Arsip Tag: Bencana Semarang

Pemkot Semarang Segera Lakukan Perbaikan Rumah Terdampak Puting Beliung Melalui Program RTLH

Lingkar.co – Usai meninjau langsung kondisi rumah warga yang terdampak bencana angin puting beliung di RT 5 RW 3 Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik, Wali kota Semarang, Agustina Wilujeng
memastikan bantuan darurat serta proses renovasi rumah melalui program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dapat segera dilaksanakan oleh dinas terkait.

Bencana yang terjadi pada Senin (30/3) tersebut mengakibatkan puluhan rumah warga mengalami kerusakan mulai dari taraf ringan hingga berat.

“Saya berterima kasih kepada warga masyarakat karena gercep. Jadi sore itu saya dapat kabar, setelah sampai di sini ternyata warga masyarakat sudah langsung bergotong-royong, teman-teman BPBD dan Disperkim juga langsung memetakan bantuan darurat,” ujar Agustina di sela-sela tinjauannya, Rabu (8/4).

Berdasarkan data sementara, terdapat 65 rumah yang terdampak di wilayah tersebut, dengan 29 rumah di antaranya mengalami kerusakan yang cukup parah.

Guna meringankan beban keluarga yang terdampak, Pemerintah Kota Semarang telah mendistribusikan berbagai bantuan logistik mulai dari sembako, terpal, hingga tempat tidur sementara.

“Ada juga bantuan uang tunai. Nah, yang harus direnovasi akan masuk dalam daftarnya Disperkim untuk RTLH, mudah-mudahan tim surveinya itu tidak lama karena ini memang sebuah kebutuhan,” lanjutnya.

Agustina juga memberikan apresiasi khusus terhadap kearifan lokal warga Gedawang yang menunjukkan sikap guyub rukun dalam membantu sesama saat terjadi bencana. Kerja bakti massal terlihat masih berlangsung di lokasi untuk memperbaiki atap-atap rumah warga yang rusak akibat hempasan angin kencang.

“Sekali lagi saya terima kasih, nomor satu kepada warga masyarakat yang guyub rukun, yang kedua kepada tim Pemkot yang terjun, dan kepada keluarga yang tertimpa bencana kami sampaikan keprihatinan,” pungkasnya. ***

65 Rumah Terdampak Puting Beliung, Pemkot Semarang Gercep Lakukan Penanganan

Lingkar.co – Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang mempercepat penanganan dan pemulihan dampak bencana angin puting beliung yang menimpa beberapa rumah di Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, secara langsung menyerahkan bantuan paket sembako kepada warga terdampak pada Senin (6/4), di Balai Kelurahan Gedawang.

Bencana yang terjadi pada Senin (30/3) tersebut menyebabkan 65 rumah di RW 02 dan RW 03, Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik mengalami kerusakan. Sejak hari kejadian, respons cepat telah dilakukan oleh pemerintah kota Semarang bersama masyarakat, mulai dari pendataan, pembersihan lingkungan, hingga penyaluran bantuan darurat.

Dalam kesempatan itu, Agustina menegaskan komitmennya terhadap kecepatan penanganan bencana oleh seluruh jajaran Pemerintah Kota Semarang.
“Yang pertama yang ingin saya sampaikan adalah bahwa seluruh ASN di Kota Semarang ini wajib gerak cepat alias gercep. Begitu ada bencana, langsung RT atau RW melapor kepada Bu Lurah, masuk ke dalam laporan kita dan langsung tertangani,” ujar Agustina.

Dirinya juga memastikan bahwa penanganan awal telah dilakukan secara sigap oleh berbagai pihak, mulai dari kelurahan, BPBD, hingga dinas teknis terkait. Bantuan darurat seperti sembako, selimut, dan terpal telah disalurkan sejak hari kejadian, sementara penanganan pohon tumbang dilakukan oleh dinas terkait bersama warga.

Menurut Agustina, sinergi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci dalam percepatan penanganan bencana. Ia menyebut, perangkat daerah seperti pihak Kelurahan, Kecamatan, Disperkim, DPU, BPBD menjadi ujung tombak dalam penanganan fisik, sementara Dinas Sosial menangani dampak sosial yang muncul.

