Arsip Tag: Dorong Kesetaraan Gender

Latihan Kader Dasar Fatayat NU Banyumas Tekankan Pentingnya Kesetaraan Gender

Lingkar.co – Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Banyumas menekankan pentingnya kesetaraan gender dalam Latihan Kader Dasar (LKD) yang digelar Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Kecamatan Ajibarang di MTs Ma’arif NU 01 Ajibarang, Sabtu (27/12/2025).

Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Banyumas, Tati Irawati, menerangkan penguatan peran perempuan serta identifikasi berbagai persoalan sosial yang menghambat produktivitas kader di lapangan.

Pada kesempatan itu, ia memaparkan bahwa pemahaman mengenai gender sering kali bercampur aduk dengan pemahaman mengenai kodrat biologis. Oleh karena itu, dirinya mengingatkan untuk memisahkan antara gender dengan jenis kelamin.

“Gender berbeda dengan jenis kelamin. Anggapan bahwa laki-laki lebih kuat atau lebih rasional dibanding perempuan adalah hasil pandangan sosial, bukan kodrat,” jelasnya.

Tati melanjutkan, kodrat perempuan mencakup fungsi biologis yang tidak dimiliki laki-laki, seperti menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui.

Di luar hal tersebut, Tati menekankan pentingnya akses yang setara bagi perempuan dalam menjalankan peran, fungsi, dan tanggung jawab sosial.

Dalam forum tersebut, ia juga merinci sejumlah tantangan yang sering dihadapi perempuan, di antaranya stereotip, subordinasi, marginalisasi, kekerasan, hingga beban kerja ganda (double burden) baik di ranah privat maupun publik.

“Mari menjadi perempuan yang produktif dan bahagia setiap hari. Jangan menunggu dibahagiakan oleh siapa pun, utamakan kebahagiaan diri sendiri,” kata anggota DPRD Kabupaten Banyumas tersebut di hadapan peserta.

Sementara, Ketua PAC Fatayat NU Kecamatan Ajibarang, Kuwati Ningsih menambahkan, penyampaian materi gender dalam LKD ini merupakan langkah strategis untuk membuka cakrawala berpikir para kader baru. Ia berharap pemahaman ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kehadiran materi ini sangat penting agar kader Fatayat di Ajibarang memiliki kepercayaan diri dan kesadaran akan hak-haknya. Kami ingin kader tidak hanya aktif berorganisasi, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam mewujudkan keluarga dan lingkungan yang saling menghargai peran satu sama lain,” ujarnya.

Sebagai informasi, LKD ini diikuti oleh puluhan anggota baru Fatayat NU dari berbagai ranting atau desa di wilayah Ajibarang. LKD merupakan bagian dari jenjang kaderisasi formal di organisasi pemudi atau para ibu muda kader Nahdlatul Ulama tersebut. (*)

Penulis: Kifayatul Ahyar
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Pemkab Rembang Aktifkan Forum Tripartit dan Dorong Kesetaraan Gender di Rekrutmen Tenaga Kerja

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten Rembang merespons aspirasi serikat pekerja dengan mengaktifkan kembali Lembaga Kerja Sama (LKS) Tripartit dan mendorong kesetaraan gender dalam rekrutmen tenaga kerja di sektor padat karya. Sebagai langkah nyata, Pemkab Rembang menggelar forum Tripartit di sebuah hotel kawasan Pantura, yang menjadi ruang dialog antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja, sesuai harapan para buruh, khususnya dari sektor pabrik.

Bupati Rembang, Harno, menegaskan pentingnya sinergi antara dunia usaha dan tenaga kerja untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. “Pemerintah Kabupaten Rembang sangat menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi tidak akan tercapai tanpa dukungan dunia usaha dan tenaga kerja yang produktif. Karena itu, sinergi tripartit ini harus kita jaga dan tingkatkan,” ujarnya.

Menanggapi aspirasi terkait keseimbangan gender dalam rekrutmen tenaga kerja, Harno mengungkapkan bahwa dirinya telah berkomunikasi langsung dengan sejumlah perusahaan. Salah satu perusahaan, PT Handal Sukses Karya (HSK) di Jape, telah menyepakati komposisi tenaga kerja yang seimbang antara laki-laki dan perempuan, yakni 50:50.

“Setelah serikat pekerja bertemu saya, langsung saya tindaklanjuti. Untuk pabrik sepatu di Jape (PT Handal Sukses Karya) sudah clear, 50:50. Untuk pabrik sepatu PWI (PT Parkland World Indonesia) masih komunikasi,” jelasnya.

Namun, Harno juga menyampaikan bahwa manajemen PT Parkland World Indonesia belum dapat menerapkan komposisi seimbang karena sebagian besar pekerjaan di pabrik tersebut membutuhkan ketelitian tinggi yang dinilai lebih cocok dikerjakan oleh pekerja perempuan.

“Alasannya, pekerjaan yang perlu ketelitian hasilnya lebih baik jika dikerjakan perempuan. Kalau laki-laki katanya agak grusa-grusu. Tapi saya tetap bernegosiasi agar ada peningkatan jumlah pekerja laki-laki,” tambahnya.

Selain itu, Bupati Harno mengingatkan pentingnya kedisiplinan para pekerja yang telah diberikan kesempatan bekerja. Ia menyoroti keluhan dari manajemen PT HSK terkait pelanggaran aturan larangan merokok di lingkungan pabrik.

“Di sana aturannya tidak boleh merokok, tapi akhirnya semua toilet penuh puntung rokok. Saya mohon, kepada Bapak Ibu yang keluarganya bekerja di sana, agar bisa mengurangi merokok. Ini termasuk keluhan serius dari pengusaha,” tegasnya. (*)