Response Time Perawat terhadap Tingkat Kepuasan Pasien Instalasi Hemodialisa RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus

  • Bagikan
Arizqu Irfan A, S.Tr.Kep., Perawat Hemodialisa, RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus (DOK PRIBADI FOR LINGKAR.CO)
Arizqu Irfan A, S.Tr.Kep., Perawat Hemodialisa, RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus (DOK PRIBADI FOR LINGKAR.CO)

*Oleh
Arizqu Irfan A, S.Tr.Kep
Perawat Hemodialisa
RSUD dr. Loekmono Hadi
Kudus

Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2018 pasien gagal ginjal akut maupun kronik mencapai 50%. Berdasarkan data The United States Renal Data System (USRDS) mencatat bahwa jumlah pasien yang dirawat karena End Stage Renal Disease (ESRD) seluruh dunia diperkirakan 3.010.0000 pada tahun 2018 dengan tingkat pertumbuhan 7% dan meningkat 3.200.000 pada tahun 2019 dengan tingkat pertumbuhan 6% (WHO, 2018).

Di Indonesia Prevalensi penderita Gagal Ginjal Kronik berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk umur ≥15 tahun di tahun 2013 sebanyak 2.0%  dan meningkat di tahun 2018 sebanyak 3.8  atau sekitar satu juta penduduk. Sedangkan padapasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di tahun 2015 sebanyak 51.604 pasien, kemudian meningkat ditahun 2017 menjadi 108.723 pasien. Dapat disimpulkan bahwa peningkatan jumlah penederita gagal ginjal kronik per tahun di Indonesia sangat signifikan (Kemenkes, 2018 ).

Hemodialisis merupakan satu proses yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dan produk limbah dari dalam tubuh ketika ginjal tidak mampu melaksanakan proses tersebut. (Smeltzer dan Bare, 2012). Penyakit ginjal ini merupakan tahap akhir dimana ginjal gagal bekerja sebagaimana fungsinya yaitu tidak bisa mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan  (Padila, 2012).

Perawat di unit hemodialisa memiliki peran penting dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Perawat berperan dalam memantau serta memberikan dukungan kepada pasien menjalankan program hemodialisa yang berkelanjutan, peran perawat juga sangat diperlukan karena banyaknya komplikasi dan keluhan pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisa. Mereka membutuhkan pemantauan yang ketat dan respon yang cepat selama menjalani program hemodialisa sehingga diharapkan meminimalisir  komplikasi yang timbul dikemudian hari (Smeltzer dan Bare, 2012).

Meskipun hemodialisis dapat menggantikan fungsi ginjal namun hal tersebut tidak memungkiri akan kejadian komplikasi pada pasien. Komplikasi tersebut diantaranya adalah hipotensi, emboli udara, nyeri dada, pruritus, gangguan keseimbangan dialisis, kram dan nyeri otot, hipoksemia, dan hipokalsemia (Isroin, 2016). Maka dari itu, perawat memiliki peran penting dalam pengawasan pasien pada saat hemodialisis.

Dalam kondisi waktu tanggap pelayanan (response time) petugas kesehatan terutama perawat diharapkan untuk memberikan pelayanan yang cepat, tepat dan holistik. Penanganan tersebut dapat dilakukan secara mandiri maupun kolaborasi dengan petugas kesehatan lainnya atau sesuai dengan tugasnya masing-masing. Menurut Hidayat (2012). Adapun peran perawat yang dapat dilakukan adalah care giver, client advocate, councellor, edukator, collaborator, coordinator dan councultant. Oleh karena itu adanya peran perawat dalam respone time dapat menjadi tolok ukur terhapap kualitas pelayanan kesehatan yang akan mempengaruhi kepuasan pasien.

Mutu pelayanan rumah sakit sangat penting,, karena mempengaruhi kepuasan pasien. Mutu pelayanan kesehatan yang baik dapat menimbulkan rasa puas pada diri setiap pasien. Kepuasan pelanggan yang rendah akan berdampak terhadap menurunnya jumlah kunjungan pasien yang akan mempengaruhi profitabilitas fasilitas kesehatan (Azwar, 2010). Salah satu hal yang mempengaruhi mutu pelayanan fasilitas kesehatan adalah response time perawat dalam melayani pasien.

