Arsip Tag: Dintanpan Rembang

Petani Rembang Genjot Produksi Bawang Merah, Lahan Tanam Capai 80 Hektare

Lingkar.co – Sebagian petani di Kabupaten Rembang telah memulai masa tanam bawang merah untuk musim tanam (MT) 2025. Hingga akhir Juni 2025, luas lahan yang sudah ditanami mencapai sekitar 80 hektare, tersebar di 12 kecamatan. Aktivitas penanaman terbaru dilakukan di lahan sawah Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur. Penanaman bawang merah sendiri sudah dimulai sejak April hingga Mei lalu.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, Fajar Riza Dwi Sasongko, menjelaskan bahwa penanaman bawang merah di Rembang umumnya dilakukan saat memasuki musim kemarau.

“Untuk periode 2024–2025 ini, sementara yang paling luas Kecamatan Pamotan dengan 35 hektare. Sedangkan dua tahun terakhir, Sumber menjadi kecamatan yang mendominasi dengan 41 hektare,” ujar Fajar, Senin (30/6/2025).

Fajar menambahkan, kondisi cuaca lembap seperti saat ini tetap memungkinkan untuk budidaya bawang merah, asalkan pengolahan lahan dilakukan secara optimal.

“Selama pengolahan lahan dilakukan dengan baik, seperti adanya saluran pembuangan air dan pembuatan guludan, maka penanaman bawang merah tetap memungkinkan meski di musim kemarau basah seperti saat ini. Cuaca yang lembap berpotensi memunculkan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman), khususnya jamur. Sehingga pemantauan pertanaman harus dilaksanakan secara intensif,” jelasnya.

Tanaman bawang merah umumnya siap panen sekitar tiga bulan setelah tanam. Dari sisi distribusi, hasil panen bawang merah tidak hanya dipasarkan di wilayah lokal Rembang, tetapi juga dikirim ke luar daerah hingga Jakarta. Produk dari Kecamatan Sumber bahkan rutin dipasarkan melalui Pasar Tani yang digelar oleh Dintanpan Rembang, sebagai upaya mempertemukan petani langsung dengan konsumen.

“Harga jual bawang merah sangat fluktuatif. Saat ini, harga di tingkat petani berkisar Rp30 ribu per kilogram. Sementara harga eceran di pasar mencapai Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram,” pungkas Fajar. (*)

Musim Kemarau Basah, Petani Tembakau Rembang Hadapi Tantangan Genangan Air

Lingkar.co – Memasuki musim kemarau tahun ini, para petani tembakau di Kabupaten Rembang menghadapi tantangan yang tidak biasa. Alih-alih cuaca kering, curah hujan masih tinggi hingga pertengahan Juni, sehingga menghambat pertumbuhan tanaman tembakau, terutama yang ditanam di lahan sawah.

Plt Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, Fajar Riza Dwi Sasongko, menjelaskan bahwa penanaman tembakau sudah dimulai sejak Maret. Saat ini, sekitar 70 persen dari total luas tanam sekitar 10.000 hektare telah ditanami, dengan 9.000 hektare dikelola melalui kemitraan dan sisanya 1.000 hektare non-kemitraan. Namun, hanya sekitar 30 persen tanaman yang tumbuh optimal.

“Yang banyak gagal ini tembakau yang ditanam di sawah. Karena sistem pembuangan airnya rata-rata belum bagus, jadi saat turun hujan deras, air tergenang cukup lama,” ujarnya, Senin (23/6/2025).

Fajar menambahkan, genangan air di lahan sawah bisa menjadi ancaman serius bagi pertumbuhan tembakau.

“Air jadi ngecembong (tergenang), sehingga mengakibatkan pertumbuhan tembakau terhambat. Kalau air lama menggenang dua sampai tiga hari, bisa membuat tanaman menjadi layu,” jelasnya.

Menurut BMKG, kemarau basah ini diperkirakan berlangsung hingga Agustus bahkan berpotensi berlanjut sampai akhir tahun. Oleh karena itu, Dinas Pertanian dan Pangan terus mengimbau petani untuk waspada dan menyesuaikan strategi budidaya.

