Arsip Tag: Pertanian

Arief Rohman Ajak Pengusaha Pertanian Kelahiran Blora Dirikan Pabrik Benih

BLORA, Lingkar.co – Bupati H. Arief Rohman dan Wakil Bupati Tri Yuli Setyowati mengajak masyarakat “Sesarengan mBangun Blora”. Mereka yang baru dilantik 26 Februari 2021 ini terus merangkul seluruh kalangan yang sukses di luar daerah untuk kembali ikut membangun kampung halamannya, Kabupaten Blora.

Salah satunya adalah Rakimin. Pria kelahiran Desa Kedhiren, Kecamatan Randublatung yang kini sukses menjadi Direktur PT. Tunas Widji Inti Nayottama di Kediri ini diundang untuk ikut membangun sektor pertanian di Kabupaten Blora.

Baca Juga:
Program Kerja 99 Hari Pertama, Gelar Blora Mengaji

Merespon ajakan tersebut, Rakimin hadir untuk bertemu Bupati dan Wakil Bupati guna membahas rencana pembangunan Kabupaten Blora di sektor pertanian

“Pak Rakimin ini asli Kedhiren, Randublatung. Lulusan UGM, sukses menjadi praktisi, hingga Kementerian Pertanian mempercayai beliau. Saya ketemu beliau saat berkunjung ke Kementerian Pertanian 19 Maret lalu, kita minta beliau ikut memikirkan Blora setelah sukses di Kediri dengan pabrik pembenihannya,” ujar Arief Rohman.

Bupati pun meminta agar Rakimin bisa merintis pendirian pabrik pembenihan di Kabupaten Blora. Mengingat potensi pertanian di Kabupaten Blora juga bagus baik dari sisi padi, jagung, maupun kedelai.

Baca Juga:
Wujudkan Jalan Halus, Bupati Blora Beberkan Strategi Penanganan Jalan Rusak

“Kami sangat berharap, semoga kedepan kualitas benih di Kabupaten Blora semakin baik. Di samping itu, adanya pabrik di Blora juga akan ikut mengurangi pengangguran,” lanjut Bupati.

Jawa Tengah Tidak Perlu Impor beras

SEMARANG, Lingkar.co – Ketua Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah Sumanto menyatakan, Jawateng Tidak perlu lakukan impor beras.

Sumanto mengatakan bahwa impor beras menjadi polemik atas kurang tepatnya kebijakan impor tersebut.

“Impor beras menjadi polemik, Kementrian Pertanian melalui bulog masih aman, sedangkan dinas perdagangan menginginkan impor dan setiap tahun ada kegaduan semacam itu,” katanya.

Baca juga:
Rizky Febian Laporkan Teddy soal Penggelapan Aset

Sumanto juga mengatakan bahwa ini sebenarnya masalah data yang harus ada oleh masing-masing lembaga.

Selain itu, Sumanto menjelaskan bahwa masalah ini pernah terjadi pada saat presiden pertama Indonesia Soekarno pada Tahun 1952.

Baca juga:
Dewan Apresiasi Petani, Tolak Impor Beras

Sediakan 58 Hektar Lahan Siap Garap secara Gratis untuk Sejahterakan Petani

REMBANG, Lingkar.co– PT Semen Gresik (SG) kembali tingkatkan kesejahteraan petani dengan menginisiasi berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat. Melalui program Semen Gresik Sahabat Petani, perusahaan menggelar Panen Raya jagung, padi gogo, dan jambu kristal di lahan Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) milik Semen Indonesia Persero (Tbk) di area operasional PT Semen Gresik Pabrik Rembang.

Melalui program ini, SG merangkul para petani di desa sekitar wilayah operasional untuk mengolah lahan seluas 58 hektar secara gratis. Para petani juga mendapatkan insentif pendampingan dalam peningkatan produktivitas hasil pertaniannya.

