Lingkar.co – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang membuat terobosan baru dengan membentuk ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di SLB BC Swadaya Semarang, Jalan Seteran Utara II No. 2, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Pembentukan ekstrakurikuler tersebut merupakaj upaya untuk terus memperkuat pendidikan kemanusiaan. Bahkan PMR di SLB disebut sebagai yang pertama kali di Indonesia karena memang tidak ada materi kaderisasi relawan yang bisa diterapkan secara 100% kepada penyandang disabilitas.
Meski demikian, terobosan tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan kemanusiaan harus menjangkau semua kalangan, termasuk anak-anak penyandang disabilitas.
Kegiatan tersebut berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Palang Merah Internasional, Jum’at (8/6/2026).
Kabid Organisasi PMI Kota Semarang, Endang Puji Hastuti, mengatakan pembentukan PMR di lingkungan SLB menjadi langkah penting karena siswa berkebutuhan khusus juga membutuhkan pemahaman dasar tentang pertolongan pertama dan kepedulian sosial.
Menurutnya, antusiasme siswa dalam mengikuti pelatihan menjadi bukti bahwa PMR sangat dibutuhkan di sekolah luar biasa.
“Anak-anak sangat semangat mengikuti pelatihan. Ini menunjukkan bahwa PMR tidak hanya penting bagi sekolah umum, tetapi juga sangat dibutuhkan di SLB. Dengan dukungan guru dan kesabaran para pelatih, semua proses berjalan lancar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, PMI memberikan materi yang sama seperti di sekolah umum, mulai dari pertolongan pertama, penanganan kondisi darurat ringan, hingga pembentukan karakter sosial.
Namun, penyampaian materi dilakukan lebih perlahan agar siswa benar-benar memahami setiap pelajaran.
“Kalau di sekolah umum satu materi bisa selesai dalam satu jam pelajaran, di sini bisa membutuhkan waktu satu sampai dua hari. Yang paling penting mereka memahami dasar-dasarnya, terutama bagaimana menjaga diri sendiri saat terjadi sesuatu,” jelasnya.
PMI Kota Semarang juga akan melanjutkan program serupa ke beberapa SLB lainnya, termasuk SLB Negeri di Ketileng.
Sebelumnya lanjutnya, PMI juga telah mendampingi sejumlah SLB selama beberapa tahun hingga akhirnya sekolah tersebut siap memiliki unit PMR secara resmi.
Kepala Sekolah SLB BC Swadaya Semarang, Riska Fitriyani Rahmansyah, mengaku bangga karena sekolahnya menjadi salah satu SLB swasta pertama di Kota Semarang yang memiliki ekstrakurikuler PMR.Ia menilai program ini menjadi langkah besar dalam membangun rasa percaya diri, jiwa sosial, dan semangat gotong royong bagi para siswa.
“Ini menjadi hari yang sangat bersejarah bagi kami. Anak-anak kami memiliki kebutuhan khusus, sehingga pembinaan harus berjalan secara perlahan. Kehadiran PMR ini sangat bermanfaat untuk membentuk rasa kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama,” katanya.
Ia bilang, SLB BC Swadaya Semarang saat ini memiliki 139 siswa dengan hambatan pendengaran dan hambatan intelektual.
Riska berharap PMR dapat menjadi wadah pembelajaran yang setara dengan sekolah umum sekaligus menjadi kebanggaan bagi siswa, guru, dan orang tua.
Sementara itu, Kepala Markas PMI Kota Semarang, dr. Anna Kartika Yuli Astuti, mengatakan program ini sejalan dengan tema Bulan Kemanusiaan PMI Kota Semarang tahun 2026, yakni Humanity for Elderly and People with Disabilities.
Menurutnya, tema tersebut sangat relevan dengan upaya PMI dalam menghadirkan pendidikan kemanusiaan bagi penyandang disabilitas.
“Tema tahun ini sangat sesuai dengan kegiatan kami. Kami ingin memastikan bahwa nilai kemanusiaan dapat dirasakan oleh semua orang, termasuk penyandang disabilitas. Program ini akan terus berlanjut di SLB lainnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, PMI akan menyesuaikan kurikulum PMR dengan kondisi siswa dan arahan sekolah agar proses pembelajaran berjalan efektif, nyaman, dan berkelanjutan. (*/












