Arsip Kategori: Infrastruktur

Pemkab Pati Pastikan SDN Mencon 01 Segera Dibangun Kembali

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati memastikan bangunan SD Negeri Mencon 01 di Kecamatan Pucakwangi yang roboh akan segera dibangun kembali. Kepastian itu disampaikan Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra usai meninjau langsung lokasi bersama Dinas Pendidikan, Sabtu (25/4/2026).

Peninjauan tersebut dilakukan sebagai langkah percepatan agar proses penanganan segera berjalan dan kegiatan belajar mengajar tidak terganggu. Pemerintah daerah juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan guna memastikan pembangunan dapat dilakukan sesuai prosedur.

“Alhamdulillah minggu sebelumnya kami sudah ke Jakarta, dan tanggal 5 nanti sudah ada verifikasi. Minggu setelah itu sudah bisa dilaksanakan pembangunan,” ujar Chandra.

Selama proses pembangunan berlangsung, aktivitas belajar siswa tetap difasilitasi. Pemerintah desa setempat turut berperan dengan menyediakan lokasi sementara agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.

“Selama pembangunan, anak-anak difasilitasi oleh Pak Petinggi Mencon. Untuk kelas 1 sampai kelas 5, bulan Mei nanti sudah bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar di pendopo beliau,” jelasnya.

Chandra juga meminta dukungan dari pihak sekolah dan seluruh pemangku kepentingan agar proses pembangunan berjalan lancar dan tepat waktu.

“Mohon dukungannya dari kepala sekolah dan semua pihak, agar pelaksanaan pembangunan bisa berjalan dengan baik, diawasi, dan menghasilkan bangunan yang bagus,” tuturnya.

Usai meninjau SD Negeri Mencon 01, Chandra melanjutkan kunjungan ke SMP Negeri 2 Pucakwangi. Sekolah tersebut direncanakan akan direvitalisasi menyusul kondisi bangunan yang mulai mengalami kerusakan. (*)

Pembangunan Jembatan di Polonia Medan Tunggu Persetujuan PT KAI

Lingkar.co – Pembangunan jembatan yang melintasi Gang Damai Jalan Adi Sucipto, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan menunggu persetujuan dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) Persero

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Medan, Ferry Ichsan, mengungkapkan, Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, telah mengirimkan surat resmi memohon pinjam pakai lahan dan aset di lokasi jembatan roboh di Gang Damai, Jalan Adi Sucipto, Kecamatan Medan Polonia.

Menurut dia, surat Wali Kota menjadi titik awal penting dalam proses pembangunan kembali jembatan yang sebelumnya merupakan jalur rel kereta api.

“Pak Wali sudah menandatangani langsung surat ke PT KAI untuk memohon pinjam pakai lahan dan aset. Ini langkah penting agar pembangunan jembatan penyeberangan bagi masyarakat bisa segera direalisasikan,” ujar Ferry, Rabu (22/4/2026).

Ia melanjutkan, setelah surat tersebut dikirimkan, Pemkot Medan akan segera menindaklanjuti dengan rapat koordinasi teknis bersama instansi dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

Koordinasi ini, kata dia, bertujuan untuk mengonfirmasi perkembangan pengajuan izin yang ditujukan kepada PT KAI sekaligus mematangkan langkah lanjutan.

Ferry bilang, Pemkot Medan sangat berharap pihak PT KAI dapat memberikan persetujuan atas permohonan tersebut, mengingat jembatan itu merupakan akses penting warga setiap hari, terutama pelajar

Sembari menunggu izin prinsip, Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (SDABMBK) juga mulai menyiapkan tahapan teknis. Salah satunya dengan melakukan penilaian terhadap kondisi struktur fondasi jembatan yang ada saat ini.

“Hasil penilaian itu nantinya menjadi dasar penyusunan perencanaan teknis, yang juga akan digunakan untuk pengajuan rekomendasi ke Balai Wilayah Sungai Sumatera II,” jelasnya.