“Penanganan cepat saat ada beberapa bencana dimana Perkim, PU, dan BPBD ini adalah ujung tombak, kemudian setelah itu Dinas Sosial harus segera menyelesaikan masalah-masalah sosial yang terjadi,” tegasnya.

Lebih lanjut, Pemkot Semarang juga menyiapkan bantuan stimulan sebesar Rp20 juta per rumah terdampak, dengan mekanisme verifikasi oleh pihak kelurahan dan OPD terkait. Kebijakan ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan kondisi warga dan dapat segera menempati kembali rumahnya.

Agustina menekankan bahwa pemulihan pascabencana harus dilakukan secara cepat dan berdampak nyata bagi warga

Pihaknya berharap, melalui langkah cepat dan kolaboratif ini, masyarakat Gedawang dapat segera bangkit. “Mudah-mudahan kita semua diberkati dan tidak lagi ada bencana yang lebih besar di Kelurahan Gedawang,” pungkasnya. ***

Perkuat Tanggul Dinar Indah dengan Trucuk Bambu, Wali kota Agustina Instruksikan Penanganan Banjir Serentak di Berbagai Titik

Lingkar.co – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, bergerak cepat menginstruksikan jajarannya untuk melakukan penanganan darurat menyusul banjir kiriman yang melanda sejumlah wilayah pada Sabtu (14/3) malam hingga Minggu (15/3) pagi. Fokus utama penanganan dilakukan di Perumahan Dinar Indah, Meteseh, serta beberapa titik di wilayah Rowosari, Sampangan, dan Mayangsari.

“Penyebab banjir di Dinar Indah adalah intensitas hujan yang sangat lebat di wilayah hulu, tepatnya Ungaran bagian timur. Aliran Kali Babon dari hulu ini sampai ke hilir dengan debit tinggi sehingga mengakibatkan genangan di pemukiman warga,” ujar Agustina.

Merespons kondisi tersebut, tim gabungan yang terdiri dari DPU, BPBD, Damkar, Dinsos, hingga jajaran TNI-Polri (Brimob, Polsek, Koramil) dikerahkan untuk memperkuat tanggul yang kritis. Di Dinar Indah, penguatan dilakukan sepanjang 30 meter pada titik paling rawan limpasan air.

“Selain pemasangan ribuan sandbag (karung pasir), tanggul tersebut nantinya akan kita pasang trucuk bambu untuk penguatan struktur. Ini langkah darurat paling efektif agar tanggul tidak mudah tergerus jika ada kiriman air susulan,” jelasnya.

Selain di Dinar Indah, wali kota juga memastikan petugas telah diterjunkan ke wilayah terdampak lainnya, terutama di Kelurahan Rowosari yang meliputi Perum Argo Residence, Perum Rowosari Megah Asri 2, dan Perumahan Grand Permata Tembalang, serta wilayah Sampangan dan Mayangsari.

“Kami terus menjalin komunikasi lintas sektoral, termasuk bersinergi dengan BBWS Pemali Juana sebelum, saat, dan pasca-kejadian. Mengingat Kali Babon merupakan kewenangan pusat, koordinasi untuk solusi permanen sedang kami diskusikan secara intensif agar warga tidak terus-menerus waswas setiap hujan lebat,” tambahnya.

Hingga Minggu pagi, tim teknis masih terus bekerja di lapangan untuk memastikan seluruh titik rawan telah tertangani. Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang juga terus menyiagakan tenaga operasional lapangan di titik-titik rawan genangan.

“Saat ini kami memantau radar BMKG secara real-time karena cuaca masih sangat dinamis. Seluruh tenaga dan stok sandbag tambahan sudah disiagakan sebagai antisipasi jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi sore nanti,” tegasnya. (Adv)

Tangani Puluhan Pohon Tumbang, Agustina Imbau Warga Segera Laporkan Jika Belum Ditangani

Lingkar.co – Hujan deras disertai angin kencang yang melanda Kota Semarang pada Rabu (4/3/2026) sore menyebabkan puluhan pohon tumbang di berbagai wilayah. Pemerintah Kota Semarang bergerak cepat melakukan penanganan untuk memastikan akses jalan kembali normal.

