Arsip Tag: Pariwisata Indonesia

Wellness Tourism Jadi Andalan, Pemerintah Didorong Serius Kembangkan Infrastruktur dan SDM

Lingkar.co – Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menyampaikan bahwa wisata kebugaran atau wellness tourism telah ditetapkan sebagai salah satu program prioritas Kementerian Pariwisata guna meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kami dari Kementerian Pariwisata sudah memasukkan wellness tourism ini sebagai bagian dari program prioritas,” ujar Ni Luh saat ditemui di Jakarta, Sabtu (11/4/2026).

Ia menjelaskan, wisata kebugaran merupakan bagian dari konsep pariwisata berkualitas. Karena itu, pemerintah terus mendorong penyelenggaraan berbagai kegiatan dan event, serta memperkuat industri yang bergerak di sektor wellness.

Menurutnya, Indonesia saat ini telah memiliki sejumlah kota yang dikenal sebagai destinasi wisata kebugaran. Namun, ke depan pengembangan sektor ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak daerah dengan mengangkat keunikan budaya lokal sebagai daya tarik utama.

Saat menghadiri Saka Yoga Festival ke-8 yang digelar Sabtu pagi, Ni Luh menilai yoga menjadi salah satu elemen penting dalam pengembangan wisata kebugaran sekaligus wisata spiritual.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian perayaan Dharma Santi Nasional serta peringatan Hari Suci Nyepi 2026.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus diperluas guna memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi unggulan untuk wisata kebugaran dan spiritual di tingkat global.

“Mudah-mudahan kegiatan seperti ini bisa semakin banyak dilakukan di Indonesia, sehingga betul-betul kita bisa memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi wellness dan juga spiritual tourism yang memang saat ini ke depannya menjadi tren bagi wisatawan dunia,” jelas Ni Luh.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pengembangan Industri Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Suyadi Pawiro, turut mengapresiasi penyelenggaraan acara tersebut.

Ia mendorong agar kegiatan yoga maupun kompetisi serupa dapat digelar di berbagai daerah di Indonesia untuk memperluas jangkauan dan minat masyarakat.

“Kita ingin mendorong makin banyak event yoga dan competition yang bisa dilakukan di banyak tempat. Saya juga mencatat pernah ada yoga yang bisa dilakukan di Museum Nasional,” pungkasnya.

Penulis : Putri Septina

Apresiasi Konsistensi Mitra Industri Pariwisata, Kemenpar Gelar Wonderful Indonesia Award 2025

Lingkar.co – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengapresiasi kolaborasi mitra industri dalam mendorong pertumbuhan sektor pariwisata melalui Penganugerahan Wonderful Indonesia Award (WIA) 2025.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (9/12/2025), menjelaskan WIA 2025 menjadi momentum bagi pemerintah untuk memberikan penghargaan kepada para mitra dan stakeholder yang secara konsisten berkontribusi memperkuat pariwisata Indonesia melalui kolaborasi strategis dan berkelanjutan.

Salah satu program yang turut berperan dalam ajang penghargaan ini adalah Co-Branding Wonderful Indonesia, sebuah bentuk kerja sama strategis yang mengedepankan pertukaran nilai (barter value) antara Kementerian Pariwisata dengan para mitra. Skema ini memungkinkan kedua pihak menyelaraskan pesan serta memanfaatkan elemen branding secara terpadu untuk memperluas jangkauan promosi dan meningkatkan kesadaran publik terhadap destinasi pariwisata Indonesia.

“Program ini memayungi dua kategori penghargaan. Pertama, Most Collaborative Co-Brand, bagi mitra co-branding yang aktif berkolaborasi meningkatkan awareness Wonderful Indonesia. Kedua, Tourism Partner of the Year, bagi stakeholder yang menunjukkan kontribusi serta dampak terbaik bagi penguatan pariwisata Indonesia,” kata Ni Made.

Setelah melalui proses kurasi, penilaian dokumen, dan evaluasi aktivitas media sosial, ditetapkan 15 besar mitra untuk masing-masing kategori, yakni Most Collaborative Co-Brand dan Tourism Partner of the Year, yang kemudian melangkah ke tahap presentasi di hadapan dewan juri pada 25 November 2025.

Para nominasi dinilai sebagai mitra yang memiliki komitmen kuat dalam penyelarasan pesan, integrasi elemen branding, serta inovasi bersama yang memberi dampak nyata bagi ekosistem pariwisata Indonesia.

