Arsip Tag: Nahdlatul Ulama

Pemkab Jadikan PCNU Sukabumi Mitra Strategis Peningkatan Pendidikan Agama dan Ekonomi Umat

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten Sukabumi menjadikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sukabumi sebagai mitra strategis, terutama dalam peningkatan pendidikan keagamaan, pemberdayaan ekonomi umat, serta menjaga keharmonisan sosial.

Bupati Sukabumi Asep Japar menegaskan pentingnya sinergi dengan PCNU dalam mendukung pembangunan daerah yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

“PCNU Kabupaten Sukabumi telah menjadi mitra strategis pemerintah,” kata Asep Japar saat menghadiri kegiatan Halal Bihalal PCNU Kabupaten Sukabumi di Gedung PCNU Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026).

Dirinya menilai, PCNU Kabupaten Sukabumi selama ini telah menjadi mitra strategis pemerintah dalam mengawal visi pembangunan daerah yang maju, unggul, berbudaya, dan berkah atau Sukabumi Mubarakah.

“Kami berharap kolaborasi ini terus diperkuat, khususnya dalam peningkatan kualitas pendidikan keagamaan, pemberdayaan ekonomi umat, dan menjaga keharmonisan sosial di tengah masyarakat,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Asep Japar mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama untuk terus meningkatkan sinergi dan memperkuat kerja bersama demi mewujudkan pembangunan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Saya berharap kita dapat lebih bersinergi dan bekerja lebih keras lagi. Semua itu demi terwujudnya Kabupaten Sukabumi yang Mubarakah,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan sejumlah program yang tengah dilakukan pemerintah daerah, termasuk pembangunan hunian tetap bagi penyintas bencana di wilayah Palabuhanratu.

Upaya tersebut, kata dia, dilakukan sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam mempercepat pemulihan pascabencana.

“Bencana di Sukabumi terus terjadi. Namun kami terus berusaha menyelesaikan permasalahan pascabencana, salah satunya dengan pembangunan hunian tetap. Mudah-mudahan semuanya dapat segera selesai,” tuturnya

Sementara, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Sukabumi E.S. Mubarok menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama terus berupaya hadir dan membumi di tengah masyarakat Sukabumi melalui berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.

“NU membumi di Sukabumi. Semua itu berkat Tiis, yaitu tawakal, ikhlas, istiqomah, dan sabar,” pungkasnya. (*)

Sambut Harlah ke-64, LESBUMI PWNU Jateng Sinergikan Tradisi, Kreativitas, dan Dakwah Moderat

Lingkar.co — Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) genap berusia 64 tahun pada 28 Maret 2026. Momentum ini tidak sekadar penanda usia, tetapi juga refleksi atas perjalanan panjang organisasi dalam merawat, mengembangkan, sekaligus meneguhkan identitas budaya Islam Nusantara yang spiritual, humanis, dan religius.

Ketua Lesbumi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Abdul Gani, menegaskan bahwa sejak awal berdirinya, Lesbumi memiliki peran strategis dalam dinamika kebudayaan nasional. Pada masa awal kelahirannya, LESBUMI hadir sebagai respons terhadap situasi sosial-politik, khususnya dalam menangkal pengaruh budaya dan paham komunisme, dengan mengedepankan nilai-nilai budaya Nusantara yang berakar pada ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

“Perjalanan 64 tahun ini adalah proses panjang yang penuh dinamika dan dialektika sejarah. Ini menjadi momentum bagi LESBUMI untuk terus memperkuat peran dalam menjaga identitas budaya kita,” ujarnya, Sabtu (28/3/2026).

Dalam beberapa tahun terakhir, lanjutnya, LESBUMI Jawa Tengah menunjukkan capaian signifikan, terutama dalam meningkatkan partisipasi masyarakat di bidang seni dan budaya Islam. Berbagai tradisi yang sempat meredup kini kembali dihidupkan, seperti seni terbang Jawa, kaligrafi, pedalangan, hingga pelatihan aksara Jawa di lingkungan pesantren.

