Arsip Tag: Tanaman Hias

Ketua Muslimat NU Bulusan, Dari Hobi Merawat Tanaman Jadi Cuan.

Lingkar.co – Ketua Pimpinan Ranting (PR) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Siti umayah berhasil merintis usaha sendiri dari hobi berkebun. Ia kini memiliki toko bunga di rumah, Jalan Timoho Raya 250, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang Jawa Tengah.

Ia mengaku, ia sudah lama memiliki hobi merawat berbagai jenis tanaman hias. Sedangkan usaha tersebut ia mulai sejak akhir akhir pandemi Covid-19, “Sudah lima tahun, sekitar akhir pandemi Covid-19,” akunya.

“Sebenarnya ini cuma iseng mengisi hari tua, karena hobi terus pandemi banyak di rumah, daripada nganggur terus iseng coba pajang tanaman untuk dijual,” kata Bu Maya, sapaan akrabnya saat ditemui wartawan, Sabtu (17/1/2026).

Toko bunga di depan rumahnya menjual aneka tanaman hias seperti kaktus, bonsai, dan sebagainya, serta bibit tanaman buah seperti mangg kelengkeng, dan sebagainya. Sedangkan bibit tanaman sayur hanya terong, tomat, lombok, tanaman toga. Toko bunga dulunya garasi truk pasir karena suami memiliki usaha jual pasir, “Ini dulu garasi truk pasir,” ujarnya.

Lahan terbatas, menurutnya, bukan hambatan serius untuk berkebun. Sebab, tanaman hias bisa ditata sedemikian rupa dengan model almari, sedangkan sayuran bisa ditanami dengan pot.

Terkait penggunaan pupuk tanaman, ia mengaku tidak bisa 100 persen menggunakan pupuk alami. Namun ia tidak bisa memberikan perbedaan spesifik karena tanaman hias sering habis sebelum besar.

Perempuan asal Banyumeneng Mranggen Demak ini mengaku lebih suka berwirausaha daripada bekerja di pabrik maupun kantor.
“Saya kerja itu tidak boleh ngoyo (rekasa atau terlalu berat). Rencana mau jual di car free day juga anak-anak tidak boleh,” akunya.

Saat ini ia sudah tidak repot mencari dagangan karena berlangganan pupuk dan bibit tanaman, terutama tanaman hias dan tanaman buah, “Untuk tanaman hias ini kulakan dari Bandungan, pupuk dari Salatiga, kadang kita cari sendiri, kadang diantar pemasok,” ungkapnya.

Sementara, Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Kecamatan Tembalang, Dwi Supratiwi mengatakan, dirinya mendorong agar kader Muslimat NU tidak hanya menjadi ibu rumah tangga yang tanpa penghasilan.

“Sekecil apapun, kita dorong perempuan bisa mandiri, dan berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan keluarga,” katanya.

Menurut Tiwi, sapaan akrab Dwi Supratiwi, pertanian perkotaan atau urban farming.memiliki banyak keunggulan. Dari memanfaatkan galon air, plastik bekas minyak kemasan sebagai pengganti pot

“Pot tidak harus beli, kalau cuma untuk cabe bisa pake galon atau plastik bekas minyak goreng kemasan,” ujarnya.

Dari hasil urban farming, kata Tiwi setidaknya tidak perlu khawatir dengan kemungkinan L lonjakan harga cabe, terutama saat.enjelang tahun baru dan hari raya idul fitri. Sedangkan tanaman hias, menurut dia, lebih mengutamakan perawatan.