Nominasi The Most Collaborative Co-Brand meliputi Grab Indonesia, Oppo Indonesia, Atourin, PT Kreasi Pala Nusantara, dan PT Rumah Atsiri. Sementara nominasi Tourism Partner of the Year terdiri atas tiket.com, PT Amerta Indah Otsuka, Taman Mini Indonesia Indah, PT Acaraki Nusantara Persada, dan PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Pada malam penganugerahan WIA 2025, PT Grab Teknologi Indonesia diumumkan sebagai pemenang kategori Most Collaborative Co-Brand, sementara tiket.com meraih penghargaan Tourism Partner of the Year.

“WIA 2025 bukan akhir, melainkan penegasan bahwa kolaborasi mampu menghasilkan inovasi dan dampak yang lebih luas. Para mitra hari ini merepresentasikan praktik terbaik kolaborasi lintas sektor. Kami berharap keberhasilan mereka menjadi inspirasi bagi lebih banyak pihak untuk mendorong ekosistem pariwisata Indonesia agar semakin adaptif dan kompetitif,” ujar Made.

Plt. Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan Kemenpar, Vinsensius Jemadu, menyampaikan pandangan serupa dan menekankan pentingnya kesinambungan kolaborasi lintas sektor.

Penilaian WIA 2025 melibatkan jajaran juri lintas disiplin untuk memastikan objektivitas dan perspektif yang komprehensif. Budi Santoso, Creative Director Matari Advertising, menghadirkan analisis mendalam terkait kreativitas dan efektivitas kampanye co-branding. Dr. Aqsath Rasyid Naradhipa, akademisi SBM ITB sekaligus CEO No Limit dan pengurus PERHUMAS, memberikan pandangan berbasis data melalui big data analytics dan stakeholder relations.

Dari sisi media, Maria Rosari Dwi Putri, Kepala Redaksi Lifestyle LKBN Antara, menilai kualitas eksposur dan konsistensi narasi brand dengan perspektif independensi jurnalistik. Sementara dari internal kementerian, Ni Made Ayu Marthini dan Vinsensius Jemadu memberikan penilaian strategis terkait relevansi kolaborasi dan kontribusinya bagi ekosistem pariwisata.

Malam Penganugerahan WIA 2025 menjadi ruang pertemuan bagi mitra berbagai sektor yang selama ini berperan aktif dalam meningkatkan eksposur Wonderful Indonesia di tingkat nasional maupun internasional. Melalui kampanye terpadu, aktivasi digital, integrasi brand, dan program pemasaran bersama, para mitra turut memperluas awareness publik terhadap destinasi Indonesia, memperkaya narasi promosi, serta memperkuat kredibilitas brand Wonderful Indonesia.

Kementerian Pariwisata berharap pelaksanaan WIA 2025 dapat menginspirasi lahirnya kolaborasi baru yang lebih progresif sekaligus memperkuat posisi Wonderful Indonesia sebagai brand pariwisata yang kompetitif dan berdaya saing global. (*)

Libatkan Stakeholder Terkait, Kemenpar Rumuskan Implementasi Pengawasan Perizinan Usaha Berbasis Risiko

Lingkar.co – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) merumuskan kesepakatan bersama dalam penguatan implementasi pengawasan perizinan berusaha berbasis risiko di sektor pariwisata melalui forum komunikasi yang melibatkan stakeholder pariwisata (kementerian/lembaga, dinas pariwisata, asosiasi dan pelaku usaha).

Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata, Rizki Handayani saat sambutan pada Forum komunikasi ‘Penguatan Kebijakan dan Implementasi Pengawasan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko’ di Grand Mansion Menteng, Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Rizki, pihaknya berharap pengawasan perizinan berusaha berbasis risiko dapat berjalan seiring dengan segala masukan dan hambatan yang diidentifikasi dan diselesaikan berdasarkan diskusi bersama lintas sektor, sehingga tercipta ekosistem pengawasan dan kualitas pelayanan pariwisata yang lebih baik. Dengan demikian, wisatawan mendapat pengalaman yang baik selama berwisata. Hal ini menjadi tanggung jawab bersama lintas kementerian/lembaga.

