Arsip Tag: pengentasan kemiskinan

Sekolah Rakyat di Semarang Hadapi Tantangan Kesadaran Orang Tua

Lingkar.co – Program Sekolah Rakyat (SR) di Kota Semarang masih menghadapi tantangan, terutama terkait kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan anak sebagai jalan keluar dari kemiskinan.

Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Endang Sarwiningsih, menyebut sejumlah siswa mengundurkan diri dari Sekolah Rakyat bukan karena kualitas pendidikan, melainkan tekanan ekonomi keluarga.

“Orang tuanya ingin anaknya bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Ada juga yang memang terbiasa meminta-minta, sehingga anaknya diarahkan untuk ikut menguatkan ekonomi keluarga,” ungkap Endang, Kamis (30/1/2026).

Saat ini, kuota Sekolah Rakyat di Kota Semarang masing-masing 50 siswa untuk jenjang SMP dan 50 siswa untuk SMA. Dari jumlah tersebut, terdapat beberapa siswa yang keluar, terutama di jenjang SD dan SMA.

“Yang keluar itu sekitar tujuh orang. Alasannya bermacam-macam, tapi rata-rata karena keberatan anaknya tinggal di asrama dan tidak bisa langsung bekerja,” jelasnya.

Endang menegaskan, sebelum masuk Sekolah Rakyat, orang tua dan siswa sebenarnya sudah diberikan penjelasan dan kesepakatan. Namun dalam praktiknya, tekanan ekonomi membuat sebagian orang tua berubah pikiran.

Sebagai solusi, Dinas Sosial tidak hanya fokus pada pendidikan anak, tetapi juga memberdayakan orang tua siswa. Bantuan disesuaikan dengan minat dan kemampuan masing-masing keluarga.

“Kalau minatnya berdagang sembako, kita bantu etalase dan barang dagangannya. Kalau mau jual es tebu, kita beri mesin penggiling. Bahkan ada yang mau pijat, kita latih,” terangnya.

Untuk siswa yang mengundurkan diri, Pemkot Semarang langsung mengusulkan pengganti dari keluarga desil 1 dan desil 2, sesuai ketentuan Kementerian Sosial.

“Kalau memang sudah tidak mau, tidak bisa dipaksa. Tapi kuota tetap kami isi dari keluarga miskin ekstrem agar program ini tepat sasaran,” tegas Endang. ***

Becak Listrik Hadiah untuk Para Pejuang Jalanan, Prabowo Subianto Dorong Kendal Jadi Kota Ramah Pekerja dan Lingkungan

Lingkar.co — Di halaman Pendopo Kabupaten Kendal, deretan becak berwarna cerah tampak berkilau di bawah terik matahari. Namun kali ini, bukan becak biasa yang terparkir. Di setiap pedalnya, tersimpan harapan baru, harapan dari para pengayuh yang kini tak lagi harus memeras keringat sebesar dulu untuk mencari rezeki.

Sebanyak 140 unit becak listrik resmi diserahkan kepada pengemudi becak di Kabupaten Kendal, Selasa (11/11/2025). Bantuan ini merupakan bagian dari program sosial Presiden Prabowo Subianto yang disalurkan melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (YGSN).

Penyerahan dilakukan oleh Dyah Kartika Permanasari, Bupati Kendal Benny Karnadi, dan Deputi BP Taskin Novrizal Tahar, yang hadir langsung menyaksikan antusiasme para penerima bantuan, mayoritas para pengemudi lanjut usia yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup dari becak kayuh.

“Kalau dulu narik becak bisa bikin lutut panas dan badan pegal, sekarang lebih ringan. Kayak punya tenaga muda lagi,” kata Jumadi (62), salah satu penerima bantuan, dengan mata berbinar.

Program ini tak hanya membagikan becak listrik, tetapi juga pendampingan teknis dari YGSN. Para pengemudi mendapat pelatihan penggunaan, cara perawatan, hingga layanan servis gratis jika terjadi kerusakan.

“Kalau aki rusak atau ada masalah teknis, teknisi YGSN siap bantu tanpa biaya,” ujar Novrizal Tahar, menjelaskan sistem dukungan pasca penyerahan.

