Arsip Tag: Wisata Semarang

Hari Raya Nyepi di Semarang, Pawai Ogoh-Ogoh Akan Kembali Digelar

Lingkar.co – Kota Semarang akan kembali merayakan keberagaman melalui Pawai Ogoh-Ogoh yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (26/4/2026). Acara yang menjadi rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 ini akan menampilkan iring-iringan seni dan budaya lintas etnis dari Balai Kota menuju Simpang Lima.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyatakan bahwa pawai tahun ini tampil lebih megah karena adanya partisipasi aktif dari berbagai wilayah di luar Semarang.

“Tahun ini ada dukungan nyata dari PHDI Jepara, PHDI Kendal, hingga Kelompok Beleganjur dari Jogjakarta yang pada penyelenggaraan sebelumnya tidak ada. Selain keterlibatan kelompok musik tersebut, perbedaan besar tahun ini juga terlihat pada pementasan Sendratari Legenda Rawa Pening sebagai penutup acara di Simpang Lima,” ujarnya.

Pawai tahun ini melibatkan ribuan peserta dengan mengusung semangat sesanti Memayu Hayuning Bhawono untuk menciptakan Semarang yang aman, Memayu Hayuning Sesami untuk Semarang yang toleran, serta Memayu Hayuning Diri sebagai bentuk komitmen toleransi. Hal ini berjalan seiring dengan capaian kota Semarang sebagai peringkat ke tiga Kota Paling Toleran di Indonesia versi SETARA Institute tahun 2026 baru-baru ini.

“Capaian dari SETARA Institute adalah bukti nyata bahwa masyarakat kita sangat terbuka. Warga bisa melihat langsung bagaimana Beleganjur dari berbagai daerah bersanding dengan rebana, angklung, kuda lumping, leak, Barongsai, sampai Warak Ngendog khas Semarang dalam satu rute yang sama sebagai simbol keindahan dalam perbedaan,” jelasnya.

Pawai akan dimulai pukul 14.00 WIB dengan menempuh rute dari Jalan Pemuda (depan Balai Kota), melintasi landmark Tugu Muda, Jalan Pandanaran, hingga berakhir di Lapangan Pancasila Simpang Lima. Penetapan rute di jalan-jalan protokol ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat untuk menikmati sajian budaya tersebut secara leluasa.

Agustina mengajak seluruh warga, baik dari kota Semarang maupun luar daerah, untuk datang dan menyaksikan langsung perayaan keberagaman ini.

“Mari kita saksikan dan rayakan bersama momentum ini sebagai pengingat untuk terus merawat harmoni yang sudah menjadi identitas Ibu Kota Jawa Tengah. Pawai ini adalah milik kita semua, tempat di mana seni budaya dari berbagai latar belakang bisa tumbuh dan diapresiasi oleh siapa saja,” pungkasnya. ***

Nyalakan Nasionalisme, Merah Putih Sepanjang 100 Meter Terbentang di Karnaval Paskah Kota Semarang

Lingkar.co – Karnaval Paskah Kota Semarang 2026 menjadi lebih dari sekadar perayaan keagamaan. Di tengah keberagaman masyarakat, kegiatan ini tampil sebagai ruang publik yang menyalakan kembali semangat nasionalisme melalui pendekatan budaya yang inklusif dan membumi.

Sejak awal pelaksanaan, perhatian masyarakat tertuju pada bentangan bendera merah putih sepanjang kurang lebih 100 meter yang diarak oleh ratusan anak muda lintas komunitas.

Visual tersebut tidak hanya menghadirkan kemegahan, tetapi juga menjadi simbol kuat persatuan di tengah perbedaan. Karnaval yang menempuh rute dari Kota Lama hingga berakhir di halaman Balai Kota Semarang ini menghadirkan ribuan peserta dan masyarakat yang turut menyaksikan, menjadikannya sebagai momentum kebersamaan yang hidup di ruang kota.

Yunike dari komunitas History Maker menjelaskan bahwa kehadiran simbol kebangsaan berupa bendera merah putih dalam perayaan Paskah merupakan pesan yang sengaja dihadirkan, terutama bagi generasi muda.

