Arsip Tag: Ekonomi

Borong Penghargaan di Rakernas, IPEMI Jateng Jadi Episentrum Muslimah Preneur

Lingkar.co — Di tengah dorongan penguatan ekonomi berbasis komunitas, Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPMI) Jawa Tengah tampil mencolok. Dalam Rakernas ke-8 yang digelar di Discovery Hotel Ancol pada 20–21 April 2026, wilayah ini memborong sejumlah penghargaan tingkat nasional.

Capaian tersebut bukan sekadar seremoni. Ia menandai pergeseran penting perempuan, khususnya pelaku usaha muslimah, mulai menjadi kekuatan nyata dalam lanskap ekonomi.

Rapat Kerja Nasional IPEMI kali ini tidak hanya menjadi forum internal organisasi. Di dalamnya, terdapat pameran produk unggulan daerah hingga grand final Duta Muslimah Preneur 2026 yang memperlihatkan geliat ekonomi perempuan dari berbagai wilayah.

Menteri Koperasi RI, Ferry Juliantono, menilai IPEMI memiliki posisi strategis dalam penguatan ekonomi rakyat.

“IPEMI diharapkan menjadi mitra perjuangan dalam membangun ekonomi yang memberi dampak nyata di masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, potensi yang dimiliki anggota IPEMI perlu diarahkan untuk memperkuat sektor UMKM nasional, termasuk mengisi rantai distribusi produk unggulan di tingkat desa dan kelurahan.

Dalam ajang tersebut, IPEMI Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Lies Iswar Aminuddin meraih predikat Pimpinan Wilayah (PW) Terbaik I Nasional.

Dominasi ini tidak berhenti di tingkat wilayah. Pimpinan Daerah Kota Semarang dan Kota Surakarta juga masuk kategori terbaik nasional.
Bahkan di tingkat cabang, PC Tembalang dan PC Banyumanik turut menyumbang prestasi, memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai salah satu pusat pertumbuhan Muslimah Preneur.

Lies Iswar Aminuddin menilai capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh anggota.
Ia menyebut penghargaan ini bukan hanya soal pengakuan, tetapi juga dorongan untuk memperluas dampak ekonomi di masyarakat.

“Kami menyambut arahan ini sebagai penguatan untuk terus bergerak lebih progresif dan memastikan IPEMI hadir sebagai bagian dari solusi ekonomi,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan ini menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi perempuan terus tumbuh dan semakin relevan di tengah dinamika ekonomi saat ini.

Perempuan dan Arah Ekonomi Inklusif
Ketua Umum IPEMI Pusat, Ingrid Kansil, menekankan pentingnya adaptasi dan inovasi dalam dunia usaha.

“IPEMI harus tidak hanya menunggu peluang, tetapi menciptakan dan mengeksekusinya,” tegasnya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa perempuan bukan lagi pelengkap dalam ekonomi, tetapi menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem usaha yang inklusif dan berkelanjutan.

Capaian berlapis dari tingkat wilayah hingga cabang memperlihatkan satu hal, Jawa Tengah mulai menjadi episentrum penguatan Muslimah Preneur di Indonesia.

Rakernas ini sekaligus mempertegas bahwa gerakan ekonomi perempuan tidak lagi bersifat sporadis, tetapi mulai terorganisir, terukur, dan berdampak luas. ***

Resmikan Jalan Lubuk Dalam-Way Urang, Dorong Perekonomian Kawasan Wisata Batu Rame,

Lingkar.co – Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, meresmikan ruas jalan Lubuk Dalam-Way Urang di Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, Selasa (21/4/2026).

Jalan sepanjang 1.075 meter itu memperlancar akses menuju Kawasan Wisata Batu Rame, Pantai Ketang serta mendorong peningkatan ekonomi masyarakat.

Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, menyatakan, pembangunan jalan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan konektivitas wilayah sekaligus mengoptimalkan potensi pariwisata.

“Alhamdulillah pembangunan jalan ini telah selesai dan sudah dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Kami berharap keberadaan jalan ini dapat meningkatkan kunjungan wisata dan berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat sekitar,” ujar Egi.