“Kami memberikan informasi kepada petani bahwa musim kemarau ini cenderung basah. Mereka perlu mengantisipasi jika tetap ingin menanam tembakau,” tegas Fajar.

Sebagai dukungan, pemerintah menyalurkan bantuan sarana produksi (saprodi) dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), antara lain pupuk ZA 150.300 kg, ZK 32.800 kg, ZPT 16 liter/kg, NPK rendah klor 5.000 kg, pupuk organik 8.450 kg, serta SP26 sebanyak 40 ton. Bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) juga disalurkan, seperti mesin rajang (7 unit), para-para (750 buah), motor roda tiga (6 unit), timbangan digital (7 unit), dan unit pengolahan hasil (1 unit). Pemerintah juga menggelar pelatihan budidaya tembakau dan penggunaan pupuk organik sebanyak tiga kali.

“Kalau alsintan dari pemerintah provinsi sudah diserahkan, tapi yang dari Pemkab masih dalam proses pengadaan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya pengolahan lahan yang baik agar air hujan dapat cepat terbuang dan tidak menggenangi tanaman.

“Kalau pengolahan lahan dilakukan dengan baik, saat hujan lebat, air bisa cepat terbuang, sehingga tidak menggenangi tanaman,” pungkasnya.

Selain itu, Dintanpan mengingatkan petani agar waspada terhadap cuaca ekstrem. Baru-baru ini, seorang petani dari Desa Kedungasem, Kecamatan Sumber, dilaporkan meninggal dunia akibat tersambar petir saat mengolah lahan. (*)

Jelang Idul Adha, Dintanpan Rembang Gencar Vaksinasi Sapi

Lingkar.co – Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha 1446 H/2025 M, Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang mengintensifkan kegiatan vaksinasi terhadap sapi yang berpotensi menjadi hewan kurban. Upaya ini bertujuan untuk menjamin kesehatan hewan ternak sekaligus menjaga keamanan daging kurban yang akan dikonsumsi masyarakat.

Kepala Dintanpan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, menjelaskan bahwa vaksinasi telah dilaksanakan di sejumlah wilayah dengan populasi sapi tinggi. Hewan-hewan yang divaksinasi diprioritaskan pada yang diperkirakan akan disembelih saat Idul Adha.

“Harapannya, daging kurban yang dikonsumsi masyarakat benar-benar aman dan sehat,” ujar Agus, Rabu (28/5/2025).

Selain vaksinasi, Dintanpan juga membentuk empat tim khusus untuk melakukan pemeriksaan antemortem, yakni pemeriksaan kesehatan hewan sebelum disembelih. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan bahwa hewan yang dikurbankan dalam kondisi sehat dan layak konsumsi.

“Satu minggu menjelang hari raya, tim akan turun untuk melakukan pengecekan antemortem. Kemarin juga sudah kami lakukan sosialisasi ke masyarakat,” tambahnya.

Pada hari pelaksanaan Idul Adha, tim Dintanpan akan diterjunkan ke lokasi-lokasi pemotongan hewan untuk memastikan proses pemotongan sesuai standar kesehatan hewan dan ketentuan yang berlaku.

Agus menegaskan bahwa saat ini Kabupaten Rembang dalam kondisi aman dari wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Meski sebelumnya ditemukan beberapa kasus, seluruh ternak yang terjangkit telah dinyatakan sembuh dan tidak ditemukan kasus baru hingga saat ini.

“Yang kita khawatirkan justru lalu lintas hewan di pasar yang masih terbuka. Maka vaksinasi adalah satu-satunya cara paling efektif untuk memastikan ternak tetap sehat,” tandasnya.

Dintanpan mengimbau masyarakat yang akan membeli hewan kurban agar memilih hewan yang telah divaksinasi dan memiliki surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) dari petugas resmi.

Total hewan tervaksin per 22 mei 2025 sebanyak 11.766 ekor. Dengan rincian Sapi :10.388 ekor dan Kambing Domba 1.378 ekor. (*)

Dintanpan Rembang Pastikan Kesiapan Maksimal Jelang Idul Adha 2025

Lingkar.co – Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang menyatakan kesiapan penuh dalam menyambut Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah/2025. Komitmen ini diwujudkan melalui serangkaian pembekalan intensif bagi para petugas lapangan serta penerapan strategi pengawasan yang ketat guna memastikan hewan kurban dalam kondisi sehat dan layak dikonsumsi.