Ia menambahkan, rekomendasi dari Balai Wilayah Sungai diperlukan karena lokasi jembatan berada di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS), sehingga pembangunan harus memenuhi aspek teknis dan keselamatan.Selain itu, dukungan juga datang dari unsur TNI.

Dalam peninjauan lapangan sebelumnya, pihak Kodim menawarkan bantuan pembangunan jembatan menggunakan konstruksi yang pernah diterapkan dalam rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh.

Sebagai informasi, jembatan eks perlintasan kereta api peninggalan era kolonial tersebut roboh akibat banjir dan sempat memutus akses penting antarwilayah.

Saat itu, Wali Kota Medan telah meninjau langsung lokasi dan menegaskan komitmen untuk segera membangun kembali jembatan dengan desain yang lebih aman dan modern.

“Yang paling utama saat ini persetujuan dari PT KAI. Kalau itu sudah ada, kita bisa langsung bergerak,” pungkasnya. (*)

Eks Kantor Kecamatan di Blora Diratakan, Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih

Lingkar.co – Bangunan bekas kantor kecamatan di Kelurahan Bangkle, Kabupaten Blora, mulai dibongkar setelah lama terbengkalai dan tak lagi dimanfaatkan. Lahan tersebut rencananya akan digunakan untuk pembangunan Koperasi Kelurahan Merah Putih (KDMP).

Pantauan di lokasi, Rabu (22/4/2026), proses pembongkaran melibatkan satu alat berat yang merobohkan bangunan. Selain itu, dua truk terlihat hilir mudik mengangkut puing-puing sisa bangunan. Sejumlah pekerja juga tampak memilah material yang masih bisa dimanfaatkan, seperti besi dari reruntuhan.

Pelaksana Tugas (Plt) Lurah Bangkle, Fiqri Hidayat, menjelaskan bahwa bangunan tersebut sebelumnya sempat difungsikan sebagai kantor pelayanan Kecamatan Blora. Namun, sejak kantor kecamatan dipindahkan, bangunan itu tidak lagi digunakan dan akhirnya terbengkalai.

“Setelah kantor kecamatan pindah, bangunan ini mangkrak dan tidak dimanfaatkan,” ujarnya.

Seiring waktu, kondisi bangunan semakin tua dan mengalami kerusakan, sehingga dinilai tidak memiliki nilai guna. Berdasarkan penilaian dari bagian aset dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), bangunan tersebut direkomendasikan untuk dibongkar.

“Menurut bagian aset dan PUPR, bangunan sudah tidak bernilai sehingga lebih baik dirobohkan,” jelasnya.

Fiqri menambahkan, pihak kelurahan tidak terlibat langsung dalam proses pembongkaran. Kegiatan tersebut sepenuhnya ditangani oleh pihak rekanan dari Agrinas, setelah sebelumnya mendapat persetujuan dari Bupati Blora.

Menurutnya, langkah ini diambil karena keterbatasan lahan strategis di wilayah Kelurahan Bangkle untuk pembangunan koperasi. Oleh karena itu, lahan bekas bangunan tersebut dinilai menjadi opsi paling memungkinkan.

“Di Bangkle tidak ada lahan yang representatif dan strategis, sehingga kami mengajukan permohonan pembongkaran gedung ini ke Bupati, dan sudah disetujui,” pungkasnya. (*)

Resmikan Jalan Lubuk Dalam-Way Urang, Dorong Perekonomian Kawasan Wisata Batu Rame,

Lingkar.co – Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, meresmikan ruas jalan Lubuk Dalam-Way Urang di Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, Selasa (21/4/2026).

Jalan sepanjang 1.075 meter itu memperlancar akses menuju Kawasan Wisata Batu Rame, Pantai Ketang serta mendorong peningkatan ekonomi masyarakat.

Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, menyatakan, pembangunan jalan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan konektivitas wilayah sekaligus mengoptimalkan potensi pariwisata.

“Alhamdulillah pembangunan jalan ini telah selesai dan sudah dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Kami berharap keberadaan jalan ini dapat meningkatkan kunjungan wisata dan berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat sekitar,” ujar Egi.