“Kalau tanaman hias kan seperti tadi Bu Maya bilang, perawatan dari air sampai pupuk, untuk pot bisa disiasati dengan barang bekas atau sampah plastik,” pungkasnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Pameran Tanaman Hias Kota Semarang Hidupkan Ekonomi Kreatif

Lingkar.co – Pameran dan kontes tanaman hias menjadi magnet baru bagi para pecinta tanaman hias di Kota Semarang. Kegiatan yang menampilkan dua primadona tanaman, yakni anthurium dan aglaonema tersebut resmi dibuka oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng di halaman parkir Eks Wonderia, Jalan Sriwijaya, Tegalsari, Candisari,  Minggu (16/11). Pameran akan berlangsung hingga 23 November 2025 mendatang.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mengatakan, kontes ini bukan hanya ajang kompetisi, namun juga menjadi ruang bertemunya kreativitas, ekonomi, dan komunitas pecinta tanaman hias.

Agustina menjelaskan, anthurium memiliki filosofi yang kuat. Bentuknya menyerupai hati tegak dengan warna merah cerah, dipercaya menghadirkan energi semangat, keramahan, dan kemakmuran. Sementara aglaonema, yang oleh masyarakat Jawa sering disebut sri rejeki—melambangkan keberuntungan dan pertumbuhan baru.

“Saya melihat pameran ini selain kompetisi, juga menjadi sarana untuk memanjakan mata dan ruang pertemuan bagi orang-orang yang telaten, merawat kehidupan sehelai demi sehelai. Saya pernah merasakan bagaimana merawat bunga itu memberi rezeki yang luar biasa. Dan pameran, kontes, atau festival adalah momen yang ditunggu oleh para pemilik tanaman hias,” kata Agustina.

Tercatat sebanyak 262 peserta mengikuti kontes anthurium dan 265 peserta untuk kategori aglaonema. Pameran ini juga menghadirkan 44 stan peserta tanaman hias dari berbagai kota dan kabupaten, termasuk Jawa Timur dan Sragen.

Menurut Agustina, angka ini menunjukkan bahwa Semarang mulai diterima sebagai tuan rumah yang menjanjikan untuk penyelenggaraan pameran tanaman hias berskala lebih besar.

Ia menambahkan, hobi juga akan tumbuh dan bertahan ketika memiliki nilai ekonomi. Wali kota mengingatkan kembali fenomena ledakan harga tanaman hias pada 2009–2011, ketika anthurium bahkan diburu hingga ke dalam pekarangan rumah warga karena nilai jualnya yang fantastis.

“Nah, sekarang belum ada lagi. Dan saya yakin para pecinta tanaman hias ini menunggu momentum. Maka 44 stan dari berbagai kota dan kabupaten, saya kira ada yang dari Jawa Timur, tadi saya lihat ada yang dari Kabupaten Sragen. Ini menunjukkan bahwa Kota Semarang diterima sebagai tuan rumah,” ungkap Agustina.

Ia menilai kebangkitan pameran seperti ini bisa menjadi indikator peningkatan ekonomi masyarakat. Sebab, tanaman hias dinilai bukanlah kebutuhan pokok konsumen. Biasanya, berasal dari segmen tertentu yang memiliki daya beli cukup kuat.

“Artinya segmen tertentu inilah yang nantinya akan menjadi industri kreatif yang akan mendukung dan mendorong laju pertumbuhan ekonomi. Saya berharap, terus berharap masyarakat Kota Semarang akan menghiasi rumahnya dengan berbagai macam tanaman hias. Tidak hanya rajin membeli, tetapi juga rajin merawat karena keindahan setiap rumah menjadi keindahan keseluruhan Kota Semarang,” ungkapnya.

Selain memacu ekonomi, Agustina berharap pameran ini mampu melahirkan generasi baru pecinta tanaman, terutama anak muda. Ia mencontohkan bagaimana pameran bonsai sebelumnya melahirkan akademi bonsai.

“Para pengamat, para penilai itu dapat mentransfer pengetahuannya. Ini tanaman bagus, ini tanaman mahal, ini tanaman namanya apa, ini tanaman spesies khusus atau tanaman yang memiliki kekhususan, sehingga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Saya kira itulah titiknya,” pungkas wali kota. (Adv)