Arsip Kategori: Wisata

Berita Wisata

Turnamen Sumpit Rayakan Panen, Lestarikan Budaya Dayak

Lingkar.co – Warga Desa Teras Nawang, Kecamatan Tanjung Palang, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara) menggelar Turnamen Sumpit untuk memeriahkan Pesta Panen.

Wakil Gubernur Kaltara, Ingkong Alab secara resmi membuka Turnamen Sumpit yang diikuti 80 peserta dari berbagai desa di kabupaten Bulungan.

Kegiatan ini menjadi upaya nyata dalam menjaga dan melestarikan tradisi budaya di tengah perkembangan zaman. Tingginya partisipasi menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap olahraga tradisional khas Dayak yang butuh konsentrasi dalam menguji akurasi tembakan untuk bisa tepat sasaran.

Dalam sambutannya, Wagub Ingkong menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Turnamen ini bukan hanya soal ketepatan mengenai sasaran, tapi juga upaya menjaga warisan budaya agar tetap hidup,” ujarnya, Selasa (21/4/2026)

Ia menegaskan bahwa menyumpit bukan sekadar perlombaan, melainkan simbol ketangkasan dan jati diri budaya Kaltara yang perlu dilestarikan oleh generasi muda.

Selain sebagai ajang kompetisi, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarwarga. Pesta panen yang menjadi latar kegiatan merupakan tradisi tahunan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi yang diperoleh masyarakat. (*)

Jelang Hari Kartini, Kunjungan Museum di Rembang Naik Signifikan

Lingkar.co – Kunjungan wisatawan ke Museum RA Kartini mengalami lonjakan signifikan menjelang peringatan Hari Kartini 2026. Hingga 18 April, jumlah pengunjung tercatat meningkat sekitar 30 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Subkoordinator Sejarah, Museum, dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Rembang, Retna Dyah Radityawati, menyampaikan bahwa peningkatan ini didominasi oleh kalangan pelajar.

“Data kunjungan di Museum RA Kartini Rembang, jelang April kenaikan pengunjung sampai dengan 18 April dari bulan lalu sebanyak 30 persen,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Perempuan yang akrab disapa Nana itu menjelaskan, mayoritas pengunjung berasal dari anak-anak sekolah, mulai dari kelompok bermain hingga sekolah dasar. Momentum Hari Kartini dimanfaatkan sebagai sarana edukasi sejarah sejak dini.

“Yang banyak pengunjung anak-anak sekolah. Mayoritas terutama kelompok bermain, TK dan SD,” jelasnya.

Museum yang menyimpan jejak kehidupan Raden Ajeng Kartini ini memiliki ratusan koleksi bersejarah. Tercatat sebanyak 224 koleksi menjadi daya tarik utama bagi pengunjung.Beberapa koleksi ikonik yang dipamerkan antara lain kebaya asli Kartini, tulisan tangan, bothekan, kotak hias, tafsir Alquran, hingga buku Door Duisternis tot Licht yang menjadi karya terkenalnya.

Tak hanya koleksi, nilai historis bangunan museum juga menjadi magnet tersendiri. Bangunan tersebut dulunya merupakan rumah dinas suami Kartini, Raden Adipati Joyodiningrat, yang ditempati selama masa hidup Kartini di Rembang.

“Bangunan museum ini dulu rumah dinas suami RA Kartini, yang didiami beliau selama 10 bulan di Rembang,” pungkasnya. (*)

Akui Ruwatan Tanjakan Silayur Tradisi Baik, Sarif Abdillah: Lanjutkan!

Lingkar.co – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Sarif Abdillah mendukung ruwatan tanjakan Silayur yang akan digelar warga RW 4 Silayur Lawas Duwet Ngaliyan. Menurut dia, kepedulian warga yang berniat menggelar sedekah bumi dan wayang harus dilanjutkan.

“Lanjutkan! Tradisi yang baik harus dilestarikan,” kata dia saat ditemui disela-sela Musyawarah Cabang (Muscab) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Semarang di hotel Pandanaran, Rabu (15/4/2026) petang.

Ketua DPW PKB Jawa Tengah ini meminta proses pelaksanaan tradisi tersebut jangan dinilai hanya pada persoalan seremonial atau ritual saja. Melainkan pada tujuan menata hati berdoa kepada Allah Yang Maha.