Kepala Unit Komunikasi dan CSR Semen Gresik Dharma Sunyata menyampaikan, Panen Raya ini bukti komitmen SG mendukung percepatan kedaulatan pertanian lokal. Program ini memfasilitasi pengembangan masyarakat di bidang pertanian. Agar dapat mengelola lahan pertanian secara optimal dengan komoditas tanam yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Dharma Sunyata melihat, hasil dari rangkaian Panen Raya ini menjadi peluang membantu peningkatan perekonomian masyarakat desa secara signifikan. Petani akan terakomodir oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di sekitar perusahaan, sehingga memiliki alur distribusi yang pasti.

“Di tahun ini Semen Gresik telah mematangkan feasibility study terkait tata kelola pelaksanaan  program di bidang pertanian yang akan tersinergi dengan masyarakat di sekitar area operasional perusahaan. Sehingga secara bersama dapat lebih mengoptimalkan pemanfaatan lahan untuk mendukung upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional dari sektor yang paling mendasar yaitu dari pedesaan,” Kata Dharma Sunyata dalam siaran persnya Kamis (25/03).

Warga Bersyukur Adanya Program Semen Gresik Sahabat Petani

Peluang ini juga dirasakan oleh Kang Jum, salah satu petani dari Desa Timbrangan, yang bersyukur atas adanya program ini. Kang Jum menjelaskan selain ketersedian bibit yang mudah, pengakomodasian hasil pertanian juga akan langsung ditampung oleh BUMDes. Sehingga tidak kesulitan dalam mendistribusikan hasil panen.

Terhitung potensi panen raya dari pertanian jagung di lahan seluas 42 hektar sebesar 336 ton. Sedangkan pertanian padi Gogo berpotensi menghasilkan total panen 84 ton di luas tanah 12 hektar.

Hal ini kemudian menjadi upaya SG melakukan pendampingan program pertanian terpadu. Salah satunya dengan pengembangan demplot perkebunan hortikultura dengan komoditas pohon jambu kristal, srikaya jumbo, klengkeng, durian montong, pisang cavendis dan Kawis. Hingga Rabu (24/3/2021), hasil panen pada komoditas jambu kristal mencapai 56 kg.(lut)

Tambak dan Sawah Terendam Banjir, Kerugian Ditaksir Ratusan Juta

PATI, Lingkar.co – Lahan tambak dan persawahan di Desa Dororejo, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati terendam banjir Rabu (24/2/2021). Akibatnya warga mengalami kerugian ratusan juta rupiah.

Sekretaris Desa Dororejo A. Syaiful Ulum mengatakan, total kerugian akibat banjir sekitar Rp565.000.000. Dengan rincian tambak seluas 30 ha dengan jumlah kerugian Rp300.000.000. Selanjutnya sawah seluas 25 ha dengan kerugian Rp250.000.000.

“Selain itu, ada juga tanggul jebol yang kerugiannya ditaksir Rp15.000.000. Jadi total kerugian akibat banjir mencapai Rp 565.000.000,” katanya Kamis (25/2/2021).

Pihaknya berharap ada bantuan dari pemerintah agar sedikit mengurangi kerugian warga. Selain itu, ia juga berharap adanya normalisasi sungai, supaya banjir tidak terus berulang.

“Selama ini soal kerugian hanya sekedar jadi bahan informasi saja. Bantuan dari pemkab masih sangat kurang. Sifatnya hanya informasi kerugian. Kemudian apakah ada bantuan atau tidak kita belum tahu. Beberapa tahun ini ketika ada bencana seperti ini kemudian kita hanya menyampaikan kerugian,” ungkapnya.

Menurutnya, selama ini bantuan dari kabupaten melalui BPBD adalah penanganan tanggul jebol. Dan tahun-tahun sebelumnya selalu seperti itu. “Bantuan dari BPBD kabupaten biasanya penanganan tanggul. Setelah kami memberikan informasi, material segera datang. Terus warga gotong royong memperbaiki,” jelasnya.

