Penyuluhan Pertanian di Masa Pandemi Covid-19

  • Bagikan
Moh. Ali Hamidy Ekopranoto A.F., S.Pt., M.Si Penyuluh Pertanian Madya Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus

*oleh Moh. Ali Hamidy Ekopranoto A.F., S.Pt., M.Si
Penyuluh Pertanian Madya Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus

Penyuluhan pertanian adalah kegiatan yang berkesinambungan, berproses dan mampu menghasilkan umpan balik yang berdampak positif bagi pengembangan pembangunan pertanian (Sastraatmadja, 1993). Penyuluhan pertanian merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia pertanian di Indonesia. Selama ini penyuluh pertanian sudah bekerja melakukan pembinaan kepada para petani. Di masa pandemi covid-19 seperti sekarang inti perlu upaya lebih baik agar para petani bisa mengatasi dampak pandemi dan tetap bekerja sehingga menghasilkan produk yang dibutuhkan petani dengan tetap menjaga protokol kesehatan.

Pandemi covid-19 berdampak luas di seluruh sektor kehidupan pada hampir semua negara di dunia. Pemerintah dihadapkan berbagai tantangan terkait dengan meninimalkan dampak kesehatan yang merusak, berupaya melindungi kehidupan manusia.dan memastikan pasokan makanan yang cukup bagi masyarakat. Semua itu dilakukan untuk mengatasi konsekuensi ekonomi covid-19 yang diperkirakan menambah jumlah orang yang berada di bawah garis kemiskinan.

Tantangan pada sektor pangan dan pertanian meliputi: akses ke input pertanian, pemasaran, ketersediaan tenaga kerja pada saat-saat kritis produksi dan panen pertanian, dan penyuluhan pertanian serta layanan lain yang diperlukan. Mereka yang paling terpukul oleh wabah covid-19 adalah populasi termiskin dan paling rentan serta produsen petani kecil yang pendapatan rumah tangga dan ketahanan pangannya terancam. Masyarakat pedesaan dan produsen tidak selalu mendapat informasi dan dukungan yang baik. Ada permintaan yang meningkat untuk memastikan bahwa mereka memiliki akses ke layanan dasar dan informasi akurat selama krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya ini (FAO, 2020).

Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan, melainkan juga berdampak pada pada berbagai aspek kehidupan sosial ekonomi, termasuk pada pemenuhan kebutuhan pangan. Untuk memenuhi kebutuhan pangan, produksi dalam negeri memegang peranan kunci meskipun terdapat opsi untuk melakukan impor. Namun dalam kondisi pandemi, impor pun bisa terkendala karena sejumlah negara menahan ekspor pangan demi memenuhi kebutuhan domestiknya.

Penyuluhan pertanian diharapkan bisa mengatasi permasalahan pertanian di tengah pandemi covid-19. Penyuluhan pertanian memainkan peranan penting dan menjadi garda terdepan untuk menjaga pasokan pangan dan mencegah kerentanan di sektor pertanian. SDM pertanian harus tetap bekerja dan berproduksi untuk menghasilkan produk pertanian dengan jumlah yang memadai dan berkualitas. Selain itu juga diharapkan bisa mengatasi permasalahan-permasalahan lain seperti terputusnya rantai pasokan, distribusi pangan, komunikasi antara produsen dan konsumen dan permasalahan pertanian lainnya.

Di masa sulit ini, peran penyuluh pertanian bahkan lebih kritis dari sebelumnya dalam menjembatani realitas masyarakat lokal dengan tindakan pemerintah, dan membantu produsen pedesaan untuk mengatasi kesulitan baru yang tidak dapat mereka temukan solusinya sendiri, mulai dari terus bekerja. untuk melindungi kesehatan mereka, memproduksi makanan dan mempertahankan pendapatan mereka meskipun rantai pasokan terganggu. Penyuluh pertanian juga perlu cepat beradaptasi dengan situasi yang muncul dan mengubah pendekatan mereka untuk menanggapi konteks darurat dalam peraturan pemerintah (FAO, 2020).