Ia memberikan contoh tradisi santri menata sandal (alas kaki) di masjid dan pesantren yang ditujukan sebenarnya merupakan perintah untuk menata hati.

“Jangan dilihat ritualnya saja artinya membersihkan jalan hidup kita agar kembali kepada fondasi dasar hidup kita, yaitu ilahiyah, kemanusiaan, lingkungan dan didasari dengan kebaikan-kebaikan,” urainya.

Di lain sisi, ia juga memperhatikan tentang makna atau ajaran yang disampaikan oleh seorang dalang pada lakon pewayangan.

Ada berbagai filosofi hidup dan bahkan karakter lakon wayang juga memberikan pelajaran tersendiri. Terlebih di era modern ini semakin sedikit yang paham tentang pewayangan.

Pada sisi pelaksanaan wayang, kata dia, juga membantu pemerintah dalam meningkatkan perekonomian masyarakat melalui kuliner atau Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

“Jadi tradisi ini sangat baik, membantu pemerintah dalam melestarikan budaya dan membantu pemerintah dalam menambah pendapatan warga atau UMKM,” pungkasnya. (*)

Tiket Khusus Semarang Zoo Sambut Hari Jadi Kota ke-479 dan May Day 2026

Lingkar.co – Taman Satwa Semarang atau Semarang Zoo memberikan harga tiket khusus untuk menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) atau Hari Jadi Kota Semarang ke-479 dan Hari Buruh atau May Day 2026.

Direktur PT Taman Satwa Semarang, Bimo Wahyu Widodo mengatakan, pihaknya ikut merasa bangga atas perkembangan kota Semarang.

“Ini bentuk rasa syukur dan bangga atas perkembangan kota Semarang. Jadi dalam rangka HUT ko Kota Semarang 479 kita berikan harga tiket Rp15.000,” kata Bimo dalam siaran persnya, Minggu (12/5/2026).

Selanjutnya, harga tiket khusus Rp10.000 pada perayaan hari buruh atau May day yang biasa dilakukan setiap 1 Mei, “Untuk apresiasi terhadap kerja keras para buruh kita berikan harga tiket khusus Rp10.000 nanti pada tanggal 1 Mei, cukup menunjukkan kartu identitas sebagai karyawan,” ujarnya.

Saat ini sudah ada perbaikan kandang Kapibara dari Djarum Foundation, kandang Bintutong dari R-Zoo, toilet yang ada di depan Aves Garden dari BTN, serta paving depan loket dan area parkir dari PT Sango.

Pertukaran Satwa

Bimo juga menyampaikan kabar gembira terkait tugas konservasi. Yakni Sitatunga yang didatangkan dari Kebun Binatang Ragunan hasil tukar harimau benggala sat ini sudah beranak 1 ekor.

Pengunjung Semarang Zoo saat memberi makan Sitatunga. Foto: Rifqi/Lingkar.co
Pengunjung Semarang Zoo saat memberi makan Sitatunga.
Foto: Rifqi/Lingkar.co

Adapun program ini adalah satu kesatuan program tukar menukar satwa dengan Ragunan berupa; Pelikan, Orangutan betina, Kapibara dan Sitatunga sepasang harimau benggala dan orangutan jantan pada tahun lalu.

Pelikan dan orangutan, kata dia belum selesai proses administrasinya di Kemenhut,

“Semoga segera selesai dengan harapan orang utan jantan kita mendapatkan pasangan, pelikan menambah daya tarik wisata dan menjalankan fungsi konservasi urainya.

“Untuk Kapibara dan Sitatunga tidak termasuk satwa dilindungi di Indonesia. Jadi proses mendatangkannya lebih mudah,” sambungnya. (*)

Didatangkan dari Ragunan, Sitatunga Lahirkan Anak di Semarang Zoo

Lingkar.co – Kabar gembira bagi anak-anak yang senang melihat satwa di Semarang Zoo atau Taman Satwa Semarang, sepasang Sitatunga yang didatangkan dari Kebun Binatang Ragunan hasil tukar harimau benggala saat ini sudah beranak 1 ekor.

Direktur PT Taman Satwa Semarang, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso mengatakan, sepasang Sitatunga yang berhasil beranak itu merupakan bagian dari paket pertukaran satwa dengan Kebun Binatang Ragunan.