Upaya tersebut tidak hanya bertujuan melestarikan budaya, tetapi juga menjadikan seni sebagai media dakwah Islam Aswaja yang moderat dan rahmatan lil ‘alamin. Selain itu, LESBUMI juga mengembangkan berbagai program yang menyasar kalangan pelajar, santri, dan mahasiswa, seperti pelatihan sinematografi, lomba film pendek, hingga festival kaligrafi dan seni Islam.

“Program-program ini kami rancang untuk memperkuat potensi seni budaya generasi muda sekaligus menjadikan mereka bagian dari gerakan kebudayaan,” jelas pemilik Galery Kaligrafi Alif Tingkir Salatiga ini.

Dalam konteks yang lebih luas, LESBUMI berperan aktif menjaga dan mengembangkan tradisi Islam Nusantara melalui berbagai forum intelektual dan kultural. Diskusi, sarasehan, dan halaqah kebudayaan rutin digelar sebagai ruang merumuskan strategi gerakan kebudayaan. Di sisi lain, pagelaran dan festival seni budaya juga terus dilakukan sebagai sarana dakwah yang menyampaikan pesan Islam yang moderat dan toleran.

Lesbumi juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, baik pemerintah, swasta, maupun komunitas seni, guna memperkuat upaya pelestarian warisan budaya Nusantara.

Meski demikian, Abdul Gani mengakui bahwa tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah bagaimana merangkul generasi muda yang cenderung lebih dekat dengan budaya digital dan tren kekinian. Oleh karena itu, LESBUMI terus beradaptasi dengan menghadirkan berbagai program yang relevan dengan minat generasi muda.

Beberapa di antaranya adalah pelatihan konten kreator, pengembangan sinematografi, festival musik band pelajar, hingga kegiatan kreatif seperti cosplay busana Nusantara. Melalui pendekatan ini, LESBUMI berharap mampu menjembatani tradisi dengan inovasi.

“Perkembangan seni digital dan budaya populer kami sikapi secara positif. Ini adalah peluang besar untuk mempromosikan budaya Islam Nusantara sekaligus menjangkau audiens yang lebih luas,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Lesbumi juga mendorong kolaborasi antara seniman tradisional dan kreator muda melalui berbagai program lintas sektor. Kolaborasi ini melibatkan internal NU, pemerintah, swasta, hingga komunitas kreatif, termasuk pelatihan sinematografi dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) bagi kalangan santri.

Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi kunci dalam melahirkan karya-karya seni yang inovatif, relevan dengan perkembangan zaman, namun tetap berakar pada nilai-nilai budaya dan keislaman.

Pada momentum Harlah ke-64 ini, Abdul Gani juga menyampaikan pesan khusus kepada para seniman muda Nahdlatul Ulama agar terus berkarya dan tidak melupakan jati diri budaya serta nilai-nilai Islam.

“Teruslah berkarya dan jadilah generasi yang membawa perubahan positif. Seni dan budaya harus menjadi media dakwah Islam yang ramah, moderat, dan rahmatan lil alamin,” pesannya.

Ia menambahkan, sebagai bagian dari LESBUMI, para seniman dan aktivis budaya NU harus senantiasa mengingat visi besar organisasi, yakni menjadikan seni dan budaya sebagai sarana membentuk manusia yang utuh—berdimensi spiritual, berperadaban, dan berakhlakul karimah.

Dengan semangat tersebut, LESBUMI diharapkan mampu terus menghidupkan tradisi bangsa sekaligus menggerakkan peradaban umat menuju Indonesia yang bermartabat, makmur, dan mulia. (*)

Serukan Idulfitri Penuh Makna, Ketua PWNU Jateng Utamakan Persaudaraan

Lingkar.co — Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin, menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah kepada seluruh umat Islam, khususnya warga Nahdliyin di Jawa Tengah.