“Walaupun ini perayaan Paskah, kita tetap tidak bisa lepas dari semangat kebangsaan Indonesia. Bendera ini melambangkan bahwa kita berbeda-beda budaya, agama, tetapi tetap satu,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keterlibatan anak muda dalam kegiatan ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai kebangsaan di tengah perubahan zaman yang cepat.

“Harapannya, kegiatan seperti ini bisa dirawat agar generasi muda tidak melupakan budaya dan nilai-nilai yang bangsa Indosia miliki,” imbuhnya.

Melalui pendekatan yang menggabungkan ekspresi budaya, partisipasi generasi muda, dan simbol kebangsaan, Karnaval Paskah di Kota Semarang menunjukkan bahwa nasionalisme tidak selalu hadir dalam bentuk formal, tetapi dapat tumbuh secara alami melalui ruang-ruang interaksi sosial masyarakat.

Di tengah arus perubahan yang kian cepat, karnaval ini menjadi pengingat bahwa semangat kebangsaan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan merawat perbedaan.

Dari langkah kaki para peserta yang berjalan bersama, tersirat pesan sederhana namun kuat bahwa Indonesia tidak hanya dipersatukan oleh simbol, tetapi oleh kesadaran kolektif untuk terus menjaga kebhinekaan sebagai kekuatan. Dan dari Kota Semarang, semangat itu kembali dinyalakan, hidup, dan berjalan di tengah masyarakat. ***

Tegaskan Kota Semarang Inklusif, Karnaval Paskah Berikan Panggung Bagi Difabel

Lingkar.co – Semangat inklusivitas yang dibangun dalam Karnaval Paskah Kota Semarang 2026 tidak hanya berhenti pada simbol, tetapi diwujudkan secara nyata melalui keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk kelompok difabel yang turut mengambil peran dalam rangkaian kegiatan.

Di titik akhir perjalanan karnaval Paskah di depan kantor Balai Kota Semarang, kelompok difabel tampil memukau membawakan pertunjukan tari.

Penampilan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi menyiratkan pesan kuat tentang kesetaraan dan akses yang terbuka bagi semua.

Kehadiran difabel di panggung karnaval mempertegas bahwa ruang publik di Kota Semarang semakin inklusif di mana tidak sekadar memberi ruang, tetapi juga memberikan panggung yang setara untuk berekspresi dan dihargai.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari dinamika kota yang terus bergerak dan menghadirkan ruang kebersamaan bagi seluruh masyarakat.

“Kegiatan ini menjadi bagian dari kehidupan kota yang terus bergerak, menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk saling bertemu dan berbagi kebahagiaan di ruang publik,” ujarnya.

Lebih jauh, dirinya menggarisbawahi bahwa kekuatan kota justru lahir dari keberagaman yang dikelola dengan baik.

“Seringkali kita berpikir kebersamaan lahir karena kesamaan. Padahal justru karena perbedaan itulah kebersamaan menjadi kuat dan berarti,” tegasnya.

Karnaval Paskah tahun ini sekaligus menjadi refleksi bahwa pembangunan kota tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang bagaimana ruang sosial dibangun agar mampu merangkul semua lapisan masyarakat secara adil dan setara.

Di tengah riuh perayaan, pesan inklusivitas itu justru berbicara paling lantang bahwa kota yang maju bukan hanya yang tumbuh secara fisik, tetapi yang mampu memastikan setiap warganya hadir, terlihat, dan dihargai.

Dari langkah para difabel yang tampil percaya diri di ruang publik, kota Semarang menegaskan satu hal bahwa kesetaraan bukan sekadar wacana, melainkan praktik yang terus dihidupkan bersama. ***

Wacana Aktivasi Halte Semarang Zoo Perlu Kajian, Ini Penjelasan Trans Semarang

Lingkar.co – Wacana mengaktifkan kembali halte di depan Semarang Zoo mendapat respons dari pengelola Trans Semarang. Pihak operator menyebut, kebijakan tersebut membutuhkan kajian ulang karena berbagai pertimbangan teknis dan operasional.