Menurutnya, infrastruktur yang baik menjadi salah satu faktor kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya di wilayah yang memiliki potensi wisata.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk turut menjaga jalan yang telah dibangun agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

“Saya titip kepada masyarakat agar jalan ini dijaga dengan baik, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” tuturnya. (*)

Resmikan Jembatan Jatra Winongo, Harda Kiswaya Ingatkan Infrastruktur Tulang Punggung Pertumbuhan Ekonomi

Lingkar.co – Bupati Sleman, Harda Kiswaya mengingatkan, infrastruktur merupakan tulang punggung pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Tanpa konektivitas yang baik, tidak akan ada distribusi yang efisien.

Oleh karena itu, pihaknya memandang penting kualitas jembatan Jatra Winongo yang menghubungkan Padukuhan Jetis dan Padukuhan Patran di wilayah Kalurahan Sinduadi Mlati, Sleman Yogyakarta.

“Pembangunan jembatan ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perencana, pelaksana, hingga dukungan masyarakat. Tanpa kebersamaan dan semangat gotong royong, pembangunan seperti ini tidak akan dapat terwujud dengan baik,” katanya, Senin (20/4/2026).

Dengan adanya perbaikan jembatan Jatra Winongo, Harda berharap dapat memberikan dampak nyata dalam memperkuat konektivitas antar wilayah hingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sinduadi.

“Kita ingin akses menjadi lebih mudah, waktu tempuh menjadi lebih efisien, biaya logistik dapat ditekan, dan pada akhirnya kesejahteraan masyarakat meningkat,” tuturnya.

Senada, Lurah Sinduadi, Senen Hariyanto dalam laporannya menuturkan, pembangunan jembatan Jatra Winongo bertujuan untuk meningkatkan konektivitas dua wilayah, yaitu Padukuhan Jetis dan Padukuhan Patran, mempermudah mobilitas barang dan jasa yang ada di wilayah Kalurahan Sinduadi, dan meningkatkan akses ekonomi dan pendidikan masyarakat.

Terlebih, kata dia, pembangunan jembatan tersebut didasari pada urgensi, dimana kondisi jembatan sebelumnya dalam kondisi rusak parah, menghambat dan membahayakan aktivitas masyarakat yang melintas.

Proyek pembangunan jembatan ini berlangsung selama dua tahap yaitu tahun 2025 dan 2026 dengan menghabiskan anggaran Rp1.6 miliar, berasal dari dana APBkal 2025-2026.

“Untuk tahun 2025 meliputi perencanaan teknis atau Detailed Engineering Design (DED), kemudian pengawasan teknis, dan pelaksanaan konstruksi tahap satu berupa pondasi tumpuan jembatan sampai dengan gelagar lantai,” ungkapnya.

Kemudian untuk tahap kedua meliputi akses jembatan untuk pejalan kaki, sepeda motor, dan diharapkan kendaraan roda empat (mobil kecil) dapat lewat, dikecualikan kendaraan truk. (*)

Bekas Kantor Satpol PP Pati Bakal Disulap Jadi Museum Cagar Budaya

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati berencana merevitalisasi bekas kantor Satpol PP yang berada di Jalan RA Kartini, tepat di belakang Kantor Bupati Pati, menjadi Museum Cagar Budaya Kabupaten Pati.

Peninjauan lokasi dilakukan langsung oleh Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, pada Minggu (19/4/2026), sebagai langkah awal percepatan realisasi pembangunan museum tersebut. Nantinya, katanya, gedung tersebut akan direnovasi dan difungsikan sebagai pusat penyimpanan sekaligus pameran berbagai benda bersejarah milik Kabupaten Pati.

Chandra mengungkapkan, banyak artefak bersejarah asal Pati yang kini berada di luar wilayah, seperti di Yogyakarta, Kudus, hingga Museum Ronggowarsito. Melalui pembangunan museum ini, pemerintah daerah ingin mengonsolidasikan seluruh peninggalan tersebut dalam satu lokasi agar lebih mudah diakses masyarakat.

“Bekas kantor Satpol PP ini akan kita renovasi menjadi museum cagar budaya Kabupaten Pati. Masih banyak benda pusaka dan warisan budaya kita yang tersebar di berbagai tempat,” ujarnya.