Berdasarkan data yang dihimpun hingga Rabu malam, tercatat sedikitnya 86 titik pohon tumbang dan kerusakan pohon tersebar di sejumlah kawasan. Selain pohon tumbang, beberapa papan reklame dan atap baja ringan warung juga dilaporkan beterbangan akibat kuatnya terpaan angin.

Tim gabungan dari BPBD Kota Semarang, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim), Satpol PP, serta relawan dan warga setempat langsung turun ke lapangan melakukan evakuasi dan pembersihan material pohon yang menutup akses jalan.

Sejumlah ruas jalan utama yang terdampak di antaranya Jalan Pahlawan, Jalan Imam Bardjo, Jalan Suratmo, Jalan Dr. Cipto, Jalan S. Parman, dan Jalan Soekarno Hatta. Selain itu, kejadian pohon tumbang juga dilaporkan terjadi di kawasan Kota Lama, Purwoyoso, Ngaliyan, Pedurungan, Genuk, dan Semarang Timur.

Di beberapa titik seperti Lapangan Simpang Lima, Jalan Madukoro, dan Jalan Mayjend Sutoyo, bahkan dilaporkan terdapat lebih dari satu pohon tumbang akibat kuatnya angin.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng memastikan proses penanganan dilakukan secara cepat guna mencegah gangguan lalu lintas maupun potensi bahaya bagi masyarakat. Petugas langsung melakukan pemotongan batang pohon, pembersihan ranting, serta membuka akses jalan yang sempat tertutup.

“Begitu laporan masuk, tim langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan evakuasi dan pembersihan. Dalam semalam, 86 titik pohon tumbang berhasil ditangani dan dievakuasi bersama-sama oleh BPBD, Disperkim, relawan serta warga setempat agar akses jalan bisa segera kembali normal,” ujarnya.

Selain di jalan protokol, pohon tumbang juga terjadi di sejumlah kawasan permukiman dan fasilitas umum seperti sekitar Balai Kota Semarang, rumah dinas wali kota, sekolah, puskesmas pembantu, hingga taman kota.

Agustina mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi dalam beberapa waktu ke depan.

“Kami minta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan pohon rawan tumbang atau kejadian darurat lainnya agar dapat segera ditangani petugas. Keselamatan masyarakat menjadi prioritas,” tambahnya.

Pemerintah Kota Semarang juga memastikan akan terus melakukan monitoring terhadap kondisi pohon peneduh di ruang publik sebagai langkah mitigasi guna meminimalkan potensi kejadian serupa di kemudian hari. ***

Pemkot Semarang Bergerak Cepat Bantu Korban Kebakaran dan Rumah Roboh

Lingkar.co – Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang menyalurkan bantuan bagi warga terdampak kebakaran dan rumah roboh di Kelurahan Kaligawe dan Kelurahan Krobokan.

Melalui Dinas Sosial, bantuan kebutuhan dasar disalurkan sebagai bentuk kepedulian dan respons cepat pemerintah terhadap musibah yang dialami warga.

Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Agus Junaedi, mengatakan langkah tersebut dilakukan atas arahan langsung Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, agar warga terdampak bencana segera mendapatkan pendampingan dan bantuan.

“Ibu Wali Kota mengarahkan kami untuk segera turun membantu warga yang tertimpa musibah. Prinsipnya, jangan sampai warga merasa sendirian ketika mengalami bencana,” ujar Agus Junaedi, Selasa (10/2/2026).

Bantuan disalurkan kepada Shanti, warga Sawah Besar Gang XI RT 08 RW 05 Kelurahan Kaligawe, Kecamatan Gayamsari, yang dapur rumahnya mengalami kebakaran.

Selain itu, bantuan juga diberikan kepada Bambang Rusdiyono, warga Jalan Wiroto Raya Nomor 38 RT 03 RW 07 Kelurahan Krobokan, Kecamatan Semarang Barat, yang rumahnya roboh akibat kondisi bangunan yang sudah tua.

