Utang Luar Negeri Swasta Tembus US$ 207 Miliar, Ini Sektor Penyumbang Terbesar

  • Bagikan

JAKARTA, Lingkar.co – Utang luar negeri (ULN) swasta per Juli 2021 mencapai US$ 207 miliar, tumbuh sebesar 0,1% dibanding Juli 2020 atau secara tahunan (year on year/yoy), setelah mengalami kontraksi sebesar 0,2% (yoy) pada Juni 2021.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono, mengatakan, meningkatnya utang swasta karena pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan sebesar 1,5% (yoy).

“Meski melambat dari 1,7% (yoy) pada bulan sebelumnya,” lanjutnya, dalam keterangan persnya kepada Lingkar.co, Rabu (15/9/2021).

Sementara itu, kata dia, pertumbuhan ULN lembaga keuangan mengalami kontraksi sebesar 5,1% (yoy).

“Lebih rendah dari kontraksi bulan sebelumnya sebesar 6,9% (yoy),” ucapnya.

Dengan perkembangan tersebut, kata Erwin, ULN swasta pada Juli 2021 tercatat sebesar 207,0 miliar dolar AS.

“Menurun dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya (Juni) sebesar 207,8 miliar dolar AS,” jelasnya.

Baca Juga:
Peneliti RCMG Yakin Kementan Telah Antisipasi Dampak Banjir dan Kekeringan bagi Petani

SEKTOR ULN TERBESAR

Erwin menjelaskan, ULN swasta terbesar dari sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas, dan udara dingin.

Kemudian, sektor pertambangan dan penggalian, serta sektor industri pengolahan, dengan pangsa mencapai 76,6% dari total ULN swasta.

“Dominasi ULN tersebut masih oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,6% terhadap total ULN swasta,” jelasnya.

TETAS SEHAT DAN TERKENDALI

Erwin menjelaskan, struktur ULN Indonesia tetap sehat, dengan dukungan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

“ULN Indonesia pada Juli 2021 tetap terkendali,” kata Erwin.

Hal itu, kata dia, tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tetap terjaga pada kisaran 36,6%, menurun dibanding rasio pada bulan sebelumnya sebesar 37,5%.

Selain itu, struktur ULN Indonesia tetap sehat, ditunjukkan oleh ULN Indonesia yang tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang, dengan pangsa mencapai 88,3% dari total ULN.

Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN.

“Denhgan dukungan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya,” kata Erwin.

Dia mengatakan, peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menopang pembiayaan pembangunan.

Selain itu, juga untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.***

Penulis : M. Rain Daling

Editor : M. Rain Daling

  • Bagikan
error: Ijin Dulu baru Copas BOSS !!