Arsip Tag: Banjir

Pengungsi Banjir Demak Bertahan di Posko, Ahmad Luthfi Salurkan Bantuan Rp236 Juta

Lingkar.co – Ribuan warga terdampak banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang masih bertahan di posko pengungsian, Sabtu (4/4/2026). Di tengah kondisi serba terbatas, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyalurkan bantuan senilai Rp 236,98 juta dan menegaskan penanganan banjir harus dilakukan menyeluruh dari hulu hingga hilir.

Suasana pengungsian di Kantor Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, masih dipenuhi warga yang mengungsi dengan barang seadanya. Perempuan, anak-anak, hingga lansia menempati ruang utama gedung, sebagian beristirahat di atas alas darurat, sementara lainnya bertahan di teras sambil menunggu kondisi rumah mereka membaik.

Banjir yang dipicu jebolnya tanggul Sungai Tuntang ini berdampak pada delapan desa di empat kecamatan, yakni Guntur, Karangtengah, Wonosalam, dan Kebonagung. Jumlah pengungsi tercatat mencapai 2.839 jiwa.

Salah satu warga terdampak, Musri’ah (63), mengaku air datang secara tiba-tiba dengan arus deras saat tanggul tak lagi mampu menahan debit air.

“Kejadiannya sekitar jam 10 atau 11 siang. Tiba-tiba air mengalir deras sekali dari tanggul AQ, lama-lama jebol. Awalnya cuma setinggi betis,” ujarnya.

Ia menambahkan, tanda-tanda kerusakan tanggul sebenarnya sudah terlihat sebelumnya. Warga bahkan berencana melakukan kerja bakti usai salat Jumat untuk memperbaiki bagian yang tergerus.

“Sudah kelihatan tanahnya terkikis air. Rencananya mau kerja bakti, tapi belum sempat, tanggul sudah keburu jebol,” katanya.

Kondisi semakin memburuk menjelang sore. Debit air terus meningkat hingga mencapai setinggi dada orang dewasa, memaksa warga dievakuasi menggunakan perahu.

“Setelah Ashar kami dijemput perahu. Waktu itu airnya sudah setinggi dada,” tuturnya.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, meninjau langsung posko pengungsian di Kantor Kecamatan Guntur bersama Bupati Demak Eisti’anah dan jajaran terkait. Dalam kunjungan tersebut, Ahmad Luthfi menyerahkan bantuan secara simbolis kepada para pengungsi.

Total bantuan yang disalurkan Pemprov Jawa Tengah mencapai Rp 236.985.411. Bantuan tersebut berasal dari berbagai organisasi perangkat daerah, di antaranya BPBD Jawa Tengah, Dinas Sosial, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, serta PMI Jawa Tengah.

Usai meninjau lokasi, Ahmad Luthfi menggelar rapat terbatas bersama pemangku kebijakan terkait. Ia menegaskan, penanganan banjir Demak tidak bisa dilakukan secara parsial.

“Kita mengatasi banjir ini tidak bisa parsial. Dari hulu sampai hilir itu harus kita tuntaskan,” tegasnya. Ia menekankan pentingnya memastikan kebutuhan dasar warga terdampak tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat.

“Prinsipnya layanan dasar kepada masyarakat terdampak harus terpenuhi. Mulai dari pendidikan, kesehatan, bahan pokok, makanan, dan lainnya tidak boleh ketinggalan,” ungkapnya. (*)

Respons Dampak Hujan Ekstrem di Wilayah Tembalang, Pemkot Semarang Gerak Cepat Perkuat Tanggul Kali Babon

Lingkar.co – Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang bergerak cepat dengan memperkuat tanggul di sepanjang Kali Babon, Kecamatan Tembalang sebagai langkah tanggap darurat sekaligus antisipasi lanjutan menyusul kembali terjadinya banjir di sejumlah wilayah Kecamatan Tembalang akibat hujan ekstrem.