Agus menjelaskan, bantuan yang diberikan bersifat darurat dan menyesuaikan kebutuhan korban, seperti peralatan dapur, kasur lipat, kasur gulung, selimut, serta paket sembako.

“Kebakaran di Kaligawe memang skalanya kecil, hanya dapur, tapi ini tetap menjadi perhatian kami. Pemerintah Kota hadir dengan memberikan peralatan dapur, kasur gulung, sembako, dan selimut. Sementara di Krobokan, rumah warga roboh, sehingga kami bantu kasur lipat, peralatan dapur, selimut, dan sembako,” jelasnya.

Menurut Agus, penyaluran bantuan dilakukan setelah adanya laporan berjenjang dari RT, RW, hingga kelurahan. Begitu laporan masuk, Dinas Sosial langsung melakukan verifikasi lapangan dan menyiapkan bantuan.

“Setelah kejadian, biasanya ada pengajuan dari RT, RW, dan kelurahan. Begitu masuk ke kami, langsung kami tindak lanjuti. Prosesnya cepat,” katanya.

Agus menegaskan, Dinas Sosial Kota Semarang memang memiliki tugas sebagai kepanjangan tangan pemerintah kota dalam memberikan perlindungan sosial kepada warga, baik yang terdampak bencana alam, kebakaran, banjir, rumah roboh, maupun kelompok rentan seperti penyandang disabilitas.

“Kami rutin memberikan bantuan karena itu memang tugas kami. Siapa pun warga Kota Semarang yang terkena musibah, pemerintah harus hadir,” ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak ragu melaporkan jika ada warga di lingkungannya yang tertimpa musibah. Mekanisme pengajuan bantuan, menurutnya, cukup mudah dan tidak berbelit.

“Masyarakat bisa mengajukan bantuan secara berjenjang dari RT, RW, hingga kelurahan. Bisa lewat telepon dulu, nanti menyusul administrasinya. Yang penting ada laporan dan dokumentasi kejadian,” jelas Agus.

Bahkan, untuk kondisi darurat, bantuan dapat langsung disalurkan sambil menunggu kelengkapan administrasi seperti KTP, Kartu Keluarga, dan dokumen pendukung lainnya.

“Kalau darurat, bantuan bisa kami kirim dulu ke warga. Administrasi bisa menyusul. Yang terpenting warga tertolong lebih dulu,” pungkasnya. (Adv)

Pemkot Semarang Siapkan Embung, 55 Longsor Terjadi Sejak Awal 2026

Lingkar.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menyiapkan langkah mitigasi berupa pembangunan embung di sejumlah titik rawan, menyusul meningkatnya kasus tanah longsor selama puncak musim hujan awal 2026.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sejak Januari hingga awal Februari 2026 tercatat 55 kejadian tanah longsor dan tanah amblas di Kota Semarang.
Kepala BPBD Kota Semarang Endro Pudyo Martanto menyebut longsor menjadi bencana dengan angka kejadian tertinggi sepanjang awal tahun ini.

“Jadi sampai saat ini tanah longsor atau tanah amblas ini terjadi sebanyak 55 kali,” ujarnya.
Menurutnya, sebagian besar kejadian berada di wilayah Semarang bagian atas yang berkontur perbukitan dan minim area resapan air.
“Rencananya Pemkot akan membuat embung-embung di wilayah yang kurang resapan, untuk mengurangi risiko tanah longsor,” katanya.

Ia menjelaskan, berkurangnya lahan hijau akibat perkembangan permukiman padat turut memperparah kondisi resapan alami air hujan. Salah satu kejadian terbaru terjadi pada Rabu (4/2) dini hari sekitar pukul 03.15 WIB di kawasan Villa Payung Indah, Kelurahan Pudak Payung, Kecamatan Banyumanik.

Longsor terjadi di talud sungai Jalan Ngesrep Raya dan berdampak pada satu rumah milik warga bernama Wilda Nugraha yang dihuni satu kepala keluarga dengan empat jiwa.

Endro menjelaskan, longsoran memiliki panjang sekitar 30 meter, lebar 5 meter, dan tinggi 4 meter.

“Talud sungai tergerus aliran air akibat hujan deras sehingga menyebabkan longsor dan berdampak pada rumah warga di sekitarnya,” jelasnya.

