Arsip Tag: Kabupaten Klaten

Fashion Show Peringatan Hari Kartini 2026, Ikhtiar Pemkab Klaten Tumbuhkan Semangat Industri Kreatif Berbasis Kain Perca

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten Klaten menggelar fashion show berbahan perca dan lurik di Pendopo Pemkab Klaten, Senin (20/4/2026). Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk memeriahkan Peringatan Hari Kartini 2026.

Berbagai busana hasil kreasi dari 60 peserta ditampilkan di atas panggung. Kain perca yang biasanya dianggap sisa bahan, disulap menjadi busana menarik dengan sentuhan motif lurik khas Jawa yang elegan dan bernilai seni tinggi.

Dalam sambutannya, Ketua TP PKK Kabupaten Klaten sekaligus Dewan Juri, Fahrani Hamenang mengaku terpukau dengan pakaian dan kreativitas peserta.

“Ini diluar biasa, baju-bajunya bagus, ini kelasnya bukan Kabupaten lagi tetapi sudah seperti tingkat nasional. Terima masih partisipasinya kepada seluruh Gabungan Organisasi Wanita (GOW) dan Desa Binaan yang sudah berkenan berpartisipasi,” jelasnya.

Kepala Dissos P3APPKB Klaten, Puspo Enggar Hastuti menyampaikan lomba ini bertujuan menumbuhkan semangat kreativitas perempuan, menumbuhkan kesadaran pentingnya limbah kain perca agar bernilai guna, mendorong inovasi busana unik dan ramah lingkungan, meningkatkan rasa percaya diri, serta cinta kreativitas lokal.

Puspo memaparkan peserta fashion show berasal dari berbagai organisasi wanita, di antaranya TP PKK Kabupaten Klaten, Dharma Wanita Persatuan (DWP), Gayatriwara, Bhayangkari, Persit Kartika Chandra Kirana, Adhyaksa Dharmakarini, Gabungan Organisasi Wanita serta perwakilan dari 48 desa binaan.

Adapun Juara I berhasil diraih Vida Salsabila, menyusul sebagai Juara 2 diraih Fasikah, dan Dessy Aprillianti menempati juara 3. Sedangkan juara harapan 1, 2 dan 3 secara berurutan diraih oleh Eka W Sigid, Eny, dan Salsabilla Arilla (*)

Data Dinas Kesehatan Jawa Tengah Catat 2.188 Kasus Suspek Campak, Kudus Terbanyak

Lingkar.co – Data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah per 7 April 2026, tercatat sebanyak 2.188 kasus suspek campak tersebar di berbagai wilayah. Dari jumlah tersebut, kabupaten Kabupaten Kudus menjadi daerah dengan temuan tertinggi mencapai 501 kasus.

Setelah itu, kabupaten Brebes dengan 202 kasus, disusul Cilacap 119 kasus, Pati 72 kasus, dan Klaten 54 kasus. Puncak temuan terjadi pada Januari 2026 dengan 834 kasus.

Dari total suspek tersebut, sebanyak 144 kasus telah terkonfirmasi positif campak melalui pemeriksaan laboratorium, sementara 18 kasus lainnya dinyatakan positif rubella. Sebaran kasus positif campak terbanyak berada di Cilacap sebanyak 21 kasus, Banyumas 20 kasus, Pati 20 kasus, serta Klaten dengan 6 kasus campak dan 1 rubella.

Meningkatnya kasus suspek campak di sejumlah daerah di Jawa Tengah sejak awal 2026 mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengambil langkah cepat.

Imunisasi massal dan deteksi dini kini digencarkan hingga ke tingkat desa guna mencegah potensi kejadian luar biasa (KLB) yang lebih luas.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan, penanganan campak kini menjadi prioritas bersama antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.

Hal itu dia sampaikan saat meninjau pelaksanaan imunisasi campak di Puskesmas Klaten Tengah, Rabu (8/4/2026).

“Kita lakukan deteksi dini di sejumlah wilayah dengan temuan tinggi seperti Cilacap, Kudus, dan Klaten. Ini menjadi perhatian serius,” ujar Ahmad Luthfi.

Menurutnya, peningkatan kasus dipengaruhi oleh belum optimalnya cakupan imunisasi dasar pada anak, sehingga tingkat kekebalan tubuh terhadap campak masih rendah. Karena itu, lanjutnya, percepatan imunisasi dilakukan secara serentak dengan target cakupan mendekati 90 persen.

“Capaian vaksinasi terus kita tingkatkan agar penyebaran tidak meluas,” katanya.

Dijelaskan, selain percepatan imunisasi, masyarakat juga diimbau untuk lebih waspada terhadap gejala campak, seperti demam dan munculnya ruam merah pada kulit. Jika gejala tersebut muncul, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

“Pencegahan harus masif, disertai pola hidup sehat dan konsumsi makanan bergizi,” tambahnya.

Untuk mempercepat cakupan imunisasi, Pemprov Jateng juga mengintegrasikan program ini dengan layanan dokter spesialis keliling (Speling) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah menjangkau hingga pelosok desa.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jateng, Heri Purnomo, menjelaskan, mayoritas kasus suspek campak ditemukan pada anak-anak, meski tidak menutup kemungkinan terjadi pada orang dewasa dengan imunitas rendah.

“Pencegahan utama adalah imunisasi. Selain itu, jika sakit sebaiknya menggunakan masker, melakukan isolasi, dan menjaga jarak,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Irma Makiah dari Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Jateng, yang menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh melalui pola hidup sehat.

Di sisi lain, dukungan masyarakat terhadap program imunisasi juga terus menguat. Salah satu warga Klaten, Kiki Kumala, menyebut imunisasi campak sangat penting bagi perlindungan anak, terutama di tengah meningkatnya kasus.

“Ini imunisasi kedua untuk anak saya. Program seperti ini sangat membantu karena gratis. Harapannya kesehatan anak-anak ke depan semakin baik,” ujarnya.

Dengan langkah terpadu antara pemerintah dan masyarakat, Pemprov Jawa Tengah berharap penyebaran campak dapat segera dikendalikan dan kesehatan masyarakat tetap terjaga. (*)