IMB), status tanah wakaf, hingga keterbatasan tenaga teknis. (*)

PWNU Jateng Ajak Kawal Dirjen Pesantren, Tidak Boleh Memperkuat Hegemoni Pemerintah

Lingkar.co – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah menegaskan pentingnya peran pesantren dalam mengawal pelaksanaan Undang-Undang Pesantren agar tidak melenceng dari tujuan aslinya.

Keberadaan Direktorat Jenderal (Dirjen) Pesantren merupakan hadiah presiden dan momentum penting dalam sejarah kebijakan pemerintah. Sejalan dengan hal itu, Dirjen Pesantren, tidak boleh memperkuat hegemoni pemerintah terhadap pesantren.

Hal itu ia sampaikan Ketua Tanfidziah PWNU Jateng, KH. Abdul Ghaffar Razin dalam Halaqah Pengasuh Pesantren se-Jawa Tengah yang digelar di Gedung PGRI, Wujil, Bergas, Kabupaten Semarang, Jumat (24/10/2025).

Menurutnya, kehadiran Dirjen Pesantren yang baru dibentuk berdasarkan perintah Presiden merupakan momentum penting dalam sejarah kebijakan pesantren di Indonesia.

“Dirjen Pesantren ini tidak boleh memperkuat hegemoninya negara terhadap pesantren. Negara hadir untuk memperkuat, bukan mengintervensi,” tegasnya.

Ia menjelaskan, sejak Undang-Undang Pesantren disahkan pada tahun 2019, banyak amanat besar yang belum terealisasi secara utuh. Dari tiga fungsi utama pesantren—pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat—baru fungsi pendidikan yang berjalan baik. Sementara dua fungsi lainnya, termasuk pengelolaan dana abadi pesantren, belum menjadi perhatian serius pemerintah.

Gus Rozin juga menyoroti pelaksanaan regulasi turunan di daerah. Berdasarkan pantauan PWNU Jateng, dari 90 daerah yang telah membuat peraturan daerah atau peraturan bupati tentang pesantren, sekitar 80 persen tidak sesuai dengan amanat undang-undang.

“Ini harus menjadi perhatian bersama agar Undang-Undang Pesantren berjalan sesuai relnya,” ujarnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya rekognisi atau pengakuan negara terhadap ijazah pesantren. Santri yang lulus tidak boleh diperlakukan berbeda hanya karena ijazahnya tidak berasal dari lembaga formal.

“Lulusan pesantren tidak boleh ditolak hanya karena ijazahnya. Mereka harus diakui secara sah oleh negara, termasuk dalam pendaftaran P3K atau jabatan publik lainnya,” tegasnya.

Menurutnya, bantuan negara melalui APBN maupun APBD bersifat suplemeter, bukan komplementer. Artinya, pesantren harus tetap mandiri dan tidak bergantung sepenuhnya pada negara.

“Semakin pesantren mandiri, semakin baik. Negara hadir kalau diperlukan, tapi jangan sampai membuat pesantren kehilangan kemandirian,” imbuhnya.

Senada, Rais Syuriyah PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh menambahkan bahwa dalam menghadapi perubahan zaman, pesantren harus tetap berpijak pada nilai-nilai luhur yang telah diwariskan para kiai dan guru terdahulu. Menurutnya, modernisasi dan inovasi penting dilakukan, namun tidak boleh menggeser ruh pesantren yang menjadi sumber kekuatan moral dan spiritual bangsa.

“Kita boleh punya metode baru dan cara baru, tapi jangan meninggalkan nilai-nilai yang sudah ditanamkan oleh para guru kita. Kalau nilai-nilai itu ditinggalkan, arah pesantren bisa menyimpang,” pesannya.

Kiai Ubaid menegaskan bahwa kekuatan pesantren terletak pada keseimbangan antara tradisi dan inovasi. Pesantren, katanya, harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan sosial tanpa kehilangan jati diri.

“Transformasi boleh dilakukan, tapi nilai dasar harus tetap dijaga. Di situlah letak keistimewaan pesantren,” ujarnya.

Halaqah yang diikuti para pengasuh pesantren se-Jawa Tengah ini menjadi ajang refleksi dan konsolidasi bersama, agar pesantren tidak hanya mampu beradaptasi dengan dinamika kebijakan pemerintah, tetapi juga terus menjaga marwahnya sebagai benteng moral dan kebudayaan bangsa. (*)

Jadi Obyek Studi Ilmu Parlemen, Hampir Tiap Hari Ratusan Siswa Datangi DPRD Purworejo


Lingkar.co – Selain berfungsi sebagai lembaga yang memiliki peran legislasi, anggaran dan pengawasan, saat ini DPRD Kabupaten Purworejo menjadi salah satu obyek pembelajaran bidang pemerintahan khususnya berkaitan dengan parlemen.