Penyuluhan pertanian secara teknis dan manajerial dilaksanakan oleh seorang penyuluh yang mempunyai fungsi untuk memberikan pelayanan informasi dan pendidikan yang dibutuhkan petani, sehingga petani dapat lebih baik dalam berusahatani. Penyuluh pertanian mempunyai tugas pokok dan fungsi yang perlu dilakukan untuk mencapai kinerja yang baik. Penyuluh yang berkinerja baik dapat memposisikan dirinya sebagai motivator, edukator, fasilitator dan dinamisator yang berdampak pada perubahan perilaku petani dalam berusahatani. Untuk itu penyuluh harus memiliki berbagai kemampuan, antara lain: kemampuan berkomunikasi, berpengetahuan luas, bersikap mandiri dan mampu menempatkan dirinya sesuai dengan karakteristik petani. Kinerja penyuluh ini diharapkan menjadi acuan bagi pembuat kebijakan dan penyedia dana publik untuk meningkatkan kompetensi dan motivasi penyuluh dalam membantu pemerintah meningkatkan produksi pertanian (Rahmawati dkk, 2019)

Penyuluh pertanian harus menggerakkan kelompok tani sebagai organisasi tani yang selanjutkan akan menjadi komunikator kepada petani. Dalam konteks ini, organisasi perlu terus berinovasi dengan fungsionalitas yang lebih baik dan meningkatkan efisiensi sesuai dengan tuntutan waktu. Ada aspek lain dari transformasi yang harus dilakukan secara bersamaan seperti membangun infrastruktur yang sesuai dengan skala ekonomi yang tepat, membangun kapasitas profesional penyuluhan yang relevan, mengintegrasikan proses digital yang kompleks ke dalam alur kerja pertanian dasar dan lain-lain. Dalam konteks ini, strategi dan tindakan yang berbeda diperlukan untuk mengarahkan kembali prioritas penyuluhan dan memastikan keamanan pangan. Juga, dukungan aktif dari pertanian dan kementerian terkait perlu ditekankan di semua tingkatan. Oleh karena itu, reorientasi prioritas penyuluhan sangat penting dengan jaringan luas berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam penelitian, penyuluhan, pendidikan, pemasaran, pengolahan hasil pertanian, dan lain-lain.

Dalam kondisi pandemi covid-19 seperti yang terjadi pada saat ini, penyuluh pertanian diharapkan bisa meningkatkan peran di sektor keamanan pangan.Ada aspek lain dari transformasi yang harus dilakukan secara bersamaan seperti membangun infrastruktur yang sesuai dengan skala ekonomi yang tepat, membangun kapasitas profesional penyuluh yang relevan, mengintegrasikan proses digital yang kompleks ke dalam alur kerja pertanian dasar. Dalam konteks ini, strategi dan tindakan yang berbeda diperlukan untuk mengarahkan kembali prioritas penyuluhan dan memastikan keamanan pangan. Juga, karena sejumlah tenaga kerja kembali ke desa masing-masing, dukungan aktif dari pertanian dan kementerian terkait perlu ditekankan di semua tingkatan. Oleh karena itu, reorientasi prioritas penyuluhan sangat penting dengan jaringan luas berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam penelitian, penyuluhan, pendidikan, pemasaran, pengolahan hasil pertanian dan lain-lain.

Oleh karena itu perlu mengidentifikasi mekanisme penyuluhan pertanian di masa pandemi covid-19 dan reorientasi penyuluhan pasca covid-19. Beberapa langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut :

Pertama

Pertama, Memperkuat Kelembagaan Penyuluhan Pertanian. Lembaga penyuluhan di berbagai tingkat memantau kegiatan dan memastikan koordinasi yang efektif dengan semua lembaga program dan skema penyuluhan. Badan-badan ini akan menjadi penghubung dan mendorong partisipasi organisasi swasta dan kelembagaan petani untuk keterlibatan aktif mereka dalam penyampaian layanan penyuluhan. Masalah yang membutuhkan teknologi baru untuk menghadapi krisis harus ditangani dan dikomunikasikan sebagai umpan balik bagi peneliti. Penelitian ini dapat diuji di lapangan oleh berbagai tim lintas disiplin ilmu tentang rekomendasi ilmiah spesifik lokasi dan sumber daya. Umpan balik dari berbagai pemangku kepentingan dalam pembangkitan, pengembangan dan transfer teknologi sangat diperlukan dalam skenario saat ini.