Untuk penanganan sementara, pemerintah desa bersama warga memperbaiki tanggul yang jebol. Sehingga bisa menahan air sungai agar tidak meluber ke pemukiman.”Perbaikan tanggul baru sementara dengan bambu. Itu pun anggarannya swadaya dan dari pemerintah desa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, saat ini banjir di Desa Dororejo sudah mulai surut. Warga telah mulai membersihkan rumahnya.“Alhamdulillah air sudah surut signifikan. Banjir masih sedikit-sedikit di jalan,” paparnya.

Padahal pada Rabu (24/2/2021), banjir sempat menggenangi 253 rumah. Ketinggian air di luar rumah kisaran 50 – 110 cm. Sedangkan di dalam rumah kisaran 15-50 cm.”Harapannya hari ini cuaca terang air, agar air benar-benar surut,” harapnya.(lam/lut)

150 Hektare Lahan Pertanian di Desa Dorang Terancam Gagal Panen, Kerugian Ditaksir Rp 2,9 Miliar

JEPARA, Lingkar.co– Sekitar 150 hektare lahan pertanian di Desa Dorang, Kecamatan Nalumsari, Kecamatan Jepara terancam gagal panen karena banjir. Kondisi tersebut semakin mencekik perekonomian masyarakat khususnya petani di tengah pandemi covid-19 saat ini.

Kepala Desa Dorang Arif Supratiknyo mengatakan, kalkulasi kerugian karena gagal panen mencapai sekitar Rp2,9 miliar. Bahkan, sebagian lahan pertanian gagal total.

“Lahan pertanian mereka yang terendam banjir puso. Sudah pasti gagal panen,” katanya.

Petani desa setempat Sunardi,61, mengatakan, melakukan tanam padi pada November tahun lalu. Namun, karena banjir menerjang desanya, tanaman padi terancam gagal panen.

“Akibat banjir gagal panen total saya mas. Harapan menikmati hasil panen jadi pupus,” ucapnya.

Petani yang lain Kashian,70 mengungkapkan, lahan persawahannya gagal panen. Ia berharap dinas terkait dapat memberikan antisipasi atau memilimalisir terhadap gagal panen. “Selain itu, ada bantuan kepada para petani yang terdampak,” harapnya.(dik/lut)

Sumber: Koran Lingkar Jateng

85 Hektar Lahan Persawahan Terendam Banjir, Kades Karangrowo: Setiap Tahun Ini Terjadi

PATI, Lingkar.co – Sebanyak 85 hektar lahan persawahan di Desa Karangrowo, Kecamatan Jakenan tergenang air banjir Sabtu (6/2/2021). Bahkan, genangan air di lahan persawahan tersebut mencapai hampir satu meter.

Kepala Desa Karangrowo Abdul Suyono mengatakan, banjir ini sering terjadi di setiap tahunnya. Disebabkan oleh meluapnya sungai Juwana.

Selain area persawahan, banjir juga menggenangi pemukiman warga setinggi 5 sampai 25 cm. Suyono menyebutkan Sebanyak 40 KK dengan jumlah 225 jiwa terkena dampak banjir kali ini.

“Disebabkan kurangnya normalisasi sungai. Selain itu, juga dampak dari dermaga kapal belum maksimal. Karena kapal yang bersandar di Sungai Juwana menghambat mengalirnya air ke laut,” ungkapnya.

Suyono mengungkapkan, banjir kali ini dampaknya sangat luar biasa. Semua aktivitas masyarakat terhambat, terutama di sektor pertanian.

“Panen otomatis gagal total. Beberapa diambil belum waktunya panen. Baru 50 persen kita ambil, kalau tidak, nanti busuk di dalam air,” ujarnya.