Rapat pembekalan strategis digelar dengan sukses di aula Dintanpan Rembang pada Senin (26/5/2025). Pertemuan ini dipimpin oleh Dian, Subkoordinator Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet). Hadir sebagai peserta utama adalah jajaran pegawai bidang peternakan dan petugas inseminasi buatan (IB) yang nantinya akan diterjunkan langsung ke lapangan untuk pengawasan.

Dalam kesempatan tersebut, Dian menjelaskan tahapan pengawasan yang akan dilakukan. “Mulai tiga hari menjelang Idul Adha, tepatnya pada Senin, 3 Juni, petugas akan intens melakukan pemeriksaan ante-mortem terhadap calon hewan kurban. Sedangkan pada Hari-H, pemeriksaan post-mortem akan dilaksanakan langsung di lokasi penyembelihan,” ujarnya.

Dian juga menegaskan bahwa kualitas daging menjadi fokus utama dalam pengawasan. Ia menyarankan agar saat pembagian daging kurban dilakukan pemisahan yang jelas antara daging, jeroan merah, jeroan hijau, dan tulang untuk menjaga kebersihan dan higienitas.

Baca juga: Diduga Korupsi Dana Desa Rp530 Juta, Kades Kertosari Kendal Ditahan Kejari

Selain itu, Dian mengingatkan pentingnya menerapkan etika penyembelihan yang baik agar hewan tidak mengalami stres, karena kondisi stres dapat memengaruhi kualitas tekstur daging.

“Penyembelihan sebaiknya tidak dilakukan saat hewan sedang stres, misalnya ketika melihat hewan lain disembelih. Stres dapat menyebabkan daging menjadi alot, berwarna hitam, dan mudah membusuk. Sebaiknya hewan diberi tabir agar tetap tenang,” jelas Dian.

Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan Dintanpan Rembang, Luluk, memberikan panduan khusus terkait Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

“Jika ditemukan hewan yang terjangkit PMK, penyembelihannya harus dilakukan paling akhir. Meski dagingnya aman dikonsumsi karena PMK tidak menular ke manusia, bagian kepala, kaki, dan jeroan sebaiknya tidak dikonsumsi,” jelasnya.

Luluk juga menekankan pentingnya memperhatikan kesejahteraan hewan (animal welfare) selama proses penyembelihan.

“Cara merobohkan dan menyembelih hewan harus dilakukan dengan benar. Hal ini sangat penting untuk menjaga kualitas hasil kurban yang kita harapkan,” tambahnya.

Menyadari keterbatasan waktu dan jumlah petugas, Dintanpan Rembang terus memperkuat strategi kolaborasi dengan tokoh masyarakat serta koordinasi dengan pemerintah pusat dan Forkopimcam. Langkah ini bertujuan memperluas penyebaran informasi sekaligus mencegah Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS). Sebagai bagian dari upaya pencegahan, vaksinasi PMK telah dilaksanakan sejak awal Mei.

Dian juga menyampaikan harapan agar sosialisasi mengenai kesehatan hewan dan penanganan kurban bisa menjangkau seluruh desa di Kabupaten Rembang. Ia mencontohkan inisiatif beberapa desa yang telah memanfaatkan dana desa dan bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinpermades) untuk mendukung program ini.

Luluk pun menyatakan optimisme bahwa pelaksanaan Idul Adha tahun ini akan berjalan lancar. Ia berharap keresahan masyarakat terkait penyakit pada hewan kurban dapat berkurang secara signifikan berkat pembekalan dan edukasi yang telah diberikan. (*)

Gerakan Pangan Murah di Rembang, Paket Sembako Rp 83 Ribu Dijual Rp 60 Ribu

Lingkar.co – Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang menggelar Gerakan Pangan Murah di halaman parkir kantor dinas tersebut, Kamis (20/3/2025). Sebanyak 300 paket sembako yang terdiri atas beras, minyak goreng, telur, dan gula dijual dengan harga Rp 60 ribu dari harga normal Rp 83 ribu.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dintanpan Kabupaten Rembang, Dyah Ajeng Trenggonowati, mengatakan kegiatan ini rutin dilakukan menjelang Hari Raya Idulfitri untuk membantu masyarakat mendapatkan bahan pokok dengan harga lebih murah.

“Kami menyediakan 300 paket sembako berisi beras 2,5 kg, minyak goreng 1 liter, telur 0,5 kg, dan gula 1 kg. Setiap paketnya mendapat subsidi Rp 23 ribu,” ujarnya.

Bagi masyarakat yang tidak memiliki kupon untuk membeli paket sembako, tetap bisa mendapatkan bahan pangan lain dengan harga lebih murah dibanding harga pasaran. Misalnya, beras premium 1 kg dijual Rp 14.400 dari harga pasar Rp 15 ribu, cabai Rp 6 ribu per 1/4 kg dari harga pasar Rp 8 ribu–9 ribu, bawang putih Rp 9 ribu per 1/4 kg dari harga pasar Rp 10 ribu, serta bawang merah Rp 40 ribu per kg dari harga pasar Rp 45 ribu.

“Kami juga menjual produk pertanian segar seperti sayuran, buah-buahan, serta beras dan telur dengan harga lebih rendah dari harga pasar, karena langsung didapat dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), peternak, dan petani,” tambahnya.

Salah satu warga, Jumilah, mengaku memanfaatkan kesempatan ini untuk berbelanja kebutuhan dapur dengan harga lebih murah.

“Saya beli paket sembako Rp 60 ribu, isinya beras, telur, minyak, dan gula. Murah. Saya juga beli beras dan sayur-sayuran di luar paketannya. Lumayan membantu,” ujarnya.

Sebelumnya, Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Rembang juga telah menggelar pasar murah pada Rabu (19/3/2025). (*)

Penulis: Miftah

Jaga Harga Panen, Pemerintah Langsung Serap Gabah dari Petani

Lingkar.co – Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas harga gabah di musim panen melalui program Serap Gabah (SERGAB). Program ini melibatkan Bulog, Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, serta Kodim, yang siap membeli gabah langsung dari petani guna mencegah anjloknya harga.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dintanpan Kabupaten Rembang, Fajar Riza Dwi Sasongko, menyatakan bahwa program ini merupakan inisiatif Presiden RI Prabowo untuk memastikan harga gabah tetap stabil dan meningkatkan kesejahteraan petani.

“Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) bersama Babinsa yang memiliki banyak personel serta informasi luas berperan aktif membantu Bulog dalam pelaksanaan program SERGAB. Ini sangat membantu di tengah keterbatasan personel yang dimiliki Bulog,” jelas Fajar, Kamis (13/3/2025).

Menurutnya, PPL bertugas menginformasikan lokasi panen dan harga jual gabah di lapangan. Jika harga gabah berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp6.500 per kilogram, petani bisa menjualnya langsung. Namun, jika harga berada di bawah HPP, PPL wajib segera melaporkan ke Bulog agar gabah dapat diserap dengan harga yang sesuai.

“Gabah yang akan dibeli Bulog sudah siap angkut, dikemas dalam karung, dan diletakkan di pinggir jalan. Bulog datang dengan armadanya dan langsung melakukan pembayaran sesuai HPP,” terangnya.

Berdasarkan data Dintanpan Rembang, hingga Kamis ini, serapan gabah telah mencapai 494,08 ton. Target serapan gabah kering panen dari Februari hingga akhir Maret ditetapkan 1.728 ton. (*)

Penulis: Miftah

Dintanpan Rembang Targetkan Serapan Pupuk Subsidi Tahun Ini Capai 100 Persen

Lingkar.co – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang menargetkan serapan pupuk bersubsidi dapat mencapai 100 persen pada tahun 2025.

Kepala Dintanpan Rembang Agus Iwan menyampaikan bahwa alokasi pupuk bersubsidi untuk 2025 masih relatif sama dengan tahun sebelumnya. Pada tahun ini Rembang mendapatkan alokasi pupuk urea sekitar 28 ribu ton dan pupuk NPK sekitar 30 ribu ton.