Hampir setiap hari, sekolah-sekolah mulai dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi datang silih berganti memenuhi ruang paripurna DPRD Kabupaten Purworejo.
Seperti pada, Rabu (22/10) lalu.

Seratusan siswa SMAN Negeri 1 Purworejo mengunjungi Gedung DPRD Kabupaten Purworejo. Bertepatan dengan Hari Santri 2025, mereka yang datang bersama dewan guru menggunakan angkutan umum kompak mengenakan kostum ala santri.

Rombongan dipimpin oleh Wakil Kepala SMAN 1 Urusan Kesiswaan, Sunardi MPd, dan diterima oleh Ketua Komisi 4 DPRD Purworejo, Sri Susilowati, bersama Sekretaris DPRD Agus Ari Setiyadi SSos, Kabag Umum dan Keuangan Ulik Sri Widiyatmi Ssos MAP, Kabag Legislasi dan Publikasi Ary Puspitaningrum SE MM, serta jajaran Sekretariat DPRD.

Mewakili Kepala Sekolah, Sunardi, menyebut ada seratusan siswa dari unsur OSIS, MPK, dan PKS yang mengikuti kegiatan. Kehadiran para siswa di Gedung DPRD merupakan bagian dari program sekolah bernama Ganesha Parlemen. Lewat program ini, para siswa diharapkan dapat mengenal lebih dekat tugas dan fungsi DPRD.

“Ganesha Parlemen ini program mandiri yang tidak didanai dana BOS untuk belajar tentang parlemen. Kami kesini ngangsu kawruh agar sidang-sidang yang dikelola OSIS MPK lebih baik,” katanya.

Seluk beluk tetang tugas dan fungsi anggota DPRD dipaparkan oleh Sri Susilowati. Menurutnya, tugas utama DPRD adalah legislasi (membentuk peraturan daerah), anggaran (membahas dan menyetujui APBD), dan pengawasan (mengawasi pelaksanaan Perda dan APBD). Selain itu, DPRD juga berperan menyerap dan memperjuangkan aspirasi masyarakat serta mengawasi kinerja pemerintah daerah.

“Saya berharap adik-adik bersungguh-sungguh dalam belajar sehingga dapat mengambil peran bagi bangsa dan negara ke depan,” kata Sri Susilowati yang juga alumni SMAN 1 Purworejo. (*)

Penulis: Lukman Khakim

Peringati Hari Santri, MTs Negeri 2 Terbitkan Antologi Puisi

Lingkar.co – Dalam rangka memperingati Hari Santri 2025, siswa kelas 7D Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Purworejo meluncurkan sebuah karya istimewa bertajuk Antologi Puisi “Bingkai Santri”.

Buku ini merupakan hasil pembelajaran sastra yang dipersembahkan sebagai bentuk refleksi santri terhadap nilai-nilai keislaman di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.

Karya yang diterbitkan secara terbatas ini berisi kumpulan puisi hasil olah rasa para siswa yang menggambarkan semangat, perjuangan, dan kegigihan santri dalam menjaga tradisi keilmuan di era modern.

Tema besar antologi ini menyoroti bagaimana generasi muda pesantren perlu bijak menyikapi kemajuan teknologi dan arus globalisasi tanpa kehilangan jati diri keislaman dan keindonesiaannya.

Guru pengampu, Rifa’udin, M.Si., saat ditemui, Kamis (24/10) menyampaikan bahwa antologi ini bukan hanya sekadar kumpulan karya sastra, tetapi juga media pembelajaran karakter.

“Santri hari ini tidak boleh gagap terhadap perubahan. Mereka harus mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman, tetapi tetap berpegang pada nilai-nilai moral dan spiritual yang menjadi ciri khas santri,” ujar Rifa’udin.

Lebih lanjut, beliau menambahkan bahwa proses kreatif penyusunan antologi ini mengajarkan siswa pentingnya literasi, kolaborasi, dan ekspresi diri. Melalui kegiatan menulis puisi, santri diajak untuk memahami realitas sosial sekaligus menumbuhkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

Antologi “Bingkai Santri” disusun oleh Habibie Fahrenno dkk dari Asshofi Boarding School, dan diterbitkan di bawah bimbingan guru MTsN 2 Purworejo. Meskipun diperuntukkan bagi kalangan terbatas dan tidak diperjualbelikan, karya ini diharapkan menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lain untuk menumbuhkan budaya literasi di kalangan pelajar dan santri.