Pekerjaan sehari-hari pun lanjut Suyono, otomatis terganggu. Pasalnya mayoritas pekerjaan masyarakat karangrowo adalah petani. Ia berharap supaya pemerintah, dari daerah maupun pusat dapat bersinergi. Supaya banjir tidak terulang kembali.

“Saya yakin kalau ada pusat daerah ini bisa bekerjasama, berkolaborasi, saya yakin bisa mengatasi banjir ini,” pungkasnya.(lam/lut)

Sumber: Koran Lingkar Jateng

Bisnis Bibit Pertanian Dorong Dinamika Ekonomi Desa

TEMANGGUNG, Lingkar.co – Ketua Yayasan Odesa Indonesia Cabang Temanggung Andy Yoes Nugroho mengatakan, bisnis bibit pertanian mendorong dinamika ekonomi desa dan bisa menjadi lokomotif kebangkitan usaha kaum muda.

Andy menjelaskan, usaha pembibitan akan menciptakan produksi ekonomi sekaligus mata rantai pasar finansial.

“Bisa dilihat langsung dari kegiatan Kelompok Pertanian Kebunkoe di Dusun Kauman, Desa Kaloran, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung,”ujarnya.

Ia mengatakan peluang usaha di bidang pertanian butuh keberanian melakukan uji coba dengan praktik.

“Sebelumnya di Kecamatan Kaloran tidak terbayang bisnis bibit bisa masif karena kecamatan ini banyak diasumsikan ekonomi petaninya lemah dan para pemudanya jarang yang peduli usaha tani. Setelah kami mendorong pimpinan pondok pesantren agar santri mengambil peran dalam gerakan pembibitan, nyatanya cepat sekali perkembangannya,” paparnya.

Ia menyampaikan peran pemimpin kultural seperti kiai sangat strategis karena gagasan mereka didengar pengikutnya. Tingkat loyalitas yang tinggi memudahkan mesin kerja kolektif efektif. Karena Odesa Indonesia memiliki gagasan peningkatan ekonomi, maka gerakan pertanian dimulai dari cara pandang bisnis.

“Karena kita punya gagasan besar untuk perbaikan kehidupan, wirausaha yang dijalankan juga harus menyertakan target gizi dengan tanaman buah-buahan, termasuk juga tanaman herbal. Dengan demikian manfaat besar dari gerakan ini meluas ke urusan bisnis yang berkelanjutan dan berkontribusi memperbaiki lingkungan. Bahkan kami juga menyertakan gerakan literasi botani agar petani muda lebih cerdas,” bebernya.

Manajer Kelompok Pertanian Kebunkoe Miftahul Huda mengatakan usaha bisnis bibit ini terbilang cepat bahkan melampaui target karena suplai bibit yang diproduksi sendiri cepat habis sehingga kemudian muncul model bisnis kerja sama dengan daerah lain, terutama dari Purworejo untuk memasok bibit.

“Bibit-bibit tanaman laris semua. Alpukat, durian, jahe merah, sirsak, manggis, kelengkeng hingga kelornya pun cepat habis. Dalam satu bulan rata-rata penjualan mencapai Rp20 juta. Dengan keuntungan rata-rata 20 persen lumayanlah buat operasional. Artinya kita punya peluang sepanjang musim hujan senilai Rp120 juta dari hasil penjualan di tahun pertama,”ungkapnya.

Huda menambahkan, dirinya bersama belasan petani muda alumni Pesantren Ridho Allah Kaloran tengah fokus pada usaha perluasan pembibitan, terutama tanaman herbal kelor (Moringa Oleifera).

Menurutnya kelor memiliki manfaat bagus buat gizi dan bisnis sekaligus. Bulan Januari 2021 ini pihaknya akan membibitkan 5.000 pohon. Separohnya akan ditanam sendiri dan dijadikan penghasil daun kering dan sisanya akan dijual ke masyarakat.