Menurutnya, infrastruktur yang baik menjadi salah satu faktor kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya di wilayah yang memiliki potensi wisata.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk turut menjaga jalan yang telah dibangun agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

“Saya titip kepada masyarakat agar jalan ini dijaga dengan baik, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” tuturnya. (*)

Kreativitas Kolaboratif, Dorong Pengusaha Muda Ciptakan Peluang Baru

Lingkar.co – Di tengah tekanan ekonomi global dan dinamika geopolitik yang tak menentu, pengusaha muda didorong untuk tidak sekadar bertahan, tetapi tampil sebagai pencipta peluang baru. Kreativitas dan keberanian mengambil inisiatif menjadi kunci lahirnya lapangan kerja dan pengungkit ekonomi daerah.

Pesan tersebut mengemuka dalam Forum Bisnis Daerah (Forbisda) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jawa Tengah di Bandungan, Minggu (19/4/2026), yang menghadirkan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, sebagai narasumber.

Dalam forum itu, Ahmad Luthfi menegaskan, peran pengusaha muda sangat strategis dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi daerah. Ia meminta Hipmi Jateng untuk lebih aktif berkolaborasi dengan pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota.

“Hipmi itu pengusaha muda. Harus kreatif menciptakan lapangan kerja dan ekonomi baru. Jangan menunggu, tapi menjemput bola,” tegasnya.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah saat ini berada di angka 5,37 persen, yang merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, termasuk kontribusi pelaku usaha muda. Tren tersebut diharapkan terus meningkat seiring upaya pemerintah daerah dalam menggenjot investasi.

Fokus investasi diarahkan pada sektor industri padat karya yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, guna menekan angka pengangguran terbuka. Selain itu, sedikitnya 12 kabupaten/kota mulai mengembangkan kawasan ekonomi khusus (KEK) dan kawasan industri baru sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.

Ahmad Luthfi juga mendorong Hipmi untuk menyelaraskan program organisasinya dengan agenda pembangunan di daerah. Ia meminta para pengusaha muda aktif menjalin komunikasi dengan kepala daerah guna membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.

“Temui bupati dan wali kota. Kolaborasikan program Hipmi dengan program daerah masing-masing. Hipmi adalah bagian dari collaborative government,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, sejumlah pengusaha muda menyampaikan aspirasi, mulai dari kemudahan perizinan, pemerataan akses program, hingga optimalisasi aset pemerintah yang belum termanfaatkan.

Eko, pengusaha asal Banjarnegara, mengapresiasi dorongan sinergi antara Hipmi dan pemerintah daerah. “Kalau akses komunikasi dengan kepala daerah bisa lebih terbuka, tentu akan sangat membantu pengusaha di daerah,” katanya.

Sementara itu, Kepala BPS Jawa Tengah, Ali Said, menyebutkan bahwa tren investasi di provinsi ini terus menunjukkan peningkatan. Pada 2025, pertumbuhan investasi mencapai 6,76 persen, naik dari tahun sebelumnya sebesar 6,5 persen.

“Ini perkembangan yang menggembirakan dan sangat positif. Kawasan industri dan KEK menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah,” ujarnya.

Dengan sinergi yang diperkuat dan inovasi dari pengusaha muda, Jawa Tengah diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan sekaligus membuka lebih banyak peluang kerja di masa mendatang. (*)

Pengrajin Tahu di Semarang Tertekan, Harga Kedelai dan Plastik Melonjak

Lingkar.co – Lonjakan harga bahan baku seperti kedelai, minyak goreng, hingga plastik kemasan membuat pengrajin tahu di Semarang kian terhimpit. Kenaikan biaya produksi yang signifikan memaksa pelaku usaha mencari strategi agar tetap bertahan tanpa menaikkan harga jual.

Salah satu pengrajin tahu, Joko Wiyatno, mengungkapkan harga kedelai dalam beberapa bulan terakhir mengalami kenaikan drastis hingga mendekati 60 persen.