Hujan lebat yang mengguyur Kota Semarang sejak Rabu (25/3) malam hingga Kamis (26/3) dini hari, menyebabkan banjir kembali melanda sejumlah titik, antara lain wilayah Rowosari, Meteseh, Sumberejo, Grand Permata Tembalang, hingga Dinar Indah.

Kawasan-kawasan tersebut memang tercatat sebagai wilayah yang rentan terdampak saat curah hujan tinggi.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menegaskan bahwa pihaknya langsung melakukan langkah cepat berbasis koordinasi teknis untuk mengendalikan situasi.

“Pada saat debit Kali Plumbon meningkat tadi malam, kami langsung berkoordinasi dengan BBWS terkait pengaturan pintu air di Bendung Pucanggading. Bukaan pintu diarahkan ke Banjir Kanal Timur sehingga elevasi air di hulu bisa ditekan,” terangnya.

Pengaturan aliran tersebut terbukti mampu mengurangi tekanan air di wilayah hulu, sehingga limpasan di kawasan Meteseh dan Rowosari tidak setinggi kejadian banjir sebelumnya.
Selain itu, Pemkot Semarang juga langsung melakukan perkuatan tanggul darurat pada titik-titik kritis.

Penanganan juga dilakukan melalui pemasangan sandbag dan kisdam sebagai upaya menahan potensi luapan susulan, mengingat intensitas hujan masih berpotensi tinggi.

Di sisi lain, Agustina juga menyoroti keterbatasan intervensi pada kawasan perumahan baru yang terdampak banjir.

“Perumahan-perumahan baru di Meteseh dan Rowosari saat ini belum diserahterimakan, sehingga masih menjadi tanggung jawab pengembang. Pemerintah Kota belum dapat melakukan penanganan permanen di kawasan tersebut,” jelasnya.

Meski demikian, Pemerintah Kota tetap hadir dengan melakukan langkah-langkah konkret, seperti pembersihan lumpur pasca genangan, penanganan darurat di lapangan, serta penyiapan personel dan logistik untuk mengantisipasi kondisi lanjutan. Kejadian ini juga memperkuat catatan bahwa banjir akibat curah hujan ekstrem masih menjadi tantangan serius di Kota Semarang.

Sebelumnya, pada awal Maret 2026, wilayah lain seperti Mangkang dan Tlogosari juga mengalami banjir akibat kombinasi hujan tinggi dan kerusakan infrastruktur seperti talud jebol.

Untuk itu, Pemerintah Kota Semarang menegaskan komitmennya dalam memperkuat sistem pengendalian banjir secara menyeluruh, mulai dari koordinasi pengelolaan pintu air, penguatan tanggul, hingga mendorong percepatan penyelesaian kewajiban pengembang dalam penyediaan infrastruktur dasar.

“Kami pastikan Pemerintah Kota akan terus siaga, bergerak cepat, dan hadir di tengah masyarakat. Penanganan banjir harus dilakukan secara terpadu, dari hulu hingga hilir,” tegas Agustina.

Sebagai langkah lanjutan, Pemkot Semarang terus melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi cuaca dan debit air, serta menyiagakan personel di titik-titik rawan guna memastikan respons cepat dapat dilakukan setiap saat.

Dengan langkah cepat, terukur, dan kolaboratif ini, diharapkan dampak banjir dapat ditekan dan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama di tengah kondisi cuaca ekstrem yang masih berlangsung. (Adv)

Perkuat Tanggul Dinar Indah dengan Trucuk Bambu, Wali kota Agustina Instruksikan Penanganan Banjir Serentak di Berbagai Titik

Lingkar.co – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, bergerak cepat menginstruksikan jajarannya untuk melakukan penanganan darurat menyusul banjir kiriman yang melanda sejumlah wilayah pada Sabtu (14/3) malam hingga Minggu (15/3) pagi. Fokus utama penanganan dilakukan di Perumahan Dinar Indah, Meteseh, serta beberapa titik di wilayah Rowosari, Sampangan, dan Mayangsari.

