Dampak Pandemi, Banyak Warga Jepang Tinggalkan Ibu Kota Tokyo

  • Bagikan
ANTISIPASI: Warga memakai masker pelindung menunggu pergantian lampu lalu lintas di penyebrangan Shibuya, di tengah penyebaran penyakit virus corona (COVID-19), di Tokyo, Jepang, Jumat (16/10). (ANTARA/LINGKAR.CO)
ANTISIPASI: Warga memakai masker pelindung menunggu pergantian lampu lalu lintas di penyebrangan Shibuya, di tengah penyebaran penyakit virus corona (COVID-19), di Tokyo, Jepang, Jumat (16/10). (ANTARA/LINGKAR.CO)

TOKYO, Lingkar.co – Salah satu warga Jepang Kaoru Okada (36) memutuskan, untuk meninggalkan ibu kota karena khawatir dengan ketersediaan bahan pangan akibat pandemic yang berkepanjangan.

Okada menetap di kota Saku, Jepang tengah, prefektur Nagano, sekitar 160 kilometer  barat laut Tokyo. Dengan hanya mempertahankan bisnis ritel dan ekspor daringnya, sambil menanam sayuran di pertanian dan menumbuk padi.

Ads Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022

“Saya pindah dari Tokyo pada Juni setelah larangan perjalanan domestik dicabut. Saya berpikir sekarang adalah kesempatan sekali seumur hidup. Tinggal dekat dengan pusat penghasil makanan dan petani memberi saya rasa aman,” kata Okada.

Hal yang sama dirasakan Mizuto Yamamoto (31), seorang karyawan di salah satu perusahaan di Tokyo sekarang bekerja dari rumah.

“Itu dilakukan untuk menghindari kereta pagi Tokyo yang sangat padat,”katanya.

Pergeseran ini dapat mendorong Perdana Menteri Yoshihide Suga, yang menjadikan revitalisasi wilayah pedesaan Jepang yang sebagai penyangga utama dari program sosioekonominya. Karena pandemi telah mendorong banyak perusahaan untuk mengizinkan bekerja dari rumah.

“Pada September, 30.644 orang keluar  dari Tokyo, naik 12,5 persen tahun-ke-tahun, sementara jumlah yang masuk  turun 11,7 persen menjadi 27.006, ungkapnya. (aji)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.