“Saya optimis kelor karena sudah lebih dua tahun mengelola bisnis kelor di Bandung. Jadi tidak ada keraguan dalam bisnis daun kelor. Target pengembangan kelor adalah memberi manfaat pada gizi, kesehatan dan juga membuka lapangan ekonomi baru,” katanya. (ara/aji)

Baca Juga:
BPNT Dinilai Jadi Celah Penyimpangan

Kudus Diterjang Banjir, 61 Hektare Lahan Padi Tergenang Air Terancam Puso

KUDUS, Lingkar.co– Puluhan hektare lahan tanaman padi di Kabupaten Kudus tergenang air akibat banjir sejak Sabtu-Minggu (2-3/1/2021). Kondisi tersebut dampak dari jebolnya tanggul sungai Goleng Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati.

Lahan padi yang terendam banjir tidak hanya di areal pesawahan Desa Pasuruhan Lor saja. Puluhan hektare lahan yang ditanami padi di Desa Banget, Kecamatan Kaliwungu, Kudus juga terendam air banjir.

Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus yang dipimpin Catur Sulistiyanto langsung melakukan monitoring dan pendataan pertanaman padi milik petani. Sebagai antisipasi melihat tingginya air mengancam padi jadi gagal panen.

Pendataan dilaksanakan melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL) BPP Kecamatan Kaliwungu wilayah binaan Desa Banget, Ahmad Marzuki.

“Luas pertanaman padi yang tergenang 61 hektar. Mayoritas terendam 86 persen dan hanya sedikit yang 70 persen. Jadi rawan terjadi puso. Alhamdulillah 60 hektar itu sudah ikut Asuransi Usaha Tanam Padi (AUTP),” erang AhmAd Marzuki.

Sambungnya, satu hektar tidak ikut asuransi itu karena NIK pemilik sawah tersebut sudah didaftarkan pada sawahnya yang lebih luas di desa lain. Karena khawatir terjadi dobel NIK yang bisa dideled pihak asuransi dengan subsidi pemerintah, maka lahan 1 hektar tersebut tidak diikutkan AUTP.(lut)

Rembang Sasaran Program Rawat Ratun dan KBD Tebu dari Kementan RI

REMBANG, Lingkar.co- Kabupaten Rembang menjadi sasaran bantuan tebu dari Kementerian Pertanian (Kementan) tahun ini. Bantuan berupa rawat ratun dan Kebun Benih Datar sudah dimulai sejak Oktober.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Tanaman Semusim dan rempah Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), Hendratmojo Bagus Hudoro, kepada wartawan saat berkunjung di Desa Ketangi, Kecamatan Pamotan Rabu (30/12).

Bagus Hudoro mengatakan, untuk kegiatan rawat ratun (pergantian tanaman tebu) ini seluas 1.600 hektar. Petani mendapat bantuan pupuk sampai pestisida.

“Kementerian Pertanian memberikan kegiatan bantuan untuk kegiatan rawat ratun di Desa Ketangi ini. Untuk luasannya di rawat ratun seluas 1.600 Ha. Jadi, bantuannya adalah pupuk, pestisida dan bantuan perawatan untuk petani,” imbuhnya.

Selain itu, Kabupaten Rembang juga menjadi sasaran pembangunan Kebun Benih Datar (KBD). KBD adalah semacam balai benih untuk membongkar tanaman tebu yang sudah tua pada 2020 dan akan dipanen 2021 mendatang.

“Karena umurnya kan 8 bulan, sejak ditanam dan di panen sampai menjadi benih kan gitu. Itu seluas 225 hektar diharapkan dari 225 hektar itu bisa mengganti tanaman tua tebu seluas 1.350 hektar,” imbuhnya.

Sementara itu Bupati Rembang, Abdul Hafidz menyambut baik adanya bantuan tebu tersebut sehingga bisa untuk membantu kecukupan swasembada gula 2023.