“Penyebab banjir di Dinar Indah adalah intensitas hujan yang sangat lebat di wilayah hulu, tepatnya Ungaran bagian timur. Aliran Kali Babon dari hulu ini sampai ke hilir dengan debit tinggi sehingga mengakibatkan genangan di pemukiman warga,” ujar Agustina.

Merespons kondisi tersebut, tim gabungan yang terdiri dari DPU, BPBD, Damkar, Dinsos, hingga jajaran TNI-Polri (Brimob, Polsek, Koramil) dikerahkan untuk memperkuat tanggul yang kritis. Di Dinar Indah, penguatan dilakukan sepanjang 30 meter pada titik paling rawan limpasan air.

“Selain pemasangan ribuan sandbag (karung pasir), tanggul tersebut nantinya akan kita pasang trucuk bambu untuk penguatan struktur. Ini langkah darurat paling efektif agar tanggul tidak mudah tergerus jika ada kiriman air susulan,” jelasnya.

Selain di Dinar Indah, wali kota juga memastikan petugas telah diterjunkan ke wilayah terdampak lainnya, terutama di Kelurahan Rowosari yang meliputi Perum Argo Residence, Perum Rowosari Megah Asri 2, dan Perumahan Grand Permata Tembalang, serta wilayah Sampangan dan Mayangsari.

“Kami terus menjalin komunikasi lintas sektoral, termasuk bersinergi dengan BBWS Pemali Juana sebelum, saat, dan pasca-kejadian. Mengingat Kali Babon merupakan kewenangan pusat, koordinasi untuk solusi permanen sedang kami diskusikan secara intensif agar warga tidak terus-menerus waswas setiap hujan lebat,” tambahnya.

Hingga Minggu pagi, tim teknis masih terus bekerja di lapangan untuk memastikan seluruh titik rawan telah tertangani. Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang juga terus menyiagakan tenaga operasional lapangan di titik-titik rawan genangan.

“Saat ini kami memantau radar BMKG secara real-time karena cuaca masih sangat dinamis. Seluruh tenaga dan stok sandbag tambahan sudah disiagakan sebagai antisipasi jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi sore nanti,” tegasnya. (Adv)

Pemkot Semarang Gercep Tangani Banjir di Rowosari dan Meteseh, Tembalang

Lingkar.co – Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang bergerak cepat menangani banjir yang terjadi di sejumlah wilayah di Kecamatan Tembalang pada Senin (16/2) dini hari. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang langsung melakukan evakuasi warga, assessment lapangan, serta menyiapkan dukungan logistik untuk memastikan keselamatan masyarakat yang terdampak.

Sebagaimana diketahui hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi mengguyur wilayah Kota Semarang dan daerah hulu sekitar pukul 02.00 dini hari, sehingga Kali Babon tidak mampu menampung debit air. Akibatnya, genangan muncul di beberapa titik di Kelurahan Rowosari dan Meteseh, di antaranya Perumahan Argo Residence dan Grand Permata Tembalang di Rowosari, serta Grand Batik Semarang di Meteseh.

Berdasarkan data BPBD Kota Semarang, total ratusan warga terdampak, termasuk 110 kepala keluarga di Grand Permata Tembalang. Sebanyak 18 jiwa, terdiri dari 12 orang dewasa dan enam balita, mengungsi di Masjid Iktifal Al Barokah untuk sementara waktu.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Semarang, Riyanto, mengatakan pihaknya langsung merespons cepat sejak awal kejadian dengan menurunkan personel ke lokasi terdampak. “Kita dari BPBD tim yang malam itu bertugas langsung terjun ke lapangan. Jadi kita full time. Jadi kita 24 jam terbagi 3 shift. Pada malam kejadian jam 2 kita meluncur,” ujarnya.

Menurut Riyanto, banjir dipicu tingginya curah hujan di wilayah hulu, khususnya di Kabupaten Semarang, yang menyebabkan peningkatan debit air hingga meluap ke wilayah Kota Semarang. “Permasalahannya ini di Kali Babon memang curah hujannya dari Kabupaten Semarang sudah sangat tinggi sehingga debit airnya itu kencang sehingga terjadi peluapan di Kali Babon,” jelasnya.

Selain evakuasi, BPBD juga mendirikan dapur umum dan dukungan logistik bagi warga terdampak. “Kami juga menyiapkan dapur umum, nanti bidang logistik, kebiasaan kita pakai dapur umum,” tambahnya.

Riyanto menambahkan, BPBD juga terus melakukan monitoring wilayah terdampak, pembersihan pasca banjir, serta memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi, termasuk air bersih. Ia menambahkan, penanganan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah kelurahan, dunia usaha, serta masyarakat melalui program kelurahan siaga bencana dan kelurahan tangguh bencana.

Selain itu, BPBD Kota Semarang terus berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Jawa Tengah, BNPB, serta BMKG untuk memantau perkembangan cuaca dan potensi banjir susulan. Riyanto memastikan hingga saat ini tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, dan kondisi genangan di sejumlah titik mulai berangsur surut.

Tak hanya BPBD, Dinas Sosial Kota Semarang juga dengan sigap langsung memberikan bantuan logistik bagi warga di Perumahan Dinar Mas dan Rowosari. Bantuan yang diberikan tersebut antara lain selimut, kasur, makanan ringan/roti, pakaian bayi, sandang, perlengkapan mandi, air mineral, terpal hingga nasi bungkus sebanyak 1.200 bungkus per hari.

Hingga berita ini diturunkan, tim BPBD, Dinas Sosial dan pihak-pihak lainnya terus melakukan upaya penanganan pasca banjir dan membantu warga terdampak.

Pemerintah Kota Semarang mengimbau masyarakat supaya tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem serta segera melapor kepada petugas apabila terjadi kondisi darurat, agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat. (Adv)

Alih Fungsi Lahan Perkotaan Akibatkan Banjir, Kota Bandung Perbanyak Area Resapan

Lingkar.co – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung, Didi Ruswandi mengatakan, alih fungsi lahan yang masif untuk permukiman dan perkantoran membuat banyak kawasan kehilangan fungsi resapannya.

Kondisi ini memperbesar limpasan air hujan dan meningkatkan risiko banjir, terutama saat intensitas hujan tinggi.

“Selama ini banjir sering dikaitkan dengan kapasitas aliran sungai. Padahal yang paling mendasar adalah kapasitas resapan. Ketika resapan berkurang, potensi banjir otomatis meningkat,” kata Didi dalam siaran pers, Selasa (3/2/2026).

Oleh karena itu, BPBD Kota Bandung menggeser fokus strategi mitigasi bencana banjir dan longsor. BPBD mendorong penguatan mitigasi berbasis lingkungan melalui pembangunan sumur resapan, kolam retensi serta program penghijauan di sejumlah titik rawan. Langkah ini dinilai lebih berkelanjutan karena menyasar akar persoalan banjir bukan hanya gejalanya.

“Upaya mengurangi banjir harus dimulai dari memperbesar daya serap tanah. Sumur resapan, kolam retensi dan penghijauan menjadi solusi yang paling realistis. Kawasan yang hijau memiliki kemampuan resapan jauh lebih baik dibandingkan kawasan yang gundul,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga mengajak masyarakat dan pengembang untuk ikut berperan menjaga fungsi resapan air, baik melalui penanaman pohon di lingkungan permukiman maupun penerapan konsep bangunan ramah air.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan warga menjadi kunci dalam membangun ketahanan kota terhadap bencana hidrometeorologi.