“Menulis adalah cara santri berdialog dengan zaman,” pungkas Rifa’udin. ***

Penulis : Lukman Hakim

LPP PWNU Jateng Tampilkan Aneka Produk Pertanian Organik di Puncak Hari Santri Nasional 2025

Lingkar.co – Lembaga Pengembangan Pertanian (LPP) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah turut ambil bagian dalam kemeriahan puncak peringatan Hari Santri Nasional 2025 yang dipusatkan di Stadion Pandanaran, Bergas, Kabupaten Semarang, Kamis–Sabtu (23–25/10/2025).

Dalam acara yang digelar selama tiga hari tersebut, LPPNU Jateng membuka stand pameran yang menampilkan beragam produk hasil inovasi dan binaan petani Nahdliyin di berbagai daerah.

Produk yang ditampilkan mencakup berbagai kebutuhan pertanian, mulai dari beras merah, beras hitam, benih padi unggulan, hingga pupuk organik padat dan cair. Produk-produk pertanian organik LPP NU Jateng ini dikembangkan bersama Kelompok Tani Sarwo Tulus (KTST) yang menjadi motor penggerak di bawah lembaga tersebut yang selama ini fokus mengembangkan pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Sekretaris LPP PWNU Jateng, Slamet Suharto, menjelaskan bahwa LPPNU berkomitmen untuk terus mendorong transformasi pertanian berbasis organik di kalangan petani Nahdliyin. Menurutnya, pupuk organik memiliki banyak keunggulan dibanding pupuk kimia yang selama ini umum digunakan.

“Kalau menggunakan pupuk cair organik atau pupuk padat organik, hasilnya bisa setara bahkan lebih baik daripada pupuk kimia, terutama dalam jangka panjang,” jelasnya kepada wartawan. Kamis (23/10/2025).

“Tanah yang lama diberi pupuk kimia biasanya mengalami penurunan produktivitas. Tapi dengan penggunaan pupuk organik secara berkelanjutan, struktur tanah akan membaik dan kembali subur. Ini investasi jangka panjang bagi keberlanjutan pertanian kita,” imbuhnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pupuk kimiawi meninggalkan residu yang berpotensi berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Karena itu, LPPNU mendorong kembalinya budaya bertani organik sebagai bentuk ikhtiar merawat bumi sekaligus membangun peradaban yang lebih sehat.

“Kita harus mulai mengembalikan kesadaran bertani secara alami. Ini bukan sekadar soal hasil panen, tapi juga soal keberlanjutan hidup dan amanah menjaga alam,” tegasnya.

Sementara itu, penjaga stand LPPNU, Taqwim Mujiono, menambahkan bahwa produk yang dipamerkan merupakan hasil nyata pendampingan LPPNU terhadap petani binaan. Ia menuturkan, semua produk diolah dengan cara ramah lingkungan tanpa bahan kimia sintetis.

“Kami membawa beras merah dan beras hitam organik hasil olahan petani binaan dari beberapa kabupaten di Jawa Tengah. Selain itu, kami juga menyediakan benih padi hitam, padi merah, dan mentik wangi,” ujarnya.

Selain beras dan benih, LPPNU Jateng juga memperkenalkan dua jenis pupuk organik, yakni pupuk kandang dan pupuk cair organik. Keduanya dikemas dengan berbagai ukuran agar mudah dijangkau oleh petani kecil maupun pelaku usaha tani skala besar.

“Pupuk cair kami bisa diaplikasikan hanya dengan dua tutup botol kecil yang dicampur dalam 14 liter air, cukup untuk satu tangki semprot petani. Harganya jauh lebih murah dari pupuk kimia, tapi hasilnya tidak kalah bagus,” terang Taqwim.

Ia menuturkan, penggunaan pupuk organik terbukti mampu menjaga struktur tanah tetap gembur dan bernutrisi. Sementara penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus dapat menyebabkan tanah menjadi keras dan kehilangan unsur hara dalam waktu 5–10 tahun.

“Kalau pakai pupuk kimia terus, tanah lama-lama mati. Tapi kalau organik, tanahnya tetap hidup, mikroorganismenya berkembang, dan hasil panen pun lebih sehat,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin, saat membuka Bazaar UMKM Hari Santri 2025, memberikan apresiasi atas partisipasi LPPNU Jateng dalam memperkuat kemandirian ekonomi berbasis pertanian. Menurutnya, sektor pertanian harus kembali menjadi perhatian utama warga NU.

“Sekarang ini, yang menguasai pangan adalah yang menguasai peradaban. Maka NU harus meneguhkan kembali peran strategisnya di bidang pertanian,” ujarnya.