Hal itu disampaikan Gus Rozin saat di Kantor PWNU Jateng, Jalan dr Cipto Nomor 180 Semarang, Jumat (20/3/2026). Dalam keterangannya, ia mengajak umat Islam menjadikan Idulfitri sebagai momentum kembali kepada kesucian serta mempererat persaudaraan.

“Ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin, taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya karim. Kami juga memohon maaf lahir dan batin, semoga Allah menerima amal ibadah kita serta mengampuni segala khilaf,” ujar Gus Rozin.

Ia menuturkan, bulan Ramadan yang telah dilalui memberikan banyak pelajaran penting, mulai dari kesabaran, keikhlasan, hingga pengendalian diri dan peningkatan ketakwaan kepada Allah SWT.

Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Momentum Idulfitri, kata dia, hendaknya dimanfaatkan untuk mensucikan hati, mempererat silaturahmi, serta memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah.

Lebih lanjut, Gus Rozin menekankan pentingnya kepedulian sosial di tengah berbagai tantangan yang dihadapi umat. Ia mengingatkan bahwa kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas menjadi kunci dalam menghadapi berbagai persoalan.

“Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Diperlukan sinergi, kebersamaan, dan solidaritas yang kuat. Mari kita saling tolong-menolong dan membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan,” tegasnya.

Ia juga mengimbau agar Idulfitri dirayakan dengan penuh kesederhanaan, tanpa berlebihan. Menurutnya, esensi perayaan bukan terletak pada kemewahan, melainkan pada kembalinya manusia kepada fitrah.

“Rayakan Idulfitri secara substantif, dengan kesederhanaan, memperkuat silaturahmi, dan mensyukuri apa yang kita miliki,” tambahnya.

Mengakhiri pesannya, Gus Rozin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus berikhtiar menghadirkan kebaikan bersama serta senantiasa memohon pertolongan dan keberkahan dari Allah SWT.

“Semoga Allah senantiasa memperkuat persaudaraan dan persatuan kita semua sebagai anak bangsa,” pungkasnya.

Rutin Sejak 2017, Keluarga Besar NU Desa Sidorejo Beri Santunan Anak Yatim Piatu di Bulan Ramadan

Lingkar.co – Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU) Desa Sidorejo, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang Jawa Tengah memiliki kegiatan sosial rutin di bulan Ramadan. Yakni santunan bagi anak yatim dan piatu di desa tersebut.

Kegiatan yang telah menjadi tradisi setiap bulan Ramadan ini disambut dengan antusias oleh masyarakat serta para penerima santunan. Acara digelar di Aula Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Desa Sidorejo.

Ketua Pelaksana Santunan dan Buka Bersama Desa Sidorejo, Indaka Nurul Khasin, menjelaskan bahwa kegiatan tahun ini merupakan pelaksanaan yang ke-10 sejak pertama kali diselenggarakan pada 2017.

Ia menyebutkan, jumlah anak yatim dan piatu yang menerima santunan sebanyak 25 anak. Masing-masing anak memperoleh uang santunan sebesar Rp1.160.000 serta bingkisan senilai Rp162.320.

“Total dana yang berhasil dihimpun pada tahun ini mencapai Rp33.333.000 yang berasal dari warga Desa Sidorejo dan masyarakat umum melalui donasi langsung maupun media sosial,” ujarnya, Senin (16/3/2026)

Indaka juga menyampaikan terima kasih kepada para donatur, panitia, serta semua pihak yang telah membantu sehingga kegiatan santunan tersebut dapat berjalan dengan lancar.

Ia turut mengapresiasi rekan-rekan media yang telah membantu meliput serta menyebarluaskan informasi kegiatan kepada masyarakat.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Sidorejo, Fatkhuddin, berharap kegiatan santunan ini dapat terus berlangsung pada tahun-tahun mendatang dan membawa keberkahan bagi semua pihak.