Keinginan wisatawan agar halte di depan Semarang Zoo kembali difungsikan untuk mempermudah akses transportasi belum bisa langsung direalisasikan.

Kepala BLUD Trans Semarang, Haris Setyo Yunanto, menjelaskan bahwa halte tersebut sebelumnya memang pernah beroperasi. Namun, seiring waktu, layanan dihentikan karena sejumlah pertimbangan.

“Dulunya memang aktif, tapi sekarang tidak karena ada beberapa pertimbangan yang kita lakukan,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Menurutnya, salah satu alasan utama adalah munculnya aktivitas angkutan tidak resmi yang memanfaatkan halte tersebut sebagai titik naik-turun penumpang.

“Dengan adanya halte ini, malah membuat adanya terminal bayangan di depan Semarang Zoo. Orang yang dari Semarang mau ke Kendal, tidak turun di terminal malah turun di terminal bayangan,” jelasnya.

Selain itu, faktor keselamatan dan teknis operasional juga menjadi pertimbangan penting. Haris menyebut perubahan infrastruktur, seperti keberadaan akses tol di wilayah Kaliwungu, turut memengaruhi pola pergerakan armada.

Sebelumnya, bus masih dapat melakukan putar balik di sekitar area barat kebun binatang. Namun kini, opsi tersebut dinilai tidak lagi aman karena berpotensi menimbulkan kecelakaan.

“Kalau diaktifkan, rekomendasinya bus juga harus muter di bawah flyover arteri Kaliwungu, membuat jarak tempuh semakin panjang sehingga mengeluarkan cost yang lebih besar,” katanya.

Sebagai alternatif, pihak Trans Semarang sempat menjajaki kerja sama dengan pengelola Semarang Zoo, termasuk rencana penyediaan layanan penghubung dari Terminal Mangkang hingga lokasi wisata.

Namun, hingga saat ini belum ada kelanjutan dari rencana tersebut.

“Dulu juga ada rencana kerja sama, misal perjalanan 10 kali menggunakan Trans Semarang bisa dapat diskon di Semarang Zoo. Nah ini belum ada pembahasan lagi,” ungkap Haris.

Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan halte tersebut kembali dioperasikan apabila ada kebutuhan yang kuat dari masyarakat. Namun, keputusan tersebut harus melalui kajian yang matang dan menyesuaikan kondisi terkini.

“Kalau difungsikan nanti ada kajian ulang agar tepat sasaran, karena dinamika sekarang tidak bisa disamakan dengan dulu,” pungkasnya. ***

Tradisi Sesaji Rewanda Semarang, Sego Kethek Jadi Buruan Warga

Lingkar.co – Sajian khas sego kethek menjadi buruan ratusan warga dalam tradisi Sesaji Rewanda di kawasan Gua Kreo, Sabtu (28/3/2026).

Warga rela berdesakan demi mendapatkan makanan tradisional tersebut yang dipercaya membawa keberuntungan dan berkah. Tak sedikit yang harus pulang tanpa hasil karena tingginya antusiasme masyarakat.

Sukartini (50), salah satu warga, mengaku rutin mengikuti tradisi tersebut setiap tahun meski tidak selalu berhasil mendapatkan sego kethek.

“Setiap tahun saya ke sini, kadang dapat, kadang tidak. Makan sego kethek ini biar berkah,” ujarnya.

Selain nilai kepercayaan, sego kethek juga diminati karena cita rasanya yang khas. Sajian ini berisi nasi dengan lauk sederhana seperti ikan asin dan olahan jantung pisang yang cukup mengenyangkan.

Ketua Pengelola Desa Wisata Kandri, Saiful Ansori, menjelaskan bahwa sego kethek merupakan bentuk sedekah warga kepada pengunjung yang hadir dalam tradisi Sesaji Rewanda.

“Sego kethek adalah bentuk berbagi dari warga, tidak hanya untuk kera di Gua Kreo tetapi juga untuk masyarakat yang ikut acara,” jelasnya.

Ia menambahkan, makanan khas Kampung Talun Kacang tersebut dibungkus daun jati dengan beragam isian seperti nasi, telur, tempe, oseng daun pepaya, singkong, hingga ikan teri.