“Kami memahami banyak standar-standar yang belum kita punyai dan pedoman yang belum dibuat oleh Kemenpar yang terkait dengan risiko tinggi. Namun tidak menutup kemungkinan pada forum ini bisa memberikan masukan kepada kami di Kemenpar maupun kepada dinas,” kata Rizki dilansir dari siaran persnya di laman resmi Kementerian Pariwisata, Sabtu (31/5/2025)

Ia menjelaskan, Kementerian Pariwisata telah mengembangkan Sistem Informasi Pengawasan Standar Usaha Pariwisata yang di dalamnya meliputi data tentang usaha pariwisata yang sudah tersertifikasi atau sudah menerapkan standar.

Saat ini, kata dia, sistem tersebut masih dalam tahap penyempurnaan, agar bisa dimanfaatkan secara optimal.Dalam kesempatan tersebut, sejumlah perwakilan kementerian/lembaga hadir menyampaikan berbagai paparan mengenai pengawasan perizinan berusaha berbasis risiko berdasarkan perspektif bidang masing-masing, di antaranya investasi dan hilirisasi; lingkungan hidup; agraria dan tata ruang; pekerjaan umum; ketenagakerjaan; kelautan dan perikanan; perikanan; serta kehutanan.

Tidak hanya itu, sejumlah masukan juga disampaikan dinas pariwisata, asosiasi, dan pelaku usaha mulai dari skema pembaharuan LSHS (Sertifikat Laik Higiene Sanitasi), perlu adanya pelatihan keselamatan kerja, peningkatan SDM, memperkuat sistem tanggap darurat di destinasi wisata, pengawasan lebih lanjut bagi travel agent yang belum memiliki perizinan resmi, hingga perlu adanya gerakan atau seruan memanfaatkan travel agent resmi untuk merancang perjalanan wisata.

Asisten Deputi Bidang Percepatan Investasi dan Hilirisasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ichsan Zulkarnaen mengatakan pengawasan itu menjadi kunci dalam menjalankan perizinan berusaha berbasis risiko.

Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata, Rizki Handayani. Foto: dokumentasi
Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata, Rizki Handayani. Foto: dokumentasi

“Kita bersama-sama bisa bersinergi, memperkuat pengawasan perizinan berusaha berbasis risiko ini sebagai bagian untuk membangun bangsa dan mewujudkan ekosistem usaha yang sehat yang berkelanjutan dan juga yang inklusif,” kata Ichsan.Direktur Pencegahan Dampak Lingkungan Kebijakan Wilayah dan Sektor, Kementerian Lingkungan Hidup, Widhi Handoyo menambahkan, salah satu yang perlu diperhatikan dalam perizinan usaha berisiko tinggi adalah persetujuan lingkungan yang menjadi jantungnya sistem perizinan di Indonesia. “Sebab secara legal sesuai UU Cipta Kerja Perizinan Berusaha untuk usaha dan kegiatan tidak dapat diterbitkan tanpa adanya persetujuan lingkungan,” kata Widhi.Sementara, Direktur Bina Sistem Pengawasan Ketenagakerjaan, Kementerian Ketenagakerjaan, Yuli Adiratna mengungkapkan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) diperlukan sebagai fondasi industri pariwisata Indonesia yang berkelanjutan.“Dalam implementasinya diperlukan komitmen dan aksi nyata lintas sektor secara konsisten, seperti joint inspection dan menyusun panduan K3 Pariwisata,” ujar Yuli.Pada kesempatan itu hadir sejumlah pejabat eselon I dan II di lingkungan Kementerian Pariwisata, kementerian/lembaga terkait, Asosiasi, Lembaga Sertifikasi (LSPr) Usaha Pariwisata, dan aparat kepolisian. (*)

Youtuber Jajago Keliling Indonesia Kena Pungli, Ni Luh Puspa: Tidak Boleh Terjadi di Destinasi Wisata

Lingkar.co – Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa ingin destinasi wisata yang aman, nyaman, dan menyenangkan karena itu adalah kunci untuk memberikan pengalaman terbaik bagi wisatawan, sekaligus memastikan dampak positif pariwisata dirasakan langsung oleh masyarakat. Untuk itu ia menegaskan praktik pungutan liar (pungli) tidak boleh terjadi di destinasi wisata, Jumat (23/5/2025).