Akibat kejadian tersebut, kerugian materi ditaksir mencapai sekitar Rp200 juta. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.

Usai kejadian, warga berkoordinasi dengan RT, RW, serta pihak kelurahan dan kecamatan. Petugas gabungan dari BPBD, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan perangkat wilayah langsung melakukan assessment, pendataan, dokumentasi, serta memberikan bantuan kedaruratan.

BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama yang tinggal di wilayah rawan longsor dan banjir.

“Masyarakat diminta mengidentifikasi lingkungan rawan bencana dan segera berkoordinasi dengan RT, RW, kelurahan, kecamatan maupun dinas terkait, serta mewaspadai potensi hujan lebat disertai angin kencang,” tegas Endro. (Adv)

BPBD Ungkap Sebaran Longsor Terbanyak di Semarang Sepanjang 2025, Candisari hingga Gunungpati Masuk Zona Rawan

Lingkar.co – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang mencatat tanah longsor menjadi bencana paling dominan sepanjang tahun 2025, dengan total 160 kejadian. Longsor mayoritas terjadi di wilayah kecamatan yang memiliki kontur perbukitan dan masuk kawasan rawan bencana.

Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto, mengatakan sebaran longsor tersebut masih sesuai dengan peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) yang telah dipetakan sebelumnya.

“Longsor masih didominasi wilayah-wilayah kecamatan yang berbukitan,” ujar Endro, Senin (5/1/2026).

Adapun wilayah dengan kejadian longsor terbanyak antara lain Kecamatan Candisari (Kelurahan Candisari), Kecamatan Ngaliyan (Wonosari), Kecamatan Gajahmungkur (Kelurahan Lempongsari), Kecamatan Tembalang (Kelurahan Tandang), Kecamatan Gunungpati (Sadeng).

“Wilayah-wilayah ini menjadi perhatian utama untuk upaya mitigasi ke depan,” tegasnya.

Selain tanah longsor, BPBD juga mencatat kejadian rumah roboh menempati posisi kedua dalam daftar bencana sepanjang 2025. Dari total 79 kejadian rumah roboh, sebanyak 27 rumah roboh akibat tertimpa pohon tumbang.

“Sekitar 40 kejadian lainnya disebabkan oleh longsor. Sisanya karena faktor usia bangunan yang sudah lapuk dan beberapa akibat puting beliung,” jelas Endro.

Terkait korban jiwa, BPBD Kota Semarang mencatat sembilan orang meninggal dunia akibat bencana sepanjang 2025. Mayoritas korban berasal dari peristiwa kebakaran.

“Korban meninggal paling banyak akibat kebakaran, ada tiga korban dalam satu kejadian karena peristiwa terjadi saat malam hari ketika korban sedang tertidur,” ungkapnya.

Selain itu, satu korban meninggal juga tercatat akibat bangunan roboh di wilayah Semarang Tengah, sementara kasus kebakaran yang menimpa satu keluarga terjadi di Semarang Timur.

Dibandingkan tahun 2024, Endro menyebut tren bencana di 2025 masih didominasi tanah longsor. Memasuki awal tahun 2026 dengan kondisi musim hujan dan cuaca ekstrem, BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.

“Terutama saat hujan deras disertai angin kencang. Hindari berteduh di bawah pohon karena rawan tumbang,” imbaunya.

Ia juga mengingatkan masyarakat pesisir, nelayan, dan pemancing agar lebih berhati-hati mengingat potensi gelombang tinggi dan cuaca ekstrem di laut masih terjadi.

“Keselamatan harus menjadi pertimbangan utama. Nelayan perlu selalu memperhatikan informasi cuaca dari BMKG dan Syahbandar,” pungkasnya. ***

Pemkot Semarang Tekankan Pentingnya Kebersamaan Sebagai Kunci Kamtibmas dan Penanganan Bencana

Lingkar.co – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng yang diwakili oleh Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin menegaskan pentingnya kebersamaan dan kolaborasi dari berbagai elemen sebagai kunci keberhasilan dalam penanganan bencana maupun gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

Pernyataan ini disampaikan di hadapan ratusan petugas gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Satpol PP, Damkar, kecamatan, kelurahan, dan PMI saat memimpin Pengarahan Kamtibmas dan Siaga Bencana Kota Semarang tahun 2025 di Halaman Balai Kota Semarang, Jumat (28/11/2025).

“Bencana dan lonjakan arus mobilitas memang tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa kita kurangi jika kita melakukan kesiapsiagaan, mitigasi, dan kolaborasi dari semua pihak,” ucapnya.

Iswar dalam arahannya menegaskan, kondisi geografis Kota Semarang menuntut kesiapsiagaan ekstra. Curah hujan tinggi dan wilayah rawan longsor membuat kesiapan seluruh unsur menjadi hal yang tidak bisa ditawar.

“BMKG memprediksi intensitas curah hujan akan tinggi hingga Februari 2026 mendatang, kemudian kejadian banjir dan genangan yang terjadi di Kota Semarang beberapa waktu terakhir menjadi pengingat bahwa kesiapan dan kecepatan respons kita harus semakin baik,” ujarnya.

Selain kekompakan seluruh unsur dalam penanganan bencana, Wakil Wali Kota menyampaikan pedoman untuk memperkuat kesiapsiagaan, yakni melakukan pemantauan cuaca real-time berdasarkan informasi BMKG, menormalisasi sungai untuk mencegah banjir dan longsor, mengoptimalkan peralatan yang dimiliki, serta melakukan edukasi mitigasi maupun sosialisasi kebencanaan kepada masyarakat di wilayah masing-masing.

“Pastikan peralatan dalam kondisi prima dan siap. Tidak lupa saya minta peran Camat dan Lurah supaya bisa bergerak cepat di wilayahnya,” imbuhnya.

Selain itu, dirinya juga mengimbau dan mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif dalam upaya mitigasi bencana, menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah ke sungai.

“Mari kita bersama-sama meminimalkan potensi bencana dengan tidak lagi membuang sampah ke sungai, ke saluran air, ke tempat-tempat yang bukan semestinya untuk membuang sampah,” sebutnya.

Selain kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, Iswar turut memastikan kesiapan Pemerintah Kota Semarang dalam menghadapi perayaan Nataru. Ia menjelaskan aktivitas masyarakat pada momen Nataru biasanya meningkat, terutama di pusat perbelanjaan, tempat ibadah, bandara, dan ruang publik lainnya.

“Hal tersebut menandakan akan ada peningkatan potensi gangguan Kamtibmas yang memanfaatkan kelengahan kita semua. Untuk itu, kesiapsiagaan bukan hanya menjaga, tetapi juga menenangkan serta melindungi,” katanya.

Wakil Wali Kota juga menekankan pentingnya kerja sama dan pengamanan berlapis di titik-titik rawan. “Laksanakan pengamanan yang berlapis, termasuk deteksi dini dan respons cepat,” tandasnya.

Pada kesempatan tersebut, Iswar menegaskan optimismenya bahwa dengan persiapan matang dan komitmen bersama, Kota Semarang dapat menghadapi musim penghujan dengan lebih tangguh dan menyambut Nataru dengan lebih siap.

“Mari kita bersama-sama menjaga Kota Semarang tetap aman, tangguh, dan damai,” pungkasnya. (Adv)

Hadapi Potensi Bencana Alam, Wali kota Agustina Wilujeng Tekankan Mitigasi Bencana

Lingkar.co – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menegaskan pentingnya mitigasi bencana guna menghadapi keadaan terburuk kejadian bencana alam. Karena itulah, dirinya meminta semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan seluruh pihak untuk bekerja sama dengan asumsi “the worst situation” atau keadaan terburuk.

“Kita tetap harus siap untuk melakukan mitigasi bencana, itu asumsi kita adalah the worst situation, keadaan terburuk. Sehingga keadaan terburuk itu bila terjadi, kita sudah siap,” ungkap Agustina saat memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) mengenai kesiapsiagaan bencana pada Rabu (19/11) di Ruang Lokakrida Balaikota Semarang.