Kedua

Kedua, meningkatkan keterkaitan penelitian dan penyuluhan. Untuk meningkatkan relevansi, efektivitas, dan efisiensi keluaran penelitian, diperlukan keterkaitan yang lebih erat antara pelaksana penelitian dan implementasi oleh petani. Interaksi antara berbagai pemangku kepentingan yang berbeda harus diatur di tingkat akar rumput untuk membangun dialog kebijakan dan rencana program untuk masa depan. Eksperimen melalui media sosial dengan petani inovatif tidak hanya membantu dalam mengukur inovasi petani tetapi juga inovasi kelembagaan secara luas dan karenanya, potensi media sosial perlu dieksploitasi untuk membawa perubahan transformatif spesifik lokasi dan berorientasi komoditas dalam sistem penyuluhan pertanian.

Ketiga

Ketiga, pengembangan kompetensi penyuluh. Meskipun sistem penyuluhan telah mengambil banyak tindakan proaktif untuk membantu petani, ada kebutuhan untuk meningkatkan keterlibatan dan perumusan teknologi inovatif untuk memungkinkan mereka mengatasi berbagai tantangan. Penyuluh pertanian perlu mengatasi perubahan dalam skenario pembangunan, serta untuk memenuhi permintaan dan kebutuhan yang muncul terutama di bidang agribisnis, penambahan nilai, dan pemasaran (Wadkar, 2020). Penyuluh perlu dilatih tentang alat dan media penyuluhan generasi 4.0. Situasi serupa covid-19 menuntut lebih banyak pengetahuan dan keterampilan di media sosial dan penggunaannya, termasuk alat, metode dan model komunikasi krisis saat ini. Penyuluh perlu dibekali untuk menggunakan Facebook, WhatsApp, Twitter, YouTube, dan lain-lain. Mereka perlu belajar dan menguasai keterampilan untuk menyebarkan informasi dan memantau, melacak, mengukur dan menganalisis lalu lintas media sosial (Chander, 2020a). Selain itu, keterampilan dalam memobilisasi petani dan memfasilitasi interaksi sangat dibutuhkan untuk mengamankan koordinasi dari berbagai instansi untuk menjadi perantara bagi petani. Biaya transaksional input output dapat ditekan dan partisipasi sosial dapat ditingkatkan sebagai hasil dari pengorganisasian petani menjadi kelompok komoditas.

Keempat

Keempat, peningkatan kapasitas petani. Kebutuhan sumber daya manusia yang optimal untuk mendukung berbagai program harus dilakukan dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk mewujudkannya melalui keterlibatan Instansi Pemerintah, kelembagaan petani  dan sektor swasta. Akibat pandemi tersebut, banyak kaum muda dan perempuan perlu diberdayakan untuk memimpin pertanian sebagai kepala keluarga. Oleh karena itu petani harus ditingkatkan kapasitasnya untuk mengantisipasi dampak covid-19 dan memberikan alternatif kegiatan untuk meningkatkan produksi dan produktifitas pertanian. Hal-hal yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan berbagai pelatihan sepertt pelatihan profesional, pelatihan kewirausahaan, pelatihan keorganisasian dan pelatihan teknologi informasi.

Kelima

Kelima, mengembangkan infrastruktut penyuluhan. Pendekatan tunggal berbasis komoditas secara bertahap harus digantikan oleh penelitian berorientasi sistem terintegrasi yang menuntut infrastruktur penyuluhan di semua tingkatan dari desa hingga pemerintah pusat. Infrastruktur pelatihan, pada umumnya, sangat buruk dalam hal fasilitas seperti asrama, ruang kelas, laboratorium, audio visual, dan lain-lain. Diperlukan peralatan untuk mencetak, fotostat, pengembangan konten dan mekanisme validasi dan pencetakan literatur. Selain itu, peralatan seperti papan pajangan, alat bantu audiovisual dan kendaraan penyuluhan keliling mungkin juga dibutuhkan di tingkat institusi atau perguruan tinggi untuk menjangkau petani. Di era pandemi ini, dunia telah menyadari pentingnya alat dan media online dalam mentransfer dan berbagi informasi.