“Alhamdulillah kegiatan santunan ini dapat terlaksana dengan baik dan penuh kebersamaan. Kami bersyukur banyak pihak yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini,” ungkapnya.

Ia juga berharap kegiatan tersebut semakin menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap anak-anak yatim dan piatu di Desa Sidorejo.

Penulis: Shella Trina

Insantara Rilis 14 Figur Potensial Calon Ketum PBNU, Ada Cak Imin hingga Gus Rozin

Lingkar.co – Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) merilis 14 nama yang dinilai berpeluang maju sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada Juli atau Agustus 2026.

Peneliti Insantara, Wildan Efendy, saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (24/2/2026), menjelaskan bahwa pemetaan tersebut disusun berdasarkan tiga indikator utama, yakni tingkat popularitas figur, rekam jejak kepemimpinan, serta hasil wawancara mendalam dengan jajaran pengurus dan warga NU di berbagai tingkatan.

“Nama-nama ini kami identifikasi melalui kombinasi survei popularitas, penelusuran rekam jejak, serta wawancara dengan pengurus dan warga NU,” ujar Wildan.

Dari hasil kajian itu, Insantara mengelompokkan 14 nama ke dalam empat klaster. Dua di antaranya merupakan figur petahana dan tokoh politik nasional, yakni Ketua Umum PBNU saat ini, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, serta Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat yang juga Ketua Umum DPP PKB, Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin.

Klaster pertama berasal dari internal PBNU, meliputi Gus Yahya, Mohammad Nuh, Syaifullah Yusuf, dan Zulfa Mustofa.
Klaster kedua merupakan figur dari jajaran Pengurus Wilayah NU (PWNU), yakni Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), Abdul Hakim Mahfudz, dan Juhadi Muhammad.

Selanjutnya, klaster tokoh NU dan pesantren mencakup Imam Jazuli, Abdussalam Shohib, Yusuf Chudlori, serta Marzuqi Mustamar.

Adapun klaster terakhir berasal dari kalangan politik dan pemerintahan. Selain Cak Imin, terdapat nama Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid dan Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Wildan menambahkan, dinamika menjelang Muktamar ke-35 menunjukkan adanya dorongan kuat dari pengurus wilayah, cabang, hingga warga kultural NU untuk menghadirkan kepemimpinan baru di tubuh organisasi tersebut.

“Desakan transisi kepemimpinan PBNU yang sangat kuat dari PWNU, PCNU, dan aspirasi warga NU menjadi salah satu indikator keinginan besar lahirnya nakhoda baru di tubuh PBNU,” katanya.

Sebagaimana diketahui, rapat pleno PBNU sebelumnya telah menetapkan Muktamar ke-35 NU akan digelar pada pertengahan tahun 2026. (*)

Gandeng Pemerintah, Lembaga Perekonomian NU Jawa Tengah Gelar Bimtek Pemberdayaan Koperasi Pesantren

Lingkar.co — Lembaga Perekonomian Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LP PWNU) Jawa Tengah bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (Dinkop UKM) menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pemberdayaan Koperasi Pondok Pesantren sebagai Pendidikan Sosial dan Ekonomi Santri.

Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari, Selasa–Rabu (10–11/2026), bertempat di PPTI Al Falah, Jl Bima, Grogol, Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari perjanjian kerjasama antara LP PWNU Jateng dengan Pemprov Jateng tentang peningkatan pembangunan keumatan bidang perekonomian.

Bimtek diikuti oleh 18 koperasi pondok pesantren (kopontren) dari wilayah Salatiga dan sekitarnya, dengan tujuan memperkuat kapasitas SDM pesantren dalam pengelolaan usaha produktif berbasis potensi lokal.

Program ini dirancang dengan sistem zonasi dan akan dilaksanakan secara bertahap di berbagai wilayah lain di Jawa Tengah hingga pada akhirnya menjangkau seluruh kabupaten/kota se-Jateng.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi pengantar serta pembukaan resmi oleh Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah. Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan materi dari anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah oleh Yusuf Hidayat, dengan tema Kebijakan Pemerintah Provinsi dalam Mendukung Pemberdayaan Koperasi Pondok Pesantren di Jawa Tengah.