Gus Rozin menegaskan, kemandirian pangan merupakan bagian penting dari kemandirian ekonomi umat. Ia juga mendorong agar produk-produk LPPNU tidak berhenti di ajang pameran, tetapi bisa terus dikembangkan dan dipasarkan secara luas.

“Saya minta LPPNU mengirimkan produk-produknya ke kantor PWNU. Nanti tidak hanya untuk pajangan, tapi akan kami bantu promosikan kepada para tamu, pejabat, dan pengurus daerah yang datang,” pesannya. (*)

Dari Pendidikan hingga Pertanian, PWNU Jateng Hadirkan Makna Substantif Peringatan Hari Santri Nasional 2025

Lingkar.co – Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin mengajak seluruh warga nahdliyin untuk menjadikan Hari Santri Nasional 2025 sebagai momentum memperkuat prestasi, bukan sekadar euforia perayaan.

Hal itu ia sampaikan dalam pembukaan rangkaian puncak Hari Santri 2025 PWNU Jateng di Stadion Pandanaran Wujil, Bergas, Kabupaten Semarang, Kamis (23/10/2025).

“Sudah saatnya Hari Santri kita rayakan dengan penuh makna, bukan hanya dengan keramaian. Tahun ini, kita rayakan dengan meneguhkan prestasi dan pencapaian yang telah kita hasilkan bersama,” ungkap Gus Rozin sapaannya.

Gus Rozin menjelaskan, dalam satu setengah tahun terakhir, PWNU Jawa Tengah bersama lembaga dan banomnya telah melakukan berbagai terobosan strategis di bidang pendidikan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat. Salah satunya adalah kerja sama LP Ma’arif PWNU Jateng dengan 39 perguruan tinggi di Tiongkok, yang membuka peluang beasiswa bagi siswa-siswa Ma’arif.

“Insya Allah semester depan, 20 siswa Ma’arif akan diberangkatkan ke Tiongkok untuk melanjutkan studi. Ini menjadi bukti nyata bahwa NU Jawa Tengah tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga terus memperluas jejaring pendidikan hingga ke tingkat global,” terang pengasuh pesantren Maslakul Huda Kajen Pati ini.

Selain di bidang pendidikan, Gus Rozin juga menekankan pentingnya kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan. Ia menilai, santri dan warga NU harus kembali menoleh ke sektor pertanian sebagai basis kekuatan bangsa.

“Sekarang ini, pemenang peradaban bukan lagi yang menguasai energi, melainkan yang menguasai pangan. Karena itu, NU harus kembali meneguhkan peran di bidang pertanian. Dengan dukungan pemerintah daerah dan semangat warga NU, kita bisa menjadi pelopor pertanian berkelanjutan,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan Hari Santri tahun ini dirancang lebih substantif. Selain bazar UMKM yang dari NU, pesantren maupun warga Semarang, malam ini ada Ngaji Bandongan bersama Gus Kautsar dan KH Ahmad Chalwani. Kemudian besok digelar pelatihan pertanian organik yang insyaallah akan diisi oleh Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta konsolidasi pesantren se-Jawa Tengah yang akan dihadiri oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Basnang Said untuk menguatkan peran pesantren menghadapi isu-isu aktual. Kemudian resepsi puncaknya ada jalan sehat santri yang bertabur hadiah, ada sepeda motor hingga umroh gratis.

“Bagi NU, UMKM dan pesantren adalah dua pilar penting. Mayoritas warga kita hidup dari sektor usaha kecil, pertanian, dan pendidikan. Karena itu, acara ini menjadi ruang bagi mereka untuk berkembang dan menampilkan hasil karya,” jelasnya.

Acara pembukaan turut dihadiri Bupati Semarang, H Ngesti Nugraha, yang menyampaikan apresiasi atas peran aktif PWNU Jawa Tengah dalam mendukung kemajuan daerah.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Semarang, kami berterima kasih kepada PWNU Jateng. Melalui kegiatan Hari Santri ini, masyarakat kami sangat terbantu, terutama lewat bazar UMKM yang memasarkan produk-produk lokal. Ada juga pelatihan pertanian yang memberi manfaat langsung bagi para petani,” kata Ngesti.

Ia berharap sinergi antara pemerintah dan NU terus berlanjut. “Semoga kerja sama ini terus memberi manfaat untuk kemajuan Kabupaten Semarang dan kesejahteraan masyarakatnya,” tandasnya.

Untuk diketahui rangkaian resepsi puncak peringatan Hari Santri 2025 ini digelar selama 3 hari, mulai Kamis-Sabtu (23-25/10/2025) bertempat di Stadion Pandanaran Wujil, Bergas Semarang. (*)