Keenam

Keenam, dukungan media massa dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah menciptakan dampak positif pada pertumbuhan pendapatan di negara berkembang dan maju. Di daerah pedesaan, TIK dapat meningkatkan pendapatan dengan meningkatkan produktivitas pertanian dan memperkenalkan jaringan pendapatan selain pekerjaan pertanian tradisional. Studi menunjukkan bahwa TIK dapat meningkatkan pendapatan dan kualitas hidup masyarakat miskin pedesaan. Dalam konteks ini, upaya untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat pedesaan melalui TIK, gratis atau dengan biaya rendah, dapat meningkatkan arus informasi yang tepat waktu dan transparan untuk membangun atau memperkuat jaringan inovasi di antara berbagai pemangku kepentingan. Cakupan media sosial dalam menawarkan kegiatan penyuluhan sangat besar selama situasi pandemi covid-19. Media sosial seperti WhatsApp, Telegram, Facebook dan YouTube berhasil digunakan penyuluh untuk berkomunikasi dengan petani. Banyak penelitian telah menunjukkan manfaat menggunakan media sosial seperti whatsapp, youtube, telegram dan lalin-lain.

Ketujuh

Ketujuh, pendekatan berbasis pasar. Produksi dan pemasaran produk pertanian dan sektor terkait melalui penciptaan fasilitas pasar dasar dan informasi pasar bagi petani sangat penting. Penyuluhan berorientasi pasar relevan di negara-negara yang sedang mengalami pertumbuhan dan perubahan dalam preferensi konsumen yang menciptakan pasar untuk produk-produk bernilai tinggi, Dengan platform pemasaran online, hasil pertanian juga dapat diperdagangkan di suatu lokasi atau dengan pilihan pembeli. Dengan cara yang sama, pasar juga diciptakan melalui berbagai alat media sosial seperti Facebook, WhatsApp dan lain-lin.

Kedelapan

Kedelapan, meningkatkan peran organisasi petani (Poktan/ Gapoktan). Pendekatan penyuluhan perlu diubah dari pendekatan individu ke kelompok atau asosiasi agar pengambilan keputusan yang efektif. Ini telah menjadi mekanisme di tingkat kabupaten di mana kelompok tani terlibat dalam menerima dan berbagi di masa covid-19. Kelompok tni (poktan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan) mempunyai fungsi strategis dalam pembangunan pertanian. Pemerintah mengarahkan untuk melakukan upaya menghubungkan kelompok tani ke industri pengolahan, eksportir, pembeli curah, dan pengecer besar untuk menjaga jalur pasokan. Ini akan membantu poktan mendapatkan harga remuneratif untuk produk mereka dan membantu melacak transportasi secara online. Organisasi petani juga memainkan peran kunci dalam menjembatani layanan penyuluhan kepada petani, terutama ketika mereka sudah dilengkapi dengan alat TIK. Anggota organisasi petani menggunakan WhatsApp untuk tujuan pertukaran dan pembelajaran. Lebih lanjut, ini juga merupakan waktu untuk memperkuat dan membekali kelompok tani dan koperasi agar dapat berperan besar dalam agregasi dan distribusi hasil pertanian dan hasil pertanian.

Mekanisme penyuluhan pertanian yang harus ditingkatkan pada masa pandemi covid-19 adalah: (1) memperkuat kelembagaan penyuluhan pertanian; (2) meningkatkan keterkaitan penelitian dan penyuluhan; (3) pengembangan kompetensi penyuluh; (4) peningkatan kapasitas petani; (5) mengembangkan infrastruktur penyuluhan; (6) dukungan media massa dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK); (7) pendekatan berbasis pasar; (8) meningkatkan peran organinasi petani (poktan/ gapoktan).(*)

Baca Juga:
Gus Yasin Minta Pembaruan Data Kemiskinan, Galakkan Program Satu Desa Binaan Satu OPD

  • Bagikan
error: Ijin Dulu baru Copas BOSS !!