Melalui laman resmi Kementerian Pariwisata, Wamenpar Ni Luh Puspa menyatakan hal itu untuk menanggapi kejadian pungli yang dialami Youtuber Jajago Keliling Indonesia di kawasan Jalan Poros Tengah Ratenggaro menuju Tambolaka dan Pantai Ratenggaro, Kampung Adat Ratenggaro (KAR), Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusantara Tenggara Timur (NTT), beberapa waktu lalu.

Sebagai informasi, Provinsi NTT merupakan salah satu destinasi prioritas nasional, mencatat sebanyak 1,5 juta wisatawan mengunjungi provinsi berbasis kepulauan ini pada tahun 2024.

“Saya rasa menjadi tugas kita bersama untuk bisa menciptakan destinasi yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Saya rasa kita semua punya komitmen yang sama, punya perasaan yang sama bahwa praktik-praktik seperti ini (pungli) tidak boleh terjadi,” ujar Wamenpar Ni Luh Puspa dalam rapat tindak lanjut penanganan pungli secara daring bersama seluruh stakeholder pariwisata di Provinsi NTT dan Kabupaten Sumba Barat Daya..

Wamenpar mengapresiasi respons cepat Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya dan Pemerintah Provinsi NTT. Pada 20 Mei 2025, Pemkab telah menggelar pertemuan dengan Polsek Kodi Bangedo, Danramil Kodi, kepala desa, dan tokoh masyarakat Kampung Adat Ratenggaro.

Dalam pertemuan itu, masyarakat dan penghuni Kampung Adat Ratenggaro menyadari perbuatan oknum yang melakukan pungli kepada wisatawan adalah perbuatan memalukan dan melanggar aturan. Masyarakat dan penghuni Kampung Adat Ratenggaro juga memahami akibat viralnya video pungli tersebut telah mencoreng nama baik Kabupaten Sumba Barat Daya juga Provinsi Nusa Tenggara Timur yang bisa berdampak pada menurunnya kunjungan wisatawan.

“Yang terjadi di Pantai Ratenggaro ini sudah menjadi perhatian di tengah begitu pesatnya perkembangan sektor pariwisata di NTT. Apa yang sudah dibangun selama ini di NTT, kami harapkan bisa terus berlanjut secara berkelanjutan. Dan ini tidak bisa dilakukan kalau hal-hal seperti pungli, masalah keamanan dan kenyamanan masih menjadi isu yang dibicarakan para turis,” ujar Ni Luh Puspa.

Pemerintah mendukung sepenuhnya langkah pemerintah daerah juga aparat hukum untuk melakukan pembinaan juga penindakan tegas terhadap pelaku agar hal-hal seperti ini tidak terulang lagi ke depan.

“Pendekatan yang perlu dilakukan tentu saja perlu bersifat preventif dan edukatif, khususnya pada anak-anak dan masyarakat yang ada di sana,” kata Wamenpar.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) akan selalu berkoordinasi dan berkolaborasi dengan dinas pariwisata provinsi maupun kabupaten agar memberikan pendampingan kepada masyarakat terkait pengelolaan destinasi pariwisata dan sadar wisata.

Masyarakat secara langsung perlu dilibatkan secara aktif dalam semua ekosistem pariwisata di desa wisata dan destinasi pariwisata melalui skema pelatihan, pembinaan, serta penguatan ekosistem pariwisata, terutama agar masyarakat bisa langsung mendapatkan peluang usaha dari berkembangnya aktivitas pariwisata di suatu destinasi

Selain itu, Kemenpar juga memandang pembekalan informasi kepada wisatawan mengenai nilai-nilai kearifan lokal, tradisi dan kebiasaan setempat, termasuk kondisi sosial ekonomi masyarakat di destinasi tidak kalah pentingnya untuk kenyamanan aktivitas berwisata.

Kemenpar akan memantau secara berkala termasuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam pengelolaan destinasi dan desa wisata agar peristiwa seperti ini tidak terulang kembali.

Kemenpar juga mengimbau kepada wisatawan yang ingin memberikan bantuan pendidikan ataupun berupa uang, agar tidak memberikan langsung disampaikan kepada anak-anak di lokasi destinasi yang dikunjungi, namun dilakukan melalui koordinasi dengan lembaga desa, komunitas, atau pemerintah daerah agar penyaluran bantuan bisa terkoordinir dan tersalurkan dengan baik.