Baca Juga:

DKK Tegaskan Sudah Kelola Limbah Medis dengan Baik

Peneliti telah melakukan studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 1 November 2020 di Instalasi Hemodialisa RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus. Studi pendahuluan tersebut dilakukan dengan menanyakan langsung serta wawancara kepada kepala ruang. Hasil studi pendahuluan tersebut didapatkan bahwa Instalasi Hemodialisa RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus memiliki standar response time pelayanan penanganan komplikasi pasien kurang dari 5 menit, tetapi belum ada standar pelayanan response time secara umum. Kepala ruang juga menyampaikan telah ada penilaian kepuasan pasien di RSUD dr. Loekmono Hadi salah satunya di Instalasi Hemodialisa, namun belum ada penelitian mengenai kepuasan pelanggan dengan peran perawat dalam response time. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengangkat judul penelitian “Response time Perawat terhadap Tingkat Kepuasan pasien Instalasi Hemodialisa RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus”.

Tujuan umum  adanya penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara Response time perawat dengan tingkat Kepuasaan pasien di Instalasi Hemodialisa di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus.

Metode Penelitian

Metode pada penelitian ini menggunakan analitik korelasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purpsosive sampling. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 5-15 November 2020 sebanyak 33 responden. Analisis pada penelitian ini menggunakan analisis Chi-square.

Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil spss dengan menggunakan Chi-square diperoleh data bahwa nilai p value response time perawat pre HD dan Intra HD adalah 0.716, sedangkan nilai p value Post HD dan  komplikasi HD adalah 0.372, dapat diambil kesimpulan bahwa semua nilai p value  lebih dari α (0,05) yang berarti H0diterima artinya tidak ada hubungan antara response time perawat dengan tingkat kepuasan.

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa response time perawat tidak ada hubungan terhadap tingkat kepuasan pasien. Selain itu, tidak adanya hubungan antara response time perawat dengan tingkat kepuasan pasien dikarenakan banyak faktor yang lain mempengaruhi tingkat kepuasan pasien, Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan pasien diantaranya adalah assurance, responsiveness, reliability, tangibles dan empathy. Peneliti akan membahas faktor-faktor tersebut  

Pembahasan

Faktor kepuasan assurance (jaminan)

Nilai kepuasan assurance (jaminan) pada penelitian ini adalah 84,85% yaitu masuk kategori sangat puas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien merasa aman dan percaya dengan pelayanan perawat yang menjelaskan prosedur pelayanan dengan baik. Perawat mampu memberikan kejelasan dan kepastian dan tidak ada keragu-raguan pada saat melayani pasien. Namun di sisi lain nilai kepuasan faktor assurance  belum bisa mencapai 100%. Hal ini menunjukkan masih ada hal yang perlu diperbaiki oleh perawat dalam melayani pasien.

Khamis (2014) dalam penelitian tentang tingkat kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit dengan jumlah responden 422 menemukan hasil faktor assurance (jaminan) berhubungan secara signifikan dengan tingkat kepuasan pasien. Sayed et al (2013) dalam penelitian tentang persepsi pasien sebagai indicator kualitas pelayanan keperawatan dengan 90 responden menemukan hasil bahwa jaminan berhubungan secara bermakna dengan kepuasan pasien (p = 0.0).

Faktor kepuasan Responsiveness (daya tanggap)

Nilai presentase kepuasan responsiveness  pada penelitian ini yaitu 81,06% yaitu masuk kategori sangat puas. Hal ini menunjukkan bahwa penilaian sebagian besar responden tentang kemampuan perawat untuk memberi pelayanan dengan cepat, segera menanggapi setiap keluhan pasien, memperhatikan setiap kebutuhan pasien dan menanggapi kejadian komplikasi pada saat dialysis dengan cepat. Tetapi masih terdapat nilai 18,94% yang menjadikan pelayanan perawat kurang tanggap. Hal itu juga ditunjang dengan ada sebagian pasien yang dilayani lebih dari 5 menit. Diharapkan pelayanan dapat ditingkatkan lebih responsive lagi.

Simbala dkk (2013) dalam penelitian survei analitik dengan rancangan cross sectional terhadap 100 responden menemukan bahwa daya tanggap berhubungan secara bermakna dengan kepuasan pasien (p = 0,002). Pada penelitian analitis dengan 246 responden yang membandingkan kepuasan pasien terhadap pelayanan di rumah sakit pemerintahdan rumah sakit swasta, ditemukan bahwa rumah sakit swasta memiliki angka kepuasan yang tinggi dalam dimensi daya tanggap dan empati, sementara rumah sakit pemerintah paling rendah nilainya dalam dimensi daya tanggap (Brahmbhatt, 2011).

Faktor kepuasan reliability (keandalan)

Nilai reliability pada penelitian ini memiliki nilai yang tertinggi yaitu 92,80%. pada saat wawancara, responden mengungkapkan bahwa perawat sudah sangat mampu untuk memberikan pelayanan. Rahman et al (2013) untuk mengidentifikasi faktor-faktor mutu pelayanan yang mempengaruhi kepuasan pasien di rumah sakit swasta Bangladesh dengan 390 responden dan memakai 11 variabel dimensi mutu menunjukkan bahwa kehandalan berhubungan secara bermakna dengan kepuasan pasien.

Faktor kepuasan tangibles (bukti fisik)

Nilai bukti fisik pada penelitian ini adalah 83,33%, menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki penilaian baik merasa puas dengan pelayanan di Instalasi Hemodialisa. Pasien merasa puas dengan kerapian dan kelengkapan peralatan hemodialisa yang baik, ruang tunggu yang nyaman serta kebersihan dan keindahan ruangan. Menurut Tjiptono (2014) bukti fisik adalah wujud kenyataan secara fisik yang meliputi fasilitas, peralatan, penampilan, petugas, sarana dan informasi. Bukti fisik dapat memberi gambaran tentang kualitas pelayanan rumah sakit dan dalam beberapa hal akan sangat mempengaruhi pasien dalam menilai kualitas pelayanan tersebut.

Faktor kepuasan empathy (empati)

Nilai presentasi empati perawat dalam penelitian ini adalah 86,11% dan masuk kategori sangat puas. Hal ini membuktikan bahwa perilaku perawat menenangkan pasien, perawat sopan dan ramah saat melayani pasien, perawat memberikan pelayanan yang adil bagi pasien. Faisal dkk (2013) melakukan penelitian tentang hubungan antara pelayanan perawat dengan kepuasan pasien di Instalasi Rawat Inap A RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Kota Manado dengan 85 responden, menemukan hasil ada hubungan antara dimensi ketanggapan dan kepedulian (empati) dengan kepuasan pasien.

Kesimpulan

Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Tidak terdapat hubungan antara response time perawat dengan tingkat kepuasan pasien di Instalasi Hemodialisa RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus dengan nilai analisis uji chi-square nilai p value response time perawat pre HD dan Intra HD adalah 0.716, sedangkan nilai p value Post HD dan  komplikasi HD adalah 0.372.
  2. Tingkat kepuasan pasien di Instalasi Hemodialisa RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus adalah mayoritas sangat puas 72,7 %, dan hanya 27,3% dalam kategori puas.

Saran

  1. Diharapkan ada lanjutan penelitian tentang faktor yang mempengaruhi pelayanan dan tingkat kepuasan pasien yang menjalani program hemodialisa di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus
  2. Dibutuhkan pengamatan tentang penghitungan rasio jumlah petugas hemodialisa dengan kapasitas pasien yang harus dilayani untuk mencapai response time yang lebih baik lagi.

  • Bagikan
error: Ijin Dulu baru Copas BOSS !!