“Mitigasi bencana tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Kesadaran kolektif untuk menjaga ruang hijau dan tidak menutup seluruh permukaan tanah dengan beton akan sangat menentukan masa depan Bandung dalam menghadapi ancaman banjir dan longsor,” tutur Didi. (*)

Puncak Musim Hujan, Kawasan Pantura Genuk Minim Banjir Berkat Kolaborasi Pemkot Semarang dan BBWS Pemali-Juana

Lingkar.co – Meski berada pada periode puncak musim hujan Januari, kawasan Pantura Genuk, khususnya di sekitar Jalan Raya Kaligawe, terpantau relatif minim genangan banjir. Kondisi ini merupakan hasil dari upaya antisipatif dan kolaboratif yang dilakukan oleh Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pamali Juana dalam pengendalian banjir di wilayah tersebut.

Kepala DPU Kota Semarang, Suwarto, mengatakan salah satu langkah utama yang dilakukan adalah pemaksimalan pengoperasian rumah pompa di wilayah hilir.

“Dari BBWS itu dilakukan pemaksimalan pompa Tenggang dan Sringin. Di Tenggang debitnya 12.000 liter per detik dan di Sringin 10.000 liter per detik,” ujar Suwarto pada Senin (2/2/2026).

Di rumah pompa Tenggang, saat ini enam unit pompa dioperasikan secara penuh dengan total debit 12.000 liter per detik. Masing-masing pompa memiliki kapasitas 2.000 liter per detik dan dijalankan secara non-stop untuk mengendalikan potensi genangan air dari wilayah hulu. Sementara itu, Rumah Pompa Sringin mengoperasikan lima unit pompa dengan total debit 10.000 liter per detik, dengan kapasitas yang sama per unit. Pengoperasian pompa Sringin difokuskan untuk mencegah limpasan air yang berpotensi mengganggu Jalan Raya Kaligawe sebagai jalur nasional Pantura dengan arus lalu lintas tinggi.

Selain pengoperasian pompa, DPU Kota Semarang bersama BBWS Pamali Juana juga melakukan pengerukan sedimen di sejumlah titik strategis. “Ada upaya kolaborasi antara Pemerintah Kota Semarang dengan BBWS Pamali Juana dalam hal kita melakukan pengerukan bersama saluran di sepanjang Jalan Kaligawe, saluran di sisi selatan Jalan Kaligawe,” jelas Suwarto.

Pihaknya menyampaikan jika kegiatan pengerukan tersebut telah berjalan sekitar satu bulan dengan mengerahkan alat berat dari DPU dan BBWS, didukung armada dump truk. Pengerukan juga dilakukan di Kelurahan Bangetayu Wetan dan Kelurahan Karangroto untuk menjaga kapasitas saluran tetap optimal dan bersih dari endapan sedimen.

DPU Kota Semarang juga akan melanjutkan pengerukan di Jalan Padi Raya yang selama ini menjadi salah satu titik pusat genangan di wilayah Genuk, serta di saluran samping rel dan tepi Jalan Muktiharjo Raya. Pada beberapa titik di bawah jembatan, jalan dan rel kereta api, pengerukan dilakukan secara manual karena tingginya risiko terhadap utilitas sinyal kereta api.

Melalui langkah terpadu ini, Pemerintah Kota Semarang memastikan pengendalian banjir di kawasan Genuk terus diperkuat agar aktivitas masyarakat dan kelancaran mobilitas di jalur Pantura tetap terjaga selama musim penghujan. (Adv)

Kurangi Risiko Banjir, Pemkot Semarang Gelar Kerja Bakti Bersih Sungai

Lingkar.co – Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang terus memperkuat upaya pencegahan banjir melalui pembersihan sungai secara menyeluruh dan berkelanjutan. Salah satunya dilakukan melalui kegiatan Karya Bakti Pembersihan Sungai yang digelar di Kembangsari (depan Hotel MG Setos) Kecamatan Semarang Tengah, Jumat (30/1/2026).