Menurut Novrizal, program ini merupakan bentuk nyata perhatian Presiden Prabowo terhadap pekerja sektor informal berpenghasilan rendah. Melalui bantuan ini, mereka diharapkan tetap bisa produktif tanpa terbebani kondisi fisik.

“Sasarannya adalah pengemudi becak berusia 50 tahun ke atas. Mereka tidak perlu lagi mengayuh dengan tenaga besar. Semua diberikan gratis sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras mereka,” jelasnya.

Pemerintah menargetkan 10.000 unit becak listrik akan disalurkan ke berbagai daerah hingga 2026. Selain untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, program ini juga menjadi bagian dari upaya nasional menekan angka kemiskinan dan memperluas penggunaan kendaraan ramah lingkungan.

Wakil Bupati Kendal, Benny Karnadi, menilai kehadiran becak listrik akan membawa perubahan besar dalam kehidupan para pengemudi.

“Becak listrik lebih irit, tidak perlu bahan bakar, dan tenaga pengemudi jadi lebih hemat. Ini solusi nyata untuk keberlanjutan ekonomi rakyat kecil,” ujarnya.

Dari total 170 becak manual yang terdata di Kendal, 140 sudah beralih menjadi becak listrik. Sisanya masih dalam proses pengajuan tambahan bantuan. Pemerintah daerah juga tengah menyiapkan fasilitas bengkel serta pusat servis ringan agar becak listrik dapat digunakan secara berkelanjutan.

Selain menjadi alat kerja, becak listrik ini juga simbol perubahan. Ia mencerminkan arah baru transportasi rakyat modern, ramah lingkungan, dan manusiawi.

Dengan roda yang kini digerakkan tenaga listrik, para pengemudi becak di Kendal seakan diberi energi baru, bukan hanya untuk menempuh jarak, tetapi juga menatap masa depan dengan keyakinan bahwa hidup layak bisa diraih, bahkan di usia senja. ***

Hindun Anisah: Partisipasi dan Peran Pekerja Perempuan Perlu Ada Peningkatan

JAKARTA, Lingkar.co – Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan, Hindun Anisah menerangkan bahwa sektor ketenagakerjaan di Indonesia terdampak pandemi Covid-19.

Hal tersebut terbukti dari data hasil survei pasar tenaga kerja Indonesia yang mengalami pelemahan. Pada data tersebut menjelaskan bahwa terdapat 2juta pekerja yang telah kehilangan pekerjaannya.

“Kurang lebih ada 2.228.561 pekerja kehilangan pekerjaan dan tingkat pengangguran meningkat sekitar 1,32 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya pada 2021, tingkat pengangguran 6,26 persen,” imbuh Hindun Anisah Senin (22/11/2021).

Baca Juga :

Upaya Penuhi Target Pengentasan Kemiskinan Ekstrem, Wagub Jateng Launching Destara

Hindun melacnjutkan bahwa perempuan menjadi salah satu kelompok yang rentan terpengaruh dengan adanya pandemi Covid-19 saat ini.

“Kalo kita lihat terjadi penurunan tingkat partisipasi angkatan kerja sebesar 0,07 persen dan peningkatan tingkat pengangguran sebesar 0,45 persen dari angkatan kerja perempuan di pasar tenaga kerja,” paparnya.

Menurut Hindun kondisi penurunan angkatan kerja perempuan tidak hanya terjadi di Indonesia saja, akan tetapi juga melanda hampir di seluruh negara ASEAN.

“Kondisi serupa sedikit banyak terjadi di negara-negara anggota ASEAN,” katanya.

Staf khusus Menteri Ketenagakerjaan yang juga merupakan Pengasuh Pondok pesantren Hasyim Asy’ari Di Jepara tersebut berharap dalam situasi yang masih Pandemi seperti saat ini pemerintah bersama dengan stakeholder lainnya ikut bekerja dalam meningkatkan angkatan pekerja khusunya perempuan.

“Saat ini pemerintah terus berupaya untuk bersama-sama mendorong agar terjadi peningkatan jumlah pekerja perempuan yang ada di Indonesia,” tandasnya.

Penulis: M. Akid Aunulhaq

Editor: Rezanda Akbar D