Ia menambahkan, seluruh koleksi nantinya akan dipusatkan di gedung tersebut, sekaligus difungsikan sebagai ruang edukasi gratis bagi masyarakat, khususnya pelajar. Dengan begitu, generasi muda dapat lebih mengenal sejarah daerahnya secara langsung.

Selain itu, lanjutnya, pengembangan museum akan terintegrasi dengan kawasan Pendopo Kabupaten Pati yang selama ini telah dimanfaatkan sebagai lokasi kegiatan outing class. Konsep ini diharapkan mampu menghadirkan satu paket destinasi wisata edukatif di pusat kota.

“Ke depan, museum ini akan menjadi satu paket dengan pendopo sebagai sarana pembelajaran sejarah yang mudah dijangkau masyarakat,” jelasnya.

Lebih lanjut, pihaknya berharap, kehadiran museum ini tidak hanya menjadi pusat edukasi, tetapi juga mampu menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan masyarakat terhadap daerahnya, sekaligus mendekatkan warga dengan pusat pemerintahan. (*)

Farhan Tekankan Normalisasi Drainase Sebelum Infrastruktur Lain

Lingkar.co – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menekankan agar melakukan normalisasi drainase sebagai langkah awal sebelum perbaikan infrastruktur lain.

Bahkan, Ia meminta agar pengerjaan jalan tidak dilakukan sebelum kondisi drainase dipastikan baik.

“Drainase jalan harus dinormalkan kembali karena masih banyak genangan. Jangan mengerjakan jalan sebelum drainasenya diperbaiki, karena kalau drainasenya jelek maka jalan akan rusak lagi,” katanya, Kamis (16/4/2026).

Orang nomor satu di Pemerintah Kota Bandung menegaskan hal itu saat melakukan monitoring wilayah di Kelurahan Panjunan, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat.

Monitoring merupakan bagian dari upaya penataan kawasan yang dinilai rawan karena berbagai aspek, dari ketertiban pedagang kaki lima (PKL), perbaikan drainase, hingga pembenahan sanitasi lingkungan.

Selain itu, Farhan juga menyoroti pentingnya penataan penerangan jalan umum.

Farhan meminta Dinas Perhubungan (Dishub) segera melakukan pendataan menyeluruh terhadap kondisi lampu jalan, termasuk yang tidak berfungsi.

“Lakukan pendataan berapa banyak lampu yang ada, berapa yang menyala dan yang mati. Lampu yang mati segera diperbaiki,” ujarnya.

Dari sisi penataan ekonomi masyarakat, Pemkot Bandung menegaskan bahwa PKL tetap diperbolehkan berjualan, namun harus tertib dan tidak mengganggu fungsi jalan serta aliran drainase.

“Pedagang silakan berjualan, tapi jangan mengambil seluruh badan jalan dan harus bertanggung jawab terhadap kelancaran drainase,” kata Farhan.

Ia juga mendorong adanya kesepakatan bersama di antara para PKL agar penataan yang dilakukan dapat berkelanjutan.

“PKL harus berembuk, diatur sampai jam berapa berdagang. Setelah selesai, area harus dibersihkan kembali,” tambahnya.

Tak hanya itu, permasalahan sanitasi juga menjadi fokus, terutama terkait bangunan di atas sungai yang belum memiliki sistem pembuangan limbah yang layak.

Menurutnya, penataan perlu dilakukan secara menyeluruh, termasuk kemungkinan pembangunan fasilitas sanitasi umum yang lebih representatif.

“Satu-satunya cara untuk memperbaiki kerapihan adalah meratakan bangunan di atas sungai, terutama yang tidak berpenghuni. Bisa dipertimbangkan membuat toilet umum dengan posisi lebih ke dalam dan limbahnya tidak dibuang ke sungai,” jelasnya.

Sementara itu, Lurah Panjunan, Iya Sunarya menyatakan, telah melakukan langkah awal dengan mengoordinasikan para PKL di wilayah Kelurahan Panjunan.