“Harga normalnya Rp7.000 atau Rp8.000, sekarang di angka Rp11.000 per kilo. Sudah sekitar tiga bulan yang lalu (harga) kedelai naik,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Ia menjelaskan, usahanya yang berlokasi di kawasan Tandang Raya masih sangat bergantung pada kedelai impor, terutama dari Amerika Serikat. Kenaikan harga ini diduga dipicu oleh ketegangan geopolitik global yang memengaruhi rantai pasok dan distribusi.

Di tengah tekanan biaya, Joko memilih tidak menaikkan harga jual karena khawatir berdampak pada daya beli konsumen. Sebagai gantinya, ia mengurangi ukuran produk.

“Kalau kita naikkan harga sendiri itu nggak bisa, harus bareng-bareng. Jadi sementara ini kami kurangi takaran dan memperkecil ukuran tahu,” ungkapnya.

Usaha yang telah dirintis sejak 1968 itu kini memproduksi berbagai jenis tahu seperti tahu putih, tahu pong, dan tahu basah.

Kenaikan biaya produksi tidak hanya berasal dari kedelai. Harga bahan pendukung lain juga ikut melonjak, mulai dari minyak goreng, kayu bakar, hingga plastik kemasan.

“Kita terdampak semua, tidak hanya kedelai. Harga plastik, minyak goreng, kayu bakar juga naik. Minyak goreng misalnya dari Rp16.000 sekarang jadi Rp20.500,” keluh Joko.

Bahkan, harga plastik bening disebut melonjak hingga 100 persen, sementara plastik kantong naik sekitar 25 hingga 30 persen.

Dampaknya, kapasitas produksi pun ikut menurun. Dari sebelumnya sekitar 1 ton per hari, kini hanya berkisar 600 hingga 700 kilogram.

“Setiap ada gejolak, harga pasti naik. Kalau pakai kedelai lokal belum mampu, kualitasnya juga lebih basah dan mudah jamuran,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan dan Stabilitasi Harga Disdag Kota Semarang, Edi Subeno, menyebut kenaikan harga kedelai tidak lepas dari faktor global.

“Konflik geopolitik berdampak pada rantai pasok dan distribusi. Meski harga kedelai naik, belum berdampak pada harga tahu dan tempe di pasar,” ujarnya.

Saat ini, harga kedelai berada di kisaran Rp11.000 hingga Rp12.000 per kilogram. Namun sebelumnya sempat melonjak hingga Rp26.000 per kilogram menjelang Lebaran.

Pemerintah daerah, lanjutnya, masih terus memantau perkembangan harga dan siap melakukan intervensi jika kondisi semakin memburuk.

“Jika kenaikan harga semakin tidak terkendali dan berdampak pada masyarakat, kami akan melakukan intervensi serta berkoordinasi dengan instansi terkait,” tegasnya. ***

Trafik Penumpang dan Pesawat Bandara Ahmad Yani Semarang Naik Signifikan di Triwulan I 2026

Lingkar.co – Kinerja operasional Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani menunjukkan tren positif pada Triwulan I 2026, ditandai dengan lonjakan signifikan trafik penumpang dan pergerakan pesawat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

PT Angkasa Pura Indonesia melalui Kantor Cabang Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani mencatat peningkatan kinerja operasional sepanjang Januari hingga Maret 2026.

General Manager Bandara Ahmad Yani, Sulistyo Yulianto, mengungkapkan bahwa trafik pesawat mengalami kenaikan signifikan sebesar 36 persen, dengan total mencapai 5.917 pergerakan pesawat.

“Hal ini menunjukkan adanya potensi pertumbuhan industri aviasi di wilayah Jawa Tengah, khususnya Semarang sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi regional,” ujarnya.

Sementara itu, jumlah penumpang juga mengalami peningkatan sebesar 15 persen dibandingkan Triwulan I 2025, dengan total mencapai 610.477 penumpang.

Peningkatan tersebut didorong oleh tingginya mobilitas masyarakat, momentum libur awal tahun, arus mudik Lebaran 2026, serta bertambahnya frekuensi penerbangan dari dan menuju Semarang.

Sulistyo menyebut capaian ini merupakan hasil kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga kualitas layanan dan memastikan operasional berjalan optimal.