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menegaskan bahwa sungai menjadi simpul penting dalam menjaga keselamatan kota, terutama di wilayah padat aktivitas. Karena itu, pembersihan dilakukan tidak parsial, melainkan menyeluruh dengan melibatkan warga dan berbagai elemen masyarakat.

“Sungainya akan dibersihkan dari ujung ke ujung yang ada di Semarang Tengah. Ini kerja bersama dengan seluruh warga. Kalau seperti ini terus, sungai bersih dan tentu akan mengurangi kemungkinan banjir,” ujarnya.

Menurutnya, keterlibatan aktif warga masyarakat menjadi kunci keberhasilan menjaga keselamatan lingkungan. Dirinya ingin pola sinergi di Semarang Tengah ini menjadi standar baru bagi wilayah lain. “Kalau warga di kecamatan lain juga bisa bekerja sama seperti ini, Kota Semarang akan jauh lebih bersih. Dengan turun langsung, persoalan lapangan seperti tanggul rusak, pinggiran sungai yang sudah brogos (keropos), pohon-pohon yang sudah rimbun, atau hambatan teknis lainnya bisa segera kelihatan dan kita bereskan tanpa menunggu lama,” katanya.

Tidak hanya fokus pada mitigasi bencana, Agustina memproyeksikan jalan inspeksi sungai tersebut sebagai ruang publik produktif. Dia berencana menyulap jalur tersebut menjadi trek sepeda yang estetik guna mendukung sektor pariwisata kota.

“Jika jalan inspeksinya rapi dan rata, ini bisa jadi trayek sepeda. Orang sekarang senang bersepeda dan berjalan-jalan. Ini bisa kita upayakan,” katanya.

Menariknya, kegiatan Karya Bakti ini turut melibatkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sebagai bagian dari semangat Semarang Damai, menegaskan bahwa isu lingkungan adalah tanggung jawab bersama lintas komunitas.

“Kami akan terus memastikan kegiatan pembersihan sungai terus bergulir di Kota Semarang sebagai langkah nyata menjaga lingkungan, mengurangi risiko banjir, sekaligus meningkatkan kualitas hidup warga kota,” pungkas Agustina. (Adv)

Gubernur Jateng Minta Pemkab Purbalingga Percepat Relokasi Pengungsi Bencana

Lingkar.co – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi meminta Pemerintah Kabupaten Pemalang agar mempercepat proses relokasi korban banjir dan tanah longsor. Gubernur meminta Pemerintah Kabupaten Purbalingga segera menetapkan lokasi hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak.

Bencana banjir dan longsor di Purbalingga terjadi pada 23 Januari 2026 sekitar pukul 22.00. Air bah disertai material longsoran merendam dan merusak empat desa di dua kecamatan, yakni Desa Sangkanayu dan Desa Lambur di Kecamatan Mrebet, serta Desa Kutabawa dan Desa Serang di Kecamatan Karangreja. Kondisi terparah dilaporkan terjadi di Desa Serang.

Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif, mengatakan, perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah diberikan sejak hari pertama bencana terjadi. Gubernur Ahmad Luthfi, kata dia, langsung menginstruksikan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemprov Jateng untuk terlibat dalam penanganan darurat bersama berbagai pemangku kepentingan.

“Dukungan dari Pemerintah Provinsi sudah ada sejak hari pertama. Gubernur juga terus memantau kondisi di lapangan dan memberikan bantuan kepada para pengungsi. Banyak bantuan untuk perbaikan infrastruktur,” ujar Fahmi saat mendampingi Gubernur di Desa Serang, Jum’at (30/1/2026).

Menurut Fahmi, terdapat tiga kebutuhan mendesak yang saat ini menjadi prioritas, yakni penyediaan huntara dan huntap, perbaikan sejumlah jembatan yang putus akibat banjir dan longsor, serta pemulihan saluran air bersih.

“Lokasi huntara dan huntap sedang kami koordinasikan dengan kepala desa. Saat ini masih dalam proses pencarian lokasi dan penghitungan kebutuhan,” katanya.