“Pelikan, Orangutan betina, Kapibara dan Sitatunga sepasang harimau benggala dan orangutan jantan pada tahun lalu. Pelikan dan orangutan ini belum selesai proses administrasinya di BKSDA,” urainya saat dikonfirmasi, Minggu (12/4/2026).

Ia menjelaskan, seekor orangutan jantan dan sepasang harimau benggala (Panthera Tigris Tigris atau Panthera Tigris Bengalensis) ditukar dengan sepasang Sitatunga, seekor Kapibara jantan dan dua ekor Kapibara betina, dan seekor orangutan betina.

“Itu paket pertukaran satwa. Kapibara dan Sitatunga tidak termasuk dilindungi di Indonesia. Jadi proses mendatangkannya lebih mudah,” sambungnya.

Pertukaran satwa itu, lanjutnya, merupakan aturan yang harus dipatuhi oleh setiap lembaga konservasi, termasuk Semarang Zoo.

“Nanti kalau orangutan betina datang kan pejantan disini jadi dapat jodoh dan mudah-mudahan bisa berkembang biak. Tugas kita sebagai lembaga konservasi kan mengembangbiakkan dan kemudian dilepasliarkan,” jelasnya.

Restu, pengunjung asal Gubug, Kabupaten Grobogan mengaku senang bisa berinteraksi dengan satwa di Semarang Zoo. Ia datang bersama istri, ibu dan dua anaknya untuk berkeliling melihat-lihat koleksi satwa.

“Sudah beberapa kali kesini, ada perbaikan, ini jalurnya juga sudah baru, sudah tertata,” katanya.

“Pengen lihat singa, harimau tadi sudah di situ buaya juga sudah tadi di depan,” ujarnya.

Ia berharap Semarang Zoo bisa terus melakukan perbaikan dan menambah koleksi satwa. Terutama satwa yang dilindungi.

Pengennya lebih tertata lagi dan hewan-hewannya juga ditambah, pengen lihat singa, jerapah juga,” katanya. (*)

Shibuya Catwalk International Cat Show Cermin Ikatan Batin Hewan dan Pemilik

Lingkar.co – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan Shibuya Catwalk International Cat Show. Menurutnya, ajang ini bukan sekadar kegiatan hobi, tetapi juga mencerminkan adanya ikatan batin antara pemilik dan hewan peliharaan.

Kegiatan digelar di Trans Square, Trans Studio Mal Bandung, 11–12 April 2026. Ajang ini menghadirkan kompetisi dan pameran kucing berstandar internasional yang diikuti peserta dari berbagai daerah hingga mancanegara.

“Ini bukan sekadar hitung-hitungan ekonomi, tetapi lebih dari itu, ada ikatan batin di dalamnya. Saya sangat mengagumi acara ini,” ujar Farhan.

Ia menilai, keberadaan event seperti ini juga memiliki peran penting dalam mendorong kesadaran masyarakat terhadap kesehatan hewan peliharaan, yang berhubungan langsung dengan kesehatan manusia.

“Kami di Kota Bandung memandang hal ini penting. Untuk menjaga higienitas kehidupan manusia, maka hewan peliharaan harus dalam keadaan sehat,” katanya.

Farhan menambahkan, pengembangan hobi di bidang pet care juga memberikan dampak luas, mulai dari aspek ekonomi hingga sosial.

“Dari hobi ini berdampak pada banyak hal, dari masalah ekonomi sampai persoalan sosial lainnya,” ucapnya.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan peserta yang telah menunjukkan komitmen terhadap kesehatan dan perawatan hewan peliharaan.

“Saya sampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, karena telah menunjukkan komitmen luar biasa terhadap kesehatan hewan peliharaan,” katanya.

Farhan juga menyambut para peserta yang datang ke Kota Bandung serta berharap mereka dapat meraih hasil terbaik dalam kompetisi.

“Selamat datang di Kota Bandung. Saya berharap Bapak dan Ibu dapat meraih gelar terbaik untuk kucing kesayangannya,” tuturnya.

Shibuya Catwalk International Cat Show merupakan ajang pameran dan kompetisi kucing berstandar internasional yang menghadirkan berbagai ras kucing unggulan.

Kegiatan ini mengusung konsep catwalk, di mana kucing ditampilkan layaknya model dengan penilaian mencakup kondisi fisik, kesehatan, grooming, hingga karakter.