“Kami bersyukur atas pertumbuhan trafik di Triwulan I ini. Hal ini menjadi indikator positif bagi pemulihan dan pertumbuhan sektor aviasi di Semarang,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pihaknya akan terus meningkatkan kualitas pelayanan serta memperkuat konektivitas untuk mendukung kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.

Selain itu, manajemen bandara juga terus berkomitmen menghadirkan inovasi layanan, meningkatkan aspek keselamatan dan keamanan, serta memastikan standar operasional berjalan optimal.

Pada periode ini, sebanyak 93 persen penumpang yang dilayani masih didominasi oleh penerbangan domestik. Oleh karena itu, pihak bandara akan terus berupaya meningkatkan jumlah penumpang internasional.

“Kami akan terus berupaya meningkatkan trafik penumpang internasional,” imbuh Sulistyo.

Dengan tren pertumbuhan yang positif tersebut, Bandara Ahmad Yani optimistis dapat mencapai target kinerja tahunan sekaligus berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional. ***

Bupati Gorontalo Tetapkan Isimu Jadi Kawasan Kuliner

Lingkar.co – Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) Bupati yang menetapkan salah satu area di Desa Isimu Kecamatan Tibawa Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo sebagai kawasan kuliner.

Menurut dia, penetapan daerah tersebut sebagai salah satu kawasan kuliner yang legal merupakan langkah konkret dalam penguatan legalitas.

Dengan demikian ia berharap para pedagang memiliki payung hukum yang kuat dan kawasan tersebut memiliki ciri khas yang diakui secara daerah.

Selain legalitas, Bupati juga memaparkan strategi pemberdayaan ekonomi dengan menugaskan 12 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sebagai pengampu bagi kemajuan UMKM. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi kreatif di setiap wilayah.

“Kami ingin UMKM kita naik kelas. Melalui penetapan kawasan kuliner dan pendampingan dari OPD, pemerintah hadir untuk memastikan ekosistem usaha masyarakat terus berkembang,” terangnya saat hadir pada malam puncak Karnaval Wisata dan Budaya Ketupat Street Coffee Isimu, di Desa Isimu Selatan, Jumat (27/03/2026).

Pada kesempatan itu, ia juga menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Gorontalo memberikan dukungan penuh terhadap akselerasi ekonomi digital dan pariwisata daerah.

Bupati Sofyan mengaku bangga atas kemajuan UMKM di kawasan Isimu yang kini telah merambah ekosistem digital.

Hal itu nampak dari seluruh transaksi kuliner di kawasan tersebut kini diarahkan menggunakan sistem pembayaran nontunai (digitalisasi) dengan QRISS.

“Pelaksanaan kegiatan ini sangat luar biasa. Apalagi, seluruh pelaku UMKM di sini telah mendapatkan pendampingan untuk penerapan pembayaran nontunai. Alhamdulillah, saat ini transaksinya sudah berjalan secara digital,” ungkap Sofyan. (*)

Saat Ekonomi Tak Pasti, Gadai Jadi Penopang Likuiditas Warga dan UMKM

Lingkar.co – Ketidakpastian ekonomi global mendorong masyarakat mencari instrumen keuangan yang cepat, aman, dan mudah diakses. Di tengah situasi tersebut, layanan gadai kembali menegaskan perannya sebagai penopang likuiditas, baik bagi rumah tangga maupun pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Selama lebih dari satu abad, Pegadaian hadir sebagai penyedia layanan pembiayaan berbasis aset yang memberi solusi instan tanpa prosedur rumit. Bagi banyak orang, gadai bukan sekadar pinjaman, melainkan mekanisme bertahan ketika kebutuhan datang mendadak dan akses kredit konvensional membutuhkan waktu.

Kondisi itu dirasakan Lia (33), pengusaha gerai teh di Jakarta yang tengah mempersiapkan pendidikan anaknya. Kebiasaan menabung dan berinvestasi emas sejak 2015 membuatnya memiliki cadangan likuiditas tanpa harus menjual aset.

“Dari 2015 saya mulai beli emas batangan saat ada rezeki berlebih, dan pelan-pelan nabung emas juga di Pegadaian. Kalau butuh dana darurat saya bisa pakai emas yang saya punya untuk digadai, dan saya lunasi lagi saat sudah punya uang,” ujarnya.