“Ini harus jadi titik balik bagi pariwisata di Sumba dan NTT untuk menciptakan pariwisata berkualitas yang tertib dan inklusif. Kita harus berkolaborasi bersama, kami mendukung penguatan SDM lokal melalui pelatihan digital, pemasaran destinasi, dan manajemen destinasi berbasis komunitas,” ujar Wamenpar Ni Luh Puspa.

Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonu Wulla, dalam kesempatan yang sama kembali menyampaikan permohonan maaf atas nama Pemerintah Kabupaten dan masyarakat Sumba Barat Daya atas peristiwa yang terjadi di Ratenggaro.

“Kami berkomitmen hal ini tidak terjadi lagi agar pengembangan pariwisata di Sumba Barat Daya semakin baik,” ujar Bupati Ratu Ngadu Wulla.

Ia mengungkapkan, dalam pertemuan yang berlangsung pada 20 Mei 2025, masyarakat mengakui dan menyadari bahwa perbuatan oknum yang meminta uang secara ilegal kepada wisatawan adalah perbuatan memalukan dan melanggar aturan.

Masyarakat dan penghuni Kampung Adat Ratenggaro meminta pemerintah terus memberikan pelatihan, pendampingan, dan pembinaan dalam menjamu wisatawan dan pengelolaan objek wisata Ratenggaro. Masyarakat dan penghuni Kampung Adat Ratenggaro juga sepakat untuk menyelesaikan masalah internal dalam pengelolaan destinasi wisata.

Pertemuan juga menyepakati untuk dibuatnya papan informasi di depan pos masuk dan di dalam Kampung Adat Ratenggaro tentang ketentuan aktivitas wisata. Seperti daftar tarif masuk, tarif menunggang kuda, tarif foto, dan kegiatan lainnya sesuai peraturan desa. Dalam hal keamanan dan kenyamanan ke depannya juga akan melibatkan pihak kepolisian, TNI dan Satpol PP, serta beberapa kesepakatan lainnya.

“Pada 23 Mei 2025, Bupati bersama Forkopimda dan Kapolres, Kajari, akan turun lagi untuk bertemu dengan masyarakat dan penghuni Kampung Adat Ratenggaro, sehingga apa yang sudah jadi kesepakatan dan peraturan bisa dijalankan. Kami juga akan membenahi fasilitas yang kurang di kampung Ratenggaro sehingga bisa menciptakan kenyamanan bagi penghuni dan pengunjung yang datang ke Ratenggaro,” ujarnya.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Sekda Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kosmas Damianus Lana; Kepala Disparekraf NTT, Noldy Hosea Pellokila; serta perwakilan dari pemangku kepentingan pariwisata lainnya di Provinsi NTT dan Kabupaten Sumba Barat Daya.

Hadir mendampingi Wamenpar Ni Luh Puspa, Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kemenpar, Fadjar Hutomo; Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenpar, Hariyanto; serta Direktur Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar, Dwi Marhen Yono.

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Punya Curug dan Kebudayaan, Pudakpayung, Bakal Jadi Destinasi Wisata Baru di Kota Semarang

Lingkar.co – Kelurahan Pudakpayung Bakal menjadi destinasi desa wisata baru di kota Semarang. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang telah terjun langsung untuk membedah potensi pariwisata yang dimiliki kelurahan tersebut.

Bahkan, kelurahan yang ada di kawasan Semarang atas itu juga telah terbentuk pengurus Desa Wisata (Deswita), dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang siap membantu pemerintah dalam memajukan potensi wisata yang menarik di Semarang.

Kepala Bidang Kelembagaan Pariwisata, Nurul Fitri Cahyanti SS MM melakukan bedah potensi bersama Lurah Pudakpayung Pamirah S ST, Ketua Desa Wisata Pudakpayung, Muhammad di Balai Kelurahan Pudakpayung.

Nurul Fitri tidak sendiri, ia datang bersama Begawan Pariwisata Jateng, Trenggono, dan akademisi dari Udinus, Izza Ulumuddin Ahmad Asshofi SE M MPar CHTMB, CHE.

“Dialog ini digelar menyusul dibentuknya Desa Wisata Pudakpayung baru-baru ini. Sementara, Disbudpar yang mengeluarkan SK pembentukan, melakukan pendampingan,” kata Nurul kepada Lingkar.co pada Kamis (25/7/2024).