Selain kompetisi, acara ini juga menjadi wadah interaksi antara komunitas pecinta kucing, breeder, serta pelaku industri pet care.

Kehadiran acara ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekosistem pet care sekaligus memperkuat posisi Kota Bandung sebagai kota kreatif dan destinasi event berskala internasional. (*)

Wellness Tourism Jadi Andalan, Pemerintah Didorong Serius Kembangkan Infrastruktur dan SDM

Lingkar.co – Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menyampaikan bahwa wisata kebugaran atau wellness tourism telah ditetapkan sebagai salah satu program prioritas Kementerian Pariwisata guna meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kami dari Kementerian Pariwisata sudah memasukkan wellness tourism ini sebagai bagian dari program prioritas,” ujar Ni Luh saat ditemui di Jakarta, Sabtu (11/4/2026).

Ia menjelaskan, wisata kebugaran merupakan bagian dari konsep pariwisata berkualitas. Karena itu, pemerintah terus mendorong penyelenggaraan berbagai kegiatan dan event, serta memperkuat industri yang bergerak di sektor wellness.

Menurutnya, Indonesia saat ini telah memiliki sejumlah kota yang dikenal sebagai destinasi wisata kebugaran. Namun, ke depan pengembangan sektor ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak daerah dengan mengangkat keunikan budaya lokal sebagai daya tarik utama.

Saat menghadiri Saka Yoga Festival ke-8 yang digelar Sabtu pagi, Ni Luh menilai yoga menjadi salah satu elemen penting dalam pengembangan wisata kebugaran sekaligus wisata spiritual.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian perayaan Dharma Santi Nasional serta peringatan Hari Suci Nyepi 2026.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus diperluas guna memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi unggulan untuk wisata kebugaran dan spiritual di tingkat global.

“Mudah-mudahan kegiatan seperti ini bisa semakin banyak dilakukan di Indonesia, sehingga betul-betul kita bisa memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi wellness dan juga spiritual tourism yang memang saat ini ke depannya menjadi tren bagi wisatawan dunia,” jelas Ni Luh.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pengembangan Industri Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Suyadi Pawiro, turut mengapresiasi penyelenggaraan acara tersebut.

Ia mendorong agar kegiatan yoga maupun kompetisi serupa dapat digelar di berbagai daerah di Indonesia untuk memperluas jangkauan dan minat masyarakat.

“Kita ingin mendorong makin banyak event yoga dan competition yang bisa dilakukan di banyak tempat. Saya juga mencatat pernah ada yoga yang bisa dilakukan di Museum Nasional,” pungkasnya.

Penulis : Putri Septina

Tanjakan Silayur Semarang Kerap Memakan Korban, Warga Kembali Giatkan Ruwatan

Lingkar.co – Tanjakan Kelurahan Silayur, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah kerap mamakan korban hingga ramai di medsos dengan julukan tanjakan tengkorak.

Kecelakaan dalam beberapa tahun ini sering terjadi, dari sebatas kecelakaan ringan sepeda motor terjatuh di tikungan hingga mobil maupun truk mengalami rem blong yang merenggut korban jiwa.

Menurut penuturan warga, mereka yang terjatuh mengaku merasa jalan mulai mendatar dan lurus, atau melihat kucing menyebrang, dan bahkan ada orang yang menyebrang.

Warga RW 04 Silayur Lawas Duwet Kelurahan Bringin, Ngaliyan berikhtiar untuk memutus atau setidaknya meminimalisir kejadian yang tak diinginkan itu dengan menghidupkan kembali sedekah bumi dan wayangan sebagai langkah tradisi ruwatan.

Ketua RW 04, Asrondi menuturkan tradisi tersebut terakhir dilakukan oleh warga pada tahun 1980

“Tradisi dimulai dari Mbah Kromo sampai tahun 1975, dilanjutkan oleh Mbah Nasir sampai 1980,” katanya dalam keterangan tertulis seusai rapat koordinasi panitia, Jum’at (10/4/2026) malam.

Mbah Nasir hanya melanjutkan selama 5 (lima) tahun karena meninggal dunia.

“Dulunya Mbah Kromo dan Mbah Nasir kepala Dukuh Silayur,. Setelah Mbah Nasir wafat, tidak ada lagi sedekah bumi dan wayangan,” jelasnya.