“Pupuk sudah bisa langsung transaksi. Alokasinya itu urea sekitar 28 ribu ton, untuk NPK-nya 30 ribu ton,” ujarnya, Rabu (5/1/2025).

Jika dibandingkan dengan 2024, katanya, jumlah alokasi pupuk NPK tidak mengalami perubahan. Sementara itu, alokasi pupuk urea sedikit berkurang dari 30 ribu ton menjadi 28 ribu ton.

“Relatif sama angkanya. Tidak meningkat. Untuk urea sedikit turun dari 30 ribu ton ke 28 ribu ton. Untuk NPK-nya sama,” ujarnya.

Namun, ia mengatakan bahwa serapan pupuk pada 2024 belum mencapai 100 persen. Hal ini akibat minimnya ketersediaan air saat musim kemarau, sehingga berdampak pada penurunan minat tanam.

Ia menyebutkan pada tahun lalu serapan pupuk urea hanya mencapai sekitar 86 persen. Sementara pupuk NPK terserap sekitar 94 persen.

“Serapan 2024, urea hanya terserap sekitar 86 persen, NPK-nya sekitar 94 persen,” ungkap Agus.

Pihaknya pun optimis serapan pupuk subsidi pada tahun ini lebih maksimal. Mengingat ketersediaan air untuk mengairi lahan mencukupi. Sejumlah bantuan sumur pun, katanya, telah diberikan kepada petani guna mendukung ketersediaan air.

“Otomatis ketika air tersedia, tanam bagus, pupuk akan terserap. Nanti kami akan MT2, kemarin sudah banyak bantuan sumur dan sebagainya. Semoga airnya tersedia sehingga minat tanamnya meningkat,” pungkasnya. (*)

Penulis: Miftah

Atasi PMK di Rembang, 250 Dosis Vaksin Siap Didistribusikan

Lingkar.co – Pemerintah telah mengalokasikan 4 juta dosis vaksin untuk menangani Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang kembali merebak. Sementara itu, Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang saat ini masih menunggu petunjuk lebih lanjut dari pemerintah pusat, terutama terkait biaya operasional vaksinasi.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, Jumat (10/1/2025).

Agus Iwab menjelaskan bahwa saat ini tersedia 250 dosis vaksin. Vaksin tersebut akan diberikan kepada sapi yang dalam kondisi sehat.

“Kami akan memilih wilayah-wilayah yang masih bebas PMK atau kandang-kandang kelompok ternak skala besar yang dipastikan sehat,” ujar Agus.

Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan Dintanpan Rembang, Lulu Rofiana, menambahkan bahwa untuk pelaksanaan vaksinasi, pihaknya masih menunggu informasi lebih lanjut dari pemerintah pusat, terutama terkait biaya operasional.

“Kemarin, yang dipertanyakan ke pusat adalah soal biaya operasional (BOP). Ini masih dibahas, apakah BOP akan disubsidi oleh provinsi atau dari sumber lain,” jelas Lulu.

Pada Selasa, 9 Januari 2025, Dintanpan Rembang melakukan pengecekan kesehatan sapi di Pasar Hewan Pamotan. Hasilnya, ditemukan satu ekor sapi yang terindikasi terjangkit PMK.

Berdasarkan data per 10 Januari 2025, sebanyak 65 ekor sapi di Kabupaten Rembang telah terpapar PMK, dengan empat ekor sapi dilaporkan mati akibat penyakit tersebut. (*)

Penulis: Miftah

Kasus PMK Merebak, Dintanpan Cek Kesehatan Sapi di Pasar Hewan

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) melakukan pengecekan kesehatan sapi di Pasar Hewan Pamotan, Selasa (7/1/2025). Langkah ini merupakan respons atas temuan kasus baru Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Tim yang terdiri dari dokter dan mantri hewan memeriksa suhu tubuh sapi-sapi yang diperdagangkan. Selain itu, mereka juga mengamati kondisi mulut dan kuku sapi untuk mendeteksi gejala PMK.

Dari hasil pemeriksaan, ditemukan seekor sapi muda dengan suhu tubuh 39,5 derajat Celsius yang menunjukkan gejala PMK, seperti sariawan di lidah dan luka di kuku. Sapi tersebut langsung dipisahkan dan dibawa keluar dari pasar guna mencegah penularan lebih lanjut.

Kepala Dintanpan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, menjelaskan bahwa pihaknya segera melakukan kajian untuk menentukan kebijakan yang tepat. Ada dua alternatif yang sedang dipertimbangkan.

“Alternatif pertama, pasar hewan tetap dibuka dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) yang lebih ketat, termasuk pemeriksaan awal sebelum masuk pasar. Alternatif kedua, penutupan total beberapa waktu ke depan. Kita akan mempertimbangkan banyak aspek, namun yang utama adalah menjaga kondisi ternak tetap sehat,” ungkap Agus.

Agus menambahkan, Dintanpan akan segera membentuk tim khusus di perbatasan timur dan barat Kabupaten Rembang. Tim ini bertugas memeriksa kesehatan sapi dari luar daerah sebelum masuk ke pasar hewan.

“Kendaraan yang membawa hewan ternak harus melewati pos pengecekan dan dipastikan semua hewan sehat. Jika ditemukan sapi yang terindikasi PMK, kendaraan tersebut akan diminta putar balik,” tegasnya.

Selain itu, Dintanpan akan meningkatkan sosialisasi kepada pedagang dan masyarakat agar tidak menjual atau membeli sapi yang menunjukkan gejala PMK.

Sapi yang terpapar PMK akan dipisahkan dari yang lain dan segera mendapatkan penanganan medis dengan harapan dapat sembuh.

Berdasarkan data sebelumnya dari Dintanpan, terdapat 37 kasus PMK di Kabupaten Rembang, dengan empat ekor sapi di antaranya dilaporkan mati. (*)

Penulis: Miftah

Puluhan Sapi di Rembang Terpapar PMK

Lingkar.co – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi kembali merebak di beberapa daerah. Di Kabupaten Rembang, tercatat 37 sapi terpapar, dengan empat di antaranya mati.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, menyatakan bahwa meskipun kasus ini kembali muncul, masyarakat tidak panik seperti saat PMK pertama kali merebak pada tahun 2022. Dintanpan telah menyiapkan beberapa langkah penanganan untuk mengatasi situasi ini.

“Kami akan melakukan pengecekan lalu lintas hewan di pasar hewan. Selain itu, kami membentuk tim reaksi cepat untuk penanganan di lapangan dan berkoordinasi dengan instansi lain untuk sosialisasi serta meningkatkan kesadaran peternak agar dapat melakukan penanganan dini terkait PMK,” ungkapnya, kemarin.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan penutupan pasar hewan, Agus menegaskan bahwa hal tersebut memerlukan kajian terlebih dahulu berdasarkan hasil pengecekan di lapangan. Penutupan pasar hewan, menurutnya, merupakan kewenangan Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM. Dintanpan hanya berperan memberikan usulan atau rekomendasi.

“Jika potensi penularan PMK menunjukkan angka yang tinggi, dan ditemukan indikasi sapi terpapar PMK dijual di pasar, maka itu menjadi alasan kuat untuk sementara waktu menutup pasar guna mengurangi risiko penularan,” tambahnya.

Di sisi lain, salah satu peternak sekaligus pedagang sapi, Tono, mengaku lebih tenang dalam menghadapi wabah PMK kali ini. Menurutnya, pengalaman sebelumnya menjadi pelajaran penting untuk menangani kasus ini secara lebih efektif.

“Secepatnya harus mengatasi dan menangani sapi yang terpapar secara cepat dan tepat, sehingga penanganannya lebih mudah. Dulu kami menangani banyak sapi yang terkena PMK, sekarang baru lima yang terpapar, sembuh empat, dan satu yang tidak sembuh terpaksa dipotong. Kami juga menggunakan obat kimia,” jelas Tono.

Langkah-langkah cepat dan tepat dari pemerintah serta kesadaran peternak diharapkan mampu menekan angka penularan PMK di Kabupaten Rembang. 

Penulis: Miftah