Arsip Tag: Potensi Longsor

Tanah Gerak Berpotensi Bahayakan Keselamatan Jiwa, Wali Kota Semarang Wacanakan Relokasi Warga Jangli

Lingkar.co – Tanah gerak yang membahayakan warga Kampung Sekip, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah mendapatkan perhatian dari Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti.

Agustina mewacanakan relokasi terhadap warga yang terdampak tanah bergerak tersebut. Namun demikian, dirinya menyadari bahwa relokasi tak semudah membalikkan telapak tangan, karena ada warga yang pro dan kontra.

“Perencanaan (relokasi). Ya, harus diungsikan. Harus diungsikan. Itu penting banget ya,” kata Agustina sebagaimana diwartakan Kompas, Kamis (12/2/2026).

Menurutnya, relokasi merupakan faktor penting agar warga yang terdampak bisa hidup tenang dan terbebas dari ancaman tanah bergerak.

Berdasarkan hasil pendataan PMI Kota Semarang bersama BPBD, tanah gerak yang terjadi di kelurahan Jangli tersebut berdampak pada 15 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 58 jiwa yang menghuni beberapa rumah di area tersebut.

Adapun rumah warga yang terancam bahaya peristiwa itu antara lain; rumah Sunarjo (2 KK/4Jiwa), Sugianto (3 KK/7 Jiwa), Sutrimo (1 KK/3 Jiwa), Supriyadi (1 KK/4 Jiwa), Sri Darningsih (1 KK/ 3 Jiwa), Slamet Riyadi (1 KK/ 4 Jiwa), Supardi (2 KK/6 Jiwa), Fitriyanto (2 KK/4 Jiwa), Kadar (1 KK/ 2 Jiwa), Agus Suyono (1KK/4 Jiwa), Dimas (1KK/2 Jiwa), Ngatemin (1KK/3 Jiwa), Dadang Suryanto (1KK/3 jiwa), Saifudin (2KK/5 Jiwa), Suratman (3KK/7 Jiwa)

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun demikian, kerusakan pada rumah warga dan akses lingkungan mengakibatkan kerugian material sementara yang diperkirakan mencapai Rp55.750.000. Selain itu, warga terdampak juga mengungsi ke rumah tetangga dan saudaranya yang lebih aman.

Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto mengatakan, bahwa curah hujan tinggi jadi pemicu tanah bergerak. “Air hujan meresap ke dalam tanah,” kata Endro.

Menurutnya, hujan dengan intensitas tinggi yang meresap ke dalam tanah membuat beban tanah dan mengurangi ikatan antar partikel.”Membuat tanah menjadi lembek dan mudah longsor,” ungkapnya.

Ditanya soal kemungkinan area tanah bergerak masuk garis sesar, BPBD Kota Semarang sedang melakukan pendalaman. “Garis sesar perlu observasi mendalam dengan instansi dan tenaga ahli geologi,” ucap Endro. (*)

Dinilai Membahayakan, Anggota Dewan Minta Pemkot Semarang Segera Perbaiki Talud Tlogosari Raya

Lingkar.co – Talud di sepanjang aliran sungai kawasan Jalan Tlogosari Raya, Kota Semarang, Jawa Tengah dilaporkan retak dan hampir ambrol. Kondisi tersebut dinilai berpotensi membahayakan keselamatan warga yang melintas sehingga memicu kekhawatiran masyarakat, mengingat lokasi berada di jalur padat aktivitas dan berdekatan dengan permukiman serta pertokoan.

Anggota DPRD Kota Semarang, Ali Umar Dhani, menegaskan bahwa kerusakan talud tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Ia meminta Pemerintah Kota Semarang segera mengambil langkah cepat dan terukur guna mencegah risiko yang lebih besar, terutama saat intensitas hujan meningkat.

“Talud ini fungsinya sangat vital sebagai penahan struktur jalan dan pengaman aliran sungai. Jika dibiarkan, ambrolan bisa meluas dan membahayakan pengguna jalan maupun warga sekitar,” ujar Ali dalam siaran persnya, Selasa (6/1/2026).