Wali kota menyoroti pentingnya membaca dan mengantisipasi prakiraan cuaca dari BMKG hingga akhir tahun, karena mayoritas bencana terjadi karena curah hujan yang tinggi.

“Maka dari itu tugas utama kita adalah membaca prediksi curah hujan yang akan terjadi sampai dengan bulan Desember,” kata Agustina.

Dirinya juga menginstruksikan agar Dinas Pekerjaan Umum (PU), Disperkim, dan BPBD membuat peta detail wilayah terdampak berdasarkan kejadian banjir yang lalu, mencakup kecamatan, kelurahan, dan RW. Pemetaan ini bertujuan untuk membuat skenario terburuk dan menyiapkan rencana penanggulangan yang komprehensif.

Ia meminta agar mitigasi bencana kali ini itu juga akan memberi pengaruh nuansa terhadap penggambaran infrastruktur.

“Pertanyaan masyarakat terus-menerus mengatakan duitnya kota Semarang banyak, kita disuruh terus-menerus membayar pajak, tetapi masalah banjir itu tidak pernah diselesaikan. Maka saya minta agar mitigasi bencana kali ini juga akan memberi pengaruh nuansa terhadap penggambaran infrastruktur,” tandasnya. (Adv)

Tinjau Titik-Titik Pengungsian, Agustina Wilujeng Pastikan Bantuan Tersalurkan

Lingkar.co – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, meninjau sejumlah titik pengungsian warga terdampak banjir di wilayah Kelurahan Muktiharjo Kidul, Kecamatan Pedurungan, pada Selasa (28/10) malam. Dalam tinjauan tersebut, Wali Kota bersama beberapa kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) juga menyalurkan bantuan logistik dan kebutuhan pokok kepada warga terdampak.

Tinjauan dilakukan di beberapa lokasi, antara lain rumah warga di RW 14 yang menjadi posko bantuan, Balai RW 15, dan kampus Universitas Semarang (USM). Di sela kunjungannya, Agustina Wilujeng menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga, relawan, dan civitas akademika USM atas dukungan nyata mereka terhadap warga terdampak.

“Saya ucapkan terima kasih kepada para warga, relawan, terutama USM ini, yang menyediakan tempat, dapur umum. Tadi saya lihat ada perahu, angkutan, makanan, kursi roda, AC, dan saya lihat warga di situ nyaman banget. Mereka biar istirahat sejenak sambil nunggu banjirnya surut. Mudah-mudahan relawannya sehat semua,” ujar wali kota.

Ia juga menegaskan bahwa Pemkot Semarang berupaya maksimal memastikan seluruh warga di titik-titik pengungsian mendapatkan perhatian dan bantuan yang memadai. Tim dari Dinas Kesehatan telah diterjunkan untuk memantau kesehatan pengungsi, sementara kebutuhan tambahan seperti popok dan logistik lain sesuai kebutuhan segera didistribusikan.

Agustina menuturkan jika pihaknya melakukan pemantauan setiap hari untuk memastikan seluruh kebutuhan warga dapat terpenuhi. “Kami keliling terus setiap hari memastikan segala sesuatunya bisa kita lakukan, apapun yang bisa kita lakukan,” ujarnya.

Selain memastikan kebutuhan warga, Pemkot Semarang juga terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan intervensi rekayasa cuaca.

“Mudah-mudahan sebentar lagi akan datang lagi intervensi untuk rekayasa cuaca, sehingga ada waktu di mana Kota Semarang yang bagian timur ini kering, dan ada jeda untuk kita bisa bersih-bersih,” imbuhnya.

Wali Kota juga mengimbau warga yang masih bertahan di rumah tergenang agar segera mengungsi ke tempat aman demi keselamatan.

“Yang penting selamatkan diri dulu. Ini ada banyak sekali titik yang bisa dijadikan tempat pengungsian sementara. Telepon Bu Lurah yang paling dekat, dan minta apa yang dibutuhkan, kita akan segera carikan,” pesannya.

Melalui kunjungan ini, Wali Kota menegaskan komitmen Pemkot Semarang untuk terus hadir di tengah warga. Ia berharap semangat gotong royong antara pemerintah, relawan, dan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam mempercepat pemulihan pasca banjir. ***