Penamaan sego kethek sendiri muncul sekitar tahun 2012 atas usulan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, merujuk pada keberadaan kera di kawasan tersebut.

Meski berkembang kepercayaan soal keberkahan, Saiful mengingatkan agar masyarakat tidak memaknainya secara berlebihan.

Menurutnya, nilai utama dari tradisi ini adalah kebersamaan dan kearifan lokal.
Tradisi Sesaji Rewanda menjadi salah satu daya tarik budaya di Semarang yang rutin digelar dan selalu menyedot perhatian masyarakat setiap tahunnya. ***

Kunjungan Wisatawan di Kota Lama Semarang Naik 24,7 Persen, Okupansi Hotel Tembus 95 Persen

Lingkar.co – Kawasan Kota Lama Semarang mengukuhkan posisinya sebagai magnet utama pariwisata di Jawa Tengah selama masa libur Idul Fitri 1447 Hijriyah atau Lebaran 2026. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, pada Jumat (27/3), mengungkapkan bahwa gelombang kedatangan wisatawan domestik ke Ibu Kota Jawa Tengah, khususnya di kawasan Kota Lama, mencapai 222.856 jiwa sejak H-7 hingga H+4 Lebaran (13-25 Maret 2026).

Capaian ini menempatkan Kota Semarang sebagai salah satu pilar utama penggerak pariwisata di Jawa Tengah. Secara khusus, kawasan Kota Lama menunjukkan daya tarik yang sangat kuat dengan tercatat sebagai destinasi yang memiliki volume kunjungan tertinggi.

“Angka kunjungan ke Kota Lama ini melonjak signifikan sebesar 24,72 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025 lalu yang tercatat sebanyak 178.683 jiwa. Pertumbuhan ini merupakan bukti bahwa Kota Semarang kini telah bertransformasi menjadi kota destinasi pariwisata,” ujarnya.

Validasi keberhasilan ini juga terlihat dari tingkat hunian kamar hotel atau okupansi yang mencapai puncaknya di angka 95,53 persen pada hari ke dua Lebaran. Menurutnya, data tersebut menunjukkan bahwa wisatawan tidak hanya datang untuk melintas, tetapi benar-benar memilih untuk menetap dan menikmati suasana ibu kota Jawa Tengah.

Meskipun mencatatkan hasil positif, Agustina mengakui bahwa antusiasme luar biasa ini membawa sejumlah catatan evaluatif bagi Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang. “Kami menyadari masih ada kepadatan arus pengunjung dan kendala parkir di titik-titik tertentu, terutama di kawasan Kota Lama. Ini menjadi fokus evaluasi kami agar ke depan distribusi wisata lebih merata. Selain itu, faktor cuaca juga menjadi perhatian serius bagi kami untuk memperketat SOP mitigasi bencana dan penyediaan fasilitas peneduh (shelter) yang lebih memadai di objek wisata outdoor,” lanjutnya.

Pasca-Lebaran, Pemkot Semarang berkomitmen menjaga momentum kunjungan agar tetap stabil melalui penguatan destinasi unggulan dan penyelenggaraan kalender event yang lebih beragam. Strategi ke depan mencakup revitalisasi kawasan serta peningkatan kualitas pengalaman wisata atau experience-based tourism melalui festival kuliner dan atraksi rutin berbasis komunitas.

Wali Kota juga menekankan bahwa keberlanjutan sektor pariwisata ini menuntut sinergi yang kuat antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat luas. Menurutnya, penguatan objek wisata serta infrastruktur yang mumpuni tidak akan berarti banyak tanpa keramahan dan kualitas pelayanan yang prima dari seluruh elemen kota.

“Terima kasih kepada seluruh warga kota Semarang yang telah menjadi tuan rumah yang ramah dan suportif selama masa liburan ini. Kepada para pelaku wisata, saya berpesan agar tetap konsisten menerapkan Sapta Pesona dan terus meningkatkan kualitas pelayanan. Kita harus tetap adaptif terhadap tren agar citra positif pariwisata Semarang terus terjaga,” pungkasnya. (Adv)

Sinergi Mahakarya dan Sesaji Rewanda: Cara Pemkot Semarang Memuliakan Tradisi di Goa Kreo

Lingkar.co – Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang akan menyuguhkan perpaduan apik antara seni pertunjukan modern dan ritual adat sakral melalui rangkaian Mahakarya Goa Kreo dan Sesaji Rewanda di kawasan Gunungpati pada akhir pekan ini. Dimulai dengan pagelaran Mahakarya Legenda pada Jumat (27/3) malam di Plaza Kandri, rangkaian ini mencapai puncaknya melalui ritual tahunan Sesaji Rewanda di Obyek Wisata Goa Kreo pada Sabtu (28/3) pagi sebagai bentuk pelestarian warisan sejarah Sunan Kalijaga.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan bahwa sinergi kedua acara ini merupakan upaya strategis pemerintah dalam menjaga ekosistem budaya agar tetap relevan di tengah modernitas.

“Kami tidak ingin tradisi hanya menjadi cerita masa lalu yang statis. Melalui Mahakarya Goa Kreo, kami memberi ruang bagi kreativitas generasi muda untuk merepresentasikan legenda secara artistik. Sementara melalui Sesaji Rewanda, kita membumikan kembali nilai-nilai spiritual dan rasa syukur kepada Sang Pencipta melalui penghormatan terhadap alam,” ujar Agustina.

Momentum sakral pada Sabtu pagi ditandai dengan pemberangkatan rombongan kirab Sesaji Rewanda yang bergerak dari Masjid Al-Mabrur menuju pelataran Goa Kreo. Dalam prosesi tersebut, replika kayu jati yang menjadi representasi sejarah perjuangan Sunan Kalijaga dipikul oleh delapan orang, diiringi barisan sembilan Santri Kanjengan serta sosok ikonik Kera Bangbintulu.

“Replika kayu jati ini menjadi pengingat bahwa pembangunan peradaban, seperti halnya Masjid Agung Demak dulu, membutuhkan gotong royong dan harmoni dengan alam. Kera-kera di Goa Kreo adalah bagian dari sejarah dakwah Sunan Kalijaga yang harus kita jaga habitatnya,” lanjutnya.

Tahun ini, sebanyak enam jenis gunungan dikirab sebagai pusat perhatian, mulai dari Gunungan Sesaji, Buah, Nasi Kuning, Hasil Bumi, Kupat Lepet, hingga Nasi Golong. Setelah didoakan, gunungan tersebut dipersembahkan secara simbolis kepada kawanan kera sebagai bentuk sedekah alam, sebelum akhirnya dinikmati bersama oleh masyarakat sebagai wujud “ngalap berkah” atau mencari keberkahan dari hasil bumi yang melimpah.

Wali Kota juga menyoroti dampak ekonomi dari sinkronisasi dua acara besar ini. Dengan adanya pagelaran di malam hari dan ritual di pagi hari, diharapkan wisatawan memiliki alasan lebih kuat untuk tinggal lebih lama dan menikmati atmosfer Desa Wisata Kandri.

“Kami mengundang seluruh masyarakat untuk hadir dan menyaksikan langsung sakralnya ritual ini. Selain edukasi sejarah, pengunjung juga bisa menikmati suasana alam Goa Kreo yang asri,” pungkasnya. (Adv)

Pemkot Semarang Naikkan Tarif Wisata Saat Lebaran, Cek Daftarnya

Lingkar.co – Pemerintah Kota Semarang menaikkan tarif tiket masuk sejumlah destinasi wisata selama sepekan libur Lebaran 1447 Hijriah/2026.

Kebijakan tersebut dilakukan sebagai bentuk penyesuaian layanan untuk menghadapi lonjakan pengunjung selama musim liburan. Penyesuaian tarif ini telah diatur dalam peraturan daerah (Perda) dengan kenaikan yang dinilai tidak terlalu signifikan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, mengatakan salah satu contoh kenaikan tarif terjadi di Taman Lele yang sebelumnya Rp10.000 menjadi Rp13.000.

“Iya, harga tiket masuk wisata ada penyesuaian selama sepekan Lebaran. Destinasi lainnya juga ada penyesuaian tiket masuk,” ujarnya.

Selain penyesuaian tarif, Pemkot Semarang juga mendorong pengelola destinasi wisata untuk menghadirkan atraksi khusus guna menarik minat wisatawan selama libur Lebaran.

Beberapa agenda yang telah disiapkan antara lain Atraksi Mahakarya di Goa Kreo pada 27 Maret 2026 dan Sesaji Rewanda pada 28 Maret 2026.

Disbudpar mencatat kunjungan wisata selama Ramadan mengalami penurunan. Namun, pihaknya optimistis jumlah wisatawan akan meningkat saat libur Lebaran seiring berbagai persiapan yang dilakukan.

Untuk mendukung kenyamanan dan keamanan, Pemkot Semarang juga menggandeng aparat kepolisian serta menyiagakan Dinas Perhubungan Kota Semarang dalam pengaturan arus lalu lintas dan parkir di kawasan wisata.

“Masyarakat dipersilakan berlibur ke tempat wisata, restoran, atau hotel. Namun tetap menjaga kesehatan dan keamanan karena lokasi wisata diperkirakan ramai,” kata Indriyasari.

Daftar Tarif Wisata Semarang Saat Lebaran 2026

Berikut tarif terbaru sejumlah destinasi wisata di Kota Semarang:

  1. Goa Kreo – Rp15.500
  2. Kolam Keceh Sodong – Rp10.500
  3. Taman Lele – Rp13.000
  4. Hutan Wisata Tinjomoyo – Rp6.000
  5. Museum Kota Lama – Rp10.000
  6. Semarang Zoo – Rp30.000
  7. Lawang Sewu – Rp20.000
  8. Pantai Marina – Rp15.000
  9. Klenteng Sam Poo Kong – Rp25.000
  10. Maerakaca – Rp20.000
  11. Menara Masjid Agung Jawa Tengah – Rp10.000
  12. Manunggal Jati – Rp15.000
  13. Jungletoon – Rp45.000

Sementara sejumlah destinasi lain seperti Kota Lama Semarang, Awanncosta, Koetatoea, dan Makam Mbah Depok hanya memberlakukan biaya parkir. (Adv)

Sambut Libur Lebaran 2026, Semarang Zoo Targetkan 60.000 Pengunjung

Lingkar.co – Semarang Zoo menargetkan sekitar 60.000 pengunjung selama libur Lebaran 1447 Hijrah/ 2026 dengan perkiraan puncak kunjungan terjadi pada 20 hingga 29 Maret 2026.

Direktur PT Taman Satwa Semarang (Semarang Zoo), Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, mengatakan berbagai persiapan telah dilakukan untuk menyambut lonjakan wisatawan selama musim liburan tersebut. Salah satunya dengan menghadirkan program baru berupa Animal Show dengan konsep yang diperbarui.

Menurutnya, pertunjukan satwa tersebut akan memiliki durasi lebih lama dengan penambahan jenis satwa yang terlibat dalam atraksi. Program ini diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi pengunjung yang datang ke kebun binatang tersebut.

“Animal Show ini nanti kita harapkan menjadi daya tarik wisata baru. Programnya juga baru, durasinya kita perlama, dan satwanya kita perbanyak,” ujarnya kepada BahteraJateng, Senin (16/3/2026).

Selain itu, pengelola juga menghadirkan area petting zoo yang memungkinkan pengunjung berinteraksi langsung dengan sejumlah satwa jinak. Area tersebut berada berdekatan dengan taman satwa utama sehingga memudahkan pengunjung untuk menjangkau keduanya.

Semarang Zoo juga tetap mengoperasikan sejumlah wahana yang telah ada sebelumnya, seperti kolam renang dan area pemandian anak. Untuk menambah pilihan wisata, pengelola menyediakan sistem tiket terusan dengan Taman Lalu Lintas Semarang yang lokasinya berdekatan.

Harga tiket masuk ke Semarang Zoo sebesar Rp30.000, sedangkan tiket masuk Taman Lalu Lintas Rp10.000. Pengunjung dapat membeli tiket secara terpisah maupun menggunakan tiket terusan.