“Kami sudah rapat dengan para koordinator PKL. Kami sampaikan bahwa fungsi jalan harus dikembalikan sesuai Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004, sebagai prasarana transportasi untuk kendaraan dan pejalan kaki,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan, terdapat sekitar 200 kios kosong di pasar yang dapat dimanfaatkan oleh para pedagang sebagai alternatif lokasi berjualan.

“Silakan para pedagang menempati kios di pasar agar penataan lebih rapi dan tidak kumuh,” tambahnya.

Terkait penanganan infrastruktur, termasuk kirmir yang roboh, Iya menyebutkan bahwa perbaikan akan segera dilakukan oleh dinas terkait dan disesuaikan dengan ketentuan teknis yang berlaku.

Monitoring wilayah ini menjadi bagian dari upaya Pemkot Bandung dalam mendorong penataan kawasan secara terpadu, dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat, guna menciptakan lingkungan yang tertib, aman, dan sehat. (r*)

Warga Resah, Jalan Guyangan-Jetak Pati Rusak Parah

Lingkar.co – Ruas jalan Guyangan–Jetak di Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati, dikeluhkan warga akibat kondisinya yang rusak parah dan dinilai membahayakan pengguna jalan. Jalan yang menjadi penghubung antarwilayah itu disebut sudah lama tidak tersentuh perbaikan.

Berdasarkan pantauan lokasi pada Rabu (15/4/2026), terlihat sejumlah titik jalan mengalami kerusakan cukup serius. Aspal tampak mengelupas dan banyak lubang menganga di sepanjang ruas tersebut.

Kondisi itu memaksa pengendara yang melintas untuk memperlambat laju kendaraan. Selain mengganggu kenyamanan, kerusakan jalan juga meningkatkan risiko kecelakaan, terutama saat malam hari karena minimnya penerangan.

Salah satu warga, Majid Lutfhi Setiawan, mengaku khawatir dengan kondisi jalan tersebut. Ia menyebut kerusakan sudah berlangsung selama berbulan-bulan tanpa ada perbaikan.

“Sering rusak, berlubang parah. Khawatir lewat pas malam bisa terperosok karena minim penerangan,” jelas.

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki jalan tersebut, mengingat ruas itu kerap dilalui masyarakat setiap hari.

“Kalau bisa segera diperbaiki lah,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Pati, Hasto Utomo, memastikan bahwa ruas jalan Guyangan–Jetak telah masuk dalam rencana perbaikan tahun 2026 dengan anggaran sebesar Rp1 miliar.

“Untuk jalan Guyangan – Jetak Kecamatan Wedarijaksa sudah termasuk direncana perbaikan jalan 2026 ini dengan alokasi anggaran Rp 1 miliar,” jelasnya.

Namun demikian, pelaksanaan perbaikan masih menunggu arahan dari Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra.

“Masih menunggu arahan dari bapak plt Bupati mas, mudah mudahan April 2026 sudah bisa mulai pelaksanaan,” tambahnya.

Hasto juga menyebut masih ada sejumlah ruas jalan lain di Kabupaten Pati yang mengalami kerusakan dan belum tertangani. Untuk tahun 2026, pihaknya telah menyiapkan anggaran sekitar Rp200 miliar guna rehabilitasi jalan dan jembatan di berbagai titik.

“Untuk jalan di Pati yang rusak diantaranya di Guyangan-Runting, Juwana-Guyangan, Tlogowungu-Bapoh, Boloagung-Trimulyo, Prawoto batas Kudus, Tayu-Dukuhseti, Jenggolo-Pegandan, anggaran untuk rehabilitasi jalan dan jembatan tahun 2026 ini kurang lebih Rp200 miliar,” jelasnya. (*)

SDN Mencon Pati Rusak Parah, Siswa Belajar di Rumah Warga

Lingkar.co – Kondisi Sekolah Dasar Negeri (SDN) Mencon, Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati, memprihatinkan. Sekitar 90 persen bangunan sekolah dilaporkan sudah tidak layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar (KBM).