Dijelaskannya, wayangan dan sedekah bumi dilaksanakan oleh kepala dukuh setiap bulan Apit (Dzulq’dah)

“Masyarakat sini sudah cukup islami. Jadi sedekah bumi cuma dalam bentuk tumpengan dan doa bersama, tidak ada syarat klenik,” jelasnya.

Ia bilang, wacana menghidupkan kembali tradisi tersebut sudah disampaikan kepada para sesepuh wilayah Silayur dan mendapatkan restu.

Ia tegaskan kegiatan tersebut dilaksanakan terlepas dari persoalan geografis dan meningkatnya jumlah pengguna jalan, termasuk truk. “Ini ikhtiar warga agar diberikan keselamatan sekaligus menghidupkan kembali tradisi masyarakat Jawa,” tuturnya.

Ketua panitia, Supadi menambahkan, mulanya kegiatan hanya untuk internal RW 04 Silayur,. Namun mendapatkan perhatian yang baik dari warga sehingga kegiatan bakal dibuka secara umum.

“Jadi kita koordinasikan dengan beberapa tokoh di lingkungan RW kemudian kita rapatkan untuk menyusun kegiatan ini dengan mengundang para budayawan dan pemangku kebijakan di Semarang,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, seluruh kegiatan dipusatkan di Lapangan Voli RT 02 RW IV, Silayur Lawas Duwet, Bringin, Ngaliyan “Kita juga melibatkan para pelaku usaha kecil agar bisa ikut mendapatkan manfaat kegiatan ini secara ekonomi,” pungkasnya. (*)

Lesbumi PWNU Jateng Siap Intensifkan Upaya Revitalisasi Kesenian Tradisional Jawa

Lingkar.co – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Jawa Tengah menyatakan siap mengintensifkan upaya revitalisasi kesenian tradisional yang mulai tergerus, seperti Terbang Jawa.

Ketua Lesbumi PWNU Jateng, Abdul Gani, mengatakan, tidak hanya itu, pendidikan aksara dan budaya Jawa juga menjadi perhatian serius sebagai bagian dari penguatan identitas kultur masyarakat.

Selain itu juga siap berkolaborasi dengan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) dalam menyukseskan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ)

Ia mengatakan, konsep Nusantara Islamic Spiritual Art and Culture siap mendukung MTQ Nasional ke-31 di Kota Semarang.

Konsep tersebut diharapkan menjadi ruang ekspresi seni spiritual Islam berbasis kearifan lokal yang mampu menarik partisipasi masyarakat luas.

“Lesbumi berupaya menghadirkan wajah seni budaya Islam yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mampu berdialog dengan perkembangan zaman,” ujarnya, Jum’at (10/4/2026).

dalam memperkuat sinergi dalam pelestarian dan pengembangan seni budaya Islami.

Sebagai informasi, Lesbumi menerima kunjungan dan melakukan koordinasi dengan Kemenag RI di kantor PWNU Jateng Kamis (9/4/2026) kemarin.

Pertemuan tersebut menjadi momentum strategis untuk mempererat kolaborasi antara pemerintah dan organisasi keagamaan, khususnya dalam menjaga eksistensi seni budaya Islami di tengah tantangan globalisasi.

Menurut dia, Lesbumi telah menyiapkan sejumlah agenda kebudayaan bernuansa Islami. Tidak hanya berorientasi pada pelestarian. Namun lebih dari itu juga adaptif terhadap perkembangan zaman.

Dalam konteks pengembangan generasi muda, Lesbumi turut merancang berbagai program kreatif yang relevan dengan minat generasi milenial dan Gen Z.

Program tersebut meliputi pelatihan sinematografi, penguatan kapasitas konten kreator, pengembangan animasi, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI), hingga penyelenggaraan festival band Islami.

“Pendekatan ini penting agar seni budaya Islami tetap hidup dan diminati generasi muda,” urainya.

Perwakilan Direktorat Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Dewi Tri Wulandari mengatakan, pihaknya hadir di PWNU untuk memastikan program pembinaan seni budaya dan syiar Islam berjalan optimal.

Menurut Dewi, Kemenag RI secara rutin melakukan monitoring di bidang seni budaya dan siaran keagamaan Islam sebagai bagian dari upaya pembinaan sekaligus penguatan para pelaku seni budaya Islami di berbagai daerah.