Menurut Lia, strategi tersebut membantunya memenuhi kebutuhan mendesak tanpa mengorbankan investasi jangka panjang.

“Saya tidak menyangka kenaikan harga emas akan sesignifikan ini. Selain untuk sekolah anak, saya dan suami juga mulai memikirkan membuka satu gerai kecil lagi dengan gadai emas yang kami miliki,” tambahnya.

Direktur Pemasaran, Penjualan, dan Pengembangan Produk PT Pegadaian, Selfie Dewiyanti, menegaskan gadai masih menjadi produk utama karena fungsinya yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Gadai tentu menjadi produk andalan yang harapannya dapat membantu ekonomi masyarakat. Jika sedang butuh dana cair, masyarakat dapat langsung menggadaikan harta benda yang dimiliki tanpa harus kehilangan asetnya,” kata Selfie.

Ia menjelaskan, Pegadaian menyediakan layanan gadai mulai dari pinjaman Rp50 ribu sebagai bagian dari public service obligation dan upaya memperluas inklusivitas layanan keuangan.

“Uangnya dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari hingga modal usaha bagi pelaku UMKM,” ujarnya.

Bagi sektor UMKM, skema gadai kerap digunakan sebagai modal putar. Dengan menggadaikan emas yang nilainya relatif stabil, pelaku usaha memperoleh dana kerja tanpa menjual aset. Setelah usaha menghasilkan, emas dapat ditebus kembali, menciptakan siklus pembiayaan yang berkelanjutan.

Pegadaian juga menjalankan program Gadai Peduli dengan bunga 0 persen untuk pinjaman Rp50 ribu hingga Rp2,5 juta. Program ini ditujukan bagi masyarakat yang membutuhkan akses dana cepat tanpa beban biaya tambahan, sekaligus sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi kerakyatan.

Di sisi lain, transformasi digital memperluas jangkauan layanan gadai. Melalui aplikasi Tring!, masyarakat kini dapat mengakses layanan gadai, termasuk Gadai Tabungan Emas, secara daring tanpa harus datang ke kantor cabang.

“Saat ini semakin banyak masyarakat yang menyadari emas sebagai instrumen investasi yang aman, likuid, dan safe haven. Melalui aplikasi Tring!, masyarakat bisa menabung, menggadai, hingga mendepositokan emas dengan mudah,” kata Selfie.

Transformasi ini dinilai memperkuat inklusi keuangan lintas generasi. Selain memberi akses pendanaan, gadai juga berperan sebagai sarana literasi keuangan, karena nasabah memahami penilaian aset, biaya sewa modal, dan pengelolaan risiko secara transparan.

Sementara itu, Pemimpin Wilayah Kanwil XI Semarang PT Pegadaian, M Aries Aviani Nugroho, menyampaikan Pegadaian terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat melalui diversifikasi produk.

“Pegadaian memiliki berbagai produk, mulai dari kredit cepat aman, pembiayaan kendaraan Amanah, KUR, Kreasi, Kupedes, hingga investasi emas cicilan seperti MULIA dan Tabungan Emas. Semua didukung layanan digital Tring! untuk menjangkau masyarakat luas,” ujarnya.

Melalui inovasi produk dan transformasi layanan, Pegadaian menegaskan posisinya sebagai lembaga keuangan nonbank yang adaptif menghadapi ketidakpastian ekonomi, sekaligus menjadi mitra masyarakat dalam menjaga ketahanan finansial menuju Indonesia yang lebih sejahtera. ***

Bupati Boyolali Resmikan Gedung UPT Metrologi Legal Dinas Perdagangan dan Perindustrian Senilai Rp467 Juta

Lingkar.co – Gedung baru Unit Pelaksana Teknis (UPT) Metrologi Legal Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Boyolali yang berlokasi di Jalan Kates Nomor 1 Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (7/1/2026) diresmikan oleh Bupati Boyolali Agus Irawan,

Kepala Disdagperin Kabupaten Boyolali Purnawan Raharjo mengiyakan, pembangunan Gedung UPT Metrologi Legal ini menelan anggaran Rp467.509.000,00. Ia berharap, adanya kantor baru ini dapat memberikan pelayanan dan pengawasan di bidang metrologi yang lebih baik.

Selain itu, lanjutnya, dapat melindungi masyarakat dalam kebenaran pengukuran dan kepastian pemakaian satuan ukuran, standar satuan, metode pengukuran, serta alat-alat ukur, takar, timbang dan perlengkapannya.

Purnawan juga memaparkan, pada libur Nataru 2025 lalu, UPT Metrologi Legal telah melakukan pengujian dan pengawasan di beberapa titik SPBU dan SPBE dengan hasil baik. Bukan hanya itu, petugas juga telah melakukan uji tera timbangan di beberapa pasar di Boyolali, agar ukuran timbangan semua pedagang sama.

“Sehingga pelayanan kita pada pengguna metrologi legal ini mudah-mudahan bisa melaksanakan dengan baik dan lancar. ” harapnya.

Senada, Bupati Boyolali, Agus Irawan berharap dengan adanya kantor baru ini akan memberikan kenyamanan pada warga dan menjawab keraguan masyarakat terkait ukuran maupun timbangan. Orang nomor satu di Kota Susu itu berpesan agar nanti petugas dapat memberi pelayanan kepada masyarakat sebaik-baiknya dengan mempermudah dan mempercepat.

“Yang terpenting adalah satu, bagaimana kita bisa memberikan kepercayaan kepada warga, yang kedua, kita bisa memberikan pelayanan dengan baik, meningkatkan pelayanan kita. Warga masyarakat pasti tuntutannya adalah pelayanan yang cepat, mudah bahkan murah, ini kita mengarah kesana semuanya.” pesan Bupati.” (*)

Sekda Jateng Minta Jangan Persulit Pelayanan Perizinan Investasi

Lingkar.co – Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, mengatakan, pelayanan terkait perizinan berinvestasi di Jateng agar dipermudah dan dipercepat. Bukan sebaliknya menjadi penghalang.

“Jadi tanggung jawabnya bagaimana melayani agar perizinan (berinvestasi) lebih mudah, lebih cepat. Bukan menjadi preman, menjadi portal. Kalau orang mau lewat bayar dulu. Tidak seperti itu!” katanya saat memberikan sambutan pada Gala Dinner dan Investment Networking dalam rangkaian Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2025, di Hotel Tentrem, Kota Semarang, Selasa (4/11/2025) malam.

Dia mengatakan, upaya mempermudah perizinan untuk investor bisa masuk di Jawa Tengah merupakan wujud tertunainya amanah pelayanan di pemerintahan.

Dalam rangkaian CJIBF 2025 ini, kata Sumarno, merupakan ajang promosi supaya investor berminat menanamkan modalnya di Jateng. Supaya investor tidak lepas, harus difasilitasi dengan baik.

“Perizinan dan sebagainya harus kita permudah, harus kita percepat. Kalau perlu kita jemput, kalau perlu kita gelar karpet,” ucapnya.

Dalam menggaet investor, lanjut Sumarno, bukan perkara mudah. Apalagi harus bersaing atau berkompetisi dengan daerah lain bahkan negara lain.

Dia mengajak pemerintah kabupaten/kota agar terus berkomunikasi dengan Pemerintah Provinsi Jateng bila menemui hambatan dalam menjaga investor. Kolaborasi menjadi penting.

“Nanti, tentu saja kita akan berkolaborasi untuk menyelesaikan problem-problem yang mungkin tidak substansi,” ucapnya.

Untuk diketahui, CJIBF telah berhasil menggaet 34 pelaku usaha atau investor untuk menanamkan modal atau investasi di Jawa Tengah dengan nilai mencapai Rp5 triliun. Semuanya telah menandatangani nota kesepahaman dan sedang membahas tindak lanjut dengan daerah kabupaten/kota tujuan investasi.

CJIBF merupakan agenda rutin yang digarap oleh Pemprov Jateng berkolaborasi dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah. Tema CJIBF kali ini adalah “Promoting Central Java’s Investment Opportunity in Renewable Energy and Downstream Food Industry”. Tujuannya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hijau dan berkelanjutan dengan mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh Jawa Tengah.

