Arsip Tag: Pariwisata

Jaga Reputasi Cosplay dari Ulah Oknum, Ini Langkah Pemkot Bandung

Lingkar.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung menjaga reputasi komunitas cosplay dari ulah oknum yang tidak bertanggung jawab.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan telah menerima aduan masyarakat mengenai dugaan tindakan asusila yang dilakukan oleh oknum anggota komunitas cosplay.

Menindaklanjuti laporan itu, Disbudpar Kota Bandung menggelar rapat koordinasi bersama sejumlah pihak terkait dan komunitas cosplay di kawasan Jalan Asia Afrika.

Kepala Disbudpar Kota Bandung Adi Junjunan Mustafa memimpin rapat tersebut. Hadir pula Kepala Bidang Ekonomi Kreatif, tim sarana prasarana bidang ekonomi kreatif beserta staf, perwakilan Dinas Perhubungan Kota Bandung, Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandung, serta perwakilan tiga komunitas cosplay Asia Afrika.

Dalam rapat tersebut, Adi menegaskan, kejadian yang dilaporkan pengunjung hingga sampai langsung kepada Wali Kota Bandung harus menjadi perhatian bersama.

Hal itu dinilai penting agar aktivitas cosplay yang selama ini menjadi daya tarik wisata di kawasan Asia Afrika tetap menjaga reputasi Kota Bandung sebagai destinasi wisata yang aman dan nyaman.

“Kegiatan cosplay di kawasan Asia Afrika harus tetap menjaga reputasi dan keamanan yang selama ini dijaga Kota Bandung,” tegas Adi Junjunan, Selasa (10/3/2026).

Sebagai tindak lanjut, Pemkot Bandung memberikan kesempatan kepada tiga komunitas cosplay untuk memperbaiki tata kelola kegiatan melalui pembacaan ikrar yang wajib dipatuhi bersama.

Adapun isi ikrar tersebut meliputi tiga komitmen utama, yaitu siap menghibur tanpa memaksa, bersikap sopan kepada warga maupun wisatawan, serta tidak melakukan tindakan menipu, menjebak, ataupun memeras pengunjung. Ikrar tersebut kemudian ditandatangani oleh perwakilan tiga komunitas cosplay Asia Afrika.

Selain soal etika, pihaknya juga mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban serta kebersihan di area kegiatan cosplay. Salah satu yang menjadi perhatian adalah agar para anggota komunitas tidak menyimpan tas atau aksesoris secara berlebihan di area kegiatan sehingga tidak mengganggu kenyamanan pengunjung.

Adi juga mengingatkan agar ikrar yang telah disepakati tidak hanya menjadi formalitas, tetapi benar-benar dijalankan oleh seluruh komunitas cosplay yang beraktivitas di kawasan Asia Afrika.

“Ini merupakan amanah dari Bapak Wali Kota Bandung yang harus dilaksanakan bersama. Komitmen yang sudah diikrarkan menjadi tanggung jawab bersama bagi tiga komunitas cosplay,” ujarnya. (*)

Rentetan Bencana, Pemprov Jateng Petakan Destinasi Wisata Rawan Risiko

Lingkar.co – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai memetakan destinasi wisata yang masuk kategori rawan bencana. Langkah ini diambil menyusul sejumlah kejadian bencana alam yang terjadi belakangan dan berpotensi mengancam keselamatan wisatawan maupun petugas di lapangan.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Jawa Tengah, AR Hanung Triyono, menegaskan bahwa aspek keselamatan kini menjadi perhatian utama pemerintah daerah.

“Bencana yang melanda akhir-akhir ini membuat kita harus lebih hati-hati saat mengunjungi destinasi wisata,” ujar Hanung, Sabtu (31/1/2026).

Menurutnya, pemetaan destinasi rawan bencana difokuskan pada kawasan wisata alam yang memiliki tingkat kerawanan tinggi, terutama wilayah lereng gunung, daerah aliran sungai, serta kawasan pesisir.

Beberapa wilayah yang masuk perhatian antara lain kawasan wisata Tawangmangu di Kabupaten Karanganyar, Guci di Kabupaten Tegal, Dieng di Kabupaten Wonosobo, serta destinasi wisata yang berada di sekitar sungai dan pantai.

“Hampir semua destinasi wisata alam termasuk rawan bencana,” kata Hanung.

Ia meminta pengelola wisata dan pelaku industri pariwisata untuk tidak mengabaikan potensi risiko, serta aktif menerapkan langkah mitigasi bencana demi keselamatan bersama.
Hanung juga menyoroti masih adanya wisatawan yang tetap berkunjung meskipun kondisi cuaca maupun lingkungan dinilai berisiko.

“Meski ada asuransi, keselamatan pengunjung harus kita utamakan, termasuk keselamatan petugas. Jika pengunjung tetap ngeyel, pengelola harus tegas,” tegasnya.

Langkah kewaspadaan ini dinilai penting mengingat sepanjang Januari 2026, Jawa Tengah dilanda sejumlah bencana alam, salah satunya banjir bandang di kawasan wisata Guci, Kabupaten Tegal, yang sempat menimbulkan dampak serius bagi aktivitas pariwisata.

Pemprov Jateng berharap, dengan pemetaan dan pengetatan pengawasan, risiko kecelakaan di destinasi wisata dapat ditekan, sekaligus meningkatkan kesadaran bersama bahwa berwisata aman memerlukan kepatuhan terhadap aturan dan kondisi alam. ***

Wahyu Hidayat Sebut Becak Listrik dari Presiden Prabowo Dukung Estetika Wisata dan Ramah Lingkungan

Lingkar.co – Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menyebut 200 becak listrik bantuan Presiden Prabowo Subianto menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan kenyamanan dan estetika kawasan wisata heritage sekaligus menguatkan komitmen terhadap transportasi yang ramah lingkungan.

“Dari sisi pariwisata, kehadiran becak listrik dinilai mampu meningkatkan kenyamanan dan estetika wisata heritage Kota Malang karena bebas polusi suara dan emisi,” kata Wahyu dalam acara penyerahan simbolis bantuan 200 unit becak listrik dari Presiden Prabowo kepada para pengemudi becak di halaman Balai Kota Malang, Selasa (20/1/2026).

Ia menilai becak listrik tidak hanya mendukung citra Kota Malang dalam menjaga destinasi wisata berkelanjutan. Selain itu juga memberikan dampak sosial dan ekonomi positif bagi para pengemudi, khususnya yang lanjut usia karena mengurangi beban fisik dan biaya operasional yang lebih efisien.

Dari sisi sosial dan ekonomi, becak listrik diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pengemudi becak lanjut usia, dengan biaya operasional yang lebih efisien dan beban fisik yang lebih ringan, maka pendapatan dan kesejahteraan keluarga pun dapat meningkat.

“Jika seluruh pengemudi becak nantinya menggunakan becak listrik, ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi Kota Malang sebagai kota wisata dengan transportasi ramah lingkungan,” tambahnya.

Wahyu juga menegaskan, penggunaan becak listrik juga sejalan dengan komitmen Pemerintah Kota Malang dalam menjaga kualitas udara bersih (clean air).

Ia bilang, pada Oktober 2025 lalu, Kota Malang meraih peringkat pertama kota besar dengan kualitas udara terbersih se-Asia Tenggara, mewakili Indonesia dalam ajang yang digelar di Selangor, Malaysia.

“Prestasi ini akan semakin diperkuat dengan hadirnya becak listrik bantuan langsung dari Bapak Presiden Prabowo. Ini adalah langkah nyata menuju pengurangan emisi dan pembangunan transportasi kota yang berkelanjutan,” terangnya.

Pada kesempatan itu, ia pun berpesan kepada penerima bantuan agar dapat memanfaatkan becak listrik sesuai peruntukannya, tidak diperjualbelikan atau dipindahtangankan, serta dirawat dengan baik.

Ia juga menekankan pentingnya keselamatan berkendara, kepatuhan terhadap aturan lalu lintas, dan profesionalisme dalam melayani masyarakat. (*)

DPRD Dorong RKPD Batang Harus Partisipatif, Inklusif dan Berkeadilan

Lingkar.co – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Batang, Benny Abidin menegaskan, bahwa perencanaan pembangunan daerah harus dilandasi prinsip partisipatif, inklusif, dan berkeadilan.

Ia bilang, DPRD memiliki tanggung jawab moral dan politik untuk memastikan aspirasi masyarakat benar-benar terakomodasi dalam dokumen perencanaan, termasuk RKPD 2027.

“Di forum seperti inilah kita bisa menjaring aspirasi dari masyarakat pada tingkat paling bawah. Aspirasi yang disampaikan melalui reses, dengar pendapat, maupun forum dialog harus terakomodasi secara nyata dalam dokumen perencanaan daerah,” jelasnya dalam Forum Konsultasi Publik Rancangan Awal RKPD Kabupaten Batang Tahun 2027 di Aula Bupati Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Rabu (14/1/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Benny menyoroti tema pembangunan RKPD Kabupaten Batang Tahun 2027, yakni pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui pengembangan pariwisata. Ia menilai tema tersebut relevan dan mampu menjawab tantangan pembangunan daerah ke depan jangan hanya sebagai serimonial saja.

Ia bilang, sektor pariwisata memiliki daya ungkit besar terhadap perekonomian daerah, mulai dari penciptaan lapangan kerja, pengembangan UMKM, hingga pelestarian budaya dan lingkungan.

“Namun demikian, pengembangan pariwisata harus direncanakan secara matang dan berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan tidak boleh bersifat sesaat. Harus memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat lokal, menjaga kelestarian lingkungan, serta menghormati nilai-nilai sosial dan budaya yang hidup di Kabupaten Batang,” terangnya.

Benny juga mendorong agar pembangunan pariwisata tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan, promosi yang tepat sasaran, serta keterlibatan aktif masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan.

“DPRD Batang menekankan pentingnya penggunaan berbagai pendekatan dalam penyusunan RKPD. Pendekatan politik diperlukan agar kebijakan selaras dengan aspirasi masyarakat dan visi pembangunan daerah,” ungkapnya.

Sementara itu, pendekatan teknokratik dibutuhkan untuk memastikan perencanaan disusun secara rasional, berbasis data, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.

“Pendekatan top-down tetap penting untuk menjamin keselarasan dengan kebijakan nasional dan provinsi. Namun, pendekatan bottom-up harus benar-benar dihidupkan agar usulan masyarakat dari tingkat desa dan kelurahan tidak hanya menjadi formalitas, tetapi dapat diterjemahkan menjadi program dan kegiatan yang konkret,” pungkasnya.

Senada, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan mengatakan, forum konsultasi publik bertujuan menghimpun masukan dari para pemangku kepentingan utama terkait prioritas dan sasaran pembangunan daerah tahun 2027.

“Forum konsultasi publik ini diharapkan menjadi media untuk membangun konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, hingga pengawasan. Ini juga bagian yang tidak terpisahkan dari tahapan penyusunan APBD, khususnya sebagai pedoman dalam penyusunan KUA-PPAS,” jelasnya

Dijelaskannya, penyusunan RKPD dilakukan secara berjenjang dan telah dimulai sejak Desember 2025 melalui penyusunan rancangan awal. Forum konsultasi publik menjadi tahapan kedua sebelum dilanjutkan dengan Musrenbang di tingkat kecamatan, forum lintas perangkat daerah, Musrenbang RKPD kabupaten, hingga penyusunan rancangan akhir RKPD.

“Targetnya, RKPD Kabupaten Batang Tahun 2027 dapat ditetapkan pada akhir Juni 2027 setelah melalui reviu APIP dan fasilitasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah,” tegasnya. (*)

Pemkab Batang Tetapkan Sektor Pariwisata Jadi Prioritas Utama RKPD 2027

Lingkar.co – Bupati Batang M. Faiz Kurniawan mengungkapkan Pemerintah Kabupaten menetapkan sektor pariwisata sebagai prioritas utama dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027.

“Penyusunan RKPD bukan sekadar agenda seremonial, melainkan menjadi ruang strategis untuk menjaring aspirasi masyarakat sekaligus menentukan skala prioritas pembangunan daerah. Kegiatan RKPD ini adalah wadah aspirasi masyarakat. Kita ingin pembangunan yang direncanakan benar-benar berdampak, bukan hanya formalitas administratif,” jelas Bupati menyampaikan hasil pembahasan RKPD di Aula Bupati Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Rabu (14/1/2026).

Lebih jauh ia menjelaskan, pengembangan pariwisata dipilih karena dinilai memiliki daya ungkit besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, sekaligus mampu mendorong sektor lain seperti UMKM, ekonomi kreatif, dan pelestarian budaya.

“Rencana pengembangan pariwisata akan ada perbaikan infrastruktur, pendampingan pengelolaan kawasan wisata, penataan UMKM di wisata, dan pembentukan kebiasaan sadar wisata. Destinasi prioritas kali ini yakni Curug Genting, Puncak Tombo, Kawasan Sigandu, Bandar Ecopark, dan Pantai Jodo,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, Faiz juga menyoroti kinerja Organisasi Perangkat Daerah (OPD), khususnya terkait kedisiplinan dalam proses perencanaan. Ia menyayangkan ketidakhadiran sejumlah kepala OPD dalam tahapan Rancangan Awal (Ranwal) RKPD.

“Kehadiran kepala OPD itu penting. Kalau tidak hadir, konsekuensinya agenda prioritas dinas tersebut bisa saja tidak terakomodir dalam perencanaan dan penganggaran ke depan,” tegasnya.

Selain fokus pembangunan, Pemkab Batang juga mulai menerapkan kebijakan efisiensi anggaran dan kepedulian lingkungan. Salah satunya dengan membatasi anggaran konsumsi rapat, seperti makan dan snack.

Faiz juga mengimbau, seluruh peserta rapat untuk membawa tumbler atau tempat minum sendiri. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi pemborosan air minum kemasan sekaligus menekan produksi sampah plastik.

“Sering kali air minum kemasan tidak habis dan akhirnya terbuang. Kita sediakan dispenser saja, lebih efisien dan ramah lingkungan,” ungkapnya.

Di bidang pengelolaan aset daerah, Pemkab Batang tengah mengkaji rencana alih fungsi rumah dinas menjadi museum. Rencana ini diarahkan untuk mendukung pengembangan wisata sejarah dan budaya di Kabupaten Batang.

“Kita ingin aset daerah tidak hanya diam, tapi bisa memberi nilai tambah bagi masyarakat dan pariwisata,” ujar dia. (*)

Bangun Ekosistem Industri, Wali Kota Bandung Optimistis Targetkan 20 Persen Pertumbuhan Sektor Pariwisata di Tahun 2026

Lingkar.co – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengungkapkan, Pemerintah Kota Bandung menargetkan pertumbuhan potensi sektor pariwisata sebesar 20 persen pada 2026 melalui pembangunan ekosistem industri yang bertahap dan berkelanjutan, penegasan ini disampaikan

Farhan berkata, kebijakan tersebut diarahkan agar pariwisata memberi manfaat ekonomi nyata bagi pelaku usaha lokal dan masyarakat Kota Bandung. Untuk itu, ia menegaskan, pemerintah daerah tidak menempatkan pariwisata sebagai mesin fiskal jangka pendek semata.

Pendekatan tersebut dipilih agar industri pariwisata tumbuh kuat sebelum didorong menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD)

“Kami harus membesarkan dulu kapasitas industri dan merealisasikan potensi yang ada. Kalau industrinya sudah kuat, barulah kita bicara bagaimana peluang itu menjadi PAD,” ujar Farhan dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-55 Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026).

Farhan menjelaskan sektor pariwisata sangat bergantung pada kesiapan ekosistem, mulai dari infrastruktur, layanan, hingga pelaku usaha. Ketidaksiapan satu unsur dinilai dapat berdampak langsung pada penurunan kualitas layanan dan kepuasan wisatawan.

Ia menyatakan Pemerintah Kota Bandung memilih berperan sebagai fasilitator dan regulator agar industri bergerak sehat.

“Pemerintah itu posisinya di ujung. Jangan di depan. Kalau di depan hanya mikir PAD, industrinya bisa rusak,” tuturnya.

Ia memaparkan, target pertumbuhan 20 persen diukur tidak hanya dari jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga lama tinggal dan nilai belanja wisata.

Pendekatan ini diharapkan meningkatkan pendapatan pelaku usaha, membuka lapangan kerja, dan memperluas perputaran ekonomi lokal.

“Kalau potensi tumbuh 20 persen, pelaku industri akan happy, wisatawan happy Dari situ manfaatnya akan kembali ke kota,” kata Farhan. (*)

Potensi Kerja Sama Pariwisata Indonesia dengan Malaysia Saling Menguntungkan

Lingkar.co – Malaysia semakin serius menggarap pasar wisatawan Indonesia. Melalui Malaysian Association of Tour & Travel Agents (MATTA), pelaku industri pariwisata Malaysia melakukan langkah proaktif dengan menggelar roadshow promosi destinasi wisata ke sejumlah kota besar di Indonesia, salah satunya Semarang, Rabu (7/1/2026).

Kegiatan promosi bertajuk MATTA Travel Exchange (MTAX) ini mempertemukan langsung pelaku industri pariwisata Malaysia dengan agen perjalanan, pelaku usaha wisata, dan pemangku kepentingan pariwisata di Jawa Tengah.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Disporapar Jawa Tengah, Aria Chandra Destianto, menyambut baik langkah tersebut. Menurutnya, kegiatan ini membuka peluang kerja sama yang saling menguntungkan antara pelaku pariwisata Indonesia dan Malaysia.

“Kami menyambut baik kegiatan seperti ini karena mempertemukan langsung para stakeholder, supplier, dan pelaku usaha pariwisata. Ini memudahkan untuk berkreasi membuat paket wisata yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan wisatawan,” ujarnya.

Ia berharap kerja sama promosi lintas negara ini bisa berlangsung berkelanjutan dan memberi dampak positif bagi peningkatan kunjungan wisata ke Jawa Tengah maupun ke Malaysia.

Hal senada disampaikan Alex Gunarto, Ketua BDPD Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Jawa Tengah atau Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia Jawa Tengah. Alex menilai kegiatan ini memiliki nilai strategis karena karakter kebutuhan wisatawan Indonesia dan Malaysia relatif serupa.

“Indonesia dan Malaysia itu pasar yang sangat dekat, baik secara budaya maupun preferensi wisata. Sebelum pandemi, destinasi Malaysia sangat diminati wisatawan Indonesia karena akses penerbangan langsung. Sekarang penerbangan langsung kembali dibuka, ini momentum yang sangat bagus,” jelasnya.

Alex menambahkan, pelaku industri kini bisa menyusun paket wisata yang lebih kompetitif dan terjangkau dengan adanya penerbangan langsung serta kerja sama antarpelaku usaha.

“Kami bisa membuat paket yang lebih menarik, lebih murah, dan sesuai kebutuhan pasar. Bukan hanya menjual Malaysia ke Indonesia, tapi juga sebaliknya menjual Jawa Tengah ke pasar Malaysia,” tambahnya.

Sementara itu, perwakilan MATTA dan Selangor Tourism menyatakan komitmennya untuk terus mempromosikan destinasi-destinasi unggulan Malaysia seperti Kuala Lumpur, Selangor, Batu Caves, dan Masjid Biru, serta kuliner khas seperti nasi lemak yang telah lama menjadi daya tarik bagi wisatawan Indonesia.

Mereka juga membuka peluang untuk melakukan sales mission balasan ke Jawa Tengah guna mempromosikan destinasi wisata Semarang dan wilayah lain di Jawa Tengah kepada pasar Malaysia.

“Ke depan kami ingin gantian mempromosikan Jawa Tengah di Malaysia. Potensinya sangat besar, apalagi sekarang konektivitas penerbangan sudah semakin baik,” ujar salah satu perwakilan travel Malaysia.

Melalui kegiatan ini, diharapkan tercipta ekosistem promosi pariwisata dua arah yang saling menguntungkan, mendorong pertumbuhan kunjungan wisatawan, serta menggerakkan perekonomian sektor pariwisata di kedua negara. (*)

Penulis: Husni Muso

Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Pemkab Cilacap Tetapkan 19 Desa Wisata

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten Cilacap menetapkan 19 desa sebagai desa wisata melalui Keputusan Bupati Cilacap tentang Desa Wisata dan Keputusan Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) tentang Forum Komunikasi Desa Wisata Kabupaten Cilacap.

Keputusan tersebut dimaksudkan untuk memperkuat penataan pariwisata dan mendorong pertumbuhan ekonomi desa.

Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman bersama Sekretaris Daerah Kabupaten Cilacap, Sadmoko Danardono, Kepala Disparpora Kabupaten Cilacap Budi Narimo menyerahkan surat keputusan tentang desa wisata secara simbolis di Ruang Gadri Rumah Dinas Bupati Cilacap, Senin (29/12/2025).

Adapun 19 desa yang ditetapkan sebagai desa wisata yakni; Desa Jetis, Gentasari, Widarapayung Wetan, Welahan Wetan, Karanggedang, Bojongsari, Pesanggrahan, Karangmangu, Bunton, Tambaksari, Sadahayu, Sumpinghayu, Kamulyan, Cipari, Salebu, Sindangbarang, Pesahangan, Panisihan, dan Tayem Timur.

Kepala Disparpora Kabupaten Cilacap, Budi Narimo menjelaskan, penataan desa wisata dilakukan melalui evaluasi menyeluruh terhadap 30 desa wisata yang telah terdaftar. Evaluasi berlangsung pada 16 Januari hingga 31 Maret 2025 dan menunjukkan sebagian desa belum aktif mengelola potensi wisata serta belum optimal dalam promosi.

“Hasil evaluasi, lima desa wisata menyatakan mengundurkan diri, sementara 25 desa lainnya melakukan reorganisasi pengelolaan dan pendampingan,” kata Budi.

Budi menjelaskan, pendampingan dan pembinaan dilakukan pada Januari hingga Juli 2025, dilanjutkan penilaian terhadap desa yang dinyatakan siap. Dari proses tersebut, 19 desa lolos penilaian melalui evaluasi dokumen dan verifikasi lapangan oleh tim yang melibatkan praktisi pariwisata, akademisi Politeknik Negeri Cilacap, serta unsur Dinas Pariwisata.

Hasil penilaian menetapkan Desa Jetis Kecamatan Nusawungu dan Desa Karangmangu Kecamatan Kroya sebagai Desa Wisata Maju. Sementara Desa Wisata Berkembang meliputi Desa Sindangbarang Kecamatan Karangpucung, Desa Tambaksari Kecamatan Wanareja, Desa Pesanggrahan, dan Desa Gentasari Kecamatan Kroya.

Sementara, Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman menegaskan bahwa sektor pariwisata merupakan salah satu pengungkit utama peningkatan pendapatan asli desa. Namun, penetapan desa wisata harus diiringi komitmen kuat dan pengelolaan yang berkelanjutan.

“Menetapkan desa wisata itu mudah, tetapi mengelolanya butuh komitmen. Desa harus berani berinovasi dan menggali potensi lokal, bukan sekadar meniru daerah lain,” ujarnya.

Ia menilai Cilacap memiliki keunggulan wisata yang khas, seperti Kampung Laut, Nusakambangan, dan Gunung Srandil. Potensi tersebut, kata dia, perlu dikemas secara kreatif dengan dukungan promosi digital, keterlibatan konten kreator, serta penguatan event budaya.

Syamsul juga mengakui masih adanya tantangan infrastruktur dan sarana pendukung desa wisata. Karena itu, Pemkab Cilacap akan memetakan persoalan di 19 desa wisata tersebut dan mendorong komitmen pemerintah desa dalam pembenahan.

“Desa yang serius kita dorong, termasuk melalui dukungan anggaran jika memungkinkan. Targetnya desa wisata benar-benar menjadi motor ekonomi masyarakat,” kata Syamsul.

Melalui langkah penataan ini, Pemkab Cilacap berharap desa wisata di Cilacap tidak hanya menjadi identitas administratif, tetapi tumbuh sebagai destinasi yang berdaya saing dan berkelanjutan. (*)

Cek Kesiapan Destinasi Wisata Bogor Sambut Libur Nataru, Wamenpar Imbau Tingkatkan Kewaspadaan

Lingkar.co -;Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa memastikan kesiapan sejumlah destinasi wisata di kawasan Bogor, Jawa Barat, dalam menyambut wisatawan libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

“Ini adalah kunjungan untuk jelang Nataru. Kami mengecek kesiapan dari teman-teman. Pertamanya taman rekreasi, karena taman rekreasi pastinya akan padat dikunjungi oleh wisatawan di Natal 2025 dan juga tahun baru 2026,” kata Wamenpar Ni Luh Puspa di Bogor, Sabtu (20/12/2025).

Sejumlah destinasi yang ditinjau Wamenpar Ni Luh Puspa yakni Enchanting Valley by Taman Safari Indonesia, Cimory Dairyland, dan Kebun Raya Bogor. Di masing-masing destinasi, Wamenpar yang didampingi Deputi Bidang Destinasi dan Infrastruktur Kemenpar, Hariyanto, Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kemenpar, Fadjar Hutomo.

“Kami melihat bagaimana sebenarnya di sini terkait dengan (kesiapan) keamanannya. Karena kan ini terbuka ya, alam terbuka. Di tengah cuaca yang seperti ini di akhir bulan ini, tentu kita ingin memastikan bahwa taman rekreasi ini benar-benar siap. Tidak hanya membuat orang senang, tapi orang aman di sini,” katanya.

Wamenpar menekankan pentingnya pengelola wisata menjamin kenyamanan dan keamanan wisatawan. Salah satu aspek yang menjadi perhatian utama adalah jalur evakuasi.

Maka, ia meminta agar tanda penunjuk jalur evakuasi diperbanyak dan ditempatkan secara strategis untuk memudahkan wisatawan mengidentifikasi rute yang harus dilalui serta titik kumpul saat terjadi situasi darurat.

“Jadi mereka begitu masuk sudah hafal, kalau ada apa-apa jalur evakuasinya ke mana, titik kumpulnya di mana dan sebagainya,” jelas Wamenpar Ni Luh Puspa.

Selain jalur evakuasi, Wamenpar juga menyoroti kondisi pepohonan di lokasi wisata. Ia meminta pengelola untuk secara rutin memeriksa kondisi pohon guna mencegah potensi bahaya bagi wisatawan.

Ia juga mengingatkan peringatan BMKG terkait curah hujan tinggi dan munculnya bibit siklon. Untuk itu ia mengimbau para pelaku wisata dan wisatawan sama-sama meningkatkan kewaspadaan.

“Jadi mudah-mudahan ini bisa memitigasi hal-hal yang tidak diinginkan,” harapnya.

Sebagai informasi, Kemenpar sebelumnya juga telah menerbitkan Surat Edaran (SE) Menteri Pariwisata tentang Penyelenggaraan Kegiatan Wisata yang Aman, Nyaman, dan Menyenangkan pada saat perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Surat edaran ini telah disebar ke seluruh pemangku kepentingan mulai dari pemerintah daerah (Pemda), asosiasi, dan pelaku usaha jasa pariwisata. SE ini mencakup berbagai unsur penting, yakni keamanan, keselamatan, dan kesehatan, demi mewujudkan liburan yang aman, nyaman, dan menyenangkan di area wisata. (*)

Apresiasi Konsistensi Mitra Industri Pariwisata, Kemenpar Gelar Wonderful Indonesia Award 2025

Lingkar.co – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengapresiasi kolaborasi mitra industri dalam mendorong pertumbuhan sektor pariwisata melalui Penganugerahan Wonderful Indonesia Award (WIA) 2025.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (9/12/2025), menjelaskan WIA 2025 menjadi momentum bagi pemerintah untuk memberikan penghargaan kepada para mitra dan stakeholder yang secara konsisten berkontribusi memperkuat pariwisata Indonesia melalui kolaborasi strategis dan berkelanjutan.

Salah satu program yang turut berperan dalam ajang penghargaan ini adalah Co-Branding Wonderful Indonesia, sebuah bentuk kerja sama strategis yang mengedepankan pertukaran nilai (barter value) antara Kementerian Pariwisata dengan para mitra. Skema ini memungkinkan kedua pihak menyelaraskan pesan serta memanfaatkan elemen branding secara terpadu untuk memperluas jangkauan promosi dan meningkatkan kesadaran publik terhadap destinasi pariwisata Indonesia.

“Program ini memayungi dua kategori penghargaan. Pertama, Most Collaborative Co-Brand, bagi mitra co-branding yang aktif berkolaborasi meningkatkan awareness Wonderful Indonesia. Kedua, Tourism Partner of the Year, bagi stakeholder yang menunjukkan kontribusi serta dampak terbaik bagi penguatan pariwisata Indonesia,” kata Ni Made.

Setelah melalui proses kurasi, penilaian dokumen, dan evaluasi aktivitas media sosial, ditetapkan 15 besar mitra untuk masing-masing kategori, yakni Most Collaborative Co-Brand dan Tourism Partner of the Year, yang kemudian melangkah ke tahap presentasi di hadapan dewan juri pada 25 November 2025.

Para nominasi dinilai sebagai mitra yang memiliki komitmen kuat dalam penyelarasan pesan, integrasi elemen branding, serta inovasi bersama yang memberi dampak nyata bagi ekosistem pariwisata Indonesia.

Nominasi The Most Collaborative Co-Brand meliputi Grab Indonesia, Oppo Indonesia, Atourin, PT Kreasi Pala Nusantara, dan PT Rumah Atsiri. Sementara nominasi Tourism Partner of the Year terdiri atas tiket.com, PT Amerta Indah Otsuka, Taman Mini Indonesia Indah, PT Acaraki Nusantara Persada, dan PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Pada malam penganugerahan WIA 2025, PT Grab Teknologi Indonesia diumumkan sebagai pemenang kategori Most Collaborative Co-Brand, sementara tiket.com meraih penghargaan Tourism Partner of the Year.

“WIA 2025 bukan akhir, melainkan penegasan bahwa kolaborasi mampu menghasilkan inovasi dan dampak yang lebih luas. Para mitra hari ini merepresentasikan praktik terbaik kolaborasi lintas sektor. Kami berharap keberhasilan mereka menjadi inspirasi bagi lebih banyak pihak untuk mendorong ekosistem pariwisata Indonesia agar semakin adaptif dan kompetitif,” ujar Made.

Plt. Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan Kemenpar, Vinsensius Jemadu, menyampaikan pandangan serupa dan menekankan pentingnya kesinambungan kolaborasi lintas sektor.

Penilaian WIA 2025 melibatkan jajaran juri lintas disiplin untuk memastikan objektivitas dan perspektif yang komprehensif. Budi Santoso, Creative Director Matari Advertising, menghadirkan analisis mendalam terkait kreativitas dan efektivitas kampanye co-branding. Dr. Aqsath Rasyid Naradhipa, akademisi SBM ITB sekaligus CEO No Limit dan pengurus PERHUMAS, memberikan pandangan berbasis data melalui big data analytics dan stakeholder relations.

Dari sisi media, Maria Rosari Dwi Putri, Kepala Redaksi Lifestyle LKBN Antara, menilai kualitas eksposur dan konsistensi narasi brand dengan perspektif independensi jurnalistik. Sementara dari internal kementerian, Ni Made Ayu Marthini dan Vinsensius Jemadu memberikan penilaian strategis terkait relevansi kolaborasi dan kontribusinya bagi ekosistem pariwisata.

Malam Penganugerahan WIA 2025 menjadi ruang pertemuan bagi mitra berbagai sektor yang selama ini berperan aktif dalam meningkatkan eksposur Wonderful Indonesia di tingkat nasional maupun internasional. Melalui kampanye terpadu, aktivasi digital, integrasi brand, dan program pemasaran bersama, para mitra turut memperluas awareness publik terhadap destinasi Indonesia, memperkaya narasi promosi, serta memperkuat kredibilitas brand Wonderful Indonesia.

Kementerian Pariwisata berharap pelaksanaan WIA 2025 dapat menginspirasi lahirnya kolaborasi baru yang lebih progresif sekaligus memperkuat posisi Wonderful Indonesia sebagai brand pariwisata yang kompetitif dan berdaya saing global. (*)