Dalam sambutannya, Judi Budiman, mewakili Ketua LP PWNU Jawa Tengah, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas terjalinnya kolaborasi yang baik antara LPNU dan Dinkop UKM Provinsi Jawa Tengah.

Ia menegaskan bahwa kemandirian ekonomi pondok pesantren perlu terus diperkuat melalui program-program yang sistematis, terukur, serta memiliki kejelasan input dan output.

“Hal ini sejalan dengan salah satu program strategis LPNU PWNU Jawa Tengah dalam pemberdayaan ekonomi umat,” ujarnya.

Pada hari pertama, Selasa (10/2), peserta mendapatkan materi tentang Peningkatan Kapasitas Kompetensi SDM Kopontren dalam Budidaya Ikan Lele yang Produktif, Efisien, dan Berkelanjutan yang disampaikan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP).

Selanjutnya, PT Matahari Sakti memaparkan materi lanjutan meliputi manajemen pakan, pengelolaan kesehatan ikan, inovasi dan teknologi budidaya, serta strategi pemasaran hasil budidaya.

Sementara itu, pada hari kedua, Rabu (11/2), materi disampaikan oleh LDP Gema Nusantara yang meliputi pengenalan budidaya ikan lele, persiapan sarana dan prasarana, pemilihan dan penanganan benih, manajemen usaha budidaya, teknik pembesaran lele, hingga panen dan pascapanen.

Melalui kegiatan ini, LP PWNU Jawa Tengah berharap koperasi pondok pesantren mampu meningkatkan kapasitas pengelolaan usaha secara profesional dan berkelanjutan, sehingga dapat menjadi pilar kemandirian ekonomi pesantren sekaligus sarana pendidikan sosial dan ekonomi bagi para santri di seluruh Jawa Tengah. (*)

Gus Rozin: Refleksi 1 Abad NU, Jejak Khidmah yang Terus Hidup dari Masa ke Masa

Lingkar.co — Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin, menegaskan refleksi peringatan 100 tahun NU bukanlah sekadar penanda usia organisasi, melainkan refleksi atas jejak panjang pengabdian yang terus hidup dan tumbuh di tengah masyarakat.

Menurut dia, satu abad NU adalah perjalanan spiritual, sosial, dan kebangsaan yang tidak pernah berhenti berkhidmah dari masa ke masa. Karena itu, ia mengajak seluruh warga NU (Nahdliyin) untuk menundukkan hati, memperbanyak doa, serta menghadirkan rasa syukur yang sedalam-dalamnya kepada Allah SWT.

“Seratus tahun bukanlah perjalanan waktu. Ia adalah jejak panjang pengabdian dan khidmah yang terus hidup di tengah umat. Pada usia satu abad NU ini, marilah kita tundukkan hati, senantiasa berdoa, dan menghadirkan rasa syukur atas nikmat istiqamah, persatuan, dan keberlangsungan yang Allah berikan kepada NU,” ujar Gus Rozin dalam keterangan tertulisnya. Sabtu (31/1/2026).

Ia menegaskan, NU Jawa Tengah hadir bukan hanya sebagai organisasi formal, melainkan sebagai gerakan sosial-keagamaan yang tumbuh bersama masyarakat. NU hidup di tengah umat, menjaga agama, merawat tradisi, sekaligus memperkuat sendi-sendi kebangsaan.

Dalam bidang keilmuan, pesantren-pesantren NU disebutnya sebagai penjaga mata rantai keilmuan Islam Nusantara. Di sana, tradisi keilmuan dirawat dengan penuh kesungguhan, disertai kegembiraan dan kecintaan terhadap ajaran Islam yang moderat dan ramah.