Ia juga mengapresiasi peran aktif Nahdlatul Ulama, khususnya Lesbumi, dalam menjaga keberlangsungan seni budaya Islami di Jawa Tengah.

“Kami melihat di Jawa Tengah ini seni budaya Islami masih terjaga dengan baik karena banyaknya pegiat yang istiqamah. Di antaranya NU yang memiliki Lesbumi sebagai lembaga khusus. Alhamdulillah, matur nuwun,” ungkapnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Paula Revi Istikasari serta jajaran Kanwil Kemenag Jateng seperti Nining Indrawati, Yusuf, dan Mansur.

Sementara itu, Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, Kholison Syafi’i, menyampaikan apresiasi atas perhatian Kemenag RI terhadap pengembangan seni budaya Islami. Menurutnya, kehadiran pemerintah dalam memberikan dukungan menjadi sangat penting untuk menjaga jati diri bangsa.

Ia menyoroti derasnya arus globalisasi yang membawa pengaruh budaya luar yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai luhur bangsa. Oleh karena itu, seni budaya Islami dinilai sebagai benteng moral yang harus diperkuat melalui kebijakan yang berpihak.

“Kami berharap Kemenag RI dapat meningkatkan perhatian, termasuk dalam hal penganggaran yang memadai untuk mendukung keberlangsungan seni budaya Islami,” tegasnya.

Ia juga mendorong agar pemerintah daerah memiliki komitmen yang sama dalam memperhatikan dan mengembangkan seni budaya lokal berbasis nilai-nilai keislaman.

Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal yang konkret dalam membangun kolaborasi berkelanjutan antara Lesbumi PWNU Jawa Tengah dan Kemenag RI, guna memastikan seni budaya Islami tetap lestari, berkembang, dan mampu menjadi penopang karakter bangsa di era modern. (*)

Pengunjung Ingin Halte BRT Depan Semarang Zoo Kembali Berfungsi

Lingkar.co – Warga Kecamatan Pedurungan, Mega yang berkunjung ke Kebun Binatang Kota Semarang atau Semarang Zoo ingin halte Bus Rapid Transit (BRT Trans Semarang) kembar berfungsi.

“Kondisi kadang panas, kadang hujan. Kalau naik motor itu kan mudah. Kalau yang naik bis BRT itu agak susah,” katanya saat berkunjung ke Semarang Zoo, Minggu (5/4/2026).

Ia mengeluhkan BRT Trans Semarang yang membuat perjalanan ke Semarang Zoo tidak nyaman. Yakni terasa panas dan kehujanan ketika menyeberang jalan raya.

“Harus turun di terminal (Terminal Mangkang), gak ada yang turun langsung ke Semarang Zoo sini lho. Harusnya kan ada ya,” sambungnya

Ia berharap rute Semarang Zoo bisa sedikit bertambah untuk mempermudah bagi warga yang ingin berwisata di Semarang Zoo.

Harapannya ya titik berhenti BRT itu ada yang di depan Semarang Zoo sini. Jadi kan ,kita gak kepanasan kalau hujan juga gak kehujanan, lebih cepat,” ungkapnya.

Suasana Teduh dan Nyaman

Lainnya, Farida mengaku pernah berkunjung sekali ke Semarang Zoo sebelum ada sejumlah perbaikan, sebelum pandemi Covid-19.

Ia memilih untuk berkunjung ke taman satwa setelah masa liburan hari raya karena merasa tidak terlalu ramai. “Kalau pas liburan kemarin takutnya terlalu rame,” ucapnya.

Farida mengaku menikmati suasana bersama keluarga seperti di alam bebas, teduh, sejuk, damai dan tidak berisik, hanya sesekali terdengar suara aneka macam satwa.

“Baru kedua ini (setelah ada perbaikan). Lebih bagus dan asri, sejuk tempatnya,” kata IIk, sapaan akrabnya.

Pengunjung asli kota Semarang berharap Semarang Zoo terus berbenah dan berkembang pesat seperti kebun binatang di kota lain yang sudah populer.

“Ada perbaikan terus. Ya harapannya bisa seperti yang di kota-kota lain. Kan enak kalau di dalam kota sendiri, tidak usah jauh-jauh, lokasinya juga di pinggir jalan raya (Nasional dan dekat pintu tol Kalikangkung),” ujarnya.