“Hari ini topiknya adalah bagaimana menciptakan ekonomi terbarukan dan produk-produk yang terintegrasi. CJIBF ini diikuti oleh perwakilan dari beberapa kedutaan besar seperti Duta Besar Pakistan dan Zimbabwe, para investor, dan kepala daerah,” kata Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi usai gelaran CJIBF di Ballroom Hotel Padma, Kota Semarang, Selasa, 4 November 2025 pagi.

Dikatakannya, investasi merupakan salah satu kekuatan daerah untuk perekonomian wilaya. Tercatat realisasi investasi di Jawa Tengah sampai triwulan III-2025 mencapai Rp66,13 triliun. Jumlah tersebut masih didominasi oleh penanaman modal asing (PMA). (*)

Ansor Reban Batang Berdayakan Ekonomi Kader dengan Produk Kopi

Lingkar.co – Ngobrol santai sambil menikmati kopi merupakan salah satu dari kebiasaan masyarakat untuk berinteraksi dan melakukan negosiasi bisnis. Prospek bisnis kopi ini ditangkap dan dikembangkan oleh Qawimul Adib yang menjadikan perekonomian kader Ansor di Batang mengalami peningkatan yang signifikan.

Menurut Qowim, sapaan akrabnya, geliat wirausaha kopi kader Ansor mendapatkan dukungan dari stand ke stand dalam berbagai event yang digelar oleh Nahdlatul Ulama maupun Badan Otonom (Banom), termasuk stand UMKM yang digelar PW GP Ansor Jateng di area Pondok Pesantren (Ponpes) Ash Shodiqiyah, Sawah Besar, Gayamsari Kota Semarang hari ini Ahad (2/11/2025).

“Kita pikir sederhana saja, bagaimana mendapatkan peluang usaha dari kebiasaan ngopi. Jadi harus punya standar produksi sehingga kita paham citarasa yang diinginkan oleh penikmat kopi,” katanya.

Dirinya lantas mengisahkan, pandemi Covid-19 memang membuat perekonomian hancur. Namun hikmah dari itu dirinya bisa lebih bermanfaat karena mampu mengembangkan usaha kopi berbasis komunitas.

“Usaha ini secara pribadi sudah sejak tahun 2015, saya awalnya merintis di Jakarta, dan gulung tikar saat pandemi,” ungkapnya.

Ia bersama istrinya lantas memutuskan pulang kampung di Sukomangli, Reban, Batang. Hidup di kawasan lereng pegunungan, ia bergerak bersama Lembaga Ekonomi Ansor memberdayakan kader Ansor berwirausaha.

Berbeda dengan usaha yang ia rintis di Jakarta yang hanya mengandalkan keterampilan sebagai barista, ‘Tahun 2023 itu baru mulai belajar menanam, memilih dan mengolah biji kopi yang telah diroasting hingga mempersiapkan tenaga barista,” katanya.

“Kalau bukan petani muda (Ansor), kita beli kopi yang sudah merah dan belum dijemur. Otomatis petani juga untung karena tidak beli kopi secara borongan atau sistem tebas,” sambungnya.

Saat ini, kata dia, para petani muda sudah memiliki berbagai branding kemasan dengan citarasa sendiri, dan setiap merk bisa dijual dalam stand UMKM yang diadakan NU maupun banomnya, “Jadi tiap ada even tinggal menunjuk yang siap menjadi barista dengan merk mereka sendiri,” jelasnya.

Meski demikian, kata dia keberhasilan tersebut juga tidak lepas dari kemampuan menjaga komunikasi dengan pelanggan di Jakarta. Sehingga pemasaran online hanya berdasarkan pesanan via telepon di aplikasi WhatsApp.

“Kita kan tidak cari pembeli, tapi pelanggan, usaha kopi berbasis komunitas yang ada ini cukup stabil,” ujarnya.

Terkait standar olahan yang stabil, ia mengaku memilih sesuai segmen nasional karena kapasitas produksi yang belum mampu memenuhi pangsa pasar global, “Kita sekarang turunkan tidak standar internasional, karena kewalahan memenuhi kebutuhan pasar dari luar negeri,” tutupnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat