COLS Multiple Intellegences dalam Penguatan Pendidikan Karakter pada Pembelajaran Jarak Jauh

  • Bagikan
Izzatun Nada, S.Pd., SD 2 Mejobo (DOK PRIBADI FOR LINGKAR.CO)
Izzatun Nada, S.Pd., SD 2 Mejobo (DOK PRIBADI FOR LINGKAR.CO)

*Oleh
Izzatun Nada, S.Pd
SD 2 Mejobo

Pandemi covid-19 masih meresahkan masyarakat dunia hingga saat ini, khususnya di Indonesia. Dari data satuan tugas covid-19 Indonesia disebutkan, kasus terkonfirmasi covid-19 di Indonesia mencapai 522.581 kasus per November 2020. Kasus ini terus bertambah dengan rata-rata penambahan 4000 kasus setiap harinya. Dampak dari wabah pandemi covid-19 terus meluas mempengaruhi berbagai sisi kehidupan, termasuk sektor pendidikan. Menyikapi hal tersebut, kementerian pendidikan dan kebudayaan mengeluarkan surat edaran nomor 36962/MPK.A/HK/2020 mengenai kegiatan pembelajaran dari rumah (Learning from home). Kegiatan pembelajaran yang semula dilakukan secara tatap muka di sekolah, beralih kepada pembelajaran jarak jauh (PJJ) baik dengan mode dalam jaringan (daring) maupun luar jaringan (luring).

PJJ memang tidak mudah dilakukan pada saat ini, dikarenakan tenaga pendidik, sekolah, siswa dan orang tua yang belum siap. Keterbatasan komunikasi menyebabkan pemerolehan informasi menjadi terbatas. PJJ memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan. Keunggulan dari PJJ yaitu siswa menjadi lebih fleksibel dalam belajar, tergantung pada kondisi dan situasi siswa. Sementara itu, kelemahannya siswa tidak dapat bersosialisasi secara nyata dengan guru dan teman lainnya sehingga berdampak pada emosional siswa itu sendiri.

 Terlepas dari baik buruknya PJJ, maka pendidikan dikembalikan pada esensinya. Tertuang dalam UU No 20 tahun 2003 bahwa pendidikan berfungsi untuk mengembangkan dan membentuk watak peradaban bangsa yang bermartabat. Dalam hal ini pendidikan dimaknai sebagai usaha sadar dan terencana melalui proses belajar aktif agar peserta didik dapat mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual, kepribadian serta keterampilan. Berdasarkan hal tersebut, pendidikan mengarah pada pembentukan watak dan budi pekerti. Sehingga dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan wajib memasukkan pendidikan karakter sebagai satu kesatuan.

Pemerintah telah menyinggung pendidikan karakter pada Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017, yang dikenal dengan istilah Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). PPK menitikberatkan pada karakter berasaskan pancasila seperti religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab. Semua sikap tersebut merupakan penjabaran dari 5 (lima) nilai pokok yaitu religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas.

Di sekolah, penguatan pendidikan karakter telah diimplementasikan dengan menyelipkan nilai karkater pada setiap aktivitas pembelajaran (Dalyono & Lestariningsih, 2017). Akan tetapi, hal tersebut tidak berjalan maksimal karena pendidikan karkater harus melibatkan semua aspek lingkungan secara garis besar yaitu sekolah, keluarga dan masyarakat (Supranoto, 2015). Hal ini menjadi semakin terhambat dengan adanya pandemi COVID19. Guru dituntut untuk adaptif, mampu menciptakan lingkungan belajar dalam upaya perkembangan etika, tanggung jawab dan karakter peserta didik. Sementara itu, guru terbiasa mengevaluasi karakter peserta didik dengan metode observasi secara langsung perubahan sikap dan perilaku. Ditambah lagi, guru dihadapkan dengan kendala penguasaan teknologi serta inovasi pengintegrasian pendidikan karakter melalui PJJ.

Persoalan-persoalan lain terkait pendidikan karakter pada PJJ diantaranya: peserta didik sengaja membolos karena tidak tertarik dengan pembelajaran, tidak mengumpulkan tugas karena merasa tidak paham dengan materi, pura-pura berdoa sebelum memulai aktivitas, bertutur kata semaunya karena menganggap di dunia maya lebih bebas, dan kreativitas yang kurang terlihat karena lingkungan belajar yang kurang mendukung. Lingkungan belajar yang dimaksud seperti menjaga adik karena ditinggal orang tua bekerja, membantu pekerjaan orang tua di rumah, suasana rumah yang ramai karena banyak anggota keluarga, serta faktor lingkungan seperti teman sebaya yang memiliki hobi bermain game online. Dari pihak guru, pembelajaran yang monoton dan sistem belajar dengan take and give tugas (guru memberi tugas, peseta didik mengerjakan) juga menghambat kreativitas.

 Faktor lain yang mempengaruhi datang dari orangtua dan keluarga. Bagi orang tua yang bekerja di luar rumah, mereka tidak dapat mendampingi atau mengontrol penuh anaknya. Tidak adanya pendampingan inilah yang membuat peserta didik kehilangan kontrol belajarnya. Orangtua juga mengaku merasa lelah setelah bekerja sehingga kurang memperhatikan kegiatan belajar yang telah dilakukan sang anak. Begitu pula faktor pendidikan orang tua, kurangnya penguasaan kompetensi berpengaruh pada kurang optimalnya tugas peserta didik.

Berdasarkan paparan diatas, maka peran serta orang tua dalam mengontrol peserta didik selama belajar dari rumah dinilai sangat penting. COntrolling, sebagai peran serta keluarga sangat urgen untuk menciptakan keluarga sebagai sarana proses pendidikan kontinu yang melahirkan generasi cerdas dan berakhlak (Jailani, 2014). Peran serta yang ditunjukkan orang tua meliputi: Membangun regulasi diri untuk anak memiliki kemampuan mengatur proses belajar sendiri di rumah, mendiskusikan aturan di rumah, memberikan arahan mengenai perilaku sewajarnya, jika anak menunjukkan perilaku emosional maka menunjukkan cara mengatasi dan akibat yang ditimbulkan, mengajak anak untuk menyiapkan alat belajar, berkomunikasi terbuka, menanyakan kesulitan anak, mengajak anak untuk mengeksplore ide kreatifnya, mendampingi belajar anak dengan waktu fleksibel, membiasakan diri berdoa bersama anak dalam beraktivitas, membacakan buku cerita yang mendidik, membantu anak mengerjakan tugas-tugas dari sekolah, mengecek isi gawai anak secara berkala serta memberikan reward and punishment terhadap keberhasilan belajarnya. Kualitas komunikasi orang tua dan anak yang semakin baik akan meningkatkan kepercayaan anak terhadap orang tuanya (Badudu, 2019). Guru juga dapat turut membantu dengan controlling, seperti melakukan home visit setiap 2—3 kali dalam seminggu. Anak nantinya mulai percaya dan merasa adanya dukungan dari orang tua. Bila anak telah memulai membangun penguatan di dalam dirinya sesuai dengan tugas-tugas pembelajaran yang dijalaninya hal ini akan memberikan dampak yang signifikan bagi diri anak. (Subarto, 2020).

Adapun Learning Strategi (strategi belajar) yang digunakan guru yaitu didasarkan pada teori Multiple Intellegences (MI) oleh Dr. Howard Gardner. Strategi Pendidikan Karakter bisa dilakukan melalui strategi Multiple Intelligences (Oemori, 2015). Ada 8 tipe kecerdasan diantaranya : cerdas bahasa (linguistic Intelligence) kecerdasan ini fokus pada berpikir dalam kata-kata. Logika-matematika (logical-matematical intelligence) berfikir dengan penalaran atau logika. Visual-spasial (visual or spasial intelligence) berpikir dalam cerita dan gambar. Musikal (musical iantelligence) berpikir dalam melodi. Gerak-tubuh/kinestetik (body/kinesthetic intelligence) berpikir melalui sensasi dan gerak tubuh. Alam (natural intelligence) berpikir dalam alam. Interpersonal (interpersonal intelligence) berpikir melalui komunikasi dengan orang lain. Intrapersonal (intrapersonal in intelligence) berfikir secara reflektif (Santika, 2020). Untuk menerapkan strategi ini, perlu dilakukan assesmen non kognitif awal guna mengetahui minat belajar peserta didik. Cara mengajar maupun tugas yang diberikan berorientasi pada minat dan disesuaikan dengan kompetensi dasar yang diajarkan.

Strategy MI dipilih sebagai strategi belajar yang menjadikan peserta didik dapat mengeksplorasi minat bakatnya, sehingga menunjukkan karakter kreatif dalam dirinya. Kedepannya, diharapkan melalui COLS Multiple Intellegences, pendidikan karakter peserta didik pada PJJ menjadi lebih baik.  Belajar melalui 8 tipe kecerdasan ini juga dapat dipadukan dengan beragam model pembelajaran lain, disesuaikan dengan tujuan belajar dan penguatan karakter yang dituju.(*)

Peneliti RCMG Yakin Kementan Telah Antisipasi Dampak Banjir dan Kekeringan bagi Petani

  • Bagikan
error: Ijin Dulu baru Copas BOSS !!