Dalam kunjungan kerja tersebut, Ahmad Luthfi meninjau Posko Balai Desa Serang dan memimpin rapat percepatan penanganan bencana bersama seluruh pemangku kepentingan. Ia juga mengunjungi Villa Serang yang digunakan sebagai lokasi pengungsian, berdialog dengan warga, serta menyapa dan menghibur anak-anak pengungsi.

Gubernur kemudian meninjau langsung lokasi bencana di Dusun Gunungmalang dan Dusun Kaliurip, sebelum menutup rangkaian kunjungan dengan mengecek dapur umum yang dikelola Brimob.

Pada kesempatan itu, Ahmad Luthfi juga menyerahkan bantuan secara simbolis dengan total nilai hampir Rp 700 juta. Bantuan tersebut meliputi kebutuhan permakanan, pakaian, mainan anak-anak, bantuan perumahan, serta kebutuhan dasar lainnya.

“Sejak status tanggap darurat ditetapkan, seluruh dinas sudah berada di lapangan. Bantuan juga sudah kita geser, termasuk alat berat seperti ekskavator. Hari ini kami ingin memastikan seluruh kebutuhan masyarakat terpenuhi secara paripurna,” ujar Ahmad Luthfi.

Ia menyampaikan, ratusan rumah warga akan direlokasi ke lokasi yang lebih aman. Penyiapan lahan huntara dan huntap saat ini dilakukan oleh Pemkab Purbalingga, dengan pembangunan yang akan dilaksanakan bersama Pemprov Jawa Tengah dan kementerian terkait.

“Ini tidak mudah. Perlu sosialisasi dan pendekatan kepada masyarakat. Penanganan bencana bukan hanya soal bantuan darurat, tetapi bagaimana masyarakat bisa bangkit dan memiliki masa depan yang lebih aman,” tegasnya.

Terkait sejumlah jembatan yang terputus dan menghambat akses antarwilayah, Ahmad Luthfi memastikan telah berkoordinasi dengan TNI dan Polri, baik untuk pemasangan jembatan sementara maupun perencanaan perbaikan dan pembangunan jembatan permanen.

“Kami prioritaskan jembatan yang menghubungkan pusat ekonomi dan menyangkut hajat hidup orang banyak,” ungkapnya. (*)

Dikepung Sungai dan Rob, Banjir Tunggulsari Pati Tak Kunjung Surut, Aktivitas Warga Lumpuh

Lingkar.co – Banjir yang melanda Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, tak kunjung surut. Sudah lebih dari sepekan, air masih menggenangi permukiman warga dan melumpuhkan aktivitas sehari-hari masyarakat desa pesisir tersebut.

Kondisi ini diperparah oleh letak geografis Desa Tunggulsari yang berada di kawasan muara. Luapan sungai dari daratan bertemu dengan pasang air laut dari timur, membuat air sulit mengalir keluar.

Kepala Desa Tunggulsari, Setyo Wahyudi, menjelaskan bahwa banjir dipicu curah hujan tinggi dari arah barat yang menyebabkan aliran sungai bermuara ke wilayahnya.

“Banjir kali ini penyebabnya curah hujan tinggi dari arah barat sehingga aliran sungai menuju muara yang asalnya dari desa sebelah di Jepat Kidul larinya ke sini, sehingga baru ke muara laut. Ada empat aliran sungai yang mengaliri dari atas ke laut karena kondisinya hujan terus akhirnya genangan air di sini tidak segera habis,” ujar Kepala Desa (Kades) Tunggulsari, Setyo Wahyudi, Kamis (22/1/2026).

Menurutnya, air dari barat tertahan oleh pasang air laut dari timur. Akibatnya, banjir sulit surut dan berpotensi bertahan lebih lama.

“Ditambah ini sudah air pasang juga naik sehingga tekanan air dari barat berbenturan air pasang dari timur, sehingga turunnya ndak bisa cepat. Khawatirnya, banjir pasang tinggi ketemulah air laut, kemudian banjir seperti bulan Mei 2025 kemarin,” tuturnya.

