Sebabkan Banjir Tahunan, Dewan Hingga Aktivis Soroti Hutan Gundul di Pati

  • Bagikan
MEMPRIHATINKAN: Tampak sejumlah hutan di lereng Pegunungan Kendeng yang gundul belum lama ini.(DOK WARGA FOR LINGKAR.CO)
MEMPRIHATINKAN: Tampak sejumlah hutan di lereng Pegunungan Kendeng yang gundul belum lama ini.(DOK WARGA FOR LINGKAR.CO)

PATI, Lingkar.co – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati dan aktivis lingkungan menyoroti kondisi hutan yang gundul di Kabupaten Pati. Sebab, kondisi tersebut diduga salah satu penyebab terjadinya banjir di Bumi Mina Tani setiap tahun.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pati Hardi mengatakan, selain curah hujan yang tinggi, hutan gundul merupakan jadi faktor utama terjadinya banjir tahunan di Pati. Selain itu, embung yang berfungsi sebagai penampung air hujan jumlahnya sangat kurang.

Ads Selamat Hari Raya Idul Fitri 2022

“Ya penyebabnya ini banyak pohon di hutan ditebangi. Ini hutannya gundul nggak ada tanaman yang gede-gede itu. Habislah pokoknya. Jati habis, mahoni habis itu penyebabnya,” katanya.

Oleh karena itu, Hardi mengharapkan pemerintah memperhatikan hal tersebut. Pemerintah harus melakukan reboisasi. Selain itu, juga ada penambahan embung di Pati. Supaya potensi banjir berkurang.

“Pertama harus mereboisasi. Penanaman hutan kembali. Mencegah penebangan liar. Seolah-olah ini tidak terurusi. Reboisasi penting agar hutan tetap lestari. Cegah tindak penebangan secara liar. Di daerah Kayen, Sukolilo, Tambakromo itu hampir merata,” ungkapnya.

Sementara itu, aktivis lingkungan Aziz Wisanggeni mengungkapkan, persoalan banjir di Pati ini ada di hulu, bukan di hilir, dan juga bukan karena curah hujan yang tinggi. Menurutnya, hutan yang seharusnya menjadi resapan air ini tidak bisa berfungsi dengan maksimal.

“Kalau hutan bisa melakukan penyerapan air secara maksimal, maka tidak terjadi banjir. Maksudnya secara maksimal itu di hutan ada pohon, karena salah satu fungsi pohon adalah menjadi serapan air untuk memasukkan air ke dalam perut di Pegunungan Kendeng. Karena pohonnya tidak ada, alat serapannya tidak ada. Maka air mudah sekali turun ke bawah. Apalagi saat curah hujan yang cukup tinggi,” terangnya.(lam/lut)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.