“Ini merupakan amunisi baru untuk menggiatkan petani tebu yang hampir generasinya akan meninggalkan. Dengan adanya intervensi tentu ini akan menggerakkan lagi supaya tebu di Rembang ini bisa kembali semula. Dan bisa untuk membantu kecukupan swasembada gula 2023,” terangnya.(hms/lut)

Baca Juga :
Vaksin Bukan Syarat Utama, Legislator: Pati Harus Berani Mulai PTM

Mentan Ajak Pemerintah Daerah, Dorong Pengembangan Sistem Pertanian Terpadu

BOYOLALI, Lingkar.co – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengajak dan mendorong pemerintah daerah untuk membuat sistem pertanian terpadu atau Integrated Farming System. Konsep itu diharapkan dapat mengembangkan Indonesia menuju pertanian maju, mandiri, dan modern.

Integrated Farming System adalah terjadinya integrasi antara pertanian, perikanan dan peternakan. Artinya dalam satu kawasan atau titik hasil pertanian, perikanan dan peternakannya bagus,” kata Mentan di sela kunjungannya di kawasan percontohan sistem pertanian terpadu, di Desa Giriroto Kecamatan Ngemplak, Boyolali pada Sabtu (19/12).

Mentan mengatakan, dinamika dan semangat kuat oleh petani harus direspons lebih kuat lagi oleh pemerintah dan negara. Oleh karena itu, selain sektor pertanian, juga perikanan atau budidaya ikan air tawar harus menjadi pilihannya.

Hal tersebut, kata Mentan, yang menjadi kekuatan agar ke depan tidak hanya mono komoditas, atau bertumpu satu produksi. Seperti padi, jagung dan kacang saja, tetapi diharapkan tanaman pekarangan di rumah-rumah bisa memperkuat kebutuhan yang bisa ditunjang sesuai kemampuan wilayahnya masing-masing.

Mentan mengatakan hal tersebut sesuai arahan Presiden Joko Widodo yang mendorong agar di era pandemi Covid-19 ini, salah satu muaranya untuk membuat daya tahan bangsa semakin baik, agar ekonomi bangsa segera bangkit, yakni pertanian.

“Kepala Daerah atau Dinas Pertanian khususnya lebih tahu apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan produksinya, dan Kementan bersama jajarannya Kementerian Kelautan dan Perikanan tentunya akan memberikan dukungan bersama instansi terkait lainnya,”imbuhnya.

Selain itu, Mentan juga mencoba perkebunan sistem rumah tangga. Artinya, dengan bantuan bibit tanaman jeruk yang ditanam di setiap pekarangan rumah petani di wilayah Kecamatan Ngemplak Boyolali khususnya. Hal ini, yang menjadi targetnya untuk mempersiapkan perkebunan rakyat dari rumah tangga.

“Kami minta di Desa Giriroto, Kecamatan Ngemplak, Boyolali ini membuat perkebunan gaya rumah tangga. Saya minta Dirjen Kementerian Pertanian tidak ada rumah tanpa pohon baru, tanaman jeruk dan bibit pohon kelapa dibagikan untuk setiap pekarangan warga,”kata Mentan.

Petani pejuang yang harus dijaga khususnya di Kecamatan Ngemplak akan dijadikan percontohan. Jika sudah selesai tiga bulan ke depan, bisa meluas ke wilayah kecamatan lainnya. Jika Ngemplak ada 6 ribu tanaman jeruk ke depan bisa didirikan industrinya untuk pembotolan jus jeruk.

Mentan pada kesempatan tersebut selain memberikan bantuan bibit tanaman jeruk, pohon kelapa, juga 24 ribu benih lele dengan delapan kolam yang atasnya bisa ditanami tanaman sayuran hidroponik untuk kelompok tani di Desa Giriroto. Bantuan juga berupa bibit tanaman padi, dan jagung.

“Kami membuat IFS untuk percontohan selain di Desa Diriroto, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, juga di Desa Kragan, Kecamatan Gedongrejo, Karanganyar,”imbuhnya. (ara/mg9/aji)