Akibatnya, empat ruang kelas tidak lagi dipakai. Para siswa terpaksa belajar di luar sekolah, seperti di balai desa, rumah perangkat desa, rumah guru, hingga kantor pemerintah desa.

Kepala SDN Mencon, Muhammad Yasin Amin, mengatakan kerusakan semakin parah setelah hujan deras pada Sabtu malam, 11 April 2026. Beberapa atap kelas dilaporkan ambrol.

“Kondisi sekolah ini sudah lapuk, begitu malam Minggu jam 7 malam ada hujan, sehingga kondisi kelas ini tertimpa musibah, atap roboh, tapi alhamdulilah terjadi malam hari. Kelas ini sudah saya kosonan sekitar dua tahun lalu, mengingat khawatir keselamatan pembelajaran anak-anak,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).

Saat ini, katanya, hanya siswa kelas V dan VI yang masih belajar di sekolah. Sementara kelas I hingga IV harus berpindah tempat.

“Hampir 90 persen bangunan kelas tidak layak ditempati. Kelas yang lain, empat kelas pembelajaran tidak di sekolah lagi, ada yang rumah penduduk, di rumah kepala desa, dan lain sebagainya,” lanjutnya.

Selain bangunan yang rapuh, kondisi tanah di lokasi sekolah juga rawan bergerak. Hal ini membuat pihak sekolah khawatir jika perbaikan hanya dilakukan sebagian.

“Kondisi tanah di sini agak lapuk. Apabila ada pembangunan cuma atapnya saja, kami khawatir akan terjadi musibah yang tidak kita inginkan karena tembok kelas yang lain sudah mulai retak,” jelasnya.

Pihak sekolah telah mengajukan bantuan melalui sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik). SDN Mencon juga masuk daftar penerima Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2026.

“Alhamdulillah info dari Disdik, di tahun 2026 SD kami masuk nominasi DAK umum dan reguler. Ada musibah seperti ini mudah-mudahan cepat ditangani dan mendapat DAK sesuai kondisi sekolah ini,” paparnya.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Pati telah meninjau kondisi sekolah. Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, menyebut banyak sekolah di Pati masih menggunakan bangunan lama.

“Kita tahu bersama banyak kondisi sekolah di Pati gedungnya masih pakai bangunan Inpres, maka Senin kita evaluasi semua sekolah, dimana gedung layak atau tidak. Seperti di Mencon, tadi pagi gedungnya rubuh, syukur tak ada korban jiwa karena Minggu. Disebabkan karena hujan lebat penopang sekolah lapuk sehingga rubuh,” jelasnya.

Pihak sekolah berharap perbaikan segera dilakukan agar siswa dapat kembali belajar dengan aman dan nyaman. (*)

Tak Lakukan Peremajaan PJU, Dishub Pekanbaru Tunggu Evaluasi Kemendagri

Lingkar.co – Plt Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Pekanbaru, Masykur Tarmizi, melalui Kepala Bidang Kelengkapan Teknik Sarana Prasarana (KTSP), Bagus Saputra mengatakan, saat ini pihaknya belum melakukan peremajaan lampu penerangan jalan umum (PJU). Dishub masih menunggu hasil evaluasi dari Kemendagri terkait efisiensi anggaran.

“Masih ada evaluasi dari Kemendagri, terkait efisiensi anggaran,” kata Bagus, Senin (13/4/2026).

Menurut Bagus, untuk kegiatan seperti rencana peremajaan ribuan lampu PJU pada tahun ini, akan disesuaikan dengan kebutuhan.

“Jadi untuk kegiatan-kegiatan itu disesuaikan lagi dengan kebutuhan. (Peremajaan PJU) Itu sepertinya kena kurangi juga, pergeseran,” ujar Bagus.

Pemerintah Kota Pekanbaru melalui Dishub menargetkan peremajaan 2.000 lampu PJU. Ribuan lampu yang akan diremajakan tersebar di berbagai titik ruas jalan, diantaranya di Jalan Soekarno Hatta, Jalan SM Amin, dan Jalan Air Hitam.

Selain peremajaan PJU, Dishub Kota Pekanbaru juga berencana melakukan pemasangan baru PJU di 230 titik. (*)