Arsip Tag: Terancam Puso

Tanaman Padi Terancam Puso, DPP Kendal Lakukan Pencegahan

Lingkar.co – Banjir di wilayah Kendal yang terjadi pada Januari dan Februari ini menimpa ribuan hektar tanaman padi. Data sementara dari Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kendal, tanaman padi yang terkena banjir sebanyak 1.689 hektar, dan 279 hektar di antaranya, sudah mengalami puso.

Kepala DPP Kabupaten Kendal, Pandu Rapriat Rogojati mengatakan, pihaknya sedang mencarikan bantuan benih padi ke provinsi untuk mengganti tanaman padi yang mengalami puso. Tujuannya agar produksi padi di Kendal tahun 2025 ini, tidak mengalami penurunan.

“Sementara ini untuk penanganan darurat, dilakukan dengan memompa air untuk mengurangi genangan banjir di lahan tanaman padi yang terkena banjir. Tujuannya untuk menyelamatkan tanaman padi agar tidak rusak atau mengalami puso,” kata Pandu, Kamis (19/2/2025).

Berdasarkan data dari dinas pertanian dan pangan kabupaten kendal, dampak banjir bandang membuat ratusan hektar tanaman padi rusak dan bahkan gagal panen.

Ada 1.926 hektar tanaman padi di berbagai wilayah di kendal yang terdampak banjir bandang mulai usia tanam 4 minggu hingga 12 minggu. Namun yang terindikasi gagal panen ada 660 hektar paling banyak di wilayah Kecamatan Brangsong dan Kebonharjo Patebon.

“Pasca banjir bandang sebanyak 1.926 hektar tanaman padi mengalami kerusakan dan 660 hektar sawah terancam gagal panen, upaya pemerintah nanti yang gagal panen akan di bantu bibit padinya, sedangkan bagi lahan jagung yang terdampak pemerintah baru koordinasi dengan Dinas Pertanian Pusat untuk mendapatkan bantuan bibit,” jelas Pandu, Rabu (19/2/2025).

Salah satu petani asal Turunrejo Brangsong, Aspar mengatakan, dampak dari banjir membuat petani merugi bahkan ada yang sudah mulai panen namun terendam air selama satu bulan sehingga tidak bisa di panen total, ada yang usia 6 minggu terendam air sudah rata dengan tanah semua. Harapan pemerintah bisa membantu kerugian petani dan bisa segera memperbaiki saluran irigasi.

“Ini banyak yang gagal panen, sebab padi terendam selama hampoir satu bulan tidak ada kemungkinan padi akan hidup sehingga petani merigi 100 persen,” kata Aspar.

Aspar berharap, pemerintah bisa membantu kerugian petani dan bisa segera memperbaiki saluran irigasi.

Banjir juga menimpa ratusan hektar tanam jagung dan puluhan hektar tanaman bawang merah. Untuk tanaman jagung yang terkena banjir sebanyak 379 hektar, dan yang mengalami puso sebanyak 27 hektar. Sedangkan tanaman bawang merah yang terkena banjir sebanyak 29 hektar.

Penulis : Wahyudi

Ribuan Hektare Lahan Pertanian di Grobogan Terendam Banjir

Lingkar.co – Banjir di Grobogan telah merendam ribuan hektare lahan pertanian milik warga. Sehingga, jika banjir tidak segera surut maka tanaman terancam puso atau gagal panen.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan Sunanto mengatakan pihaknya sampai saat ini terus melakukan pendataan lahan pertanian yang terdampak banjir. Sementara total ada 3.873 hektare lebih sawah milik warga yang tergenang.

“Untuk sementara ada sebanyak 68 desa dari 12 kecamatan di Kabupaten Grobogan yang lahan pertaniannya terdampak,” kata Sunanto, Jumat (15/3/2024).

Ribuan hektare lahan tersebut, kata Sunanto, didominasi lahan padi. Namun, ada pula lahan bawang merah yang terdampak.

Berdasarkan catatannya, lahan pertanian yang terkena dampak paling parah berada di Kecamatan Tegowanu.

“Dampak paling luas dialami oleh Kecamatan Tegowanu dengan luas lahan 910,70 hektare. Setelahnya, ada kecamatan Brati, dengan luas lahan 803,5 hektare dan Kecamatan Godong seluas 716,95 hektare,” sebutnya.

Kemudian, di Kecamatan Klambu ada 351,85 hektare, Gubug 305 hektare, Purwodadi 261 hektar, Tawangharjo 230 hektare, Grobogan 110 hektare, Penawangan 91 hektare, Pulokulon 45 hektare, Wirosari 40 hektare, dan Kecamatan Karangrayung hanya 8 hektare.

Dikatakannya, ketinggian air yang menggenangi lahan pertanian bervariasi. Rata-rata di angka 100 cm, namun ada beberapa yang mencapai 200 cm.

Pihaknya pun berharap banjir segera surut, sehingga tidak sampai membuat tanaman menjadi puso.

“Kalau 7 hingga 10 hari baru bisa dikatakan puso. Tapi kalau seperti banjir yang kemarin hanya 3 hari sudah surut, sudah bisa dipastikan bisa selamat,” ujarnya.

Banjir di Grobogan juga merendam area kantor milik pemerintah, di antaranya Pendapa Kabupaten Grobogan, Setda, Kejari, dan DPRD, dan KPU. Selain itu sejumlah jalan utama juga terendam. Hal ini membuat aktivitas menjadi terhambat.

Berdasarkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Grobogan, pada Jumat (15/3/202), banjir telah menggenang 105 desa di 13 kecamatan. Banjir disebabkan curah hujan tinggi dan kiriman air dari hulu Sungai Lusi. (*)

Penulis: Miftahus Salam