Menurut Ali, kondisi talud yang sudah retak dan sebagian runtuh menunjukkan adanya kelelahan struktur yang kemungkinan dipicu oleh usia bangunan, tekanan air, serta minimnya perawatan berkala.

Untuk itu ia menilai, perbaikan darurat harus segera dilakukan. Di lain sisi, pemerintah juga harus segera menyiapkan solusi permanen.

“Kami mendorong dinas terkait untuk melakukan penanganan darurat sekaligus kajian teknis menyeluruh. Jangan menunggu korban atau kerusakan semakin parah baru bertindak,” tegasnya.

Wakil rakyat dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap infrastruktur drainase dan sungai di kawasan padat penduduk. Menurutnya, persoalan talud bukan hanya soal konstruksi, melainkan berkaitan juga dengan tata kelola lingkungan dan kebersihan sungai.

“Normalisasi sungai dan pengendalian sampah harus berjalan seiring dengan perbaikan fisik. Jika aliran air tersumbat, tekanan ke talud akan terus berulang,” ujarnya.

DPRD Kota Semarang, lanjut Ali, akan meminta laporan resmi dari organisasi perangkat daerah (OPD) terkait serta memastikan alokasi anggaran perbaikan dapat direalisasikan secepatnya demi keselamatan publik.

Hingga berita ini diturunkan, warga di sekitar lokasi berharap adanya penanganan segera dari pemerintah, mengingat kondisi talud yang ambrol dinilai rawan longsor susulan, terutama saat hujan deras. (*)

Potensi Longsor Tinggi, Wali Kota Depok Pastikan Turap di 5 Titik Selesai Akhir Tahun 2025

Lingkar.co – Wali Kota Depok, Supian Suri memastikan pembangunan infrastrukturdi lima titik lokasi, khususnya turap selesai di akhir tahun 2025 ini.

Untuk itu, ia didampingi perwakilan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok meninjau langsung sejumlah pembangunan infrastruktur, dimulai dari Kelurahan Cipayung Jaya, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, Jawa Barat, berlanjut ke Pancoran Mas, hingga berakhir di wilayah Krukut.

“Saya sudah meninjau beberapa titik, khususnya pembangunan turap, untuk memastikan seluruh pekerjaan dapat selesai di akhir tahun ini, sekaligus memastikan proses pengerjaan berjalan sesuai dengan perencanaan,” katanya dalam siaran persnya, Rabu (24/12/2025).

Ia melanjutkan, salah satu hasil evaluasi yang menjadi perhatian ke depan adalah perlunya fokus lebih serius terhadap wilayah yang dilintasi aliran sungai, karena memiliki potensi tinggi mengalami longsor.

Salah satu lokasi yang menjadi perhatian khusus adalah turap di sepanjang Kali Krukut. Panjang aliran yang menjadi perhatian mencapai sekitar tujuh kilometer, mulai dari Jalan Pramuka hingga perbatasan Jakarta Selatan.

“Saya sudah meminta Kepala Bidang Bina Marga untuk menghitung secara detail titik-titik rawan longsor di sepanjang Kali Krukut ini. Saya harap lokasi-lokasi tersebut menjadi prioritas penanganan,” tegasnya.

Dirinya juga berharap ke depan jalur dari Jalan Pramuka hingga perbatasan Jakarta Selatan dapat dipasang turap menggunakan sheet pile atau turap baja.

“Sheet pile ini memiliki kekuatan hingga 20 tahun, dengan kedalaman sekitar 12 meter, sehingga lebih aman dan tahan lama,” jelasnya.

Sebagai informasi, kegiatan monitoring dimulai dengan meninjau pembangunan turap di Kelurahan Cipayung Jaya, dilanjutkan dengan pengecekan kondisi jembatan sementara di Jalan Assalafiah Cipayung Jaya, serta meninjau Kantor Kelurahan Cipayung Jaya yang baru selesai dibangun.

Rombongan kemudian melanjutkan peninjauan ke Jalan Pitara Raya, Kecamatan Pancoran Mas, yang terdapat dua titik pembangunan turap. Kegiatan diakhiri dengan peninjauan turap di Jalan Raya Krukut.

“Insya Allah, seluruh pekerjaan yang kita tinjau hari ini dapat diselesaikan sesuai target,” tandasnya. (*)