Sementara di sekolah dan madrasah, NU menanamkan nilai-nilai ilmu pengetahuan, akhlak, serta cinta tanah air kepada generasi muda sebagai bekal membangun masa depan bangsa.

Gus Rozin juga menyoroti peran NU dalam situasi krisis. Menurutnya, dalam setiap bencana dan krisis kemanusiaan yang sering melanda, khususnya di Jawa Tengah, NU selalu hadir tanpa jarak.

“NU ada di barisan pertama, bergerak cepat untuk menolong masyarakat yang terdampak. Ini adalah wujud nyata dari khidmah NU kepada umat,” katanya.

Dalam bidang sosial dan ekonomi, termasuk ketahanan keluarga dan pangan, NU bekerja dengan hati, aksi, dan tanggung jawab. Seluruh unsur jam’iyah bergerak dalam satu napas pengabdian.

Ia menjelaskan, lembaga-lembaga NU menjalankan mandat sesuai bidang keahliannya, sementara badan otonom menjadi motor kaderisasi sekaligus kekuatan sosial umat yang terus bergerak di tengah masyarakat.

“Seratus tahun telah kita lalui dengan penuh syukur. Insyaallah, dengan rasa syukur itulah NU Jawa Tengah akan terus melangkah ke depan, mengabdi untuk umat, berkhidmah untuk bangsa, serta ikut menyiapkan masa depan Indonesia yang damai, adil, dan bermartabat,” tegasnya.

Di akhir pesannya, Gus Rozin mengajak seluruh warga NU untuk merawat jam’iyah ini di abad kedua dengan penuh kecintaan dan kasih sayang.

“Mari kita rawat NU dengan rukun dalam kebersamaan, bersatu dalam ikatan jiwa dan raga. Mari senantiasa hadir, berkhidmah, dan bertumbuh bersama NU,” pungkasnya. (*)

MWCNU Ungaran Timur; Peringatan 1 Abad Nahdlatul Ulama Tegaskan Untuk Kemakmuran Indonesia

Lingkar.co – Ketua Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Ungaran Timur, Sokhis menyatakan bahwa peringatan usia 1 abad NU menegaskan bahwa organisasi yang lahir pada 1926 Masehi ini untuk kemakmuran Indonesia.

“Sejak 1926 sampai dengan saat ini NU selalu menegaskan NKRI harga mati. Intinya kegiatan ini kita mengenang dan meneladani para muassis dan masyayikh NU bahwa merupakan pengawal atau penjaga keutuhan bangsa dan negara ini,” ujarnya seusai kegiatan, Jumat (30/1/2026).

Peringatan Hari Lahir (Harlah) NU yang digelar di halaman MWCNU Kecamatan Ungaran Timur pada malam ini, lanjutnya, memperkuat perpaduan antara struktural NU dengan kultural yang selama ini terjalin dalam kegiatan selapanan rutin di MWCNU maupun Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kelurahan/Desa.

Dijelaskannya, NU di Ungaran Timur memiliki kegiatan rutin Lailatul Ijtima di PRNU dan Naharul Ijtima’ di MWCNU. Selain itu, ada sejumlah kegiatan sosial yang rutin dilaksanakan setiap tahun, menyesuaikan dengan agenda keagamaan seperti santunan anak yatim pada bulan Muharram.

“Kita ada santunan anak yatim, ada juga santunan untuk janda yang lansia, dan sebagainya,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga memobilisasi Banser Tanggap Bencana (Bagana) dalam membantu korban terdampak bencana di Jawa Tengah.

“Kita menyalurkan bantuan sembako, perlengkapan salat, uang dan sebagainya. Kemudian Bagana juga ikut berpartisipasi kita ngirim di Pemalang, terus Banjarnegara,” urainya.

Untuk itu Sokhis berharap agar masjid yang sudah mulai berdiri agar bisa digunakan untuk kepentingan keumatan. Ia menyebut sudah meminta restu dari para sesepuh NU Ungaran Timur untuk melakukan peresmian dengan pengajian yang menghadirkan Gus Iqdam.