Data pemerintah desa mencatat 257 rumah warga terendam banjir. Ketinggian air di dalam rumah mencapai 15 hingga 20 sentimeter, sementara di jalan desa mencapai 80 sentimeter. Kondisi tersebut membuat mobilitas warga terganggu dan aktivitas ekonomi terhenti.

“Untuk banjir tahun ini debit air di rumah dari mulai 15 sampai 20 sentimeter, di jalan sampai 80 sentimeter, namun praktis seluruh rumah 257 rumah terendam. Jadi aktivitas masyarakat seminggu praktis terganggu, itu mengenai banjir,” ucap Yudi, sapaannya.

Sebagai langkah darurat, rumah Sekretaris Desa Tunggulsari dijadikan posko pengungsian, layanan pengobatan warga, sekaligus tempat distribusi bantuan logistik.

Yudi memperkirakan banjir akan lama surut karena desa berada tepat di muara. Ia mengingatkan bahwa pada pertengahan 2025 lalu, banjir rob di wilayahnya bahkan berlangsung selama berbulan-bulan.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah desa meminta perhatian serius dari pemerintah daerah untuk penanganan banjir jangka panjang. Pasalnya, intensitas banjir tahunan di Desa Tunggulsari terus meningkat dan tidak lagi bisa ditangani oleh desa secara mandiri.

“Harapannya dengan kejadian ini Pemda (Pemerintah Daerah) bisa konsentrasi melihat kondisi bencana yang datang yang semakin besar. Jadi bencana tahunan ini lebih besar sehingga desa tidak akan bisa mampu counter itu. Masyarakat maunya tanggul laut,” tutupnya. (*)

Banjir Terus Terulang di Kendal, Ketua DPRD Angkat Bicara

Lingkar.co – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kendal, Mahfud Sodiq, mengungkapkan DPRD Kabupaten Kendal menyerukan agar Pemerintah Daerah (Pemda) mengambil langkah tegas dan terencana dalam menangani persoalan banjir yang kerap melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kendal.

Seruan tersebut disampaikan menyusul kembali terjadinya banjir di beberapa kecamatan akibat tingginya curah hujan dan kiriman air dari wilayah hulu. Kondisi ini dinilai menunjukkan perlunya penanganan yang lebih serius dan berkelanjutan.

Mahfud menegaskan, persoalan banjir tidak bisa ditangani secara parsial dan membutuhkan pendekatan menyeluruh dari hulu hingga hilir.

“Penanganan banjir harus dilakukan secara komprehensif, tidak hanya di titik terdampak, tetapi juga dengan memperhatikan kondisi daerah hulu. Ini membutuhkan komitmen kuat dari seluruh pemangku kepentingan,” katanya, Selasa (20/1/2026).

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini juga menekankan pentingnya sinergi antara Pemerintah Kabupaten Kendal dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat, terutama dalam hal dukungan anggaran dan program strategis pengendalian banjir.

Menurutnya, alokasi anggaran yang memadai sangat dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur pengendali banjir, seperti normalisasi sungai, pembangunan tanggul, serta embung atau waduk penahan air.

Mahfud menambahkan, peningkatan kualitas sistem drainase dan pengelolaan tata air di wilayah rawan banjir harus menjadi prioritas ke depan. Ia menilai, tanpa perencanaan yang matang dan pelaksanaan yang konsisten, banjir akan terus menjadi ancaman rutin bagi masyarakat Kendal.

“DPRD Kendal berkomitmen untuk terus mengawal dan mendorong kebijakan penanganan banjir ini, baik melalui fungsi anggaran, pengawasan, maupun koordinasi lintas sektor. Harapannya, langkah-langkah konkret bisa segera direalisasikan demi keselamatan dan kenyamanan masyarakat,” pungkasnya. (*)

Penulis: Yoedhi W