Selain menyiapkan wahana baru, pengelola juga menghadirkan sejumlah promo selama libur Lebaran, di antaranya minuman gratis bagi pembeli tiket masuk serta berbagai hadiah bagi pengunjung yang menggunakan beberapa fasilitas di area wisata tersebut. (*)

Unik dan Meriah, Dugderan 2026 Jadi Momentum Perkuat Harmoni dan Regenerasi Tradisi

Lingkar.co – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menilai Dugderan 2026 berlangsung lebih unik dan menarik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dengan berbagai inovasi termasuk pelibatan anak-anak, penguatan simbol Warak Ngendog, serta penegasan nilai harmoni lintas budaya dan agama.

Tradisi tahunan menyambut bulan suci Ramadan tersebut digelar pada Senin (16/2), dimulai dari Balai Kota Semarang, berlanjut ke Masjid Agung Semarang, dan berakhir di Masjid Agung Jawa Tengah dengan melibatkan ribuan peserta pawai budaya.

Tema Dugderan tahun ini yakni “Bersama Dalam Budaya, Toleransi dalam Tradisi” mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat Kota Semarang yang beragam namun tetap rukun dalam menjaga warisan budaya. Tema tersebut sekaligus menegaskan bahwa Dugderan menjadi momentum penting dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

“Yang penting intinya bahwa dugderan ini menjadi titik tolak menghantarkan teman-teman yang Muslim untuk mulai berpuasa,” ujar Agustina.

Ia juga menyoroti simbol Warak Ngendog yang menjadi ikon utama Dugderan tahun ini. Menurutnya, filosofi warak yang “ngendog” mengandung makna kerukunan, pengendalian diri, dan harapan akan kesejahteraan bersama.

“Yang unik hari ini semua waraknya wajib ngendog, karena kalau waraknya tidak ngendog nanti bisa congkrah kita ya, bisa bertengkar, tidak ada rejeki yang bisa dibagi,” jelasnya.

Keunikan lainnya pada Dugderan 2026 adalah untuk pertama kalinya digelar Pawai Dugder Anak yang melibatkan pelajar dan kelompok seni budaya. Agustina mengaku bangga melihat antusiasme generasi muda dalam mengikuti tradisi tersebut sebagai bagian dari proses regenerasi budaya.

“Saya senang tadi ada anak-anak kecil yang mulai ikut menari. Dan ini nanti pertama kali kita akan melepaskan kontingen anak-anak,” ungkapnya.

Menurut Agustina, pelibatan anak-anak merupakan bentuk transfer pengetahuan dan pelestarian tradisi agar Dugderan tetap hidup dan berkembang di masa depan. Ia menilai keterlibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan warisan budaya Kota Semarang.

Selain itu, Dugderan tahun ini juga dinilai semakin unik karena berlangsung dalam momentum yang berdekatan dengan perayaan lintas keagamaan, sehingga memperkuat nilai toleransi dan harmoni di tengah masyarakat.

“Dugderan diharapkan pada tahun ini menjadi lebih unik berkaitan dengan Imlek, kemudian masa puasa Pra-Paskah bagi teman-teman Kristen Katolik. Sehingga harmoni akan terjadi lebih erat dan Semarang menjadi semakin damai,” ujarnya.

Dirinya optimis, suasana damai dan harmonis yang tercipta melalui tradisi Dugderan akan berdampak positif terhadap sektor pariwisata dan investasi di Kota Semarang. Pihaknya juga menyampaikan ucapan selamat kepada umat Muslim yang akan menjalankan ibadah puasa.

“Kami berdua bersama Pak Iswar mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman yang muslim,” pungkasnya.

Dugderan 2026 diikuti ribuan peserta yang terdiri dari perwakilan 16 kecamatan, organisasi masyarakat, kelompok budaya, pelajar, serta komunitas seni. Rangkaian acara meliputi kirab budaya, penampilan seni tradisional, hingga pemukulan bedug sebagai penanda datangnya bulan suci Ramadan, sekaligus menjadi simbol persatuan, toleransi, dan kekayaan budaya Kota Semarang. (Adv)