Arsip Tag: Normalisasi Sungai

25 Titik Sungai di Grobogan Dinormalisasi, Telan Anggaran Rp 5,6 Miliar

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Grobogan melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) akan melakukan normalisasi di 25 titik sungai yang tersebar di tujuh kecamatan.

Sekretaris DPUPR Grobogan Wahyu Tri Darmawanto mengatakan bahwa normalisasi sungai ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya banjir yang sering terjadi di musim hujan.

Ia menyebutkan 25 titik tersebut di antaranya tersebar di Kecamatan Brati dengan 10 lokasi, lima titik di Godong, dua titik di Gubug, dua titik di Karangrayung, Penawangan dengan tiga titik, Tawangharjo tiga titik dan satu titik di Tegowanu.

“25 titik yang berada di tujuh kecamatan tersebut akan menelan total anggaran Rp 5,6 miliar,” ungkapnya.

Pengerjaannya sendiri, katanya, sudah dimulai sejak bulan Maret 2024 lalu. Sementara itu, pihaknya menargetkan akan selesai pada November 2024 nanti.

“Memang rata-rata pengerjaannya sudah memasuki 73 persen. Tapi ada juga yang sudah ada rampung 100 persen,” jelasnya.

Menurutnya, normalisasi avour ini memiliki pengerjaan yang berbeda-beda, tergantung kebutuhan dan kondisi di lapangan atau sungai yang akan dinormalisasi.

“Maka nominal yang dibutuhkan pun berbeda, mulai dari rentang Rp 149 juta sampai Rp 199 juta,” bebernya.

Sementara untuk panjang setiap pengerjaan, ia menyebutkan memiliki panjang yang berbeda, mulai dari 1.000 hingga 1.500 meter.

“Ada yang hanya pengerukan, kemudian perbaikan talud. Penguatan tebing pasca bencana longsor. Jadi memang macam-macam jenisnya,” ungkapnya.

Ia berharap normalisasi yang dilakukan ini dapat efektif mengurangi dampak banjir di beberapa titik daerah langganan banjir.

“Tujuan normalisasi ini kan untuk mempertahankan penampang alami sungai atau saluran. Sehingga dapat mengalirkan air dengan baik agar mengurangi risiko banjir dan erosi,” pungkasnya. (*)

Penulis: Miftahus Salam

19 Sungai di Pati Bakal Dinormalisasi Tahun Ini

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUTR) pada tahun 2024 akan normalisasi sejumlah sungai yang mulai mengalami sedimentasi.

Berdasarkan data dari DPUTR Pati, total ada 19 sungai yang akan dinormalisasi. Diantaranya, Sungai Kedunglumbung Desa Karaban, Kecamatan Gabus, Sungai Gayang Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti, Sungai Beji Desa Karangrowo, Kecamatan Jakenan, Sungai Golan Desa Kertomulyo, Kecamatan Trangkil, Sungai Tompe Desa Talun, Kecamatan Kayen, dan Sungai Jaranmati Desa/Kecamatan Margoyoso.

Kemudian, Sungai Kedunglumbung Desa Tambahagung, Kecamatan Tambakromo, Sungai Golan Desa Tlutup, Kecamatan Trangkil, Sungai Luboyo Desa Sukoharjo, Kecamatan Wedarijaksa, Sungai Bapoh Desa Bumiayu, Kecamatan Wedarijaksa, Sungai Jaranmati Desa Semerak, Kecamatan Margoyoso, Sungai Kluweh Desa Ketip, Kecamatan Juwana, Sungai Pengkok Desa Trimulyo, Kecamatam Juwana, Sungai Lumpang Desa Plangitan, Kecamatan Pati, dan Sungai Patoman Desa Dororejo, Kecamatan Tayu.

Selanjutnya, Sungai Gungwedi Desa Margomulyo, Kecamatan Juwana, Sungai Pakis Desa Jepatkidul-Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Affur Druju Desa Margomulyo, Kecamatan Tayu, dan Sungai Simo Desa Sidokerto, Kecamatan Pati.

Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air (SDA) DPUTR Kabupaten Pati Sudarno mengatakan pihaknya terus melakukan penanganan usai banjir melanda sejumlah wilayah yang berjuluk Bumi Mina Tani ini. Salah satunya, pihaknya pada tahun ini bakal melakukan normalisasi sungai yang sudah mengalami sedimentasi.

“Selain itu juga penanganan longsor dan tanggul jebol,” katanya, Senin (29/4/2024).

Menurutnya, normalisasi sungai harus dilakukan secara menyeluruh, tidak bisa sepotong-sepotong.

“Kami tidak mungkin menormalisasi yang atas, yang bawah tidak. Harus ada teknis penanganan normalisasi itu,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan banjir yang sering terjadi di Kabupaten Pati salah satunta disebabkan sampah yang menumpuk di sungai. Dalam hal ini, pihaknya bekerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk pemerintah desa dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana untuk menangani masalah sampah.

“Kami setiap ada pelaporan tumpukan sampah di sungai, kami langsung merapat untuk penanganan bersama,” tuturnya.

“Seperti di Margoyoso kita tangani bersama. Yang jelas kita tidak bisa menanganinya sendiri,” imbuhnya.

Menurutnya, paling banyak sampah di sungai berupa bambu dan kebutuhan keluarga.

“Yang lebih ngeri di Pakis, itu sampai beberapa hari membersihkannya. Yang jelas kita tidak bisa menghentikan kejadian itu, karena faktor alam,” pungkasnya. (*)

Penulis: Miftahus Salam