Lebih jauh ia mengungkapkan, nama Masjid Nurul Hadi Al-Hasyimi merupakan pemberian dari KH Ahmad Munif Girikusumo (Mbah Munif) yang menyarankan agar rencana pembangunan musala diganti dengan masjid yang lebih besar dan bisa digunakan untuk i’tikaf.

“Insya Allah nanti peresmian masjid akan mengundang Gus Iqdam sama Mbah Yai Munif Girikusumo karena nama Masjid Nurul Hadi Al-Hasyimi ini pemberian beliau,” jelasnya.

Ketua Panitia Peringatan Harlah NU, Junaidi Ahmad Sani menerangkan, ada beberapa rangkaian kegiatan dalam peringatan 1 Abad NU di Ungaran Timur. Yakni; doa bersama untuk para pendiri dan pejuang NU di Ungaran Timur, gema shalawat, khaul akbar, dan dan doa untuk keselamatan bangsa.

Menurut Junaidi, NU memiliki potensi yang cukup besar jika dikelola dengan baik. Hal itu salah satunya terbukti dengan kegiatan yang direncanakan dalam waktu 14 hari ini bisa berjalan dengan baik dan dihadiri hampir 1.000 orang jamaah.

“Secara efektif kepanitiaan ini dibentuk dan langsung bekerja dalam dua minggu, ” ungkapnya.

Ia berharap nantinya para pengurus NU, badan otonom dan semua warga NU bisa lebih solid dan kompak saling membantu.

“Kami harapkan semua warga NU untuk merangkul semua kalangan karena Islam ala NU itu rahmatan lil-a’alamin (Memberi rahmah bagi seluruh alam). Kami, MWCNU Ungaran Timur ingin menjaga suasana yang kondusif untuk bangsa negara,” tuturnya. (*)

Atraksi Grup Marching Band, Pendekar Silat dan Relawan Bencana Bakal Meriahkan Apel Kemanusiaan 100 Tahun NU

Lingkar.co – Grup Marching Band SMK Nusantara dan Ansor Batang dan Fatayat NU Kabupaten Kendal akan memeriahkan kegiatan Apel Kemanusiaan peringatan 100 tahun atau 1 abad NU di alun-alun Kabupaten Batang, Ahad (1/2/2026) besok.

Koordinator agenda kegiatan Pra Apel Kemanusiaan PWNU Jateng Muhammad Puji Wibowo mengatakan, rangkaian kegiatan pra apel berupa beberapa atraksi, diantaranya penampilan tiga grup marching band dari Batang dan Kendal.

“Tiga grup marching band itu adalah Ansor Glagar Wisanggeni (PC GP Ansor Batang), Gita Jala Nusantara (SMK Nusantara Batang) dan Garfa Nada Kendal (PC Fatayat NU Kendal),” kata Puji Wibowo usai rapat persiapan peringatan Harlah Se-abad NU yang diselenggarakan PWNU Jateng di Semarang, Jum’at (30/1/2026)

Menurutnya, agenda pra apel dijadwalkan akan dimulai pukul 12.00 sampai dengan pukul 14.30. Selain marching band juga akan digelar atraksi kemampuan bela diri pencak silat oleh para pendekar pencak silat NU cabang Batang.

Dia menambahkan, selain itu para relawan NU Peduli Kabupaten Batang bersama Banser Tanggap Bencana (Bagana) Kabupaten Batang akan mendemonstrasikan praktek atau simulasi evakuasi pertolongan korban bencana.

Setelah itu, ujarnya, dilanjutkan agenda utama harlah seabad NU yakni apel kemanusiaan dan istighotsah kubro yang dilaksanakan di ruas jalan veteran yang menghubungkan alun-alun dan pendopo kabupaten Batang.

Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Jam’iyyatul Qurra wal Huffadz (JQH) NU Jateng Prof KH Ali Imron, Al Hafidz yang mengkoordinir kegiatan istighotsah mengatakan rangkaian istighotsah akan diawali dengan khotmil Qur’an.

“Setelah itu, wakil ketua PW JQHNU Jateng, KH Ahmad Baduhun Badawi akan memimpin istighotsah, naskah bacaan doa istighotsah dibagikan kepada jama’ah ketika memasuki arena istighotsah,” kata Prof Ali Imron.

Sekretaris Panitia Peringatan Harlah Se-abad NU PWNU Jateng, Wahidin Said mengatakan persiapan pelaksanaan kegiatan apel kemanusiaan dan istighotsah kubro dengan rangkaian kegiatan pendukungnya berjalan lancar.

“Dalam kegiatan istighotsah kubro Ahad malam besok , bupati Batang M. Faiz Kurniawan akan meluncurkan Program Perlindungan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan dan Jaminan Hari Tua untuk guru-guru madrasah diniyah dan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ) Kabupaten Batang,” kata Wahidin. (*/

Peringatan 100 Tahun NU di Batang Buka Layanan Kesehatan, Konsultasi Hukum dan Wakaf

Lingkar.co – Panitia Peringatan Hari Lahir (Harlah) 100 tahun Nahdlatul Ulama (NU) akan membuka Posko Layanan Kesehatan, Konsultasi Hukum dan Wakaf selama berlangsungnya agenda Apel Kemanusiaan di alun-alun Kabupaten Batang, Ahad (1/2/2026) mendatang.

Sekretaris Panitia Harlah Se-abad NU (menurut perhitungan kalender tahun Masehi) PWNU Jateng Wahidin Said mengatakan posko layanan akan dibuka di rumah dinas Bupati Batang. Warga masyarakat yang berminat memanfaatkan layanan itu busa langsung datang dinlokasi posko dan tidak ditarik biaya alias gratis.

“Ada lima macam layanan yang kami siapkan, meliputi layanan kesehatan umum , layanan kesehatan oleh dokter spesialis, donor darah, konsultasi masalah hukum dan konsultasi tentang wakaf dan pertanahan, ” kata Wahidin di Semarang, Rabu (28/1/2026)

Menurutnya, dalam merealisasikan kegiatan layanan masyarakat ini panitia menalin kerjasama dengan beberapa mitra yakni Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, RSJD Amino Gondo Utomo Semarang dan Palang Merah Indonesia Kabupaten Batang.

Selain itu, lanjutnya, juga memaksimalkan perangkat organisasi atau lembaga di internal NU, yakni Lembaga Pelayanan dan Bantuan Hukum (LPBH) PWNU Jateng dan Lembaga Wakaf dan Pertanahan (LWP) PCNU Kabupaten Batang.

Dia menambahkan, waktu pelayanan akan dimulai pukul 12.00 hingga selesainya apel kemanusiaan. Agar proses layanan nanti bisa berjalan lancar saat ini sedang dimatangkan koordinasi teknis antara panitia PWNU Jateng dengan pantia daerah dan mitra kerjasama.

Setelah apel kemanusiaan, ujarnya panitia harlah seabad NU langsung menyiapkan pelaksanaan istighotsah yang dijadwalkan akan berlangsung setelah sholat Isyak.Wakil Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Jam’iyyatul Qurra wal Huffadz (JQH) NU Jateng, KH Ahmad Baduhun Badawi akan memimpin jalannya istighotsah.

Sebelum istighotsah akan diawali dengan ngaji bandongan yang dipimpn rais syuriyah PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh, kitab yang akan dibaca adalah Aisyul Bahr, kontennya membahas tentang kehidupan hewan – hewan yang ada di laut.

“Jama’ah yang akan mengikuti istighotsah akan mendapatkan buku yang berisi bacaan istighotsah dan kopi naskah bagian kitab Aisyul Bahr yang akan dibaca kiai Ubaid,” tuturnya. (*)