Dari bedah potensi wisata dan dialog, lanjutnya, kelurahan Pudakpayung memiliki objek wisata cukup banyak dan beragam. “Objek wisata alam, religius dan budaya serta wisata edukasi ada semua,” ujarnya.

Nurul Fitri pun menyarankan agar para pelaku usaha pariwisata menentukan skala prioritas dalam mengembangkan bisnis pariwisata. “Untuk pengembangan, harus dengan skala prioritas. Pilih paket wisata dengan objek yang paling potensial dulu,” sarannya.

Trenggono sependapat dengan penuturan Nurul Fitri. Pudakpayung memiliki objek wisata alam, religi dan edukasi, selain itu juga memiliki objek kebudayaan, terutama budaya wayang. “Ini potensi yang bisa dijadikan unggulan,” katanya.

Trenggono juga menyatakan diri siap bersama sama memajukan potensi pariwisata yang dimiliki Kelurahan Pudakpayung. “Kalau ini sudah terwujud, muaranya adalah meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu Lurah Pudakpayung, Pamirah, bersama pengurus Deswita, Pokdarwis, Camat Banyumanik, Eka Kriswanti SH MM dalam waktu dekat ini akan menyusuri rute Curug Kedung Kudhu, dan Ondorante. Dengan melihat langsung, pihaknya sekaligus dapat melakukan pemetaan objek wisata potensial yang ada. (ADV)

Sandiaga Uno Raih Indonesia Man of The Match in Tourism 2022

JAKARTA, Lingkar.co – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno meraih penghargaan ‘Indonesia Man of The Match in Tourism 2022’.

Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kabanparekraf), Sandiaga berhak menerima penghargaan tersebut berkat ragam kebijakan dan strategi yang ia gagas berhasil.

Yakni memberikan dampak pada kebangkitan pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia.

Demikian Lingkar.co melansir prestasi Sandiaga dari laman resmi kemenparekraf.go.id, Senin (26/12/2022).

Ia menerima secara simbolis dari President ITTA Foundation, Panca R Sarungu pada Malam Anugerah Indonesia Travel and Tourism Awards 2022.

Penghargaan berlangsung meriah di Artotel Suites Mangkuluhur, Jakarta.

“Penghargaan ini memberikan suatu semangat dan keyakinan bahwa sektor pariwisata dan ekonomi kreatif akan terus maju dan bertumbuh ke arah yang lebih baik,” tuturnya.

Menurut Sandiaga, Indonesia sedang menjadi spotlight dunia berkat kesuksesan pelaksanaan KTT G20.

Selain itu juga perayaan puncak World Tourism Day, dan sejumlah event internasional lain.

Oleh karena itu ia berharap, euphoria ini harus bisa optimal dengan kerja sama seluruh unsur pentahelix.

Lebih lanjut ia mengungkapkan target kinerja pariwisata di tahun 2023 untuk wisatawan mancanegara sebesar 3,5-7,4 juta kunjungan.

Sedangkan wisatawan nusantara 1,2–1,4 miliar. Ia yakin pergerakan akan diraih dengan hasil maksimal.

“Saya mengajak para pimpinan perusahaan yang bergerak dalam bidang pariwisata untuk bergandengan dengan pemerintah mencapai target kunjungan wisatawan pada 2023,” kata Sandiaga.

Luncurkan Aplikasi Tepanas

Dalam kesempatan itu, Menparekraf Sandiaga bersama dengan stakeholder terkait juga meluncurkan aplikasi Tepanas (Teman Parekraf Nasional).

Fitur utama pada aplikasi ini adalah kumpulan informasi yang berkaitan dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Isi aplikasi mulai dari pemesanan paket event yang masuk ke dalam KEN (Kharisma Event Nusantara), dan paket perjalanan ke desa wisata.

Juga mendukung rantai pasok industri pariwisata dan ekonomi kreatif, hingga national discount card yang dapat digunakan untuk mendukung Bangga Berwisata di Indonesia Aja (BBWI).

Sementara, President ITTA Foundation, Panca R Sarungu mengatakan, tidak hanya Sandiaga saja yang menerima penghargaan.

Namun, pihaknya juga memberikan ‘Lifetime Achievement Award’ kepada Prof. Dr. H. Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata, Kabinet Indonesia Bersatu II.

Ia berhak menerima penghargaan tersebut karena sebagai sosok yang hingga kini terus mendedikasikan waktu dan pemikiran untuk pengembangan sektor pariwisata.

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat